SURAT DARI SINGAPUR

== COMING HOME 回归 ==

By

MAY SWAN

Coming Home 回归adalah judul sebuahfilem China menceritakan pengalaman Lu dan 
Feng sepasang suami isteri pada eraCultural Revolution. Lu seorang professor 
yang mengajar di universitas, danFeng seorang guru sekolah. Keluarga mesra 
terpencar ketika Lu ditangkap dandikirim ke labour camp. Suatu ketika Lu 
berhasil melarikan diri berusahapulang, dengan hati berdebar debar ingin 
menemui isteri tercinta.

Ternyata polisi sudah menunggu di luarrumahnya. Demi mengelak polisi, mereka 
merencanakan bertemu di bawah jembatanlayang flyover keesokan harinya. Tapi 
sayangnya sebelum mereka bertemu, Lutertangkap kembali. Adegan ini ditayangkan 
dengan sangat mengharukan. Rupanyaanak gadis mereka sendiri Dan Dan yang 
memberitahu polisi dimana  ayahnyabersembunyi. Dan Dan berbuat demikian karena 
sebagai penari ballet ia tidakdiberi peran utama dalam pertunjukanDetachment of 
Women yang sangat ia ingini.Yang menghalangi adalah status ayahnya sebagai 
orang tahanan. Dengan membantupolisi, ia mengharap akan diberi peran utama itu. 
Hanya rupanya setelahmembantu polisi menangkap ayahnya, ia juga tidak mendapat 
peran yangdiinginkan.

Setelah era Cultural Revolution berakhir,Lu kembali pulang. Alangkah sedihnya 
ketika ia dapati isterinya menderita sakitamnesia, tidak lagi mengenal bahwa ia 
adalah suami yang ditunggu tunggu selamasepuluh tahun. Namun yang tetap terkait 
dalam ingatan Feng bahwa suaminya masihditahan, dan suratnya menyatakan 
suaminya akan kembali, minta ia tabahmenunggu. Isi surat ini menjadi satu satu 
pegangan ingatan dalam hidupnya. Makasaban hari ia pergi ke stasion kereta api 
menunggu kedatangan suaminya. Luberusaha memulihkan ingatan isterinya dengan 
berbagai cara agar dapat mengenalyang berdiri didepan mata adalah sang suami 
tercinta. Tapi Lu tetap tidakberhasil, ia menjadi orang asing dalam keluarganya 
sendiri. Ia bahkan diusirkeluar dari rumah karena isterinya tetap setia pada 
suaminya, tidak maumenerima laki laki lain tinggal dirumahnya. Akhirnya tidak 
ada jalan lain, demidapat dekat dengan isterinya, Lu ikut menemani Feng saban 
hari kestasion keretaapi menunggu kedatangan sang suami yang tidak kunjung 
tiba. Adegang iba inimenjadi ending filem.

Coming Home menggambarkan dampak negativeera Cultural Revolution menghancur 
kehidupan berkeluarga rakyat biasa, dandimana masyarakat dianjurkan saling 
memata matai sebagai transformasi politik.Melalui filem ini kita dapat 
merasakan adanya usaha director memanggungkan apayang terjadi dimasa lalu, 
ingin menggantikan pahit getir kenangan lama denganmembangun persepsi baru. 
Filem diperlakukan sebagai trajectory: Perjalanandrama hidup berkobar kobar, 
lalu tiba tiba berubah meredah, dan akhirnya mampumengatasi tragis kehidupan 
nyata. Selanjutnya terbenam dalam makna Coming Homesebuah metaphor mengenai 
cinta setia yang mendalam, mengenai hubungan itim yangtumbuh erat dalam muted 
happiness. Semua ini tanpa ada sebuah ucapan kata“cinta” dalam seluruh filem. 
Sungguh menakjubkan.

Filem diadapsi dari novel “The Criminal LuYanshi” karya Geling Yan. Coming Home 
di direct oleh Zhang Yimou, dibintangioleh Chen Daoming dan Gong Li. Pertama 
kali ditayangkan didepan public 20 Mei2015 di Cannes Film Festival.

 

Tatiana: Saya  sambut pengiriman  dan penyebaran film‘Coming Home’.  Dengan 
demikian kitapunya satu contoh dan bukti kongkrit dari usaha rejim kapitalis 
Tiongkok untukterus mempropagandakan versi revisionis dalam menilai Revolusi 
Besar KebudayaanProletar (RBKP).


Sama sekali tidak mengherankanadanya beberapa pendapat yang berbeda  bahkan 
bertentangan, setelah orang nonton film“Coming Home’. Berbagai pendapat itu 
pada garis besarnya dapat dimasukkan dalamdua blok besar. Satu blok yang 
mewakili pandangan bahwa RBKP adalah sebuahusaha besar  Mao untuk meneruskan 
danmengkonsolidasi Sosialisme melawan  kaumrevisionis pengambil jalan 
kapitalis, dan selama 10 tahun berhasilmempertahankan Sosialisme dan 
pencapaian-pencapaian yang implementasinyaakhirnya terhenti ditengah jalan 
karena kaum revisionis berhasil merebutkekuasaan. Satu blok besar lain yang 
bertentangan, mewakili pandangan  resmi dari rejim Tiongkok sekarang, yaitu 
bahwa RBKP adalah kesalahan besarMao dengan dampak sangat negative: ekonomi 
hancur atau stagnasi, jutaan rakyatjadi korban kekejaman Garda Merah, 
penghancuran kekayaan kebudayaantradisional, dsb.


Wang Zheng adalah editor  dan Bai Di co-editor dari buku “Some of Us:Chinese 
Women Growing Up in the Mao Era”, sebuah koleksi memoir. Memoir dalambuku ini, 
kata Wang Zheng sendiri, “meluluh-lantakkan stereotype persekusi,represi, 
korban dan victimizer (orang yang membuat orang lain menjadi korban)di Tiongkok 
Maois”.


Soalnya, memoir  yang diterbitkan dan dipromosi besar-besaranoleh media 
komunikasi rejim Tkk sekarang dan media Barat dan mencapai suksespasar besar 
seperti bukunya Jung Chang, menggambarkan jaman Mao sebagai “darkage” (‘masa 
gelap’) penuh dengan persekusi, kediktaturan, pembunuhan, ceritayang 
serem-serem, dan kejahatan-kejahatan lain.

Supaya dapat menilai isi danpesan yang dibawa oleh film “Coming Home” sebaik 
mungkin, tidak ada salahnya kalau kita mengetahui  latar belakang atau situasi 
dan suasana  Tkk ketika itu di mana terjadi cerita yangdigambarkan film itu.


Dalam Keputusan  16 point Komite Sentral PKT, Agustus 1966, dirumuskan bahwa 
tujuan perjuanganadalah melawan dan menggulingkan mereka yang berkuasan yang 
mengambil  jalan kapitalis, mengkritik dan menolak“otoritas” akademis borjuis 
reaksioner dan ideologi borjuis dan semua kelaspenghisap dan mengubah 
pendidikan, kesusasteraan dan seni dan semua bagianbangunan atas lain yang 
tidak sesuai dengan basis ekonomi sosialis untukmemudahkan konsolidasi dan 
perkembangan sistim sosialis .[Atpresent, our objective is to struggle against 
and overthrow those persons inauthority who are taking the capitalist road, to 
criticize and repudiate thereactionary bourgeois academic “authorities” and the 
ideology of thebourgeoisie and all other exploiting classes and to transform 
education,literature and art and all other parts of the superstructure not 
incorrespondence with the socialist economic base, so as to facilitate 
theconsolidation and development of the socialist system.].


Di bagian lain tertulis juga bahwa dalam RevolusiBesar Kebudayaan ini, gejala 
sekolah-sekolah kita didominasi oleh kaumintelektual borjuis harus sepenuhnya 
diubah. [ In this Great Cultural Revolution, thephenomenon of our schools being 
dominated by bourgeois intellectuals must becompletely changed].


Dalam film “Coming Home” diceritakan profesor Lu melarikandiri dari labour camp 
dan berusaha pulang menemui istrinya. Di sini sayaberhenti dulu karena ingin 
mempertimbangkan kondisi social/professional danpolitik dari professor Lu yang 
telah membuatnya dipenjara atau dikirim kelabour camp. Jelas Lu seorang 
intelektual bekerja di Universitas dan anggotapartai. Keadaan rumahnya, ada 
piano, anak belajar balet menunjukkan kehidupanyang mapan bahkan mungkin bisa 
dimasukkan kedalam golongan elit ketika itu.Mengapa dia ada di labour camp? Ini 
tidak diceritakan di film. Melihat konteksRBKP ketika itu, mereka yang 
ditangkap dan dihukum adalah mereka yang berada dipihak musuh RBKP. Definisi 
musuh ketika itu adalah orang-orang/pejabat partaidan negara revisionis yang 
mengambil jalan kapitalis, kaum intelektualborjuis  reaksioner yang ketika itu 
mendominasidan merupakan otoritas dalam sistim pendidikan dan kebudayaan, 
pengikut garisrevisionis dan klik revisionis dalam Partai. Tidak semua 
intelektual menjadimusuh RBKP. Contoh kongkrit, orang tuanya Bai Di adalah 
intelektual yangrevolusioner dan berada dipihak Mao ketika RBKP berkobar. 
Banyak intelektualdan siswa dikirim ke desa dan bekerja bersama kaum tani 
bukanlah karena merekadihukum, tapi dengan tujuan supaya mereka belajar kepada 
kaum tani. Tidak adaalasan untuk menangkap dan memenjara kaum intelektual yang 
turut serta danmendukung RBKP, kecuali kasus-kasus kesalahan yang dilakukan 
oleh kaumrevolusioner pengikut Mao sebagai akibat dari provokasi dan perlawanan 
kaumrevisionis yang dengan sengaja mengacau, menggunakan bendera merah 
untukmelawan bendera merah. 


Jadi kita dihadapkan pada cerita sebuah keluarga yangsalah satu anggotanya 
merupakan “korban” RBKP. Film ini ingin memperlihatkanakibat dan trauma dari 
perlakuan “kejam tak berperikemanusiaan” dari RBKP yangmelahirkan tragedi yang 
harus ditanggung dan diderita seumur hidup oleh tigamanusia yang tidak berdosa. 
Dan semua itu adalah karena RBKP. Itulah messageyang saya terima dari film 
“Coming Home”. “Kemasan” dari message itu sangatbaik sekali. Yang saya maksud 
adalah dari segi artistik, jalan cerita filmsangat menarik dan orang mudah 
tersentuh dan terharu. 


Sama sekali tidak mengherankan kalau orang yang tidaktahu atau tidak pernah 
menerima atau membaca bahan-bahan yang benar tentangRBKP, akan kontan 
bersimpati kepada keluarga itu dan membenci atau palingsedikit menganggap RBKP 
sebagai sesuatu yang sangat negative yang merusakkehidupan jutaan orang. Dan 
harus diakui tidaklah mudah untuk mengerti apasebetulnya yang terjadi dalam 
RBKP dan mengapa Mao melancarkan RBKP. Bahkanorang komunis, banyak juga yang 
tidak mengerti dan tidak menerima RBKP. DipikirnyaMao gila menggerakkan massa 
untuk mengkritik, mengexpos dan menggulingkanpejabat tinggi Partai dan Negara 
yang pernah berjasa dalam revolusi.


Soalnya adalah orang-orang ini tidak mau mengerti “Althoughthe bourgeoisie has 
been overthrown, it is still trying to use the old ideas,culture, customs and 
habits of the exploiting classes to corrupt the masses,capture their minds and 
endeavour to stage a comeback. The proletariat must dothe exact opposite: it 
must meet head-on every challenge of the bourgeoisie inthe ideological field 
and use the new ideas, culture, customs and habits of theproletariat to change 
the mental outlook of the whole of society”.      Jadiwalaupun kaum borjuasi 
sudah digulingkan, tapi mereka masih terus berusahauntuk kembali merebut 
kekuasaan dengan menggunakan ide-ide, kebudayaan dankebiasaan kelas penghisap 
untuk merusak dan menguasai mental massa rakyat. RBKPadalah sebuah revolusi, 
oleh karena itu ia juga mendapat perlawanan dari merekayang berkuasa dalam 
Partai dan mengambil jalan kapitalisme [Sincethe Cultural Revolution is a 
revolution, it inevitably meets with resistance. Thisresistance comes chiefly 
from those in authority who have wormed their way intothe Party and are taking 
the capitalist road. It also comes from the forceof habits from the old 
society.].


Perlawanan kongkrit tercermin misalnya dalam garisyang dijalankan oleh “Grup 
Lima Orang yang Bertanggung Jawab Atas RBKP “yangdipimpin Peng Zhen (anggota 
PB, walikota Peking pada tahun 60-an). Surat EdaranKomite Sentral tentang RBKP, 
16 Mei 1966, antara lain membubarkan grup inikarena laporannya bertentangan 
dengan garis RBKP yang sudahditetapkan Komite Sentral dan Mao dan prinsip 
pembimbing yang sudah dirumuskanKongres Ke X PKT berkaitan dengan masalah kelas 
dan perjuangan kelas dalammasyarakat sosialis. 


Ketika klik revisionis dalam PKTberhasil merebut kekuasaan setelah Mao 
meninggal, semua tokoh-tokoh revisionisdan pengikutnya  yang diganyang 
dalamRBKP direhabilitasi,  seperti   Peng Zhen. Wu Ren bao, pendiri Huaxi, 
pujaanChan, pernah jadi “korban” RBKP, makanya juga direhabilitasi. Dan 
akhirnya diadan keluarganya berhasil mendirikan dinasti dan kerajaannya di desa 
Huaxi.Begitu juga prof. Lu, tokoh dalam “Coming Home” mendapat rehabilitasi.


Nah, kalau kita mengikuti logikaotak yang waras, para pejabat yang dulu jadi 
“korban” RBKP, setelah Deng Xiaoping berkuasa, mendapat rehabilitasi dan 
hasilya adalah “sosialisme dengan ciriTkk” yang tidak lain adalah kapitalisme 
brutal. Artinya, beralasan atau tidakMao dan massa rakyat dulu mengganyang 
mereka sebagai “orang-orang yangmenyelusup dalam Partai dan mengambil jalan 
kapitalis” ? Seandainya Mao salahdalam menentukan musuh  RBKP ketika itudan 
salah dalam menilai musuh itu sebagai orang-orang yang menempuh jalankapitalis, 
seharusnya tidak ada pembongkaran terhadap struktur dan sistimekonomi dan 
social yang sudah dibangun sejak 1949 sampai 1976, bukan? Kalaumusuh-musuh itu 
bukan orang-orang yang mengambil jalan kapitalis, mengapasegala peraturan dan 
undang-undang yang melindungi kaum buruh dihapus dandiganti sepenuhnya dengan 
peraturan dan undang-undang yang menempatkan kedudukankaum buruh sama seperti 
buruh-buruh di Indonesia???


Saya bertanya-tanya adakahsekarang film resmi Tkk yang menggambarkan anak-anak 
yang harus tinggal dengannenek/kakeknya atau di asrama-asrama karena orang 
tuanya harus meninggalkankampungnya dan bekerja di kota-kota besar dan hidup 
juga di asrama- asrama ataukamar-kamar sesak. Saya tahu, si Chan pasti akan 
menjawab ini denganmenampilkan ribuan turis, orang-orang kaya, yang jalan-jalan 
keluar negerisebagai indikasi betapa makmurnya kehidupan rakyat Tkk dibawah 
‘sosialismedengan ciri Tkk”. Tidak mungkin diskusi dengan orang yang pendirian 
kelasnyatelah membuatnya berpihak kepada kaum majikan dan statusquo. Orang 
yangmemandang penghisapan berguna dan harus dilakukan untuk membangun 
“sosialisme”yang hanya ada dalam lamunannya sendiri, tidak akan mungkin 
berpihak kepadakaum buruh.  


Beberapa tahun yang lalu sayapernah mempostingkan berita seorang anggota PKT 
yang ditangkap dan dipenjarakarena giat melakukan advokasi terhadap kaum buruh 
yang kehilangan pekerjaantanpa pesangon, atau kasus-kasus pabrik yang ditutup 
dengan melanggar peraturandan undang-undang yang berlaku, etc. Kasus kader 
komunis itu sempat menggoncangmasyarakat Tkk,  dukungan datang dari 
berbagaikalangan dan media sosial….Istri kader itu sama sekali tidak mengerti 
koksuaminya, anggota Partai, bisa sampai ditangkap dan dipenjara padahal yang 
dikerjakanadalah membantu kaum buruh. Ia  jatuhsakit dan akhirnya meninggal. 
Selama istrinya sakit,  kader itu tidak pernah diijinkan untukmenengok.  Bahkan 
ketika meninggalpun diatidak diijinkan untuk hadir dalam upacara pemakaman. 
Anak tunggalnya  yang , kalau tidak salah ingat, juga dalamkeadaan sakit, 
tinggal dengan kakeknya. Nah, ini bukan cerita fiction, tapikenyataan hidup 
dalam masyakarat Tkk sekarang. Kalau tak salah ingat, anggotaPKT itu juga aktif 
dalam sebuah grup studi Fikiran Mao Tse-tung.  Barangkali itulah yang membuat 
dia orang “berbahaya”sehingga perlu dihadapkan ke pengadilan dan dihukum?? 
Ingat, aktivis Marxisyang diwawancarai orang Spanyol, juga pakai nama samaran. 
Mengapa? Cari sendirijawabannya. Saya lampirkan lagi linksnya untuk nonton film 
itu.


https://youtu.be/dCZFgFro63M


 

 

 
 

Kirim email ke