Pada Senin, 2 Januari 2017 10:23, "'Chan CT' [email protected]
[GELORA45]" <[email protected]> menulis:
Hahahaa, ... ini nenek dalam tempurung, sedang meraung-raung membela RBKP
dengan kalapnya! TIDAK BERANI melihat satu kesalahan besar yang dilakukan Ketua
Mao sebagai KENYATAAN yang ada, ... begitulah kelompok ekstrim Maois, yang
menganggap Ketua Mao bagaikan DEWA yang tidak akan berbuat kesalahan dan
ajarannya merupakan kebenaran mutlak yang sedikitpun tidak boleh disentuh!
Seolah-olah kalau menyalahkan apa yang dinyatakan Ketua Mao, adalah menghujat
ketua Mao, menghitamkan ketua Mao. Padahal TIDAK HARUS BEGITU! Sebaliknya
kelompok kanan, terjeblos menjadi menyalahkan segalanya, bahkan menyatakan
dihari-tua ketua Mao, khususnya setelah tahun 1959, ketua Mao berubah menjadi
DIKTATUR yang melakukan kekejaman kemanusiaan yang lebih kejam ketimbang Hitler
dan Soeharto! Itulah 2 kecenderungan yang HARUS DILAWAN! 2 ekstrim yang SALAH!
Tidak objektif dan sangat merusak perkembangan yang wajar dalam masyarakat, ...
Kita harus BERANI dan PANDAI melihat kesalahan sebagaimana adanya, ... tidak
perlu ditutupi, dikecilkan ataupun dihilangkan, tapi juga tidak perlu
didbesar-besarkan! Bukankah seseorang yang mengaku revolusioner itu harus
objektif dan realis! Ketua Mao saat melancarkan RBKP, TUJUANnya tentu
baik-baik, sangat baik untuk mencegah jangan sampai jalan sosialisme nyeleweng
menempuh jalan kapitalis! Kesalahan-kesalahan sikap, pemikiran dan langgam
hidup borjuis bagaimanapun juga harus dibenahi! Tapi, ketua Mao lupa dirinya
sudah memasuki usia tua, dan disekelilingnya juga ada orang-orang ambisius yang
mempersulit bagi dirinya mengontrol dan mengendalikan dengan baik gerakan massa
yang dibangkitkan dengan seruan, “Membombardir Markas Komando Borjuis” dan
“Berontak Dapat Dibenarkan” itu! Begitulah RBKP yg semula diperkirakan akan
selesai tidak lebih dari 3 tahun, jadi nyelonong kebablasan sampai 10 tahunan
dengan sasaran yang makin meluas dan banyak kader/pejabat jatuh KORBAN, ...!!!
Akhirnya yang terjadi, MENYALAHI ajaran ketua Mao sendiri dimasa Yan An, bahwa
masalah ideologi, masalah GARIS harus mengutamakan PENDIDIKAN! Bukan dengan
pengganyangan, bukan dengan kekerasan memaksakan orang menerima dan mengakui
kesalahan, ...! Dalam gerakan massa begitu, banyak pikiran ekstrim kebablasan
yang JELAS keluar serampangan dari nafsu beringas pemuda-pemudi, yang hanyut
oleh perasaan gagah-gagahan dan sadar atau tidak jelas KENYATAAN terbelok
bahkan menyalahi FMTT yang mereka sanjung itu! Entah nenek yang satu ini ikut
tidak dalam gerakan menarik keluar perabot rumah yang dianggap “mewah” seperti
sofa dan rokok Chong Hua itu kelapangan, lalu diganyak, diteriaki sebagai
SUMBER Revisionis, pemborjuisan, ... Menlu Chen Yi yang dapatkan sumbangan
mobil Cadilac dari Huakiao, juga jadi diganyang gunakan mobil-Amerika! Penempuh
jalan kapitalis hanya karena gunakan mobil AS??? Sedang diUniv. mahasiswa yang
naik sepeda merk-asing juga diganyang, kok yang disalahin merk-sepedanya!
Sampai-sampai orang yang punya sepeda merk-asing harus mencabuti merk-merk nya!
Sungguh naif, dan SANGAT kekanak-kanakan, ... yang menggelikan! Lalu, karena
budaya Konghucu dianggap 4-lama budaya feodal yang REAKSIONER dan harus
diganyang, lalu tidak sedikit klenteng-tua peninggalan sejarah dihancurkan, ...
masih BERUNTUNG PM Zhou cepat tampil keluar menghadang pemuda-pemudi berangasan
itu, kalau tidak entah berapa parah kerusakan peninggalan BUDAYA kuno RAKYAT
Tiongkok ratusan bahkan ribuan tahun yl, yang seharusnya dipelihara dan dirawat
dengan sebaik-baiknya itu! Benda mati diganyang, dirusak, dihancurkan TANPA
menyadari apa kesalahannya, ... Sikap terhadap kader-kader tua, pejabat-pejabat
tua yang sudah ikut menyabung nyawa sepanjang Long Marsh juga dengan
serampangan dianggap MUSUH yang boleh saja TIDAK diperlakukan sebagai manusia
adalah SATU KESALAHAN RBKP yang tidak bisa diampuni! Apapun KESALAHAN mereka
yang dituduhkan itu juga TIDAK BOLEH begitu! Apalagi semua itu hanya rekayasa
Garda Merah, dengan cara FITNAH tanpa data akurat hanya bertujuan menggulingkan
Liu Shaochi saja. Entah berapa besar jumlah kader yang jatuh KORBAN oleh GARDA
MERAH dengan cara-KOTOR begiitu, main fitnah, tanpa ada DATA akurat dan yang
PASTI TIDAK melalui proses PENGADILAN yang SAH dan ADIL! Satu KESALAHAN SERIUS
yang tidak harus dibela sebagai satu KEBENARAN! Tapi juga jangan kebablasan
menyamakan kesalahan ketua Mao dengan kesalahan Soeharto! Bagaimanapun juga dua
kesalahan yang berbeda sifat dan pendiriannya! Itu saja, ... Saya tidak tahu
nenek yang satu ini sudah nonton belum film “Coming Home” ini? Karena saya di
HK tidak berhasil buka link yg diberikan. Dan saya juga tidak jelas apakah
sudah meneliti betul apa kesalahan konkrit Prof. Lu yg terganyang dimasa RBKP
itu? Tapi, ... baiklah kalau kenyataan diakhir RBKP, ditahun 1978 termasuk
direhabilitasi, ... artinya jelas pengganyangan dimasa RBKP itu terhadap Prof.
Lu ini SALAH! Karena memang TIDAK seharusnya menyasar begitu buuuaaanyaak
kader/pejabat! Kenapa tidak mengerucutkan cukup menahan/menangkap pentolan yang
paling bertanggungjawab saja??? Dibuatlah diskusi besar seluruh negeri, garis
atau jalan sosialis mana yang BENAR??? Kenapa mesti begitu banyak orang
dijebloskan dalam komp-konsentrasi kerja dan dengan kondisi yang sangat tidak
manusiawi itu??? Kenapa tidak berani jalankan saja dibeberapa propinsi dengan
jalan yang berbeda itu??? Coba diuji dalam praktek, dilihat jalan mana yang
lebih maju dan berkembang lebih cepat dan lebih baik??? Baguslah sekarang
kamp-konsentrasi kerja dibubarkan, ditiadakan sudah! Karena bukan begitu
caranya meluruskan pikiran/ideologi orang! Tidak bisa main PAKSA begitu, ...
manusia tetap harus diperlakukan dan dihormati sebagai manusia layaknya, apapun
kesalahannya! Tidak karena BEDA pendapat lalu diangkat jadi MUSUH dan boleh
saja tidak diperlakukan sebagai manusia, yang boleh saja dianiaya, dipenjarakan
bahkan dibunuh! Itu KESALAHAN SOEHARTO yang kita KUTUK habis-habisan, jangan
pula kita membenarkan siapapun melakukan kesalahan yang kita kutuk itu!
Salam,ChanCT From: Tatiana Lukman [email protected] [GELORA45] Sent:
Saturday, December 31, 2016 4:40 AMTo: Yahoogroups ; DISKUSI FORUM HLD ;
GELORA_In Cc: Daeng ; Lusi.D ; Roeslan ; Rachmat Hadi-Soetjipto ; Mitri ; Gol ;
Harry Singgih ; Jonathan Goeij ; Lingkar Sitompul ; Ronggo A. ; Ajeg ; Mang
Broto ; Marsiswo Dirgantoro ; Farida Ishaja ; [email protected] ; Billy
Gunadi ; [email protected] ; Karma I Nengah [PT. Altus Logistic Service
Indonesia] ; [email protected] ; [email protected] ; C.
Manuputty ; Oman Romana ; Wuting301 ; Kristian Ginting Subject: [GELORA45]
Komentar tentang film "Coming Home" SURAT DARI SINGAPUR == COMING HOME 回归 ==
By MAY SWAN Coming Home 回归adalah judul sebuah filem China menceritakan
pengalaman Lu dan Feng sepasang suami isteri pada era Cultural Revolution. Lu
seorang professor yang mengajar di universitas, dan Feng seorang guru sekolah.
Keluarga mesra terpencar ketika Lu ditangkap dan dikirim ke labour camp. Suatu
ketika Lu berhasil melarikan diri berusaha pulang, dengan hati berdebar debar
ingin menemui isteri tercinta. Ternyata polisi sudah menunggu di luar rumahnya.
Demi mengelak polisi, mereka merencanakan bertemu di bawah jembatan layang
flyover keesokan harinya. Tapi sayangnya sebelum mereka bertemu, Lu tertangkap
kembali. Adegan ini ditayangkan dengan sangat mengharukan. Rupanya anak gadis
mereka sendiri Dan Dan yang memberitahu polisi dimana ayahnya bersembunyi. Dan
Dan berbuat demikian karena sebagai penari ballet ia tidak diberi peran utama
dalam pertunjukanDetachment of Women yang sangat ia ingini. Yang menghalangi
adalah status ayahnya sebagai orang tahanan. Dengan membantu polisi, ia
mengharap akan diberi peran utama itu. Hanya rupanya setelah membantu polisi
menangkap ayahnya, ia juga tidak mendapat peran yang diinginkan. Setelah era
Cultural Revolution berakhir, Lu kembali pulang. Alangkah sedihnya ketika ia
dapati isterinya menderita sakit amnesia, tidak lagi mengenal bahwa ia adalah
suami yang ditunggu tunggu selama sepuluh tahun. Namun yang tetap terkait dalam
ingatan Feng bahwa suaminya masih ditahan, dan suratnya menyatakan suaminya
akan kembali, minta ia tabah menunggu. Isi surat ini menjadi satu satu pegangan
ingatan dalam hidupnya. Maka saban hari ia pergi ke stasion kereta api menunggu
kedatangan suaminya. Lu berusaha memulihkan ingatan isterinya dengan berbagai
cara agar dapat mengenal yang berdiri didepan mata adalah sang suami tercinta.
Tapi Lu tetap tidak berhasil, ia menjadi orang asing dalam keluarganya sendiri.
Ia bahkan diusir keluar dari rumah karena isterinya tetap setia pada suaminya,
tidak mau menerima laki laki lain tinggal dirumahnya. Akhirnya tidak ada jalan
lain, demi dapat dekat dengan isterinya, Lu ikut menemani Feng saban hari
kestasion kereta api menunggu kedatangan sang suami yang tidak kunjung tiba.
Adegang iba ini menjadi ending filem. Coming Home menggambarkan dampak negative
era Cultural Revolution menghancur kehidupan berkeluarga rakyat biasa, dan
dimana masyarakat dianjurkan saling memata matai sebagai transformasi politik.
Melalui filem ini kita dapat merasakan adanya usaha director memanggungkan apa
yang terjadi dimasa lalu, ingin menggantikan pahit getir kenangan lama dengan
membangun persepsi baru. Filem diperlakukan sebagai trajectory: Perjalanan
drama hidup berkobar kobar, lalu tiba tiba berubah meredah, dan akhirnya mampu
mengatasi tragis kehidupan nyata. Selanjutnya terbenam dalam makna Coming Home
sebuah metaphor mengenai cinta setia yang mendalam, mengenai hubungan itim yang
tumbuh erat dalam muted happiness. Semua ini tanpa ada sebuah ucapan kata
“cinta” dalam seluruh filem. Sungguh menakjubkan. Filem diadapsi dari novel
“The Criminal Lu Yanshi” karya Geling Yan. Coming Home di direct oleh Zhang
Yimou, dibintangi oleh Chen Daoming dan Gong Li. Pertama kali ditayangkan
didepan public 20 Mei 2015 di Cannes Film Festival. Tatiana: Saya sambut
pengiriman dan penyebaran film ‘Coming Home’. Dengan demikian kita punya satu
contoh dan bukti kongkrit dari usaha rejim kapitalis Tiongkok untuk terus
mempropagandakan versi revisionis dalam menilai Revolusi Besar Kebudayaan
Proletar (RBKP).
Sama sekali tidak mengherankan adanya beberapa pendapat yang berbeda bahkan
bertentangan, setelah orang nonton film “Coming Home’. Berbagai pendapat itu
pada garis besarnya dapat dimasukkan dalam dua blok besar. Satu blok yang
mewakili pandangan bahwa RBKP adalah sebuah usaha besar Mao untuk meneruskan
dan mengkonsolidasi Sosialisme melawan kaum revisionis pengambil jalan
kapitalis, dan selama 10 tahun berhasil mempertahankan Sosialisme dan
pencapaian-pencapaian yang implementasinya akhirnya terhenti ditengah jalan
karena kaum revisionis berhasil merebut kekuasaan. Satu blok besar lain yang
bertentangan, mewakili pandangan resmi dari rejim Tiongkok sekarang, yaitu
bahwa RBKP adalah kesalahan besar Mao dengan dampak sangat negative: ekonomi
hancur atau stagnasi, jutaan rakyat jadi korban kekejaman Garda Merah,
penghancuran kekayaan kebudayaan tradisional, dsb.
Wang Zheng adalah editor dan Bai Di co-editor dari buku “Some of Us: Chinese
Women Growing Up in the Mao Era”, sebuah koleksi memoir. Memoir dalam buku ini,
kata Wang Zheng sendiri, “meluluh-lantakkan stereotype persekusi, represi,
korban dan victimizer (orang yang membuat orang lain menjadi korban) di
Tiongkok Maois”.
Soalnya, memoir yang diterbitkan dan dipromosi besar-besaran oleh media
komunikasi rejim Tkk sekarang dan media Barat dan mencapai sukses pasar besar
seperti bukunya Jung Chang, menggambarkan jaman Mao sebagai “dark age” (‘masa
gelap’) penuh dengan persekusi, kediktaturan, pembunuhan, cerita yang
serem-serem, dan kejahatan-kejahatan lain. Supaya dapat menilai isi dan pesan
yang dibawa oleh film “Coming Home” sebaik mungkin, tidak ada salahnya kalau
kita mengetahui latar belakang atau situasi dan suasana Tkk ketika itu di
mana terjadi cerita yang digambarkan film itu.
Dalam Keputusan 16 point Komite Sentral PKT, Agustus 1966, dirumuskan bahwa
tujuan perjuangan adalah melawan dan menggulingkan mereka yang berkuasan yang
mengambil jalan kapitalis, mengkritik dan menolak “otoritas” akademis borjuis
reaksioner dan ideologi borjuis dan semua kelas penghisap dan mengubah
pendidikan, kesusasteraan dan seni dan semua bagian bangunan atas lain yang
tidak sesuai dengan basis ekonomi sosialis untuk memudahkan konsolidasi dan
perkembangan sistim sosialis .[At present, our objective is to struggle against
and overthrow those persons in authority who are taking the capitalist road, to
criticize and repudiate the reactionary bourgeois academic “authorities” and
the ideology of the bourgeoisie and all other exploiting classes and to
transform education, literature and art and all other parts of the
superstructure not in correspondence with the socialist economic base, so as to
facilitate the consolidation and development of the socialist system.].
Di bagian lain tertulis juga bahwa dalam Revolusi Besar Kebudayaan ini, gejala
sekolah-sekolah kita didominasi oleh kaum intelektual borjuis harus sepenuhnya
diubah. [ In this Great Cultural Revolution, the phenomenon of our schools
being dominated by bourgeois intellectuals must be completely changed].
Dalam film “Coming Home” diceritakan profesor Lu melarikan diri dari labour
camp dan berusaha pulang menemui istrinya. Di sini saya berhenti dulu karena
ingin mempertimbangkan kondisi social/professional dan politik dari professor
Lu yang telah membuatnya dipenjara atau dikirim ke labour camp. Jelas Lu
seorang intelektual bekerja di Universitas dan anggota partai. Keadaan
rumahnya, ada piano, anak belajar balet menunjukkan kehidupan yang mapan bahkan
mungkin bisa dimasukkan kedalam golongan elit ketika itu. Mengapa dia ada di
labour camp? Ini tidak diceritakan di film. Melihat konteks RBKP ketika itu,
mereka yang ditangkap dan dihukum adalah mereka yang berada di pihak musuh
RBKP. Definisi musuh ketika itu adalah orang-orang/pejabat partai dan negara
revisionis yang mengambil jalan kapitalis, kaum intelektual borjuis reaksioner
yang ketika itu mendominasi dan merupakan otoritas dalam sistim pendidikan dan
kebudayaan, pengikut garis revisionis dan klik revisionis dalam Partai. Tidak
semua intelektual menjadi musuh RBKP. Contoh kongkrit, orang tuanya Bai Di
adalah intelektual yang revolusioner dan berada dipihak Mao ketika RBKP
berkobar. Banyak intelektual dan siswa dikirim ke desa dan bekerja bersama kaum
tani bukanlah karena mereka dihukum, tapi dengan tujuan supaya mereka belajar
kepada kaum tani. Tidak ada alasan untuk menangkap dan memenjara kaum
intelektual yang turut serta dan mendukung RBKP, kecuali kasus-kasus kesalahan
yang dilakukan oleh kaum revolusioner pengikut Mao sebagai akibat dari
provokasi dan perlawanan kaum revisionis yang dengan sengaja mengacau,
menggunakan bendera merah untuk melawan bendera merah.
Jadi kita dihadapkan pada cerita sebuah keluarga yang salah satu anggotanya
merupakan “korban” RBKP. Film ini ingin memperlihatkan akibat dan trauma dari
perlakuan “kejam tak berperikemanusiaan” dari RBKP yang melahirkan tragedi yang
harus ditanggung dan diderita seumur hidup oleh tiga manusia yang tidak
berdosa. Dan semua itu adalah karena RBKP. Itulah message yang saya terima dari
film “Coming Home”. “Kemasan” dari message itu sangat baik sekali. Yang saya
maksud adalah dari segi artistik, jalan cerita film sangat menarik dan orang
mudah tersentuh dan terharu.
Sama sekali tidak mengherankan kalau orang yang tidak tahu atau tidak pernah
menerima atau membaca bahan-bahan yang benar tentang RBKP, akan kontan
bersimpati kepada keluarga itu dan membenci atau paling sedikit menganggap RBKP
sebagai sesuatu yang sangat negative yang merusak kehidupan jutaan orang. Dan
harus diakui tidaklah mudah untuk mengerti apa sebetulnya yang terjadi dalam
RBKP dan mengapa Mao melancarkan RBKP. Bahkan orang komunis, banyak juga yang
tidak mengerti dan tidak menerima RBKP. Dipikirnya Mao gila menggerakkan massa
untuk mengkritik, mengexpos dan menggulingkan pejabat tinggi Partai dan Negara
yang pernah berjasa dalam revolusi.
Soalnya adalah orang-orang ini tidak mau mengerti “Although the bourgeoisie
has been overthrown, it is still trying to use the old ideas, culture, customs
and habits of the exploiting classes to corrupt the masses, capture their minds
and endeavour to stage a comeback. The proletariat must do the exact opposite:
it must meet head-on every challenge of the bourgeoisie in the ideological
field and use the new ideas, culture, customs and habits of the proletariat to
change the mental outlook of the whole of society”. Jadi walaupun kaum
borjuasi sudah digulingkan, tapi mereka masih terus berusaha untuk kembali
merebut kekuasaan dengan menggunakan ide-ide, kebudayaan dan kebiasaan kelas
penghisap untuk merusak dan menguasai mental massa rakyat. RBKP adalah sebuah
revolusi, oleh karena itu ia juga mendapat perlawanan dari mereka yang berkuasa
dalam Partai dan mengambil jalan kapitalisme [Since the Cultural Revolution is
a revolution, it inevitably meets with resistance. This resistance comes
chiefly from those in authority who have wormed their way into the Party and
are taking the capitalist road. It also comes from the force of habits from the
old society.].
Perlawanan kongkrit tercermin misalnya dalam garis yang dijalankan oleh “Grup
Lima Orang yang Bertanggung Jawab Atas RBKP “yang dipimpin Peng Zhen (anggota
PB, walikota Peking pada tahun 60-an). Surat Edaran Komite Sentral tentang
RBKP, 16 Mei 1966, antara lain membubarkan grup ini karena laporannya
bertentangan dengan garis RBKP yang sudah ditetapkan Komite Sentral dan Mao dan
prinsip pembimbing yang sudah dirumuskan Kongres Ke X PKT berkaitan dengan
masalah kelas dan perjuangan kelas dalam masyarakat sosialis.
Ketika klik revisionis dalam PKT berhasil merebut kekuasaan setelah Mao
meninggal, semua tokoh-tokoh revisionis dan pengikutnya yang diganyang dalam
RBKP direhabilitasi, seperti Peng Zhen. Wu Ren bao, pendiri Huaxi, pujaan
Chan, pernah jadi “korban” RBKP, makanya juga direhabilitasi. Dan akhirnya dia
dan keluarganya berhasil mendirikan dinasti dan kerajaannya di desa Huaxi.
Begitu juga prof. Lu, tokoh dalam “Coming Home” mendapat rehabilitasi.
Nah, kalau kita mengikuti logika otak yang waras, para pejabat yang dulu jadi
“korban” RBKP, setelah Deng Xiao ping berkuasa, mendapat rehabilitasi dan
hasilya adalah “sosialisme dengan ciri Tkk” yang tidak lain adalah kapitalisme
brutal. Artinya, beralasan atau tidak Mao dan massa rakyat dulu mengganyang
mereka sebagai “orang-orang yang menyelusup dalam Partai dan mengambil jalan
kapitalis” ? Seandainya Mao salah dalam menentukan musuh RBKP ketika itu dan
salah dalam menilai musuh itu sebagai orang-orang yang menempuh jalan
kapitalis, seharusnya tidak ada pembongkaran terhadap struktur dan sistim
ekonomi dan social yang sudah dibangun sejak 1949 sampai 1976, bukan? Kalau
musuh-musuh itu bukan orang-orang yang mengambil jalan kapitalis, mengapa
segala peraturan dan undang-undang yang melindungi kaum buruh dihapus dan
diganti sepenuhnya dengan peraturan dan undang-undang yang menempatkan
kedudukan kaum buruh sama seperti buruh-buruh di Indonesia???
Saya bertanya-tanya adakah sekarang film resmi Tkk yang menggambarkan anak-anak
yang harus tinggal dengan nenek/kakeknya atau di asrama-asrama karena orang
tuanya harus meninggalkan kampungnya dan bekerja di kota-kota besar dan hidup
juga di asrama- asrama atau kamar-kamar sesak. Saya tahu, si Chan pasti akan
menjawab ini dengan menampilkan ribuan turis, orang-orang kaya, yang
jalan-jalan keluar negeri sebagai indikasi betapa makmurnya kehidupan rakyat
Tkk dibawah ‘sosialisme dengan ciri Tkk”. Tidak mungkin diskusi dengan orang
yang pendirian kelasnya telah membuatnya berpihak kepada kaum majikan dan
statusquo. Orang yang memandang penghisapan berguna dan harus dilakukan untuk
membangun “sosialisme” yang hanya ada dalam lamunannya sendiri, tidak akan
mungkin berpihak kepada kaum buruh.
Beberapa tahun yang lalu saya pernah mempostingkan berita seorang anggota PKT
yang ditangkap dan dipenjara karena giat melakukan advokasi terhadap kaum buruh
yang kehilangan pekerjaan tanpa pesangon, atau kasus-kasus pabrik yang ditutup
dengan melanggar peraturan dan undang-undang yang berlaku, etc. Kasus kader
komunis itu sempat menggoncang masyarakat Tkk, dukungan datang dari berbagai
kalangan dan media sosial….Istri kader itu sama sekali tidak mengerti kok
suaminya, anggota Partai, bisa sampai ditangkap dan dipenjara padahal yang
dikerjakan adalah membantu kaum buruh. Ia jatuh sakit dan akhirnya meninggal.
Selama istrinya sakit, kader itu tidak pernah diijinkan untuk menengok.
Bahkan ketika meninggalpun dia tidak diijinkan untuk hadir dalam upacara
pemakaman. Anak tunggalnya yang , kalau tidak salah ingat, juga dalam keadaan
sakit, tinggal dengan kakeknya. Nah, ini bukan cerita fiction, tapi kenyataan
hidup dalam masyakarat Tkk sekarang. Kalau tak salah ingat, anggota PKT itu
juga aktif dalam sebuah grup studi Fikiran Mao Tse-tung. Barangkali itulah
yang membuat dia orang “berbahaya” sehingga perlu dihadapkan ke pengadilan dan
dihukum?? Ingat, aktivis Marxis yang diwawancarai orang Spanyol, juga pakai
nama samaran. Mengapa? Cari sendiri jawabannya. Saya lampirkan lagi linksnya
untuk nonton film itu.
https://youtu.be/dCZFgFro63M #yiv5948701083 #yiv5948701083 --
#yiv5948701083ygrp-mkp {border:1px solid #d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px
0;padding:0 10px;}#yiv5948701083 #yiv5948701083ygrp-mkp hr {border:1px solid
#d8d8d8;}#yiv5948701083 #yiv5948701083ygrp-mkp #yiv5948701083hd
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px
0;}#yiv5948701083 #yiv5948701083ygrp-mkp #yiv5948701083ads
{margin-bottom:10px;}#yiv5948701083 #yiv5948701083ygrp-mkp .yiv5948701083ad
{padding:0 0;}#yiv5948701083 #yiv5948701083ygrp-mkp .yiv5948701083ad p
{margin:0;}#yiv5948701083 #yiv5948701083ygrp-mkp .yiv5948701083ad a
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv5948701083 #yiv5948701083ygrp-sponsor
#yiv5948701083ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv5948701083
#yiv5948701083ygrp-sponsor #yiv5948701083ygrp-lc #yiv5948701083hd {margin:10px
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv5948701083
#yiv5948701083ygrp-sponsor #yiv5948701083ygrp-lc .yiv5948701083ad
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv5948701083 #yiv5948701083actions
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv5948701083
#yiv5948701083activity
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv5948701083
#yiv5948701083activity span {font-weight:700;}#yiv5948701083
#yiv5948701083activity span:first-child
{text-transform:uppercase;}#yiv5948701083 #yiv5948701083activity span a
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv5948701083 #yiv5948701083activity span
span {color:#ff7900;}#yiv5948701083 #yiv5948701083activity span
.yiv5948701083underline {text-decoration:underline;}#yiv5948701083
.yiv5948701083attach
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px
0;width:400px;}#yiv5948701083 .yiv5948701083attach div a
{text-decoration:none;}#yiv5948701083 .yiv5948701083attach img
{border:none;padding-right:5px;}#yiv5948701083 .yiv5948701083attach label
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv5948701083 .yiv5948701083attach label a
{text-decoration:none;}#yiv5948701083 blockquote {margin:0 0 0
4px;}#yiv5948701083 .yiv5948701083bold
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv5948701083
.yiv5948701083bold a {text-decoration:none;}#yiv5948701083 dd.yiv5948701083last
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv5948701083 dd.yiv5948701083last p
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv5948701083
dd.yiv5948701083last p span.yiv5948701083yshortcuts
{margin-right:0;}#yiv5948701083 div.yiv5948701083attach-table div div a
{text-decoration:none;}#yiv5948701083 div.yiv5948701083attach-table
{width:400px;}#yiv5948701083 div.yiv5948701083file-title a, #yiv5948701083
div.yiv5948701083file-title a:active, #yiv5948701083
div.yiv5948701083file-title a:hover, #yiv5948701083 div.yiv5948701083file-title
a:visited {text-decoration:none;}#yiv5948701083 div.yiv5948701083photo-title a,
#yiv5948701083 div.yiv5948701083photo-title a:active, #yiv5948701083
div.yiv5948701083photo-title a:hover, #yiv5948701083
div.yiv5948701083photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv5948701083
div#yiv5948701083ygrp-mlmsg #yiv5948701083ygrp-msg p a
span.yiv5948701083yshortcuts
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv5948701083
.yiv5948701083green {color:#628c2a;}#yiv5948701083 .yiv5948701083MsoNormal
{margin:0 0 0 0;}#yiv5948701083 o {font-size:0;}#yiv5948701083
#yiv5948701083photos div {float:left;width:72px;}#yiv5948701083
#yiv5948701083photos div div {border:1px solid
#666666;height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv5948701083
#yiv5948701083photos div label
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv5948701083
#yiv5948701083reco-category {font-size:77%;}#yiv5948701083
#yiv5948701083reco-desc {font-size:77%;}#yiv5948701083 .yiv5948701083replbq
{margin:4px;}#yiv5948701083 #yiv5948701083ygrp-actbar div a:first-child
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv5948701083 #yiv5948701083ygrp-mlmsg
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv5948701083
#yiv5948701083ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv5948701083
#yiv5948701083ygrp-mlmsg select, #yiv5948701083 input, #yiv5948701083 textarea
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv5948701083
#yiv5948701083ygrp-mlmsg pre, #yiv5948701083 code {font:115%
monospace;}#yiv5948701083 #yiv5948701083ygrp-mlmsg *
{line-height:1.22em;}#yiv5948701083 #yiv5948701083ygrp-mlmsg #yiv5948701083logo
{padding-bottom:10px;}#yiv5948701083 #yiv5948701083ygrp-msg p a
{font-family:Verdana;}#yiv5948701083 #yiv5948701083ygrp-msg
p#yiv5948701083attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv5948701083
#yiv5948701083ygrp-reco #yiv5948701083reco-head
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv5948701083 #yiv5948701083ygrp-reco
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv5948701083 #yiv5948701083ygrp-sponsor
#yiv5948701083ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv5948701083
#yiv5948701083ygrp-sponsor #yiv5948701083ov li
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv5948701083
#yiv5948701083ygrp-sponsor #yiv5948701083ov ul {margin:0;padding:0 0 0
8px;}#yiv5948701083 #yiv5948701083ygrp-text
{font-family:Georgia;}#yiv5948701083 #yiv5948701083ygrp-text p {margin:0 0 1em
0;}#yiv5948701083 #yiv5948701083ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv5948701083
#yiv5948701083ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none
!important;}#yiv5948701083