Hahahaa, ... ini nenek dalam tempurung, sedang meraung-raung membela RBKP dengan kalapnya! TIDAK BERANI melihat satu kesalahan besar yang dilakukan Ketua Mao sebagai KENYATAAN yang ada, ... begitulah kelompok ekstrim Maois, yang menganggap Ketua Mao bagaikan DEWA yang tidak akan berbuat kesalahan dan ajarannya merupakan kebenaran mutlak yang sedikitpun tidak boleh disentuh! Seolah-olah kalau menyalahkan apa yang dinyatakan Ketua Mao, adalah menghujat ketua Mao, menghitamkan ketua Mao. Padahal TIDAK HARUS BEGITU!
Sebaliknya kelompok kanan, terjeblos menjadi menyalahkan segalanya, bahkan menyatakan dihari-tua ketua Mao, khususnya setelah tahun 1959, ketua Mao berubah menjadi DIKTATUR yang melakukan kekejaman kemanusiaan yang lebih kejam ketimbang Hitler dan Soeharto! Itulah 2 kecenderungan yang HARUS DILAWAN! 2 ekstrim yang SALAH! Tidak objektif dan sangat merusak perkembangan yang wajar dalam masyarakat, ... Kita harus BERANI dan PANDAI melihat kesalahan sebagaimana adanya, ... tidak perlu ditutupi, dikecilkan ataupun dihilangkan, tapi juga tidak perlu didbesar-besarkan! Bukankah seseorang yang mengaku revolusioner itu harus objektif dan realis! Ketua Mao saat melancarkan RBKP, TUJUANnya tentu baik-baik, sangat baik untuk mencegah jangan sampai jalan sosialisme nyeleweng menempuh jalan kapitalis! Kesalahan-kesalahan sikap, pemikiran dan langgam hidup borjuis bagaimanapun juga harus dibenahi! Tapi, ketua Mao lupa dirinya sudah memasuki usia tua, dan disekelilingnya juga ada orang-orang ambisius yang mempersulit bagi dirinya mengontrol dan mengendalikan dengan baik gerakan massa yang dibangkitkan dengan seruan, “Membombardir Markas Komando Borjuis” dan “Berontak Dapat Dibenarkan” itu! Begitulah RBKP yg semula diperkirakan akan selesai tidak lebih dari 3 tahun, jadi nyelonong kebablasan sampai 10 tahunan dengan sasaran yang makin meluas dan banyak kader/pejabat jatuh KORBAN, ...!!! Akhirnya yang terjadi, MENYALAHI ajaran ketua Mao sendiri dimasa Yan An, bahwa masalah ideologi, masalah GARIS harus mengutamakan PENDIDIKAN! Bukan dengan pengganyangan, bukan dengan kekerasan memaksakan orang menerima dan mengakui kesalahan, ...! Dalam gerakan massa begitu, banyak pikiran ekstrim kebablasan yang JELAS keluar serampangan dari nafsu beringas pemuda-pemudi, yang hanyut oleh perasaan gagah-gagahan dan sadar atau tidak jelas KENYATAAN terbelok bahkan menyalahi FMTT yang mereka sanjung itu! Entah nenek yang satu ini ikut tidak dalam gerakan menarik keluar perabot rumah yang dianggap “mewah” seperti sofa dan rokok Chong Hua itu kelapangan, lalu diganyak, diteriaki sebagai SUMBER Revisionis, pemborjuisan, ... Menlu Chen Yi yang dapatkan sumbangan mobil Cadilac dari Huakiao, juga jadi diganyang gunakan mobil-Amerika! Penempuh jalan kapitalis hanya karena gunakan mobil AS??? Sedang diUniv. mahasiswa yang naik sepeda merk-asing juga diganyang, kok yang disalahin merk-sepedanya! Sampai-sampai orang yang punya sepeda merk-asing harus mencabuti merk-merk nya! Sungguh naif, dan SANGAT kekanak-kanakan, ... yang menggelikan! Lalu, karena budaya Konghucu dianggap 4-lama budaya feodal yang REAKSIONER dan harus diganyang, lalu tidak sedikit klenteng-tua peninggalan sejarah dihancurkan, ... masih BERUNTUNG PM Zhou cepat tampil keluar menghadang pemuda-pemudi berangasan itu, kalau tidak entah berapa parah kerusakan peninggalan BUDAYA kuno RAKYAT Tiongkok ratusan bahkan ribuan tahun yl, yang seharusnya dipelihara dan dirawat dengan sebaik-baiknya itu! Benda mati diganyang, dirusak, dihancurkan TANPA menyadari apa kesalahannya, ... Sikap terhadap kader-kader tua, pejabat-pejabat tua yang sudah ikut menyabung nyawa sepanjang Long Marsh juga dengan serampangan dianggap MUSUH yang boleh saja TIDAK diperlakukan sebagai manusia adalah SATU KESALAHAN RBKP yang tidak bisa diampuni! Apapun KESALAHAN mereka yang dituduhkan itu juga TIDAK BOLEH begitu! Apalagi semua itu hanya rekayasa Garda Merah, dengan cara FITNAH tanpa data akurat hanya bertujuan menggulingkan Liu Shaochi saja. Entah berapa besar jumlah kader yang jatuh KORBAN oleh GARDA MERAH dengan cara-KOTOR begiitu, main fitnah, tanpa ada DATA akurat dan yang PASTI TIDAK melalui proses PENGADILAN yang SAH dan ADIL! Satu KESALAHAN SERIUS yang tidak harus dibela sebagai satu KEBENARAN! Tapi juga jangan kebablasan menyamakan kesalahan ketua Mao dengan kesalahan Soeharto! Bagaimanapun juga dua kesalahan yang berbeda sifat dan pendiriannya! Itu saja, ... Saya tidak tahu nenek yang satu ini sudah nonton belum film “Coming Home” ini? Karena saya di HK tidak berhasil buka link yg diberikan. Dan saya juga tidak jelas apakah sudah meneliti betul apa kesalahan konkrit Prof. Lu yg terganyang dimasa RBKP itu? Tapi, ... baiklah kalau kenyataan diakhir RBKP, ditahun 1978 termasuk direhabilitasi, ... artinya jelas pengganyangan dimasa RBKP itu terhadap Prof. Lu ini SALAH! Karena memang TIDAK seharusnya menyasar begitu buuuaaanyaak kader/pejabat! Kenapa tidak mengerucutkan cukup menahan/menangkap pentolan yang paling bertanggungjawab saja??? Dibuatlah diskusi besar seluruh negeri, garis atau jalan sosialis mana yang BENAR??? Kenapa mesti begitu banyak orang dijebloskan dalam komp-konsentrasi kerja dan dengan kondisi yang sangat tidak manusiawi itu??? Kenapa tidak berani jalankan saja dibeberapa propinsi dengan jalan yang berbeda itu??? Coba diuji dalam praktek, dilihat jalan mana yang lebih maju dan berkembang lebih cepat dan lebih baik??? Baguslah sekarang kamp-konsentrasi kerja dibubarkan, ditiadakan sudah! Karena bukan begitu caranya meluruskan pikiran/ideologi orang! Tidak bisa main PAKSA begitu, ... manusia tetap harus diperlakukan dan dihormati sebagai manusia layaknya, apapun kesalahannya! Tidak karena BEDA pendapat lalu diangkat jadi MUSUH dan boleh saja tidak diperlakukan sebagai manusia, yang boleh saja dianiaya, dipenjarakan bahkan dibunuh! Itu KESALAHAN SOEHARTO yang kita KUTUK habis-habisan, jangan pula kita membenarkan siapapun melakukan kesalahan yang kita kutuk itu! Salam, ChanCT From: Tatiana Lukman [email protected] [GELORA45] Sent: Saturday, December 31, 2016 4:40 AM To: Yahoogroups ; DISKUSI FORUM HLD ; GELORA_In Cc: Daeng ; Lusi.D ; Roeslan ; Rachmat Hadi-Soetjipto ; Mitri ; Gol ; Harry Singgih ; Jonathan Goeij ; Lingkar Sitompul ; Ronggo A. ; Ajeg ; Mang Broto ; Marsiswo Dirgantoro ; Farida Ishaja ; [email protected] ; Billy Gunadi ; [email protected] ; Karma I Nengah [PT. Altus Logistic Service Indonesia] ; [email protected] ; [email protected] ; C. Manuputty ; Oman Romana ; Wuting301 ; Kristian Ginting Subject: [GELORA45] Komentar tentang film "Coming Home" SURAT DARI SINGAPUR == COMING HOME 回归 == By MAY SWAN Coming Home 回归adalah judul sebuah filem China menceritakan pengalaman Lu dan Feng sepasang suami isteri pada era Cultural Revolution. Lu seorang professor yang mengajar di universitas, dan Feng seorang guru sekolah. Keluarga mesra terpencar ketika Lu ditangkap dan dikirim ke labour camp. Suatu ketika Lu berhasil melarikan diri berusaha pulang, dengan hati berdebar debar ingin menemui isteri tercinta. Ternyata polisi sudah menunggu di luar rumahnya. Demi mengelak polisi, mereka merencanakan bertemu di bawah jembatan layang flyover keesokan harinya. Tapi sayangnya sebelum mereka bertemu, Lu tertangkap kembali. Adegan ini ditayangkan dengan sangat mengharukan. Rupanya anak gadis mereka sendiri Dan Dan yang memberitahu polisi dimana ayahnya bersembunyi. Dan Dan berbuat demikian karena sebagai penari ballet ia tidak diberi peran utama dalam pertunjukanDetachment of Women yang sangat ia ingini. Yang menghalangi adalah status ayahnya sebagai orang tahanan. Dengan membantu polisi, ia mengharap akan diberi peran utama itu. Hanya rupanya setelah membantu polisi menangkap ayahnya, ia juga tidak mendapat peran yang diinginkan. Setelah era Cultural Revolution berakhir, Lu kembali pulang. Alangkah sedihnya ketika ia dapati isterinya menderita sakit amnesia, tidak lagi mengenal bahwa ia adalah suami yang ditunggu tunggu selama sepuluh tahun. Namun yang tetap terkait dalam ingatan Feng bahwa suaminya masih ditahan, dan suratnya menyatakan suaminya akan kembali, minta ia tabah menunggu. Isi surat ini menjadi satu satu pegangan ingatan dalam hidupnya. Maka saban hari ia pergi ke stasion kereta api menunggu kedatangan suaminya. Lu berusaha memulihkan ingatan isterinya dengan berbagai cara agar dapat mengenal yang berdiri didepan mata adalah sang suami tercinta. Tapi Lu tetap tidak berhasil, ia menjadi orang asing dalam keluarganya sendiri. Ia bahkan diusir keluar dari rumah karena isterinya tetap setia pada suaminya, tidak mau menerima laki laki lain tinggal dirumahnya. Akhirnya tidak ada jalan lain, demi dapat dekat dengan isterinya, Lu ikut menemani Feng saban hari kestasion kereta api menunggu kedatangan sang suami yang tidak kunjung tiba. Adegang iba ini menjadi ending filem. Coming Home menggambarkan dampak negative era Cultural Revolution menghancur kehidupan berkeluarga rakyat biasa, dan dimana masyarakat dianjurkan saling memata matai sebagai transformasi politik. Melalui filem ini kita dapat merasakan adanya usaha director memanggungkan apa yang terjadi dimasa lalu, ingin menggantikan pahit getir kenangan lama dengan membangun persepsi baru. Filem diperlakukan sebagai trajectory: Perjalanan drama hidup berkobar kobar, lalu tiba tiba berubah meredah, dan akhirnya mampu mengatasi tragis kehidupan nyata. Selanjutnya terbenam dalam makna Coming Home sebuah metaphor mengenai cinta setia yang mendalam, mengenai hubungan itim yang tumbuh erat dalam muted happiness. Semua ini tanpa ada sebuah ucapan kata “cinta” dalam seluruh filem. Sungguh menakjubkan. Filem diadapsi dari novel “The Criminal Lu Yanshi” karya Geling Yan. Coming Home di direct oleh Zhang Yimou, dibintangi oleh Chen Daoming dan Gong Li. Pertama kali ditayangkan didepan public 20 Mei 2015 di Cannes Film Festival. Tatiana: Saya sambut pengiriman dan penyebaran film ‘Coming Home’. Dengan demikian kita punya satu contoh dan bukti kongkrit dari usaha rejim kapitalis Tiongkok untuk terus mempropagandakan versi revisionis dalam menilai Revolusi Besar Kebudayaan Proletar (RBKP). Sama sekali tidak mengherankan adanya beberapa pendapat yang berbeda bahkan bertentangan, setelah orang nonton film “Coming Home’. Berbagai pendapat itu pada garis besarnya dapat dimasukkan dalam dua blok besar. Satu blok yang mewakili pandangan bahwa RBKP adalah sebuah usaha besar Mao untuk meneruskan dan mengkonsolidasi Sosialisme melawan kaum revisionis pengambil jalan kapitalis, dan selama 10 tahun berhasil mempertahankan Sosialisme dan pencapaian-pencapaian yang implementasinya akhirnya terhenti ditengah jalan karena kaum revisionis berhasil merebut kekuasaan. Satu blok besar lain yang bertentangan, mewakili pandangan resmi dari rejim Tiongkok sekarang, yaitu bahwa RBKP adalah kesalahan besar Mao dengan dampak sangat negative: ekonomi hancur atau stagnasi, jutaan rakyat jadi korban kekejaman Garda Merah, penghancuran kekayaan kebudayaan tradisional, dsb. Wang Zheng adalah editor dan Bai Di co-editor dari buku “Some of Us: Chinese Women Growing Up in the Mao Era”, sebuah koleksi memoir. Memoir dalam buku ini, kata Wang Zheng sendiri, “meluluh-lantakkan stereotype persekusi, represi, korban dan victimizer (orang yang membuat orang lain menjadi korban) di Tiongkok Maois”. Soalnya, memoir yang diterbitkan dan dipromosi besar-besaran oleh media komunikasi rejim Tkk sekarang dan media Barat dan mencapai sukses pasar besar seperti bukunya Jung Chang, menggambarkan jaman Mao sebagai “dark age” (‘masa gelap’) penuh dengan persekusi, kediktaturan, pembunuhan, cerita yang serem-serem, dan kejahatan-kejahatan lain. Supaya dapat menilai isi dan pesan yang dibawa oleh film “Coming Home” sebaik mungkin, tidak ada salahnya kalau kita mengetahui latar belakang atau situasi dan suasana Tkk ketika itu di mana terjadi cerita yang digambarkan film itu. Dalam Keputusan 16 point Komite Sentral PKT, Agustus 1966, dirumuskan bahwa tujuan perjuangan adalah melawan dan menggulingkan mereka yang berkuasan yang mengambil jalan kapitalis, mengkritik dan menolak “otoritas” akademis borjuis reaksioner dan ideologi borjuis dan semua kelas penghisap dan mengubah pendidikan, kesusasteraan dan seni dan semua bagian bangunan atas lain yang tidak sesuai dengan basis ekonomi sosialis untuk memudahkan konsolidasi dan perkembangan sistim sosialis .[At present, our objective is to struggle against and overthrow those persons in authority who are taking the capitalist road, to criticize and repudiate the reactionary bourgeois academic “authorities” and the ideology of the bourgeoisie and all other exploiting classes and to transform education, literature and art and all other parts of the superstructure not in correspondence with the socialist economic base, so as to facilitate the consolidation and development of the socialist system.]. Di bagian lain tertulis juga bahwa dalam Revolusi Besar Kebudayaan ini, gejala sekolah-sekolah kita didominasi oleh kaum intelektual borjuis harus sepenuhnya diubah. [ In this Great Cultural Revolution, the phenomenon of our schools being dominated by bourgeois intellectuals must be completely changed]. Dalam film “Coming Home” diceritakan profesor Lu melarikan diri dari labour camp dan berusaha pulang menemui istrinya. Di sini saya berhenti dulu karena ingin mempertimbangkan kondisi social/professional dan politik dari professor Lu yang telah membuatnya dipenjara atau dikirim ke labour camp. Jelas Lu seorang intelektual bekerja di Universitas dan anggota partai. Keadaan rumahnya, ada piano, anak belajar balet menunjukkan kehidupan yang mapan bahkan mungkin bisa dimasukkan kedalam golongan elit ketika itu. Mengapa dia ada di labour camp? Ini tidak diceritakan di film. Melihat konteks RBKP ketika itu, mereka yang ditangkap dan dihukum adalah mereka yang berada di pihak musuh RBKP. Definisi musuh ketika itu adalah orang-orang/pejabat partai dan negara revisionis yang mengambil jalan kapitalis, kaum intelektual borjuis reaksioner yang ketika itu mendominasi dan merupakan otoritas dalam sistim pendidikan dan kebudayaan, pengikut garis revisionis dan klik revisionis dalam Partai. Tidak semua intelektual menjadi musuh RBKP. Contoh kongkrit, orang tuanya Bai Di adalah intelektual yang revolusioner dan berada dipihak Mao ketika RBKP berkobar. Banyak intelektual dan siswa dikirim ke desa dan bekerja bersama kaum tani bukanlah karena mereka dihukum, tapi dengan tujuan supaya mereka belajar kepada kaum tani. Tidak ada alasan untuk menangkap dan memenjara kaum intelektual yang turut serta dan mendukung RBKP, kecuali kasus-kasus kesalahan yang dilakukan oleh kaum revolusioner pengikut Mao sebagai akibat dari provokasi dan perlawanan kaum revisionis yang dengan sengaja mengacau, menggunakan bendera merah untuk melawan bendera merah. Jadi kita dihadapkan pada cerita sebuah keluarga yang salah satu anggotanya merupakan “korban” RBKP. Film ini ingin memperlihatkan akibat dan trauma dari perlakuan “kejam tak berperikemanusiaan” dari RBKP yang melahirkan tragedi yang harus ditanggung dan diderita seumur hidup oleh tiga manusia yang tidak berdosa. Dan semua itu adalah karena RBKP. Itulah message yang saya terima dari film “Coming Home”. “Kemasan” dari message itu sangat baik sekali. Yang saya maksud adalah dari segi artistik, jalan cerita film sangat menarik dan orang mudah tersentuh dan terharu. Sama sekali tidak mengherankan kalau orang yang tidak tahu atau tidak pernah menerima atau membaca bahan-bahan yang benar tentang RBKP, akan kontan bersimpati kepada keluarga itu dan membenci atau paling sedikit menganggap RBKP sebagai sesuatu yang sangat negative yang merusak kehidupan jutaan orang. Dan harus diakui tidaklah mudah untuk mengerti apa sebetulnya yang terjadi dalam RBKP dan mengapa Mao melancarkan RBKP. Bahkan orang komunis, banyak juga yang tidak mengerti dan tidak menerima RBKP. Dipikirnya Mao gila menggerakkan massa untuk mengkritik, mengexpos dan menggulingkan pejabat tinggi Partai dan Negara yang pernah berjasa dalam revolusi. Soalnya adalah orang-orang ini tidak mau mengerti “Although the bourgeoisie has been overthrown, it is still trying to use the old ideas, culture, customs and habits of the exploiting classes to corrupt the masses, capture their minds and endeavour to stage a comeback. The proletariat must do the exact opposite: it must meet head-on every challenge of the bourgeoisie in the ideological field and use the new ideas, culture, customs and habits of the proletariat to change the mental outlook of the whole of society”. Jadi walaupun kaum borjuasi sudah digulingkan, tapi mereka masih terus berusaha untuk kembali merebut kekuasaan dengan menggunakan ide-ide, kebudayaan dan kebiasaan kelas penghisap untuk merusak dan menguasai mental massa rakyat. RBKP adalah sebuah revolusi, oleh karena itu ia juga mendapat perlawanan dari mereka yang berkuasa dalam Partai dan mengambil jalan kapitalisme [Since the Cultural Revolution is a revolution, it inevitably meets with resistance. This resistance comes chiefly from those in authority who have wormed their way into the Party and are taking the capitalist road. It also comes from the force of habits from the old society.]. Perlawanan kongkrit tercermin misalnya dalam garis yang dijalankan oleh “Grup Lima Orang yang Bertanggung Jawab Atas RBKP “yang dipimpin Peng Zhen (anggota PB, walikota Peking pada tahun 60-an). Surat Edaran Komite Sentral tentang RBKP, 16 Mei 1966, antara lain membubarkan grup ini karena laporannya bertentangan dengan garis RBKP yang sudah ditetapkan Komite Sentral dan Mao dan prinsip pembimbing yang sudah dirumuskan Kongres Ke X PKT berkaitan dengan masalah kelas dan perjuangan kelas dalam masyarakat sosialis. Ketika klik revisionis dalam PKT berhasil merebut kekuasaan setelah Mao meninggal, semua tokoh-tokoh revisionis dan pengikutnya yang diganyang dalam RBKP direhabilitasi, seperti Peng Zhen. Wu Ren bao, pendiri Huaxi, pujaan Chan, pernah jadi “korban” RBKP, makanya juga direhabilitasi. Dan akhirnya dia dan keluarganya berhasil mendirikan dinasti dan kerajaannya di desa Huaxi. Begitu juga prof. Lu, tokoh dalam “Coming Home” mendapat rehabilitasi. Nah, kalau kita mengikuti logika otak yang waras, para pejabat yang dulu jadi “korban” RBKP, setelah Deng Xiao ping berkuasa, mendapat rehabilitasi dan hasilya adalah “sosialisme dengan ciri Tkk” yang tidak lain adalah kapitalisme brutal. Artinya, beralasan atau tidak Mao dan massa rakyat dulu mengganyang mereka sebagai “orang-orang yang menyelusup dalam Partai dan mengambil jalan kapitalis” ? Seandainya Mao salah dalam menentukan musuh RBKP ketika itu dan salah dalam menilai musuh itu sebagai orang-orang yang menempuh jalan kapitalis, seharusnya tidak ada pembongkaran terhadap struktur dan sistim ekonomi dan social yang sudah dibangun sejak 1949 sampai 1976, bukan? Kalau musuh-musuh itu bukan orang-orang yang mengambil jalan kapitalis, mengapa segala peraturan dan undang-undang yang melindungi kaum buruh dihapus dan diganti sepenuhnya dengan peraturan dan undang-undang yang menempatkan kedudukan kaum buruh sama seperti buruh-buruh di Indonesia??? Saya bertanya-tanya adakah sekarang film resmi Tkk yang menggambarkan anak-anak yang harus tinggal dengan nenek/kakeknya atau di asrama-asrama karena orang tuanya harus meninggalkan kampungnya dan bekerja di kota-kota besar dan hidup juga di asrama- asrama atau kamar-kamar sesak. Saya tahu, si Chan pasti akan menjawab ini dengan menampilkan ribuan turis, orang-orang kaya, yang jalan-jalan keluar negeri sebagai indikasi betapa makmurnya kehidupan rakyat Tkk dibawah ‘sosialisme dengan ciri Tkk”. Tidak mungkin diskusi dengan orang yang pendirian kelasnya telah membuatnya berpihak kepada kaum majikan dan statusquo. Orang yang memandang penghisapan berguna dan harus dilakukan untuk membangun “sosialisme” yang hanya ada dalam lamunannya sendiri, tidak akan mungkin berpihak kepada kaum buruh. Beberapa tahun yang lalu saya pernah mempostingkan berita seorang anggota PKT yang ditangkap dan dipenjara karena giat melakukan advokasi terhadap kaum buruh yang kehilangan pekerjaan tanpa pesangon, atau kasus-kasus pabrik yang ditutup dengan melanggar peraturan dan undang-undang yang berlaku, etc. Kasus kader komunis itu sempat menggoncang masyarakat Tkk, dukungan datang dari berbagai kalangan dan media sosial….Istri kader itu sama sekali tidak mengerti kok suaminya, anggota Partai, bisa sampai ditangkap dan dipenjara padahal yang dikerjakan adalah membantu kaum buruh. Ia jatuh sakit dan akhirnya meninggal. Selama istrinya sakit, kader itu tidak pernah diijinkan untuk menengok. Bahkan ketika meninggalpun dia tidak diijinkan untuk hadir dalam upacara pemakaman. Anak tunggalnya yang , kalau tidak salah ingat, juga dalam keadaan sakit, tinggal dengan kakeknya. Nah, ini bukan cerita fiction, tapi kenyataan hidup dalam masyakarat Tkk sekarang. Kalau tak salah ingat, anggota PKT itu juga aktif dalam sebuah grup studi Fikiran Mao Tse-tung. Barangkali itulah yang membuat dia orang “berbahaya” sehingga perlu dihadapkan ke pengadilan dan dihukum?? Ingat, aktivis Marxis yang diwawancarai orang Spanyol, juga pakai nama samaran. Mengapa? Cari sendiri jawabannya. Saya lampirkan lagi linksnya untuk nonton film itu. https://youtu.be/dCZFgFro63M
