Kalau menurut di bawah ini, dipecat :
http://historia.id/modern/dukung-demokrasi-terpimpin-sukarno-tan-malaka-jadi-pahlawan-nasional

Tan Malaka dipecat dari PKI karena menentang pemberontakan PKI 1926/1927.
Dia kemudian mendirikan Pari (Partai Republik Indonesia) di Bangkok pada
Juni 1927. Setelah kembali ke Indonesia, dia mendirikan Partai Murba pada 7
November 1948, pasca-Peristiwa Madiun 1948. (Baca: Akhir Tragis Republik
Komunis
<http://historia.id/artikel/resensi/610//Majalah-Historia/Akhir_Tragis_Republik_Komunis>
)

2017-01-08 12:29 GMT+01:00 'Lusi D.' [email protected] [GELORA45] <
[email protected]>:

>
>
> Walaupun terlambat perlu saya kemukakan, kalau menurut kejadian
> sejarahnya Tan Malaka tidak didepak dari PKI, melainkan dia sebagai
> pimpinan utama PKI tidak membangun PKI kembali dan membentuk partai baru
> yang dinamakan PARI singkatan Partai Republik Indonesia. Kalau menurut
> kesaksian Alimin bahkan untuk membangun PARI itu Tan Malaka menggunakan
> uang milik Komintern. Faktual, apa yang bung Chan kemukakan itu tidak
> bisa dibuktikan keabsahannya. Karena itu tidak bisa dikemukakan "didepak
> keluar dari PKI" seperti yang bung kemukakan itu.
>
> Bung Chan pernah membaca tulisan Tan Malaka ttg teori Aslia Tan Malaka?
> Untuk menambah pengetahuan ttg Tan Malaka baik sekali dipelajari
> teorinya itu dan sekaligus secara tidak langsung bisa kita ikuti
> bagaimana sejarah perkembangan berfikir dan pengetahuan para
> founding-mother and -father kita waktu itu untuk menyimpulkan wilayah
> Indonesia sekarang ini.
>
> Pendapat lainnya saya kira itu hasil pemikiran dan dayatangkap
> masing-masing ttg pengalaman langsung perjuangan Soemarsono ikut
> dalam membangun Nasion Indonesia sesuai dengan metode berfikir dan sikap
> maupun pendiriannya.
>
> Salam. Lusi.-
>
> Am Sun, 11 Dec 2016 09:38:11 +0800 schrieb "Chan CT"
> <[email protected]>:
>
> > Terimakasih, bung Lusi! Satu kutipan tulisan Soemarsono saat terjadi
> > penculikan 3 Juli 1946 itu, ... dan dari kutipan itu sangat jelas
> > menyatakan, bahwa letkol. Soeharto yang terlibat penculikan 3 Juli
> > 1946 itu adalah jenderal Soeharto yang kemudian menjadi Presiden RI
> > ke-2! Dan, ... juga JELAS letkol. Soeharto ketika itu “KAWAN KITA”,
> > bersama-sama Pramudji, Soemarsono di Pemuda Pathook, grupnya PESINDO
> > dari Partai Sosialis ketika itu!
> >
> > Jadi, ... kenyataan memang membuktikan sejal jaman Rev. Agustus itu,
> > Soeharto sudah tergolong KIRI, ... yang berpihak pada gerakan
> > komunis! Yang menjadi PERTANYAAN, sejak kapan Soeharto berubah
> > pandangan/pendirian menjadi ANTI-KOMUNIS, penghianat? Atau Soeharto
> > itu JUSTRU seorang bermuka-dua yang diselundup masukkan dalam PKI!!!
> > Benar sementara suara dibawah, bahwa DN Aidit TERTIPU Soeharto, ...!
> > Satu KESALAHAN-FATAL, yang membuat PKI, yang selama itu menjadi
> > kebanggaan Aidit telah menjadi partai komunis terbesar setelah PKT
> > dan PKUS, digebuk hancur-luluh oleh jenderal Soeharto tidak lebih
> > dari 8 jam saja!
> >
> > Tapi, setelah membaca kutipan dibawah ini saya juga timbul
> > pertanyaan, seandainya saja Soemarsono disaat itu sudah ada hubungan
> > dekat dengan letkol. Soeharto, seperti dinyatakan dalam kalimat: “Di
> > luar perhitungan mereka, ternyata Amir Sjarifuddin lolos dari
> > penculikan itu dan kebetulan saya juga segera datang ke Istana dan
> > ikut mengatur pasukan yang menjaga Istana bersama Letkol Suharto yang
> > waktu itu menjabat Komandan Resimen di Yogya.” , kenapa pertanyaan
> > pertama yang diajukan saat bertemu Soeharto: “Dik Harto terlibat
> > ndak?” “Ndak mas, ndak mas.”
> >
> > “Bener ndak?”
> >
> > “Ndak.”
> >
> > “Ha, ya sudah kalau tidak, sekarang pasukannya dislokasinya
> >
> > di mana?” Nah kemudian dia kasih tahu.
> >
> > “Ha sekarang coba, pasukannya itu digerakkan untuk membantu
> > melindungi Istana.”, itulah yang saya katakan pada dia.
> >
> >
> >
> > Seperti nampak Soemarsono ketika itu, sudah menaruh curiga pada
> > letkol Soeharto? Bukankah lebih masuk akal, kalau pertanyaan pertama
> > adalah bagaimana pengaturan keamanan Presiden Soekarno? Begitulah
> > pernyataan penegasan, Soemarsono ketika itu TIDAK mengetahui letkol.
> > Soeharto terlibat dalam penculikan 3 Juli 1946, “Di kemudian hari
> > baru saya tahu bahwa Suharto sebenarnya terlibat dalam Peristiwa 3
> > Juli 1946 itu. Dari buku Otobiografi-nya yang sudah diterbitkan itu
> > baru diketahui, bahwa Suharto ternyata ada hubungan dengan komandan
> > divisi yang waktu itu terlibat, yaitu Sudarsono.”
> >
> > Lalu, ... Amir ke Istana menemui Bung Karno, tapi bisa mengatakan
> > kenapa bung Karno diam saja? Darimana bung Karno bisa mengetahui hari
> > itu terjadi penculikan??? Amir cuma mengatakan: “Saya lari ke
> > Istana, tapi lihat itu. Presiden bukan bertindak untuk menolong, tapi
> > malah kehilangan akal.” ...“ Yaa, itulah kenyataannya, kehilangan
> > akalnya apa bagaimana. Itu kenyataan pada waktu itu Bung Karno kayak
> > begitu dan itu kesaksian saya. Jadi waktu Amir diculik, Bung Karno
> > mencari sesuatu yang gaib.” Demikian kata Soemarsono selanjutnya.
> > Tentu kita semua tidak bisa mengetahui bagaimana kejadian apalagi
> > menelusuri percakapan yang terjadi ketika itu sesungguhnya, ...
> > namun, apa yang dinyatakan Soemarsono sebagai saksi hidup kejadian
> > ketika itu, ... juga menimbulkan tanda tanya yang masih sulit
> > terjawab dengan persengketaan POLITIK yang terjadi ketika itu. Banyak
> > hal yang mesti diteliti lebih lanjut, bagaimana jalan pikiran dan
> > garis POLITIK kelompok-kelompok yang bertarung ketika itu
> > sesungguhnya, tanpa berkeras menganggap dirinya sendiri yang PALING
> > BENAR!
> >
> > Jelas ketika itu terjadi beda pendapat yang sangat sengit termasuk
> > didalam barisan KIRI, yang sampai sekarang tetap menyudutkan Tan
> > Malaka sebagai pengikut Tratsky dan diepak keluar dari PKI, lalu
> > membentuk MURBA. Dan rupanya Tan Malaka juga terlibat dalam kudeta 3
> > Juli 1946 itu, ... lalu menentukan dimana salahnya dan bagaimana yang
> > BENAR dan lebih baik dijalankan sesuai dengan situasi yang dihadapi
> > ketika itu???
> >
> >
> > Salam,
> > ChanCT
> >
> >
> > -----原始郵件-----
> > From: 'Lusi D.' [email protected] [GELORA45]
> > Sent: Saturday, December 10, 2016 11:39 PM
> >
> >
> >
> > Para sahabat.
> > Yang pertama kali melakukan budaya kudeta dalam sejarah Nasion
> > Indonesia adalah klik Tan Malaka. Di kalangan kaum marxis-leninis
> > terkenal sekali doktrin bahwa bagi kaum revolusioner sekali-kali tidak
> > dibenarkan melakukan kudeta. Kudeta bertentangan dengan ajaran tentang
> > revolusi.
> >
> > Sebagai bahan studi sejarah, berikut ini saya turunkan kutipan buku
> > Revolusi Agustus - Hasta Mitra hlm.64-70, dari salah seorang saksi
> > langsung dalam Peristiwa 3 Juli 1946, Pak Soemarsono, dengan kedudukan
> > waktu itu sebagai seorang Mayor Jendral, memberi perintah bersejarah
> > langsung kepada letkol. Soeharto untuk melucuti pasukan Divisi
> > Sudarsono yang sedang terlibat melakukan kudeta terhadap Presiden
> > Soekarno di Yogyakarta pada tgl. 3 Yuli 1946. Saya kirimkan juga dlm
> > format pdf.
> >
> >
> > Kutipan mulai:
> >
> > 5. Ambisi Tan Malaka dan Kudeta 3 Juli 1946
> >
> > Walaupun Bung Karno sudah menjadi Presiden RI Tan Malaka masih terus
> > berambisi ingin menjadi Presiden Republik Indonesia. Lalu caranya
> > bagaimana? Ambisi Tan Malaka ini ada hubungannya dengan Soekarno dan
> > termasuk juga dengan Hatta, tapi hubungannya yang menonjol itu dengan
> > Soekarno. Sebenarnya ketika itu Soekarno masih suka diliputi rasa
> > takut-takut, ngeri bagaimana kalau tertangkap oleh Sekutu. Sebab dia
> > masih bisa dituduh sebagai kolaborator Jepang dan bisa diadili sebagai
> > penjahat perang. Karena syak wasangkanya Soekarno itu, dia selalu
> > ditakut-takuti oleh orang-orangnya Tan Malaka, antara lain oleh
> > Soekarni, Chaerul Saleh dengan maksud supaya Soekarno siap bila suatu
> > ketika Inggris atau Sekutu menangkap Soekarno, sambil mengajukaan
> > pertanyaan:
> >
> > “Kalau Bung Karno ketangkap lalu siapa yang menggantikan Bung Karno?”
> >
> > Akhirnya mereka mengemukakan Tan Malaka yang akan menggantinya dan
> > mereka tahu bahwa Soekarno kenal Tan Malaka ini. Orang yang pernah
> > termasuk lingkaran pimpinan PKI, dia juga bukan sembarang orang.
> > Akhirnya Soekarno minta bertemu dengan Tan Malaka dan pertemuan itu
> > terjadi beberapa kali, yang terakhir kali pertemuan di rumah Dokter
> > Suharto, dokter pribadi Bung Karno di Kramat, Jakarta. Bung Karno dan
> > Tan Malaka datang ke situ dan tercapai satu persetujuan yang ditulis
> > sendiri oleh Bung Karno yang intinya: ”Bila Bung Karno menemui
> > halangan, tidak bisa melanjutkan tugasnya sebagai Presiden, maka
> > kedudukan itu diserahkan kepada Tan Malaka.”.
> >
> > Dengan demikian Tan Malaka punya dokumen mandat. Kalau seandainya Tan
> > Malaka benar jadi Presiden, Tan Malaka bisa mengatakan “Ini Soekarno
> > menyerahkan jabatan kepresidenan kepada saya!”, jadi syah. Malah kalau
> > testamen ini dibandingkan dengan kejadian G30S seperti Supersemar itu
> > sebenarnya tidak syah, karena dengan Supersemar itu Suharto yang
> > mengoper wewenang Bung Karno. Itulah sebabnya Suharto tidak berani
> > mempublikasi Supersemar-nya, karena Soekarno hanya memberikan kuasa
> > pengamanan saja kepada Suharto. Jadi bukan wewenang kepresidenan yang
> > diserahkan, bukan menyerahkan supaya Suharto yang jadi presiden.
> >
> > Karena Tan Malaka itu akalnya banyak akhirnya dia dapat surat kuasa
> > dari Bung Karno itu. Itu benar saya lihat suratnya. Kalau Bung Karno
> > berhalangan, maksudnya kalau Sekutu datang dan Bung Karno ditangkap,
> > ‘kan kepresidenan jadi vacum, nah majulah itu Tan Malaka. Jadi menurut
> > surat itu jelasnya apabila Bung Karno berhalangan. Tapi waktu kejadian
> > Peristiwa 3 Juli 1946 itu Bung Karno tidak ada halangan apa-apa, kok
> > Bung Karno dituntut oleh pengikut Tan Malaka supaya Tan Malaka
> > dijadikan Presiden.
> >
> > Untuk melaksanakannya dibikinlah suatu rekayasa dengan terlebih dahulu
> > menculik Sutan Sjahrir, jadi Perdana Menterinya diculik. Lalu Amir
> > Sjarifuddin, Menteri Pertahanan juga diculik, tapi bisa digagalkan.
> > Kemudian mereka menggerebek Istana. Tetapi dalam waktu singkat setelah
> > terjadi peristiwa penculikan itu saya berada di Istana Presiden di
> > Yogya bersama Letkol Suharto yang waktu itu menjabat Komandan Resimen
> > di Yogya. Orang-orang Tan Malaka itu menuntut pelaksanaan supaya Tan
> > Malaka menjadi presiden. Padahal isi dalam surat itu pengertiannya
> > yang benar, itu kalau Presiden berhalangan dan itupun maksudnya kalau
> > Bung Karno ditangkap oleh Sekutu. Waktu itu tidak terjadi apa-apa yang
> > menimpa Bung Karno, tapi dia dituntut supaya menyerahkan
> > kepresidenannya kepada Tan Malaka dan kalau Bung Karno menyerahkan
> > kekuasaan seperti yang memang benar ditulis pada testamennya itu,
> > menyerahkan kepresidenannya, ya Tan Malaka yang menjadi Presiden pada
> > 3 Juli 1946 itu dan waktu itu calon-calon menteri Tan Malaka sudah
> > berdatangan di Istana.
> >
> > Di luar perhitungan mereka, ternyata Amir Sjarifuddin lolos dari
> > penculikan itu dan kebetulan saya juga segera datang ke Istana dan
> > ikut mengatur pasukan yang menjaga Istana bersama Letkol Suharto yang
> > waktu itu menjabat Komandan Resimen di Yogya.
> >
> > Saya kebetulan sedang menghadiri konferensi di Yogya dan juga ada
> > pertemuan Pesindo waktu itu. Saya memang sering ke Yogya,Perjuangan
> > Sesudah Jepang karena ada kalanya menyelesaikan urusan-urusan yang
> > memang saya musti kerjakan di Yogya. Dan saat-saat terakhir karena
> > sering ada pertemuan dengan Panglima Besar Sudirman, dengan
> > Djokosujono atau pertemuan Dewan Pertahanan Negara, jadi saya lebih
> > banyak berada di Yogya.
> >
> > Jadi hari itu tanggal 3 Juli 1946, Menteri Pertahanan Amir Sjarifuddin
> > diculik. Peristiwa penculikan itu baru kami ketahui kemudian. Maksud
> > penculikannya tidak tahu, juga dia mau dibawa ke mana. Dalam peristiwa
> > penculikan itu Amir Sjarifuddin, di luar perhitungan mereka, sempat
> > merebut senjata si penculik itu, dengan sigap dia todongkan senjata
> > itu ke sopir yang menculik dan Amir Sjarifuddin memerintahkan - kiri -
> > kanan - kiri - akhirnya masuk Istana. Kejadian ini saya ketahui
> > kemudian dari cerita Amir Sjarifuddin sendiri.
> >
> > Kembali pada kejadiannya. Sementara proses penculikan itu berlangsung,
> > kami dari tempat penginapan pagi hari mendengar tembakan, kemudian
> > melihat keluar, ini kok suara tembakan jurusannya ke arah tempat
> > tinggal Amir di sana. Kita memang jadi waspada waktu itu dan rupanya
> > memang tempat Amir itu diserang. Dia itu Menteri Pertahanan diserang
> > oleh Kompi Jusuf dari Divisi Sudarsono di Yogya dan pasukan pengawal
> > Menteri Pertahanan mempertahankan. Jadi itulah pasal terjadinya
> > tembak-menembak itu, karena itu kami rombongan Pesindo, semua
> > berangkat ke sana. Waktu pengawal di rumah Amir itu diserang, saya
> > ikut bertempur juga di situ dan itu saya ikut secara perorangan saja,
> > wong kami tidak membawa pasukan, ikut bertempur di situ untuk
> > menghalau serangan terhadap Amir itu. Tapi rupanya Amir bisa lolos,
> > dan penyerangnya kabur semua. Akhirnya pertempuran ini tidak
> > diteruskan, lalu mereda begitu saja, pasukan mereka buyar dan lari.
> > Dan kita tidak memperhatikan itu lagi. Kemudian kami mendengar bahwa
> > Amir sudah dibawa pergi oleh suatu truk, jadi kami terus ikut pergi
> > juga mencari ke jurusan mana truk itu pergi. Akhirnya kami mendengar
> > bahwa Amir itu tilpun dari kepresidenan, dari Istana, artinya dia ada
> > di Istana. Karena Amir Sjarifuddin sudah berada di Istana, lalu kami
> > pagi itu terus menuju ke Istana dan kira-kira setengah enam pagi
> > begitu saya sudah di Istana Presiden dan berjumpa Amir Sjarifuddin.
> > Jadi yang pertama kali ketemu Amir di Istana ya rombongan kami, bukan
> > saya saja, tapi teman-teman Pesindo juga yang masuk di Istana, Amir
> > kelihatan masih gusar sekali. Di Istana saya juga berjumpa dengan
> > Bung Karno. Saya ada di Istana, dan Amir juga.
> >
> > Ini cerita the naked truth suasana pagi waktu itu. Amir masih pakai
> > sarung dan baju piyama, dia bilang: “Coba lihat!” Yang dimaksudkan
> > adalah Bung Karno. Waktu itu saya masuk ke ruangan, Bung Karno duduk
> > bersila di kursinya, ada keris di depannya. Amir cuma mengatakan:
> > “Saya lari ke Istana, tapi lihat itu. Presiden bukan bertindak untuk
> > menolong, tapi malah kehilangan akal.” Maksudnya Amir, Soekarno ini
> > kan Presiden, mustinya kan kalau dia pemimpin dia musti cari bantuan
> > untuk menolongnya, tapi hij had niks gedaan (Dia tidak melakukan
> > apa-apa). Yaa, itulah kenyataannya, kehilangan akalnya apa bagaimana.
> > Itu kenyataan pada waktu itu Bung Karno kayak begitu dan itu kesaksian
> > saya. Jadi waktu Amir diculik, Bung Karno mencari sesuatu yang gaib.
> >
> > Waktu itu semua yang berada di Istana belum tahu kalau itu suatu
> > peristiwa kup. Dari Amir pun tidak ada ucapan kup begitu. Dari Amir
> > pun tidak ada ucapan kup begitu, Dia tidak tahu, tapi dia cuma
> > menunjukkan kepada kami mengapa dia tidak dapat pertolongan dari
> > Soekarno. Kami juga tidak tahu apakah akan ada serangan pada Istana.
> > Karena yang menjaga Istana waktu itu terdiri dari anak-anak dari
> > Surabaya, kalau ndak salah waktu itu komandannya itu Ririhema
> > namanya, karena saya sudah biasa dengan anak-anak Surabaya ini, jadi
> > yang saya kerjakan waktu itu yah pokoknya mengatur persiapan membela
> > Istana itu, kalau-kalau ada serangan seperti di rumah Amir tadi. Dan
> > akhirnya itu saya ikut mengatur pertahanan, mengatur kesiapsiagaan
> > pasukan anak-anak Surabaya itu. Lalu ada yang menyampaikan nama
> > Suharto pada saya. Kalau tidak salah yang bilang itu Pramudji,
> > sama-sama dari Yogya:
> >
> > “Harto itu komandan resimen di Yogya, Harto itu kawan kita.” Karena
> > dia termasuk dari golongan Pemuda Pathook itu, jadi mustinya dia juga
> > bersama Sjahrir dan Sjahrir kan termasuk yang diculik juga waktu itu.
> > Pramudji ini, dulu dia dari golongan Pemuda Pathook juga. Kemudian dia
> > bersama saya di Surabaya menjadi salah satu komandan resimen. Kecuali
> > itu Pramudji juga di Pesindo, sekarang sudah meninggal. Karena yang
> > tahu tilpunnya juga Pramudji lalu saya bilang:
> >
> > “Panggil Harto saja!” Jadi Suharto dipanggil oleh Pramudji.
> >
> > Ketika itu dia masih overste, letnan kolonel, sebagai komandan Resimen
> > di Yogya. Itulah saat saya mengenal Suharto untuk yang pertama kali
> > dan bertatap muka dengan dia. Suharto cepat datang dari markasnya.
> > Kalau tidak salah markasnya di Wiyoro, ada juga ditulis di buku
> > Otobiografi-nya Suharto. Karena waktu itu Suharto dianggap berpihak
> > pada kita juga, artinya dia musti membela Presiden. Dia punya satu
> > resimen dan sudah tentu membesarkan hati kita. Tapi kita juga belum
> > tahu kalau komandan Divisi Sudarsono ada di belakang penculikan ini.
> > Jadi kita belum tahu kalau mereka merancang untuk kup itu.
> >
> > Tentang Sudirman sikapnya tidak jelas. Memang Sudirman sering
> > dikatakan tidak jelas begitu. Bahkan kita belum tahu kalau komandan
> > divisi itu terlibat juga. Baru belakangan kita tahu, oo, ini mau kup.
> > Ada Komandan Divisi Sudarsono, lalu mendengar juga kalau Panglima
> > Besar Sudirman itu ada kemungkinan bisa bersama mereka. Karena itu
> > kejadian ini peristiwa besar, makanya kita namakan kup. Kalau cuma
> > serangan kepada Amir saja ya sudah, tapi ini termasuk rancangan besar
> > Divisi Sudarsono, lalu ada juga kekuatiran kita kalau Sudirman juga
> > ikut. Jadi perasaan kita, wah kekuatan kita kecil kalau menghadapi
> > itu, sebab mereka memang besar-besaran, karena mau kup. Mau kup kan
> > musti kekuatannya besar.
> >
> > Ketika itu suasana kup sedang menguasai semua yang berada di Istana.
> > Jadi pada waktu itu suasana setiap orang bisa tembak-menembak,
> > bertempur satu sama lainnya. Saya tanya mula-mula pada Harto setelah
> > saya tahu dia dari Pemuda Pathook, dari Partai Sosialis. Saya juga
> > dari Partai Sosialis waktu itu. Dan hubungannya Suharto dekat dengan
> > Dayino, Dayino itu godfather-nya Pemuda Pathook. Waktu Suharto ini
> > sampai di Istana pertama kali yang saya tanyakan pada dia:
> >
> > “Dik Harto terlibat ndak?”
> > “Ndak mas, ndak mas.”
> > “Bener ndak?”
> > “Ndak.”
> > “Ha, ya sudah kalau tidak, sekarang pasukannya dislokasinya
> > di mana?” Nah kemudian dia kasih tahu.
> > “Ha sekarang coba, pasukannya itu digerakkan untuk membantu melindungi
> > Istana.”, itulah yang saya katakan pada dia.
> >
> > Di Istana waktu itu sudah ada Mr. Mohamad Yamin. Pada waktu Peristiwa
> > 3 Juli 1946 di Yogya itu dia berada di Istana Yogya. Saya ketemu
> > dengan Chaerul Saleh, dia juga ada di Istana. Saya bersama Chaerul di
> > Jakarta juga satu kelompok waktu gerakan pemuda proklamasi, hanya
> > saya sudah berkedudukan di Surabaya, tapi kita terus nyambung.
> > Chaerul Saleh pada waktu itu sempat mengatakan:
> >
> > “Yah, kali ini kau menang Son, tapi lain kali, saya tangkep kau!”
> >
> > “Yah, boleh aja. He, he.”
> >
> > Dan saya akhirnya menangkapi calon-calon menterinya Tan Malaka yang
> > sudah berada di Istana itu.
> >
> > Karena kejadian di Istana itu, saya lalu mendatangkan pasukan dari
> > Front Surabaya, termasuk pasukan dan komandannya Soengkono. Saya suruh
> > tarik pasukan dari Kolonel Soengkono ini, akibat kejadian di Yogya
> > itu. Hubungan saya dengan Soengkono itu ada sejarahnya ketika
> > pertempuran di Surabaya, waktu itu saya memimpin pertempuran
> > menghadapi pasukannya Mallaby – Inggris.
> >
> > Sudah saya jelaskan di atas, waktu itu saya tidak tahu apakah Suharto
> > ini terlibat atau tidak, saya tidak tahu. Di kemudian hari baru saya
> > tahu bahwa Suharto sebenarnya terlibat dalam Peristiwa 3 Juli 1946
> > itu. Dari buku Otobiografi-nya yang sudah diterbitkan itu baru
> > diketahui, bahwa Suharto ternyata ada hubungan dengan komandan divisi
> > yang waktu itu terlibat, yaitu Sudarsono. Di dalam Divisi Sudarsono
> > itu ada Kompi Jusuf, kompi yang menculik Amir. Kecuali itu Suharto
> > sebagai Komandan Resimen di Yogya juga dekat dengan Panglima
> > Sudirman, dengan Sudarsono, Komandan Divisi yang terlibat dan ikut
> > menggerakkan pasukannya untuk mendukung gerakan Tan Malaka 3 Juli
> > 1946 ini. Jadi pada waktu Peristiwa 3 Juli 1946 itu Suharto sudah
> > mencari jalan untuk mau ikut berkuasa, karena waktu itu juga Panglima
> > Besar Sudirman dalam keadaan bimbang, apakah memihak Bung Karno atau
> > memihak Tan Malaka.
> >
> > Kutipan selesai.
> >
> > Salam akhir minggu.
> > Lusi.-
> >
> > --------------------
> >
> >
> >
> >
> >
> > Am Fri, 9 Dec 2016 09:11:41 +0800
> > schrieb "'Chan CT' [email protected] [GELORA45]"
> > <[email protected]>:
> >
> > > Dari Maklumat, Penculikan, sampai Pembunuhan
> > >
> > > 7 Desember 2016
> > >
> > > http://koransulindo.com/dari-maklumat-penculikan-sampai-pembunuhan/
> > >
> > > Pelantikan Kabinet Sjahrir
> > >
> > > Koran Sulindo – Istilah makar atau kudeta kembali menjadi populer
> > > belakangan ini di Tanah Air. Dalam buku Political Order in Changing
> > > Societies (1968), Samuel P. Huntington memilah kudeta menjadi tiga:
> > > kudeta sempalan, kudeta wali, dan kudeta veto.
> > >
> > >
> > >
> > > Kudeta sempalan dilakukan oleh sekelompok bersenjata yang dapat
> > > terdiri dari militer atau tentara yang tidak puas dengan kebijakan
> > > pemerintahan tradisional saat itu. Kemudian, mereka melakukan
> > > gerakan yang bertujuan menggulingkan pemerintah tradisional dan
> > > kemudian menciptakan elite birokrasi baru.
> > >
> > >
> > >
> > > Sementara itu, kudeta wali dilakukan sekelompok orang dengan
> > > mengumumkan diri sebagai perwalian guna meningkatkan ketertiban
> > > umum, efisiensi, dan mengakhiri korupsi tapi pada kenyataan tidak
> > > akan ada perubahan yang mendasar pada struktur kekuasaan umumnya.
> > > Para pemimpin kudeta akan menggambarkan diri dan tindakan mereka
> > > bersifat sementara dan akan menyesuaikan dengan kebutuhan.
> > >
> > >
> > >
> > > Yang ketiga adalah kudeta veto. Kudeta ini dilakukan melalui
> > > partisipasi dan mobilisasi sosial sekelompok massa rakyat dalam
> > > melakukan penekanan skala besar berbasis luas pada oposisi sipil.
> > >
> > >
> > >
> > > Dalam perjalanan sejarah Indonesia, berbagai percobaan makar
> > > terhadap pemerintahan yang sah pernah terjadi. Tercatat percobaan
> > > makar atau kudeta pertama kali terjadi bahkan ketika negara ini
> > > baru setahun berdiri, yakni pada 3 Juli 1946. Ketika itu, Mayor
> > > Jendral R.P. Sudarsono, pelaku utama penculikan Perdana Menteri
> > > Sjahrir yang sehaluan dengan kelompok Persatuan Perjuangan,
> > > menghadap Soekarno bersama beberapa rekannya dan menyodorkan empat
> > > maklumat untuk ditandatangani presiden.
> > >
> > >
> > >
> > > Pertama: Presiden memberhentikan Kabinet Sjahrir II. Kedua: Presiden
> > > menyerahkan pemimpin politik, sosial, dan ekonomi kepada Dewan
> > > Pimpinan Politik. Ketiga: Presiden mengangkat 10 anggota Dewan
> > > Pimpinan Politik yang diketuai Tan Malaka dan beranggotakan Muhammad
> > > Yamin, Ahmad Subarjo, Dokter Boentaran Martoatmodjo, Mr. R. S.
> > > Budhyarto Martoatmodjo, Sukarni, Chaerul Saleh, Sudiro, Gatot, dan
> > > Iwa Kusuma Sumantri. Keempat: Presiden mengangkat 13 menteri negara
> > > yang nama-namanya dicantumkan dalam maklumat tersebut.
> > >
> > >
> > >
> > > Presiden Soekarno, pihak pemerintah yang sudah jauh hari siap
> > > menghadapi pihak Soedarsono, tidak menerima maklumat tersebut dan
> > > memerintahkan penangkapan para pengantar maklumat. Akhirnya,
> > > percobaan pemebrontakan itu pun gagal karena partai-partai seperti
> > > Masyumi, PNI, dan PBI yang diharapkan mengerahkan mendukung dengan
> > > massa ke jalan-jalan untuk berpawai tidak menjalankan hal tersebut.
> > >
> > >
> > >
> > > Pihak militer pun tidak memberikan dukungan. Terbukti dengan
> > > munculnya Soeharto yang ditugaskan langsung oleh Presiden Soekarno
> > > untuk menangkap Soedarsono dan yang terlibat dari pihak tentara dan
> > > polisi.
> > >
> > >
> > >
> > > Pada akhirnya, Sjahrir berhasil dibebaskan dan Tan Malaka beserta
> > > kelompoknya masuk jeruji besi di Penjara Wirogunan, Yogyakarta.
> > > Sementara itu, 14 orang yang diduga terlibat dalam upaya kudeta
> > > diajukan ke Mahkamah Tentara Agung. Tujuh orang dibebaskan, 5 orang
> > > dihukum 2 sampai 3 tahun, sedangkan R.P. Sudarsono dan Muhammad
> > > Yamin dijatuhi hukuman selama 4 tahun penjara. Dua tahun kemudian,
> > > pada 17 Agustus 1948, seluruh tahanan Peristiwa 3 Juli 1946
> > > dibebaskan melalui pemberian grasi presiden.
> > >
> > >
> > >
> > > Latar belakang peristiwa pemberontakan itu berawal dari, perbedaan
> > > pemikiran yang frontal antara Perdana Menteri Soetan Sjahrir dengan
> > > kelompok oposisi Persatuan Perjuangan yang dipimpin Tan Malaka.
> > > Terjadi insiden penculikan hingga upaya kudeta Kabinet Sjahrir II
> > > pada medio 1946. Pemicunya adalah ketidakpuasan pihak oposisi
> > > terhadap politik diplomasi yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia
> > > terhadap Belanda. Kelompok ini menginginkan pengakuan kedaulatan
> > > penuh, sedangkan kabinet yang berkuasa hanya menuntut pengakuan
> > > kedaulatan atas Jawa dan Madura.
> > >
> > >
> > >
> > > Ide penculikan Sjahrir berawal dari A.K Joesoef, Kepala Tentara
> > > Pendjagaan Kota (Jogjakarta), karena Sjahrir dianggap telah
> > > merugikan bangsa dengan hasil perundingannya. Karena Sjahrir pada
> > > waktu itu sedang ada di Solo, yang berarti di luar wilayah
> > > kekuasaan Joesoef, dia meminta surat perintah kepada Soedarsono,
> > > Komandan Batalyon 63 dan juga disetujui Panglima Divisi IV Kolonel
> > > Sutarto, yang merupakan tangan kanan Jendral Soedirman. Akhirnya,
> > > dari Soedarsono, ide itu merembet sampai ke penasihat- penasihat
> > > politik Soedirman dan sampai pada Yamin. Berbekal surat itulah A.K.
> > > Joesoef tak menemui halangan berarti dari Kepolisian Solo untuk
> > > melakukan penangkapan terhadap Sjahrir.
> > >
> > > Kudeta Militer 17 Oktober 1952
> > >
> > > Peristiwa 17 Oktober 1952 berakar dari pertentangan sipil-militer
> > > pascakemerdekaan. Pada masa Kabinet Wilopo, pemimpin TNI berniat
> > > mereorganisasi dan merasionalisasi militer untuk menanggalkan
> > > mentalitas tentara gerilya menjadi tentara profesional. Proses ini
> > > akan diikuti pemberhentian hampir 40% personel TNI sebagai
> > > konsekuensi dari pemangkasan anggaran.
> > >
> > > Para pemimpin militer, seperti KSAD Kolonel AH Nasution dan Kepala
> > > Staf Angkatan Perang Kolonel TB Simatupang, mengusulkan untuk
> > > mendatangkan Misi Militer Belanda (MMB) yang ditugaskan membantu
> > > dalam segi teknis—bukan doktrin—untuk menyediakan kader bagi
> > > lembaga-lembaga pendidikan militer. Hanya saja, ide ini ditentang
> > > keras golongan lain di dalam Angkatan Darat. Kolonel Bambang Supeno
> > > melaporkan ketidaksukaannya terhadap rencana itu kepada Presiden
> > > Soekarno secara langsung tanpa mengindahkan alur komando.
> > >
> > > Sejak pukul 04.00 WIB, militer mengamankan tempat-tempat strategis:
> > > kantor RRI, gedung DPRS-MPRS, dan stasiun-stasiun kereta api. Pukul
> > > 08.00 WIB, kerumuman massa menjalar. Mereka diangkut dari
> > > pabrik-pabrik di luar kota, sisanya dari Jakarta yang dikoordinasi
> > > jagoan-jagoan Betawi. Tentara mengorganisasi demonstrasi itu dengan
> > > dukungan tank dan artileri, bergerak ke istana presiden, menuntut
> > > pembubaran parlemen.
> > >
> > > Soekarno mencoba menengahi, bahkan cenderung tak setuju dengan
> > > usulan Nasution-Simatupang. Musyawarah ketiganya, yang juga
> > > dihadiri Menteri Pertahanan Hamengkubuwono IX, tak berjalan mulus.
> > > “Pembicaraan itu meningkat panas dan hampir berkembang menjadi adu
> > > teriak antara Sukarno dan Simatupang,” tulis John D. Legge dalam
> > > buku Sukarno: Sebuah Biografi Politik.
> > >
> > > Nasution kemudian memecat Bambang Supeno. Parlemen mengecam tindakan
> > > tersebut dan mengeluarkan mosi untuk menghentikan MMB, karena
> > > dianggap pro-Barat dan menyudutkan golongan personel eks- Pembela
> > > Tanah Air, seperti Bambang Supeno.
> > >
> > > Mosi dari Manai Sophiaan yang disetujui parlemen memaksa militer
> > > untuk menurut. Namun, pihak Angkatan Darat menganggap itu sebagai
> > > usaha ikut campur kalangan sipil dalam urusan militer.
> > >
> > > Tak lama kemudian, militer melancarkan operasi penangkapan terhadap
> > > enam anggota parlemen. Manai Sophiaan nyaris diculik di kediamannya,
> > > sementara sekelompok perwira loyalis Soekarno di Jawa Timur berhasil
> > > kabur karena tim penyergap pimpinan Mayor Kemal Idris salah
> > > menggrebek rumah.
> > >
> > > Dini hari, 17 Oktober 1952, para panglima berkumpul di kantor Staf
> > > Umum Angkatan Darat. Mereka saling melempar ide gerakan dengan
> > > kepala panas, sampai disela oleh Simatupang. “Setop. Ini sudah
> > > berbau kup. Kritik oke, tetapi jangan kup,” demikian dikatakan
> > > Simatupang, sebagaimana dikutip dari biografi A.E. Kawilarang,
> > > Untuk Sang Merah Putih, yang ditulis Ramadhan K.H.
> > >
> > > Jakarta pun dipenuhi suara-suara protes. Kepala Intel Biro Informasi
> > > Perang Zulkifli Lubis sebelumnya sudah menghubungi ajudan Soekarno
> > > tentang pengerahan massa tersebut. Bahkan, Kolonel Moestopo yang
> > > mengorganisasi demonstrasi itu sudah diminta membatalkan niatnya.
> > > Namun, demonstrasi tetap terjadi. Puncaknya: moncong meriam
> > > diarahkan ke istana atas arahan Kemal Idris.
> > >
> > > Sementara itu, di dalam istana, Soekarno dan para panglima yang
> > > dipimpin Nasution berunding. Nasution menuntut parlemen dibubarkan.
> > > Soekarno menolak dengan marah. “Mataku terbakar karena marah. Engkau
> > > benar dalam tuntutanmu, akan tetapi salah di dalam caranya. Sukarno
> > > tidak akan sekali-kali menyerah karena paksaan. Tidak kepada seluruh
> > > tentara Belanda dan tidak kepada satu batalyon Tentara Nasional
> > > Indonesia!” kata Bung Karno, sebagaimana tertera dalam
> > > otobiografinya, Penyambung Lidah Rakyat, sebagaimana diceritakan
> > > kepada Cindy Adams.
> > >
> > > Bung Karno lalu keluar dan menenangkan massa. Setelah menasihati
> > > mereka akan pentingnya parlemen sebagai sarana demokrasi, layaknya
> > > seorang ayah kepada anaknya, tensi massa mulai menurun. Massa malah
> > > menerikkan yel-yel “Hidup Bung Karno!” dan kemudian bubar teratur.
> > >
> > > Nasution menamakan gerakan itu sebagai “separo kudeta”. Dan, gerakan
> > > itu gagal total. Tak lama kemudian, Nasution dicopot sebagai KSAD,
> > > digantikan Bambang Sugeng, kawan dekat Bambang Supeno. Namun,
> > > Soekarno kelak mengangkat kembali Nasution dengan alasan “menjaga
> > > persatuan.”
> > >
> > > Kudeta 30 September 1965
> > >
> > > Kudeta paling terkenal dalam sejarah Indonesia adalah Gerakan 30
> > > September, yang sebagian orang menyebutnya sebagai G30S/PKI. Pelaku
> > > utama pemberontakan, yang dilancarkan sejak 30 September 1965 malam,
> > > adalah Letnan Kolonel Untung, salah satu komandan batalyon pasukan
> > > pengawal Presiden Soekarno, Cakrabirawa. Dalam gerakan ini, sejumlah
> > > perwira diculik dan dibunuh.
> > >
> > > Untung akhirnya tertangkap dan segera dihukum mati. Setelah Surat
> > > Perintah 11 Maret (Supersemar) diberikan kepada Soeharto, kekuasaan
> > > Soekarno semakin lemah dan Soeharto semakin kuat dan populer. Tak
> > > sampai dua tahun setelah kudeta ini, Soekarno dilengserkan dari
> > > kursi kepresidenan. Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS)
> > > yang dulu mendukung Soekarno sebagai Presiden Seumur Hidup justru
> > > menolak pidato pertanggungjawabannya, Nawaksara. Kemudian, MPRS
> > > yang dipimpin Abdul Haris Nasution mengangkat Letnan Jenderal
> > > Soeharto sebagai Pejabat Presiden Republik Indonesia pada 1967.
> > > [NYT]
> > >
> > >
> >
> >
> > <[email protected]> ------------------------------------
> >
> > Berita dan Tulisan yang disiarkan GELORA45-Group, sekadar untuk
> > diketahui dan sebagai bahan pertimbangan kawan-kawan, tidak berarti
> > pasti mewakili pendapat dan pendirian GELORA45.
> > ------------------------------------
> >
> > Yahoo Groups Links
> >
> >
> >
> 
>

Kirim email ke