Mengapa sejak adanya NKRI gereja harus dikawal waktu Natal, kalau ada rasa  
persaudaraan dan kemanusiaan?

http://ambonekspres.fajar.co.id/2016/12/27/natal-rasa-persaudaraan-dan-kemanusiaan-di-ambon/


AMBOINA 

Natal “Rasa” Persaudaraan dan Kemanusiaan di Ambon

Publish 27 December 2016 @02:17



Ambon, AE– Puluhan pemuda berdiri di di depan pintu Gereja Maranatha di Jl. 
Pattimura Ambon saat ibadah malam berlangsung, Sabtu (24/12) malam. Memakai 
kopiah putih dan songkok, mereka serius berjaga.

Sebagian lainnya, berdiri di sisi lain dari gereja. Sejak pukul 18.00 wit, 
mereka sudah berada di sana. Selain berjaga-jaga, ada pula diantara mereka yang 
menuntun jemaat untuk menyeberang jalan.



Sementara di dalam dan di halaman gereja Protestan terbesar di Maluku itu, 
ribuan umat Kristen larut dalam ibadah. Ibadah malam Natal itu, berlangsung 
dengan tenang dan aman.

Ketika ibadah selesai sekira pukul 21.00, puluhan pemuda tersebut berkumpul di 
pintu masuk utama gereja. Mereka berdiri berjejer kiri-kanan membentuk barisan. 
Lalu, saling berjabat tangan dengan jemaat. “Terima kasih, ya,”ucap seorang 
jemaat.

Pantauan penulis, tak hanya berjabat tangan dan mengucapkan terima kasih, 
jemaat dan para pemuda yang berasal dari Gerakan Pemuda Islam (GPI) Maluku, 
Gerakan Pemuda Ansor Maluku dan remaja Masjid Waihaong itu, juga berfoto 
bersama. Sambil mengangkat dua jari tangan sebagai bentuk seruan perdamaian.

Pemandangan yang sama juga terlihat di beberapa geraja lainnya yakni Katedral, 
Gereja Silo dan Gereja Rehoboth. Bahkan, Uskup Diosis Amboina Mgr. P.C Mandagi, 
MSC—pemimpin Gereja Katolik Amboina, pun ikut berfoto bersama.

Malam itu, GP Ansor Maluku menurunkan sebanyak 34 personil, Badan Komunikasi 
Pemuda Remaja Masjid (BKPRMI) Maluku 50 orang dan 30 pengurus GPI Maluku. 
Sejumlah pemuda dari Waringin, Talake, Perigi Lima dan Waihaong juga ambil 
bagian.

Ini bukan hal baru baru di Ambon dan beberapa kabupaten/kota lainnya di Maluku. 
Karena, setiap tahun, pemuda Muslim dari berbagai organisasi selalu 
berpartisipasi menjaga jalannya ibadah Natal. Begitu sebaliknya, jika perayaan 
Idul Fitri, pemuda Kristen berjaga di malam takbiran.

Hal itu dilakukan sebagai wujud toleransi dan persaudaraan yang selama ini 
tetap dijaga oleh masyarakat Maluku. Juga untuk menghapus stigma negatif Maluku 
yang pernah didera konflik, sekaligus membangun citra daerah itu sebagai 
labotorium kerukunan dan perdamaian.


BACA JUGA:  KPU Malteng Akan Dilaporkan ke DKPP


“Harapan kita, Natal ini mambawa damai bagi kita semua, bukan saja umat Kristen 
tapi seluruh umat,”ujar Ketua Pengurus Wilayah (PW) Gerakan Pemuda (GP)provinsi 
Maluku, Daim Baco Rahawarin.

Uskup Mandagi merasa bangga dan berterima kasih atas partisipasi pemuda Muslim 
. “Terima kasih kepada umat Muslim dan pemuda Muslim yang menjaga keamanan dan 
jalannya ibadah. Ini luar biasa. Saya bangga sekali,”kata Uskup Mandagi seusai 
ibadah.

Menurut Mandagi, semua agama mengajarkan kebaikan. Dan di Indonesia, saling 
menghargai dan menghormati kehidupan beragama dan suku sangat kental. Seperti 
yang terjadi pada malam itu.

“Dan kebaikan itu seperti ditunjukkan oleh umat Muslim malam ini. Luar biasa, 
saya bangga,”kata Mandagi lagi.
Hanya saja, Mandagi berpesan agar semua warga kota Ambon bersikap hati-hati 
dengan kelompok-kelompok tertentu yang mencoba menghancurkan persaudaraan. 
Orang-orang seperti itu, sebut Uskup, berpakaian agama tetapi anti terhadap 
ajaran agama yang benar.

“Cuman ya kelompok-kelompok yang menghancurkan persaudaraan kita. Karena mereka 
berpakaian agama, tapi sebenarnya mereka anti agama. Karena itu, kita mesti 
hati-hati juga,”seru dia.
Pancasila di Panggung Christmas Carols

Partisipasi warga Muslim tak sebatas pada pengawalan ibadah malam Natal. 
Tetapi, juga dalam acara Christmas Carols di Ambon yang selenggarakan oleh para 
seniman dan pendeta selama dua hari (22 dan 23 Desember).
Christmas Carol sudah berjalan selama lima tahun. Dalam tiga tahun terakhir, 
kegiatan Christmas Carols tidak saja diisi oleh komunitas Kristen, tapi juga 
komunitas Hindu, Budha dan Muslim secara sukarela.

Seperti terlihat pada Sabtu (23/12) malam itu. Ada grup musik cilik dari 
komunitas Budha dan Sanggar Kayla dari komunitas Muslim yang masing-masing 
membawakan satu lagu di awal dan pertengahan acara.
Ratusan penonton yang hadir pada malam itu, bersorak melihat penampilan 
anak-anak itu diatas panggung yang digelar di halaman gereja Baileo Oikemene.


BACA JUGA:  BNI Membuka 4 Kantor Cabang Pembantu (KCP) di Wilayah Maluku


Mendekati akhir acara, penyanyi Kristen Sierra Latuperissa dan penyanyi Muslim 
Nurul Tosiuta berduet. Keduanya melantunkan lagu “Pancasila Rumah Kita” ciptaan 
almarhum Franky Sahilatua dan “Damai Bersamamu” yang diciptakan alarhum 
Chrisye, secara kompak. Ungkapan penyerahan iman dengan menyebut nama Tuhan 
mereka masing-masing, keluar dari mulut mereka.

Lewat penampilannya itu, Nurul berpesan kepada dunia, bahwa masyarakat Ambon 
dan Maluku pada umumnya hidup damai. Tidak ada sekat berarti atas dasar agama 
dan suku serta mengutamakan persatuan, seperti makna dari lirik lagu Pancasila 
Rumah Kita.

“Alasannya, karena saya ingin tunjukkan kepada dunia, bahwa kita agama Islam 
dan Kristen di kota Ambon itu damai. Dan indah jika kita saling berbagi,”tegas 
Nurul yang pada tahun lalu juga berpartisipasi.

Ketua Panitia yang juga pendeta Gereja Protestan Maluku (GPM) Jacky Manuputty 
mengatakan, kegiatan Christmas Carols 2016 diisi oleh sekitar seribu orang. Itu 
sebagai bentuk ungkapan syukur akhir tahun.
Manuputty berharap, keterlibatan warga dari semua agama dapat dijadikan sebagai 
contoh yang baik dalam menjaga toleransi dan persaudaraan. Apalagi, Maluku 
sedang dikembangkan sebagai laboratorium perdamaian di Indonesia.

“Itu yang menjadi harapan, kita menjadi contoh perdamaian dan toleransi umat 
beragama. Karena satu hal yang harus kita tegaskan di sini, yakni Maluku dan 
Ambon sedang dikembamngkan sebagai laboratorium perdamaian berbasis prinsip 
hidup orang basudara, ”kata Manuputty.

Tema Kemanusiaan
Panitia Christmas Carols mengusung tema We Care, We Share (Kita (Peduli, Kita 
Berbagi). Ini tema yang universal dan bernilai kemanusian, sebagai respons atas 
kejahatan kemanusian diberbagai belahan dunia selama beberapa tahun terakhir.

“Kita mengangkat tema yang sangat universal, tema kemanusiaan. Dan pada tahun 
ini, kita ingin berdoa untuk Allepo, berbagi untuk Allepo, karena di Allepo itu 
bukan saja ada orang Muslim, tapi Kristen juga,”kata Manuputty.
Belum lama ini, Manuputty mengaku menerima email dari temannya dari luar negeri 
yang juga sesama pegiat perdamaian. Temannya meminta dukungan dan do’a dari 
Maluku untuk warga Aleppo, Suriah yang terkena dampak peperangan.


BACA JUGA:  Nama PANTAS di Tangan Presiden PKS


“Yang mereka minta cuman doa dari kita. Terutama doa, untuk anak-anak di Allepo 
yang tidak bisa menikmati suka cita dan keceriahan seperti yang kita rasakan 
saat ini, karena peperangan di sana,”ungkapnya.
Video dan foto kegiatan Christmas Carol dan pengawalan pemuda Muslim di 
gereja-gereja mendapat apresiasi di media sosial Facebook dan Twitter. Terutama 
dari luar Maluku.

Seperti foto dua orang pemuda Muslim dengan pakian serba putih dan seroang 
siswa pramuka berjilbab yang berjaga di depan gereja Silo yang dibagi oleh 
Ferry Maitimu @FerryMaitimu. Foto dengan caption; Toleransi dari Ambon, 
Saudara-saudara Muslim ikut mengawal Ibadah malam Natal di Gereja Silo, Kota 
Ambon yang diambil oleh David Rampisela, itu direetwtet oleh 767 followersnya 
(pengikut).

“Indahnya keragaman, tapi tetap saling menghargai dan menghormati,”ciut akun 
widhi wedhaswara @widhiholic.
Rawat Toleransi

Sementara itu, dalam khotbahnya, Pendeta J.W. Parinussa meminta umat Kristiani 
menunjukkan sikap dan sifat toleransi dalam kehidupan sehari-hari. Menjaga 
sumpah persaudaraan Pela Gandong dan Ale Rasa Beta Rasa.
Parinussa juga mengimbau umat berdoa untuk keutuhan bangsa Indonesia. Selain 
itu, berkomunikasi secara santun di media sosial dan menebarkan perdamaian.

“Berdoalah bagi keutuhan bangsa, karena kemerdekaan Indonesia adalah berkat 
Tuhan untuk semua warga Bangsa Indonesia. Janganlah memprovokasi. Cintailah 
Maluku dan Maluku Utara, cintai Indonesia. Gunakan media komunikasi secaera 
santun dan bermartabat, yaitu berkoomunikasi dengan membawa pesan 
perdamaian,”pesan Parinussa.(*

Kirim email ke