Kenapa kok dicetak di Pakistan?Sekarang kok sudah tidak ada lagi duit yg 
dijamin emas, duit jaman sekarang ini dijamin pakai janji gombal ha ha ha. Yg 
namanya USD juga emasnya cuman ada sekitar 4.5% dari M2, Singapore lebih parah 
lagi cuman sekitar 2%, nggak tahu rupiah gimana.

---In [email protected], <ambon@...> wrote :

Apakah uang kertas  NKRI masih dicetak di Pakistan? Jaminan uang dulunya pakai 
emas,  tetapi sekarang disamping emas juga  dipakai mata uang asing, misal 
dollar Amerika.  From: mailto:[email protected]: Tuesday, December 
13, 2016 4:37 AMTo: mailto:[email protected] ; 'Chan CT' ; 
mailto:[email protected] ; mailto:[email protected] ; 
mailto:[email protected]: [GELORA45] Misteri Bank Indonesia 
Saya juga kurang begitu tahu/awam soal bank BI, apalagi harus ada jaminan kalau 
mau cetak uang.Dari pimpinannya bank BI berpangkat gubernur bank indonesia, 
berarti ada presiden direkturnya. Mungkin IMF?????????Yang jadi pertanyaan 
apakah ada negara yang bisa mencetak uang sendiri tanpa jaminan emas?Seperti 
yang saya sering posting sebelumnya, sesuai permintaan pasar semakin banyak 
uang yang beredar maka harga  uang akan semakin murah begitu 
sebaliknya.Bagaimnaa kalau uang di tarik 50-70 % dari peredaran apakah bisa? 
seperti menarik uang yang kusut, kotor, robek dllSehingga harga uang kan 
menjadi lebih mahalFrom: [email protected] 
[mailto:[email protected]] 
Sent: Tuesday, December 13, 2016 10:58 AM
To: GELORA_In
Subject: [**EXTERNAL**] [t-net] Fw: Misteri Bank Indonesia
Importance: High From: B.DORPI P.Sent: Tuesday, December 13, 2016 9:19 AM
https://muhara.wordpress.com/2014/01/05/misteri-bank-indonesia/January 5, 2014
Misteri Bank Indonesia
by muharaIni ProlognyaTidak banyak yang mengetahui sejarah Bank Indonesia, 
apalagi mengetahui siapa pemilik Bank Indonesia. Bank Indonesia bukan milik 
Negara Indonesia, apalagi milik Rakyat Indonesia. Sejatinya Bank Indonesia itu 
milik IMF!Karenanya jangan berharap Negara Indonesia bisa mencetak uang 
sendiri. Danjangan harap rakyat negeri ini bisa menikmati hidup layak. Hingga 
darah menetes habis dari tubuh ke tanah, kesenjangan sosial dan pemiskinan tak 
akan pernah tuntas dari negeri ini. Satu-satunya solusi adalah keluar dari IMF 
dan membuat uang sendiri!Bank sentral, umumnya adalah perusahaan swasta yang 
diberi monopoli mencetak uang. Bank Sentral Republik Indonesia, semula adalah 
Bank Nasional Indonesia 46 atau BNI 46. BNI 46, didirikan oleh Presiden Pertama 
Republik Indonesia Ir. Soekarno. Namun dipaksa diganti menjadi Nedherland 
Volkskrediet (NV) DeJavasche Bank.Bank NV DeJavasche adalah Bank milik penjajah 
Belanda. Atas dukungan internasional (Yahudi Internasional) menolak dan 
membekukan BNI 46. Dan memaksa Negara Indonesia mendirikan Bank Republik 
Indonesia (BRI), sebagai pengganti NV DeJavasche Bank yang memiliki monopoli 
kebijakan keputusan hutang dan tunduk serta dibawah naungan IMF.Berikut 
kronologi terbentuknya Bank Negara Indonesia atau BNI.Saat Indonesia merdeka, 
Soekarno-Hatta memutuskan untuk mendirikan bank sentral, yaitu Bank Negara 
1946. Terbitkan “Oeang Repoeblik Indonesia (ORI). ORI terbit dengan satuan 1 
sen samapi Rp 100. Nilai setiap 2 rupiah dijamin dengan 1 gram emas. UU no 
19/1946.Atas berdirinya BNI, Pemerintah penjajah Belanda, dan bankir 
internasional lain, menolak keberadaan Negara Republik Indonesia NKRI dan BNI 
46, sekaligus juga menolak ORI. Buntut dari ditolaknya Kemerdekaan RI, agresi 
militer, dilakukan oleh Negara imperialis yaitu Amerika, Inggris, Perancis dan 
memberikan boncengan Belanda masuk kembali ke Indonesia.Akhirnya Indonesia 
dipaksa lewat perundingan, Konferensi Meja Bundar 1949, Negara Republik  
Indonesia akan diakui dengan beberapa syarat.Pertama, utang pemerintah hindia 
Belanda, harus diambilalih oleh RI muda. Nilainya 4 milar dolar AS. Saat 
proklamasi NKRI tidak memiliki utang sedikitpun. Kedua dengan dalih agar bisa 
mengambil alih hutang pemerintah penjajah Belanda, BNI 46 harus dihentikan 
sebagai bank sentral. Ketiga mengganti BNI 46 dengan De Javasche Bank (yg 
dulunya milik bankir-bankir kompeni dari keturunan Yahudi) , bank ini kemudian 
berganti nama menjadi Bank Indonesia (BI).Dengan BNI 46 diganti NV DeJavasche 
Bank, ORI dihentikan, diganti dengan Uang Bank Indonesia (UBI), sejak 1952. 
Begitu diakui, tahun 1949, rupiah dipatok sebesar 3.8 per dolar AS. Melorot ke 
Rp 11.4 per dolar pada 1952, saat ORI diganti menjadi UBI. Saat itulah 
dimulainya penjajahan jenis baru di negeri ini.Pada 1965, Presiden Soekarno, 
memutuskan keluar dari PBB, IMF dan Bank Dunia. Perusahaan-perusahaan asing 
dinasionalisasi. Karena keberaniannya itu, tahun 1967 pemerintahan Soekarno 
diakhiri oleh konspirasi para bankir, penguasa dan politisi internasional, 
termasuk Amerika Serikat dengan jalan “kudeta oleh Soeharto”.Pada tahun 1967 
pula, dimulai ‘pembangunan’ oleh Orde Baru, dengan modal dari IMF, Bank Dunia, 
dan konsorsium bank lainnya. BI sebagai ‘dompetnya’. Konsensus ini dilakukan di 
Negara Swiss, termasuk memberikan tambang emas Freeport di Irian Barat, 
sekarang Papua pada Amerika.Sejak itu, dari tahun ke tahun, hutang Indonesia 
membengkak. Pada 2013, mendekati Rp 2000 triliun. 1999, BI dilepas dari 
Pemerintah RI, dan langsung di bawah kendali IMF. Gubernur BI tidak lagi bagian 
dari Kabinet RI, tidak akuntable kepada Pemerintah RI, apalagi kepada rakyat 
RI. Dibiayai bukan dari APBN.Bank sentral umumnya dimiliki oleh 
perusahaan-perusahaan swasta. Detik ini orang masih bertanya: mengapa 
pemerintah tidak mencetak uang sendiri?Bank sentral yang tidak langsung 
dimiliki swasta, “disembunyikan”, di balik undang-undang, sebagai ‘bagian dari 
negara’. Tapi independen 100 persen.BI Milik siapa? Jadi misteri. Kalau milik 
negara, mestinya berupa BUMN, masuk APBN, akuntable terhadap rakyat. Meski 
tidak mengeluarkan saham, BI, mengeluarkan ‘Sertifikat BI’, yang tentu saja 
dimiliki bank komersial. Sekitar 50 persen, sertifikat BI sekarang milik 
asing.Semantara itu, tugas pokok BI, untuk menjaga nilai rupiah tidak pernah 
bisa dilakukan. Nilai rupiah sudah hancur lebur, hilang 99 persen 
nilainya.Janji bahwa nilai Rp 2 rupiah = 1 gram emas yang dicanangkan Presiden 
Soekarno para imperialis, kapitalis internasional dan antek-anteknya. Hari ini 
1 gram emas setara dengan Rp 520.000. Rakyat RI mengalami 250 ribu kali 
pemiskinan.Untuk nutupi kegagalan itu, BI, seperti bankir di manapun, akan 
melakukan redenominasi. Hari ini redenominasi sudah di mulai. Targetnya, 
memasuki tahun 2014, akan ada uang baru dengan nulai baru yang lebih 
memiskinkan rakyat, bangsa dan negeri ini dalam kubangan kemiskinan yang 
semakin parah.Bagaimana dengan Bank Sentral negara lain?Marilah kita ambil bank 
sentral paling berpengaruh saat ini, yaitu Federal Reserve AS, yang menerbitkan 
dolar AS. Saham terbesar Federal Reserve of America ni dimiliki oleh dua bank 
besar, yaitu Citibank (15%) dan Chase Manhattan (14%). Sisanya dibagi oleh 25 
bank komersial lainnya, antara lain Chemical Bank (8%), Morgan Guaranty Trust 
(9%) , Manufacturers Hannover (7%), dsb. Sampai pada tahun 1983 sebanyak 66% 
dari total saham Federal Reserve AS ini, setara dengan 7.005.700 saham, 
dikuasai hanya oleh 10 bank komersial, sisanya 44% dibagi oleh 17 bank 
lainnya.Bahkan, kalau dilihat dengan lebih sederhana lagi, 53% saham Federal 
Reserve AS dimilik hanya oleh lima besar yang disebutkan di atas. Bahkan, kalau 
diperhatikan benar, saham yang menentukan pada Federal Reserve Bank of New 
York, yang menetapkan tingkat dan skala operasinya secara keseluruhan berada di 
bawah pengaruh bank-bank yang secara langsung dikontrol oleh ‘London 
Connection’, yaitu, Bank of England, yang dikuasai oleh keluarga 
Rothschild.Sama halnya dengan bank-bank sentral di berbagai negara lain, 
namanya berbau nasionalis, tapi pemilikannya adalah privat. Bank of England, 
sudah disebutkan sebelumnya, bukan milik rakyat Inggris tapi para bankir 
swasta, yang sejak 1825 sangat kuat di bawah pengaruh satu pihak saja, keluarga 
Rothschild. Pengambilalihan oleh keluarga ini terjadi setelah mereka mem-bail 
out utang negara saat terjadi krisis di Inggris. Deutsche Bundesbank bukanlah 
milik rakyat Jerman tapi dikuasai oleh keluarga Siemens dan Ludwig 
Bumberger.Hong Kong and Shanghai Bank bukan milik warga Hong Kong tapi di bawah 
kontrol Ernest Cassel. Sama halnya dengan National Bank of Marocco dan National 
Bank of Egypt didirikan dan dikuasai oleh Cassel yang sama, bukan milik kaum 
Muslim Maroko atau Mesir. Imperial Ottoman Bank bukan milik rakyat Turki 
melainkan dikendalikan oleh Pereire Bersaudara, Credit Mobilier, dari Perancis. 
Demikian seterusnya.Jadi, ‘Bank-bank Nasional’ seperti ini, sebenarnya, adalah 
sindikat keuangan inter-nasional, modal ‘antar-bangsa’ yang secara riel tidak 
ada dalam bentuk aset nyata (specie) apa pun, kecuali dalam bentuk angka-angka 
nominal di atas kertas atau byte yang berkedap-kedip di permukaan layar 
komputer. Bank-bank ini sebagian besar dimiliki oleh keluarga-keluarga yang 
sebagian sudah disebutkan di atas.Utang-utang yang mereka berikan kepada 
pemerintahan suatu negara tidak pernah diminta oleh rakyat negara tempat mereka 
beroperasi tapi dibuat oleh pemerintahan demokratis yang mengatasnamakan warga 
negara. Mereka, para bankir ini, adalah orang-orang yang tidak dipilih, tak 
punya loyalitas kebangsaan, dan tidak akuntabel, tetapi mengendalikan kebijakan 
paling mendasar suatu negara. Dan, setiap kali mereka menciptakan kredit, 
setiap kali itu pula mereka mencetak uang baru dari byte komputer 
belaka.Nasehat saya, rakyat sebaiknya bertindak sendiri, jaga harta, amankan 
daya beli. Tinggalkan uang kertas, gunakan Dinar emas dan Dirham perak./* 
Tambahan dari saya (muhara), jangan memberi riba dan jangan menerima riba. 
Initnya jauhi riba.Diriwayatkan oleh Zaim Saidi, dari wakalanusantara.com dan 
siaga.co .

Kirim email ke