Yang dijadikan Samba? 
Sampai detik ini kelihatannya masih BTP (Ahok), hhaaa.....Kenapa tertarik pada 
Samba? Bukankah hepi ending buat semua
yang dicari?
Memang, menurut pakem ada 3 tokoh yang memperebutkan 
legitimasi kekuasaan berjudul Wahyu Cakraningrat itu. 
Mereka adalah: Lesmono, Samba, dan Abimanyu. Ketiganya 
sempat memiliki legitimasi tsb. tetapi tidak satu pun yang benar-benar bisa 
berkuasa.
Konon, setelah bersama para begundalnya menghajar kaum papa 
yang dianggap tidak menghormati kedudukannya, Lesmono 
kehilangan Wahyu Cakraningrat. Legitimasi ini lalu direbut Samba 
yang kebetulan dilukiskan berlidah tajam, pemuja perempuan cantik 
(kemewahan) sekaligus penyingkir kakeknya yang renta (kerepotan). 
Padahal perempuan cantik bersama kakek rentanya itu adalah 
bentuk ujian bagi Samba. Kahyangan pun menyatakan Samba tak 
layak mengemban amanat. Selanjutnya, Wahyu Cakraningrat dikejar 
Abimanyu putra Arjuna.

Episode Abimanyu terlalu horor dalam konteks Indonesia terkini 
yang terus dilanda kemunduran dan dipenuhi Sengkuni & Dorna 
yang ahli memancing di air keruh. Kenapa horor, karena Abimanyu 
toh tak sempat bertahta. Keburu tewas lantaran pembunuhan politik dalam kobaran 
Baratayuda!
Nah, melihat getolnya petinggi negeri melestarikan budaya pecah-belahala 
kolonial (al. bikin partai tandingan; DPR tandingan; anti-teroris 
tandingan; pemberantas korupsi tandingan; demo tandingan; PSSI 
tandingan dst) sebaiknya masyarakat waspada dengan perkembangan 
mutakhir yang semakin mengerucut pada kekuasaan tandingan. 
Lompati saja episode Abimanyu / Baratayuda dan langsung masuk 
ke episode Parikesit (putra Abimanyu) yang menjadi hepi endingkeseluruhan kisah 
Mahabarata.

Oleh karena itu, Jokowi sebagai pemegang legitimasi kekuasaan 
harus bisa mengendalikan situasi yang menekannya dari segala arah ini 
dengan baik dan benar. Dimulai dengan menepati kata-katanya sendiri 
soal persatuan dan kesatuan dengan bekerja keras menghindarkan 
Indonesia terjerumus dalam Baratayuda.
Siapa pun boleh saja ketawa membaca ini, karena toh semua 
membiarkan Jokowi tetap cengengesan ketika aksi 411 dijawab 
dengan Parade Kebhinekaan tanggal 19 November 2016.

Tetapi ketika aksi 212 (di mana presiden naik sepanggung dengan 
musuh Ahok), ditandingi aksi 412 (yang terang-terangan diikuti 
partai-partai pro Ahok), saya kira sudah saatnya bagi Jokowi untuk 
mingkem dan berpikir tentang puja-puji "Presiden Rakyat" maupun 
"titisan Soekarno".
Tentu saja bagus kalau bisa melakoni itu dengan menepati kata-katasendiri 
tentang persatuan dan kesatuan. Demi keselamatan bersama.Buang jauh-jauh 
tekanan terberat melalui gelar "petugas partai" itu.
Bersikaplah sebagai presiden.


--- jonathangoeij@... wrote:
Sang Prabu sekarang ini memang rumongso iso ditambahin bejibunnya Sengkuni dan 
Durno kelihatannya Lesmono Mondrokumono lebih cocok. Dalam lelakon Lesmono sang 
Wahyu Cakraningrat cuman bersemayam ditubuh beliau dalam waktu singkat utk 
kemudian loncat ke Raden Samba putra Batara Khrisna, siapa yg bakal jadi Samba?
--- ajegilelu@... wrote :
Petruk kan masih alter egonya Semar, masih iso rumongso- kecuali hidungnya, 
mirip punya pinokio, hahaha...

Dilihat dari polah rumongso iso yang bikin kepradah kabehya lebih ke Lesmono 
kayaknya.
Digabung tiga-tiganya ya rapopo.
--- jonathangoeij@... wrote:
sebenarnya lakon yg paling cocok itu petruk dadi ratu atau lesmono munggah 
bale?wahyu yg didapat itu jamus kalimosodo atau wahyu cakraningrat?
--- ajegilelu@... wrote :
Secara menyeluruh ini mah cuma kerikil yang paling tajam.
Cuma akibat terkusut dari serentetan polah. Pertanyaan 
besar yang sebenarnya adalah polah Megawati yang secara 
otoriter merobah keputusan kongres partai tahun 2010. 
Secara sepihak mengalihkan amanat kongres yang menunjuk 
dirinya sebagai capres PDIP 2014 ke Jokowi - disertai 
embel-embel "sudah 10 tahun puasa kekuasaan". 

Jadi, jawaban tersingkatnya adalah: kekuasaan. Mengejar 
kekuasaan dengan segala cara sekalipun melalui lakon Lesmono 
munggah bale.

Puja-puji seperti presiden rakyat, titisan dsb itu jelas sanjungan
yang memanjakan sekaligus memabukkan. Layaknya ketimpa 
Wahyu Cakraningrat, tambahan lagi dikelilingi Sengkuni & Dorna, 
jadilah sang Lesmono melakoni anak polah emak kepradah. 

Tak mau kepradah sendirian, sang emak pun melancarkan 
formasi sokalima untuk menertibkan Lesmono, dan.. tadaaa.....
Hehehe....
--- jonathangoeij@... wrote:
Hal ini memang menimbulkan pertanyaan besar, pada 212 bapak presiden dan wakil 
juga menteri kabinet datang menghadiri bahkan dengan khusuk dan hikmat 
mendengarkan kotbah "sang imam besar" sedang pada 412 yg melambangkan 
kebhinekaan yg diadakan para pendukung justru tidak dianggap.
--- ajegilelu@... wrote :
Sekali lagi,waspadalah. Jangan dikira pemerintah solid,
DPR solid, Koalisi solid,TNI-Polri solid, demonstran solid.
Semua lagiasyik main ciluk-ba yang bikin situasi tambah 
serba sulit.
Di bawah tekanan dari segala arah, Presiden (Joko Widodo)harus bisa pegang 
kendali.
-
Aksi 412 Disebut tidak Didukung Jokowi-JK


 
|   | 
Aksi 412 Disebut tidak Didukung Jokowi-...
 | 
 |

 
-

Di Parade 412,Setya Novanto Sebut Jokowi Presiden Rakyat MINGGU, 04Desember 
2016 | 11:00 WIB
KetuaUmum Partai Nasdem Surya Paloh didampingi oleh Ketua DPR Setya Novanto 
saatmenghadiri Parade 
Kita Indonesia, 4 November 2016. Tempo/Egi Adyatama TEMPO.CO, Jakarta - Ketua 
Dewan Perwakilan Rakyat SetyaNovanto memuji Presiden Joko Widodo di depan 
peserta Parade Kita Indonesia, diBundaran Hotel Indonesia, Ahad, 4 Desember 
2016. Setnov menilai langkahpresiden menemui massa aksi 212 pada Jumat lalu, 
sebagai tindakan terpuji.

(...)

   

Kirim email ke