Hahahaa, ... ini nenek dalam tempurung, sedang meraung-raung membela RBKP 
dengan kalapnya! TIDAK BERANI melihat satu kesalahan besar yang dilakukan Ketua 
Mao sebagai KENYATAAN yang ada, ... begitulah kelompok ekstrim Maois, yang 
menganggap Ketua Mao bagaikan DEWA yang tidak akan berbuat kesalahan dan 
ajarannya merupakan kebenaran mutlak yang sedikitpun tidak boleh disentuh! 
Seolah-olah kalau menyalahkan apa yang dinyatakan Ketua Mao, adalah menghujat 
ketua Mao, menghitamkan ketua Mao. Padahal TIDAK HARUS BEGITU!

Sebaliknya kelompok kanan, terjeblos menjadi menyalahkan segalanya, bahkan 
menyatakan dihari-tua ketua Mao, khususnya setelah tahun 1959, ketua Mao 
berubah menjadi DIKTATUR yang melakukan kekejaman kemanusiaan yang lebih kejam 
ketimbang Hitler dan Soeharto!

Itulah 2 kecenderungan yang HARUS DILAWAN! 2 ekstrim yang SALAH! Tidak objektif 
dan sangat merusak perkembangan yang wajar dalam masyarakat, ... Kita harus 
BERANI dan PANDAI melihat kesalahan sebagaimana adanya, ... tidak perlu 
ditutupi, dikecilkan ataupun dihilangkan, tapi juga tidak perlu 
didbesar-besarkan! Bukankah seseorang yang mengaku revolusioner itu harus 
objektif dan realis!

Ketua Mao saat melancarkan RBKP, TUJUANnya tentu baik-baik, sangat baik untuk 
mencegah jangan sampai jalan sosialisme nyeleweng menempuh jalan kapitalis! 
Kesalahan-kesalahan sikap, pemikiran dan langgam hidup borjuis bagaimanapun 
juga harus dibenahi! Tapi, ketua Mao lupa dirinya sudah memasuki usia tua, dan 
disekelilingnya juga ada orang-orang ambisius yang mempersulit bagi dirinya 
mengontrol dan mengendalikan dengan baik gerakan massa yang dibangkitkan dengan 
seruan, “Membombardir Markas Komando Borjuis” dan “Berontak Dapat Dibenarkan” 
itu! Begitulah RBKP yg semula diperkirakan akan selesai tidak lebih dari 3 
tahun, jadi nyelonong kebablasan sampai 10 tahunan dengan sasaran yang makin 
meluas dan banyak kader/pejabat jatuh KORBAN, ...!!! Akhirnya yang terjadi, 
MENYALAHI ajaran ketua Mao sendiri dimasa Yan An, bahwa masalah ideologi, 
masalah GARIS harus mengutamakan PENDIDIKAN! Bukan dengan pengganyangan, bukan 
dengan kekerasan memaksakan orang menerima dan mengakui kesalahan, ...!

Dalam gerakan massa begitu, banyak pikiran ekstrim kebablasan yang JELAS keluar 
serampangan dari nafsu beringas pemuda-pemudi, yang hanyut oleh perasaan 
gagah-gagahan dan sadar atau tidak jelas KENYATAAN terbelok bahkan menyalahi 
FMTT yang mereka sanjung itu! Entah nenek yang satu ini ikut tidak dalam 
gerakan menarik keluar perabot rumah yang dianggap “mewah”  seperti sofa dan 
rokok Chong Hua itu kelapangan, lalu diganyak, diteriaki sebagai SUMBER 
Revisionis, pemborjuisan, ... Menlu Chen Yi yang dapatkan sumbangan mobil 
Cadilac dari Huakiao, juga jadi diganyang gunakan mobil-Amerika! Penempuh jalan 
kapitalis hanya karena gunakan mobil AS??? Sedang diUniv. mahasiswa yang naik 
sepeda merk-asing juga diganyang, kok yang disalahin merk-sepedanya! 
Sampai-sampai orang yang punya sepeda merk-asing harus mencabuti merk-merk nya! 
Sungguh naif, dan SANGAT kekanak-kanakan, ... yang menggelikan!

Lalu, karena budaya Konghucu dianggap 4-lama budaya feodal yang REAKSIONER dan 
harus diganyang, lalu tidak sedikit klenteng-tua peninggalan sejarah 
dihancurkan, ... masih BERUNTUNG PM Zhou cepat tampil keluar menghadang 
pemuda-pemudi berangasan itu, kalau tidak entah berapa parah kerusakan 
peninggalan BUDAYA kuno RAKYAT Tiongkok ratusan bahkan ribuan tahun yl, yang 
seharusnya dipelihara dan dirawat dengan sebaik-baiknya itu!

Benda mati diganyang, dirusak, dihancurkan TANPA menyadari apa kesalahannya, 
... Sikap terhadap kader-kader tua, pejabat-pejabat tua yang sudah ikut 
menyabung nyawa sepanjang Long Marsh juga dengan serampangan dianggap MUSUH 
yang boleh saja TIDAK diperlakukan sebagai manusia adalah SATU KESALAHAN RBKP 
yang tidak bisa diampuni! Apapun KESALAHAN mereka yang dituduhkan itu juga 
TIDAK BOLEH begitu! Apalagi semua itu hanya rekayasa Garda Merah, dengan cara 
FITNAH tanpa data akurat hanya bertujuan menggulingkan Liu Shaochi saja. Entah 
berapa besar jumlah kader yang jatuh KORBAN oleh GARDA MERAH dengan cara-KOTOR 
begiitu, main fitnah, tanpa ada DATA akurat dan yang PASTI TIDAK melalui proses 
PENGADILAN yang SAH dan ADIL! Satu KESALAHAN SERIUS yang tidak harus dibela 
sebagai satu KEBENARAN!  Tapi juga jangan kebablasan menyamakan kesalahan ketua 
Mao dengan kesalahan Soeharto! Bagaimanapun juga dua kesalahan yang berbeda 
sifat dan pendiriannya! Itu saja, ...

Saya tidak tahu nenek yang satu ini sudah nonton belum film “Coming Home” ini? 
Karena saya di HK tidak berhasil buka link yg diberikan. Dan saya juga tidak 
jelas apakah sudah meneliti betul apa kesalahan konkrit Prof. Lu yg terganyang 
dimasa RBKP itu? Tapi, ... baiklah kalau kenyataan diakhir RBKP, ditahun 1978 
termasuk direhabilitasi, ... artinya jelas pengganyangan dimasa RBKP itu 
terhadap Prof. Lu ini SALAH! Karena memang TIDAK seharusnya menyasar begitu 
buuuaaanyaak kader/pejabat! Kenapa tidak mengerucutkan cukup menahan/menangkap 
pentolan yang paling bertanggungjawab saja??? Dibuatlah diskusi besar seluruh 
negeri, garis atau jalan sosialis mana yang BENAR??? Kenapa mesti begitu banyak 
orang dijebloskan dalam komp-konsentrasi kerja dan dengan kondisi yang sangat 
tidak manusiawi itu??? Kenapa tidak berani jalankan saja dibeberapa propinsi 
dengan jalan yang berbeda itu??? Coba diuji dalam praktek, dilihat jalan mana 
yang lebih maju dan berkembang lebih cepat dan lebih baik??? Baguslah sekarang 
kamp-konsentrasi kerja dibubarkan, ditiadakan sudah! Karena bukan begitu 
caranya meluruskan pikiran/ideologi orang! Tidak bisa main PAKSA begitu, ... 
manusia tetap harus diperlakukan dan dihormati sebagai manusia layaknya, apapun 
kesalahannya! Tidak karena BEDA pendapat lalu diangkat jadi MUSUH dan boleh 
saja tidak diperlakukan sebagai manusia, yang boleh saja dianiaya, dipenjarakan 
bahkan dibunuh! Itu KESALAHAN SOEHARTO yang kita KUTUK habis-habisan, jangan 
pula kita membenarkan siapapun melakukan kesalahan yang kita kutuk itu!

Salam,
ChanCT


From: Tatiana Lukman [email protected] [GELORA45] 
Sent: Saturday, December 31, 2016 4:40 AM
To: Yahoogroups ; DISKUSI FORUM HLD ; GELORA_In 
Cc: Daeng ; Lusi.D ; Roeslan ; Rachmat Hadi-Soetjipto ; Mitri ; Gol ; Harry 
Singgih ; Jonathan Goeij ; Lingkar Sitompul ; Ronggo A. ; Ajeg ; Mang Broto ; 
Marsiswo Dirgantoro ; Farida Ishaja ; [email protected] ; Billy Gunadi ; 
[email protected] ; Karma I Nengah [PT. Altus Logistic Service Indonesia] ; 
[email protected] ; [email protected] ; C. Manuputty ; Oman 
Romana ; Wuting301 ; Kristian Ginting 
Subject: [GELORA45] Komentar tentang film "Coming Home"

  

SURAT DARI SINGAPUR
== COMING HOME 回归 ==
By
MAY SWAN
Coming Home 回归adalah judul sebuah filem China menceritakan pengalaman Lu dan 
Feng sepasang suami isteri pada era Cultural Revolution. Lu seorang professor 
yang mengajar di universitas, dan Feng seorang guru sekolah. Keluarga mesra 
terpencar ketika Lu ditangkap dan dikirim ke labour camp. Suatu ketika Lu 
berhasil melarikan diri berusaha pulang, dengan hati berdebar debar ingin 
menemui isteri tercinta.
Ternyata polisi sudah menunggu di luar rumahnya. Demi mengelak polisi, mereka 
merencanakan bertemu di bawah jembatan layang flyover keesokan harinya. Tapi 
sayangnya sebelum mereka bertemu, Lu tertangkap kembali. Adegan ini ditayangkan 
dengan sangat mengharukan. Rupanya anak gadis mereka sendiri Dan Dan yang 
memberitahu polisi dimana  ayahnya bersembunyi. Dan Dan berbuat demikian karena 
sebagai penari ballet ia tidak diberi peran utama dalam pertunjukanDetachment 
of Women yang sangat ia ingini. Yang menghalangi adalah status ayahnya sebagai 
orang tahanan. Dengan membantu polisi, ia mengharap akan diberi peran utama 
itu. Hanya rupanya setelah membantu polisi menangkap ayahnya, ia juga tidak 
mendapat peran yang diinginkan.
Setelah era Cultural Revolution berakhir, Lu kembali pulang. Alangkah sedihnya 
ketika ia dapati isterinya menderita sakit amnesia, tidak lagi mengenal bahwa 
ia adalah suami yang ditunggu tunggu selama sepuluh tahun. Namun yang tetap 
terkait dalam ingatan Feng bahwa suaminya masih ditahan, dan suratnya 
menyatakan suaminya akan kembali, minta ia tabah menunggu. Isi surat ini 
menjadi satu satu pegangan ingatan dalam hidupnya. Maka saban hari ia pergi ke 
stasion kereta api menunggu kedatangan suaminya. Lu berusaha memulihkan ingatan 
isterinya dengan berbagai cara agar dapat mengenal yang berdiri didepan mata 
adalah sang suami tercinta. Tapi Lu tetap tidak berhasil, ia menjadi orang 
asing dalam keluarganya sendiri. Ia bahkan diusir keluar dari rumah karena 
isterinya tetap setia pada suaminya, tidak mau menerima laki laki lain tinggal 
dirumahnya. Akhirnya tidak ada jalan lain, demi dapat dekat dengan isterinya, 
Lu ikut menemani Feng saban hari kestasion kereta api menunggu kedatangan sang 
suami yang tidak kunjung tiba. Adegang iba ini menjadi ending filem.
Coming Home menggambarkan dampak negative era Cultural Revolution menghancur 
kehidupan berkeluarga rakyat biasa, dan dimana masyarakat dianjurkan saling 
memata matai sebagai transformasi politik. Melalui filem ini kita dapat 
merasakan adanya usaha director memanggungkan apa yang terjadi dimasa lalu, 
ingin menggantikan pahit getir kenangan lama dengan membangun persepsi baru. 
Filem diperlakukan sebagai trajectory: Perjalanan drama hidup berkobar kobar, 
lalu tiba tiba berubah meredah, dan akhirnya mampu mengatasi tragis kehidupan 
nyata. Selanjutnya terbenam dalam makna Coming Home sebuah metaphor mengenai 
cinta setia yang mendalam, mengenai hubungan itim yang tumbuh erat dalam muted 
happiness. Semua ini tanpa ada sebuah ucapan kata “cinta” dalam seluruh filem. 
Sungguh menakjubkan.
Filem diadapsi dari novel “The Criminal Lu Yanshi” karya Geling Yan. Coming 
Home di direct oleh Zhang Yimou, dibintangi oleh Chen Daoming dan Gong Li. 
Pertama kali ditayangkan didepan public 20 Mei 2015 di Cannes Film Festival.

Tatiana: 
Saya  sambut  pengiriman  dan penyebaran film ‘Coming Home’.  Dengan demikian 
kita punya satu contoh dan bukti kongkrit dari usaha rejim kapitalis Tiongkok 
untuk terus mempropagandakan versi revisionis dalam menilai Revolusi Besar 
Kebudayaan Proletar (RBKP).


Sama sekali tidak mengherankan adanya beberapa pendapat yang berbeda  bahkan 
bertentangan, setelah orang nonton film “Coming Home’. Berbagai pendapat itu 
pada garis besarnya dapat dimasukkan dalam dua blok besar. Satu blok yang 
mewakili pandangan bahwa RBKP adalah sebuah usaha besar  Mao untuk meneruskan 
dan mengkonsolidasi Sosialisme melawan  kaum revisionis pengambil jalan 
kapitalis, dan selama 10 tahun berhasil mempertahankan Sosialisme dan 
pencapaian-pencapaian yang implementasinya akhirnya terhenti ditengah jalan 
karena kaum revisionis berhasil merebut kekuasaan. Satu blok besar lain yang 
bertentangan, mewakili pandangan  resmi  dari rejim Tiongkok sekarang, yaitu 
bahwa RBKP adalah kesalahan besar Mao dengan dampak sangat negative: ekonomi 
hancur atau stagnasi, jutaan rakyat jadi korban kekejaman Garda Merah, 
penghancuran kekayaan kebudayaan tradisional, dsb.


Wang Zheng adalah editor  dan Bai Di co-editor dari buku “Some of Us: Chinese 
Women Growing Up in the Mao Era”, sebuah koleksi memoir. Memoir dalam buku ini, 
kata Wang Zheng sendiri, “meluluh-lantakkan stereotype persekusi, represi, 
korban dan victimizer (orang yang membuat orang lain menjadi korban) di 
Tiongkok Maois”.


Soalnya, memoir  yang diterbitkan dan dipromosi besar-besaran oleh media 
komunikasi rejim Tkk sekarang dan media Barat dan mencapai sukses pasar besar 
seperti bukunya Jung Chang, menggambarkan jaman Mao sebagai “dark age” (‘masa 
gelap’) penuh dengan persekusi, kediktaturan, pembunuhan, cerita yang 
serem-serem, dan kejahatan-kejahatan lain.
Supaya dapat menilai isi dan pesan yang dibawa oleh film “Coming Home”  sebaik 
mungkin, tidak ada salahnya kalau kita mengetahui  latar belakang atau situasi 
dan suasana  Tkk ketika itu di mana terjadi cerita yang digambarkan film itu.


Dalam Keputusan  16 point  Komite Sentral PKT, Agustus 1966, dirumuskan bahwa 
tujuan perjuangan adalah melawan dan menggulingkan mereka yang berkuasan yang 
mengambil  jalan kapitalis, mengkritik dan menolak “otoritas” akademis borjuis 
reaksioner dan ideologi borjuis dan semua kelas penghisap dan mengubah 
pendidikan, kesusasteraan dan seni dan semua bagian bangunan atas lain yang 
tidak sesuai dengan basis ekonomi sosialis untuk memudahkan konsolidasi dan 
perkembangan sistim sosialis .[At present, our objective is to struggle against 
and overthrow those persons in authority who are taking the capitalist road, to 
criticize and repudiate the reactionary bourgeois academic “authorities” and 
the ideology of the bourgeoisie and all other exploiting classes and to 
transform education, literature and art and all other parts of the 
superstructure not in correspondence with the socialist economic base, so as to 
facilitate the consolidation and development of the socialist system.].


Di bagian lain tertulis juga bahwa dalam Revolusi Besar Kebudayaan ini, gejala 
sekolah-sekolah kita didominasi oleh kaum intelektual borjuis harus sepenuhnya 
diubah. [ In this Great Cultural Revolution, the phenomenon of our schools 
being dominated by bourgeois intellectuals must be completely changed].


Dalam film “Coming Home” diceritakan profesor Lu melarikan diri dari labour 
camp dan berusaha pulang menemui istrinya. Di sini saya berhenti dulu karena 
ingin mempertimbangkan kondisi social/professional dan politik dari professor 
Lu yang telah membuatnya dipenjara atau dikirim ke labour camp. Jelas Lu 
seorang intelektual bekerja di Universitas dan anggota partai. Keadaan 
rumahnya, ada piano, anak belajar balet menunjukkan kehidupan yang mapan bahkan 
mungkin bisa dimasukkan kedalam golongan elit ketika itu. Mengapa dia ada di 
labour camp? Ini tidak diceritakan di film. Melihat konteks RBKP ketika itu, 
mereka yang ditangkap dan dihukum adalah mereka yang berada di pihak musuh 
RBKP. Definisi musuh ketika itu adalah orang-orang/pejabat partai dan negara 
revisionis yang mengambil jalan kapitalis, kaum intelektual borjuis  reaksioner 
yang ketika itu mendominasi dan merupakan otoritas dalam sistim pendidikan dan 
kebudayaan, pengikut garis revisionis dan klik revisionis dalam Partai. Tidak 
semua intelektual menjadi musuh RBKP. Contoh kongkrit, orang tuanya Bai Di 
adalah intelektual yang revolusioner dan berada dipihak Mao ketika RBKP 
berkobar. Banyak intelektual dan siswa dikirim ke desa dan bekerja bersama kaum 
tani bukanlah karena mereka dihukum, tapi dengan tujuan supaya mereka belajar 
kepada kaum tani. Tidak ada alasan untuk menangkap dan memenjara kaum 
intelektual yang turut serta dan mendukung RBKP, kecuali kasus-kasus kesalahan 
yang dilakukan oleh kaum revolusioner pengikut Mao sebagai akibat dari 
provokasi dan perlawanan kaum revisionis yang dengan sengaja mengacau, 
menggunakan bendera merah untuk melawan bendera merah. 


Jadi kita dihadapkan pada cerita sebuah keluarga yang salah satu anggotanya 
merupakan “korban” RBKP. Film ini ingin memperlihatkan akibat dan trauma dari 
perlakuan “kejam tak berperikemanusiaan” dari RBKP yang melahirkan tragedi yang 
harus ditanggung dan diderita seumur hidup oleh tiga manusia yang tidak 
berdosa. Dan semua itu adalah karena RBKP. Itulah message yang saya terima dari 
film “Coming Home”. “Kemasan” dari message itu sangat baik sekali. Yang saya 
maksud adalah dari segi artistik, jalan cerita film sangat menarik dan orang 
mudah tersentuh dan terharu. 


Sama sekali tidak mengherankan kalau orang yang tidak tahu atau tidak pernah 
menerima atau membaca bahan-bahan yang benar tentang RBKP, akan kontan 
bersimpati kepada keluarga itu dan membenci atau paling sedikit menganggap RBKP 
sebagai sesuatu yang sangat negative yang merusak kehidupan jutaan orang. Dan 
harus diakui tidaklah mudah untuk mengerti apa sebetulnya yang terjadi dalam 
RBKP dan mengapa Mao melancarkan RBKP. Bahkan orang komunis, banyak juga yang 
tidak mengerti dan tidak menerima RBKP. Dipikirnya Mao gila menggerakkan massa 
untuk mengkritik, mengexpos dan menggulingkan pejabat tinggi Partai dan Negara 
yang pernah berjasa dalam revolusi.


Soalnya adalah orang-orang ini tidak mau mengerti  “Although the bourgeoisie 
has been overthrown, it is still trying to use the old ideas, culture, customs 
and habits of the exploiting classes to corrupt the masses, capture their minds 
and endeavour to stage a comeback. The proletariat must do the exact opposite: 
it must meet head-on every challenge of the bourgeoisie in the ideological 
field and use the new ideas, culture, customs and habits of the proletariat to 
change the mental outlook of the whole of society”.      Jadi walaupun kaum 
borjuasi sudah digulingkan, tapi mereka masih terus berusaha untuk kembali 
merebut kekuasaan dengan menggunakan ide-ide, kebudayaan dan kebiasaan kelas 
penghisap untuk merusak dan menguasai mental massa rakyat. RBKP adalah sebuah 
revolusi, oleh karena itu ia juga mendapat perlawanan dari mereka yang berkuasa 
dalam Partai dan mengambil jalan kapitalisme [Since the Cultural Revolution is 
a revolution, it inevitably meets with resistance. This resistance comes 
chiefly from those in authority who have wormed their way into the Party and 
are taking the capitalist road. It also comes from the force of habits from the 
old society.].


Perlawanan kongkrit tercermin misalnya dalam garis yang dijalankan oleh “Grup 
Lima Orang yang Bertanggung Jawab Atas RBKP “yang dipimpin Peng Zhen (anggota 
PB, walikota Peking pada tahun 60-an). Surat Edaran Komite Sentral tentang 
RBKP, 16 Mei 1966, antara lain membubarkan grup ini karena laporannya 
bertentangan dengan garis RBKP yang sudah ditetapkan Komite Sentral dan Mao dan 
prinsip pembimbing yang sudah dirumuskan Kongres Ke X PKT berkaitan dengan 
masalah kelas dan perjuangan kelas dalam masyarakat sosialis. 


Ketika klik revisionis dalam PKT berhasil merebut kekuasaan setelah Mao 
meninggal, semua tokoh-tokoh revisionis dan pengikutnya  yang diganyang dalam 
RBKP direhabilitasi,  seperti   Peng Zhen. Wu Ren bao, pendiri Huaxi, pujaan 
Chan, pernah jadi “korban” RBKP, makanya juga direhabilitasi. 
Dan akhirnya dia dan keluarganya berhasil mendirikan dinasti dan kerajaannya di 
desa Huaxi. Begitu juga prof. Lu, tokoh dalam “Coming Home” mendapat 
rehabilitasi.


Nah, kalau kita mengikuti logika otak yang waras, para pejabat yang dulu jadi 
“korban” RBKP, setelah Deng Xiao ping berkuasa, mendapat rehabilitasi dan 
hasilya adalah “sosialisme dengan ciri Tkk” yang tidak lain adalah kapitalisme 
brutal. Artinya, beralasan atau tidak Mao dan massa rakyat dulu mengganyang 
mereka sebagai “orang-orang yang menyelusup dalam Partai dan mengambil jalan 
kapitalis” ? Seandainya Mao salah dalam menentukan musuh  RBKP ketika itu dan 
salah dalam menilai musuh itu sebagai orang-orang yang menempuh jalan 
kapitalis, seharusnya tidak ada pembongkaran terhadap struktur dan sistim 
ekonomi dan social yang sudah dibangun sejak 1949 sampai 1976, bukan? Kalau 
musuh-musuh itu bukan orang-orang yang mengambil jalan kapitalis, mengapa 
segala peraturan dan undang-undang yang melindungi kaum buruh dihapus dan 
diganti sepenuhnya dengan peraturan dan undang-undang yang menempatkan 
kedudukan kaum buruh sama seperti buruh-buruh di Indonesia???


Saya bertanya-tanya adakah sekarang film resmi Tkk yang menggambarkan anak-anak 
yang harus tinggal dengan nenek/kakeknya atau di asrama-asrama karena orang 
tuanya harus meninggalkan kampungnya dan bekerja di kota-kota besar dan hidup 
juga di asrama- asrama atau kamar-kamar sesak. Saya tahu, si Chan pasti akan 
menjawab ini dengan menampilkan ribuan turis, orang-orang kaya, yang 
jalan-jalan keluar negeri sebagai indikasi betapa makmurnya kehidupan rakyat 
Tkk dibawah ‘sosialisme dengan ciri Tkk”. Tidak mungkin diskusi dengan orang 
yang pendirian kelasnya telah membuatnya berpihak kepada kaum majikan dan 
statusquo. Orang yang memandang penghisapan berguna dan harus dilakukan untuk 
membangun “sosialisme” yang hanya ada dalam lamunannya sendiri, tidak akan 
mungkin berpihak kepada kaum buruh.  


Beberapa tahun yang lalu saya pernah mempostingkan berita seorang anggota PKT 
yang ditangkap dan dipenjara karena giat melakukan advokasi terhadap kaum buruh 
yang kehilangan pekerjaan tanpa pesangon, atau kasus-kasus pabrik yang ditutup 
dengan melanggar peraturan dan undang-undang yang berlaku, etc. Kasus kader 
komunis itu sempat menggoncang masyarakat Tkk,  dukungan datang dari berbagai 
kalangan dan media sosial….Istri kader itu sama sekali tidak mengerti kok 
suaminya, anggota Partai, bisa sampai ditangkap dan dipenjara padahal yang 
dikerjakan adalah membantu kaum buruh. Ia  jatuh sakit dan akhirnya meninggal. 
Selama istrinya sakit,  kader itu tidak pernah diijinkan untuk menengok.  
Bahkan ketika meninggalpun dia tidak diijinkan untuk hadir dalam upacara 
pemakaman. Anak tunggalnya  yang , kalau tidak salah ingat, juga dalam keadaan 
sakit, tinggal dengan kakeknya. Nah, ini bukan cerita fiction, tapi kenyataan 
hidup dalam masyakarat Tkk sekarang. Kalau tak salah ingat, anggota PKT itu 
juga aktif dalam sebuah grup studi Fikiran Mao Tse-tung.  Barangkali itulah 
yang membuat dia orang “berbahaya” sehingga perlu dihadapkan ke pengadilan dan 
dihukum?? Ingat, aktivis Marxis yang diwawancarai orang Spanyol, juga pakai 
nama samaran. Mengapa? Cari sendiri jawabannya. Saya lampirkan lagi linksnya 
untuk nonton film itu.


https://youtu.be/dCZFgFro63M

Kirim email ke