Apakah Jokowi berpidato menyambut Tahun Baru 2017? Kalau tidak diberikan berati 
disesuikan dengan fatwa MUI cs.

From: mailto:[email protected] 
Sent: Tuesday, January 3, 2017 11:29 AM
To: Yahoogroups ; DISKUSI FORUM HLD ; GELORA_In 
Cc: Daeng ; Lusi.D ; Roeslan ; Rachmat Hadi-Soetjipto ; Mitri ; Gol ; Harry 
Singgih ; Jonathan Goeij ; Lingkar Sitompul ; Ronggo A. ; Mang Broto ; Ajeg ; 
Marsiswo Dirgantoro ; Farida Ishaja ; Billy Gunadi ; [email protected] ; 
Karma I Nengah [PT. Altus Logistic Service Indonesia] ; C. Manuputty 
Subject: [GELORA45] Catatan Akhir Tahun 2016

  



SELAMAT MENYAMBUT TAHUN BARU 2017
AGRA mengajak kepada seluruh jajaran organisasi, seluruh kaum tani dan Rakyat 
luas Indonesia untuk terus memperbesar organisasi, memperkuat persatuan dan 
memajukan perjuangan, wujudkan Reforma Agraria Sejati!
Kemerosotan Hidup Petani dan Kekerasan Meningkat Sepanjang Tahun 2016
Kenyataan hidup rakyat yang kian merosot sekarang ini, tetaplah kenyataan yang 
tidak akan pernah bisa terus ditutupi. Meskipun dengan berbagai trik permainan 
angka dan kebijakan yang seolah populis, laporan capain ekonomi yang 
dirilis-nya, Pemerintahan Jokowi tidak akan pernah sanggup menutupi kemrosotan 
hidup rakyat, utamanya penghidupan kaum tani dan masyarakat luas di pedesaan.
Bahkan redistribusi dan sertifikasi tanah, hingga penetapan hutan adat sebagai 
implementasi Reforma Agraria palsunya, tidak bisa menutupi kenyataan dimana 
pada saat yang bersamaan perampasan dan monopoli tanah terus berlansung massif 
dan semakin intensif dialami oleh rakyat. Demikian pula dengan penderitaan 
rakyat akibat berbagai tindak kekerasan dan kriminalisasi yang selalu digunakan 
pemerintah dalam menghadapi perlawanan dan tuntutan rakyat.
Singkatnya, sederet kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintahan Jokowi tetap 
akan menjadi pil pahit bagi rakyat, yang tidak akan pernah berubah manis dengan 
segenap janji dan secuil program sosial yang dibiayai dengan utang dan hibah 
luar negeri. Seluruhnya merupakan bentuk pelayanan pemerintah Indonesia atas 
seluruh kepentingan Imperialis, tuan tanah besar dan borjuasi komprador, dan 
pada sisi yang lain akan terus memerosotkan penghidupan dan meningkatkan 
penderitaan rakyat.
Paket kebijakan ekonomi Pemerintah Jokowi-JK untuk kepentingan Investor.
Seluruh kebijakan neoliberal imperialisme telah berjalan dengan mulus. Sebagai 
karakter khasnya yang terbelakang, Jokowi maupun pemerintahan boneka 
sebelum-sebelumnya di negeri ini, sama sekali tidak memiliki kepercayaan diri 
untuk membangun bangsa tanpa utang dan investasi asing. Akibatnya, rakyat 
terpaksa harus menuai celaka dan derita sedemikian rupa. Rakyat bahkan tidak 
memiliki daulat atas produksi dan penghidupan yang dijalankannya.
Empat belas paket kebijakan ekonomi yang dikeluarkan oleh pemerintahan 
Jokowi-JK sejak 2015 hingga penghujung 2016 sekarang ini, sepenuhnya untuk 
melayani kepentingan Imperialisme di Indonesia. Paket kebijakan yang tidak 
ubahnya pintu air untuk mengalirkan investasi asing sebagai jembatan bagi 
eksport capital milik imperialis untuk mengatasi krisisnya Finansial yang 
meledak sejak 2008 silam.
Seluruh isi dari paket kebijakan  setidaknya berisikan 3 sampai 4 point 
kebijakan yang harus dapat dijalankan. Secara umum keseluruhan isi dari paket 
kebijakan ini menuntut deregulasi, yang merupakan salah satu prinsip dari 
kebijakan Neo-Liberal milik imperialis. Dengan demikian paket kebijakan ekonomi 
Jokowi ini merupakan satu skema imperialis yang paripurna di implementasikan di 
Indonesia untuk menjamin keberlangsungan seluruh skema Neo-Liberal di Indonesia.
Perombakan ataupun pembentukan suatu kebijakan baru (Deregulasi) pada intinya, 
tidak lain semata-mata untuk menfasilitasi dan memberikan jaminan perlindungan 
atas kepentingan Imperialisme dalam berinvestasi dan mengeruk sumberdaya alam, 
sekaligus sebagai skema menggerakan kapitalnya di Indonesia untuk mendapatkan 
keuntungan berlimpah dari investasi dan bunga utang yang terus menggunung. 
Dalam implementasinya, Pemerintah memangkas berbagai aturan yang dinilai 
menghambat dan menghilangkan berbagai syarat pengurusan izin adalah pelayanan 
yang diberikan kepada para Investor. Selain itu paket kebijakan ekonimi juga 
memberikan insentif pajak kepada para Investor, mulai dari Tax Allowance, Tax 
Holliday hingga Tax Amnesty. Paket kebijakan ekonomi ini juga bahkan memberikan 
subsidi BBM dan Listrik kepada para pengusaha.
Sebaliknya, kebijakan pemerintah Jokowi-JK terus memerosotkan tingkat ekonomi 
rakyat, pencabutan subsidi dengan alasan pengalihan subsidi konsumtif ke sector 
produktif seperti pencabutan subsidi listrik, subsidi bahan bakar telah memukul 
perekonomian rakyat. Tidak hanya itu, penghidupan rakyat juga terus dibebani 
dengan kebijakan Jokowi atas berbagai skema pengumpulan dana public, seperti 
pungutan dana kesehatan melalui BPJS, Asuransi tani hingga pungutan dana sawit 
(CPO Fund) untuk subsidi energi dan cadangan dana peremajaan perkebunan sawit.
Seluruh beban tersebut, ditimpakan oleh pemerintah Jokowi kepada rakyat dan 
kaum tani, ditengah merosotnya harga komoditas pertanian disatu sisi. Sementara 
pada sisi yang lain, biaya produksi semakin mahal dan kebutuhan hidup terus 
meningkat, mulai dari kebutuhan pangan, sandang, papan, pendidikan maupun 
kesehatan
Proyek Infrastruktur Jokowi-JK Meningkatkan Perampasan Tanah dan Kekerasan.
Atas nama pembangunan dan ilusi untuk dapat membuka lapangan pekerjaan baru, 
saat ini sedang dan akan terus berlangsung massif pembangunan mega proyek 
infrastruktur oleh pemerintahan Jokowi-JK, baik infrstruktur fasilitas publik 
maupun Infrastruktur komersil. Mulai dari pembangunan jalan tol, pembangunan 
rell kereta api, pembangunan pelabuhan, pembangunan bandara, pembangunan 
kawasan ekonomi khusus, pembangunan waduk dan bendungan, reklamasi laut dan 
berbagai proyek infrastruktur lainya.
Seluruh proyek Infrastruktur ini merupakan proyek kepentingan Imperialisme di 
Indonesia, baik untuk menjamin keberlangsungan arus kapital Imperialisme untuk 
pembiayaan proyek melalui utang dan investasi, maupun kepentingan atas 
kemudahan jalur distribusi (pengangkutan) atas bahan mentah yang telah 
dikeruknya di berbagai daerah dan pedalaman Indonesia, maupun untuk 
pengangkutan barang jadi yang akan dipasarkan di Indonesia.
Sementara disisi yang lain, berbagai pembangunan proyek ini yang telah 
dijalankan oleh pemerintahan Jokowi-JK, telah terbukti membawa dampak buruk 
bagi kaum tani dan seluruh rakyat Indonesia. Terbukti bahwa program ini telah 
semakin memasifkan perampasan tanah, mengusir petani dan rakyat luas dari 
tempat tinggal dan sandaran hidupnya. Setiap proyek bahkan selalu disertai 
dengan berbagai tindak kekerasan dan kriminalisasi terhadap rakyat.
Proyek-proyek yang dijalankan oleh pemerintahan Jokowi-JK, tiada lain merupakan 
hasil kesepakatan-kesepakatan berbagai perjanian dan kerjasama internasional 
bilateral dan multirateral seperti WTO, RCEP, TPP maupun skema kerjasama 
lainnya. Dimana seluruhnya berada dibawah kepentingan, kontrol dan dominasi 
Imperialisme. Karenanya, sangat wajar jika seluruh pembiayaan atas proyek 
Infrastruktur bersumber dari Investasi asing dan hutang.
Bagi Imperilisme, proyek Infrastruktur yang dijalankan oleh pemerintahan 
Jokowi-JK, setidaknya memiliki empat kedudukan penting dalam usaha 
menyelamatkan krisis dalam system kapitalis monopoli dunia yang terancam 
bangkrut sekarang ini, yakni:
Pertama dengan berbagai proyek infrastruktur yang dijalankan oleh pemerintah 
Jokowi, yang sepenuuhnya sangat bergantung pada utang dan Investasi asing, 
imperialisme dapat memutarkan kapitalnya untuk membiayai proyek infrastruktur, 
baik melalui skema utang maupun investasi, sehingga kapitalnya dapat terbebas 
dari ancaman pembusukan, bahkan justru memberikan keuntungan berlipat-lipat.
Kedua. dengan berjalannya proyek infrtastruktur, Imperialisme juga dapat 
menggerakkan lebih efektif barang hasil produksi industri milik imperialisme, 
seperti bahan-bahan baku kebutuhan proyek pembangunan infrastruktur.
Ketiga, dengan berjalannya proyek Infrastruktur, maka akan digunakan untuk 
mempermudah dan mempercepat mobilisasi sumber daya alam Indonesia yang telah 
dieksploitasi oleh perusahan-perusahaan Imperialisme seperti hasil tambang, 
perkebunan, dan hasil produksi perusahaan milik Imperilisme lainnya di 
Indonesia untuk dibawa kepasar.
<!--[if !supportLineBreakNewLine]-->
<!--[endif]-->
Keempat, dengan berjalanya proyek Infrastruktur pemerintahan Jokowi-JK, 
digunakan oleh para Investor untuk membawa tenaga dari negerinya, juga sebagai 
jalan keluar untuk memecahkan problem pengangguran yang semakin luas di dalam 
Negarinya, sehingga hal ini dapat sedikit meredam gejolak dan perlawanan rakyat 
didalam Negerinya.
Diatas seluruh kepentingan tersebut, Pemerintah Jokowi-JK telah menerbitkan 
perpres no 3 / Th. 2016 tentang percepatan pelaksanaan proyek strategis 
nasional, termasuk didalamnya mengatur tentang pembangunan 125 proyek 
infrastuktur yang akan dijalankan hingga akhir pemerintahannya tahun 2019 
mendatang. Dalam mengatasi hambatan pelaksanaan pembangunan ini, Perpres 
tersebut bahkan memberikan keleluasaan kepada Menteri dan atau kepala lembaga 
dan kepala daerah untuk membuat keputusan (Diskresi), serta pelibatan aparat 
kekerasan Negara (TNI dan POLRI).
Meningkatnya tindak kekerasan dan kriminalisasi terhadap Rakyat
dengan segenap kepentingan ekonomi dan didukung oleh kedudukannya sebagai 
pemerintah boneka yang selalu akan menghamba pada tuan tanah, borjuasi 
komprador dan Imperialisme, tindak kekerasan dan kriminalisasi terhadap rakyat 
jelas sebagai salah satu cara bagi Pemerintah Indonesia untuk menjamin keamanan 
dan jaminan terpenuhinya seluruh kepentingan Imperialis yang dipertuannya.
Di berbagai daerah, sejalan dengan massifnya perampasan dan monopoli tanah, 
baik untuk perluasan perkebuan, pertambangan dan taman Nasional maupun untuk 
pembangunan proyek infrastruktur, baik yang sudah mulai dioperasikan maupun 
yang tengah dalam proses pembebasan lahan, disertai dengan berbagai tindak 
kekerasan yang brutal dan kejam terhadap rakyat. Kenyataannya seperti yang 
terjadi dalam proyek pembangunan reklamasi di sepanjang teluk Jakarta, 
pembangunan Bandara Internasional Jogjakarta, Bandara Internasional Jawa Barat 
(Kertajati) Majalengka, penggusuran Teluk Jambe Karawang Jawa Barat yang 
mengakibatkan 11 orang di Teluk Jambe dan 3 orang di Sukamulya menjadi 
tersangka akibat menolak penggusuran dan belasan lainnya luka-luka.
Di DKI Jakarta dan sekitarnya, sepanjang tahun 2016 setidaknya telah tergusur 
sebanyak 1.275 jiwa di Bukit Duri Jakarta Timur, 90 KK di Rawajati Kalibata 
Jakarta Selatan, 396 KK di Pasar Ikan Jakarta utara dan ancaman terhadap 7.000 
Jiwa di Kampung Baru Dadap Tanggerang. Dalam penggusuran tersebut, setidaknya 5 
orang luka parah, 1 di tembak dan 17 lainnya ditangkap.
Ditahun 2016, tindakan represif terhadap gerakan rakyat, terus berlangsung 
semakin massif, terutama bagi mereka yang mempertahankan tanah dari ancaman 
penggusuran, petani penggarap dan pemukim di hutan. Mereka kerap kali di jerat 
dengan pasal melawan aparat, UU pencegahan dan pemberantasan perusakan hutan 
maupun UU ITE. Selain kekerasan, penangkapan dan pemidanaan, pemerintah 
Jokowi-JK kerap melakukan pembatasan kebebasan berpendapat dan berorganisasi 
yang berlindung dibalik UU terorisme atau pasal subversive (makar).
Sepanjang tahun 2016, AGRA juga mencatat setidaknya ada 30 konflik agraria di 
12 Provinsi yang mengakibatkan kekerasan, penangkapan dan kriminalisasi 
terhadap kaum tani dan masyarakat yang mempertahankan tanah, baik konflik baru 
atau konflik lama yang kembali memanas karena tak kunjung selesai. Dari 30 
kasus tersebut 92 petani korban kekerasan, 39 korban penembakan, 228 orang 
ditangkap dan 83 dikriminalkan. Bahkan dalam beberapa bulan terakhir ini, 
sekitar 200 petani kecil ditangkap dan dikriminalkan dengan tuduhan pembakar 
lahan di Kalimantan dan Sumatra.
Lebih parah lagi, selain terus melakukan tindak kekerasan yang semakin 
intensif, dari catatan yang dihimpun oleh Aliansi Mahasiswa Papua dalam periode 
April-Juni 2016 sedikitnya 4,080 orang petani, mahasiswa, suku bangsa minoritas 
dan masyarakat pedesaan di Papua telah ditangkap paksa oleh aparat.
Reforma agraria Jokowi perkuat monopoli dan perampasan tanah dan bertentangan 
dengan aspirasi sejati kaum tani dan rakyat luas Indonesia.
Ditengah hiruk-pikuk persiapan Pemilu Presiden pada tahun 2014 silam, Pasangan 
calon Joko Widodo dan Yusf Kalla, menawarkan 9 (sembilan) program prioritas 
sebagai janji politiknya, yang dikenal dengan NAWACITA. Janji politik yang 
termuat dalam Dokumen Menuju Indonesia baru milik Jokowi tersebut, termasuk 
didalamnya adalah program Reforma Agraria.
Namun kenyataannya, hingga usai tahun kedua pemerintahannya pada 20 Oktober 
lalu, hingga penghujung tahun 2016 ini, perampasan dan monopoli tanah diseluruh 
penjuru negeri ini terus berlangsung massif dan menggusur kaum tani, suku 
bangsa minoritas, nelayan dan masyarakat luas pedesaan. Bahkan diperkotaan 
sekalipun, rakyat tidak terbebaskan dari perampasan tanah dan penggusuran 
akibat massifnya pembangunan mega proyek infrastruktur milik Imperialis.
Program reforma agraria Jokowi didalam strategi nasional pelaksanaan reforma 
agraria adalah program redistribusi dan legalisasi (sertifikasi) 9 juta hektar 
tanah, dan pencapaian target 12,7 juta ha untuk alokasi Perhutanan Sosial 
seperti Hutan Kemasyarakatan (HKM), Hutan Desa (HD), dan Hutan Tanaman Rakyat 
(HTR). Intinya program Reforma Agraria (RA) Jokowi adalah bagi-bagi tanah bekas 
HGU milik tuan tanah (perkebunan besar), membagi tanah-tanah telantar milik 
tuan tanah (perkebunan besar), membuka akses tanah milik tuan tanah besar 
seperti Perhutani kepada tani miskin dengan cara tumpang sari, PHBM, dan 
kemitraan.
Dengan demikian, RA Jokowi akan tetap melestarikan monopoli tanah, karena tuan 
tanah tetap berkuasa memonopoli tanah, tetap bebas menghisap dan menindas buruh 
tani dan tani miskin. Membagikan tanah sisa milik tuan tanah kepada rakyat 
pedesaan secara terbatas dan hanya cukup untuk sebagian kecil (minoritas) 
rakyat miskin pedesaan. Sedangkan tenaga produktif kaum tani tidak akan bebas 
dari penghisapan dan penindasan feodalisme dan imperialisme.
Program RA Jokowi adalah palsu, karena program tersebut hanya legalisasi aset 
atau sertifikatisasi yang bertujuan untuk memperluas pasar tanah (land market) 
dan kredit perbankan. Program ini bahkan semakin mengancam terjadinya 
perampasan tanah semakin massif dan legal, karena memudahkan jual-beli tanah 
yang menguntungkan perusahaan perkebunan besar dan perbankan yang dengan mudah 
dapat menyita asset kaum tani karena gagal bayar kredit akibat merosotnya harga 
komoditas pertanian.
<!--[if !supportLineBreakNewLine]-->
<!--[endif]-->
Kesimpulannya bahwa, Ide, konsep dan pelaksanaan Program RA Jokowi bertentangan 
dengan aspirasi sejati kaum tani dan rakyat Indonesia. Dimana hakekat reforma 
agraria sejati yakni penghapusan atas monopoli tanah dan penghapusan setiap 
bentuk penghisapan dan penindasan yang bersumber dari monopoli atas tanah. 
Reforma agraria sejati, suatu konsep menyeluruh tata kelola dan kepemilikan 
tanah dan sumber-sumber agraria, yang sanggup membebaskan kaum tani dan rakyat 
Indonesia secara umum, dari penghisapan dan penindasan feodalisme dan 
kapitalisme monopoli (imperialisme).
Reforma agraria sejati, sebagai fondasi bagi pembangunan Industri nasional 
untuk melahirkan modernisasi pertanian, sekaligus menjadi syarat mutlak bagi 
kemajuan tenaga produktif di pedesaan. RA dan pembangunan Industri nasional, 
sekaligus memutuskan ketergantungan kapital, alat kerja, sarana produksi 
pertanian hingga tujuan produksi pertanian yang tidak diabdikan pada 
kepentingan tuan tanah besar dan imperialisme.
Penghidupan Kaum Tani dan Rakyat Indonesia Semakin Merosot dibawah Kuasa 
Pemerintahan Jokowi-Yusuf Kalla.
Dua tahun dibawah kepemimpinan Jokowi-JK hingga akhir tahun 2016 ini, 
penghidupan kaum tani dan Rakyat luas Indonesia terus mengalami kemerosotan. 
Berdasarkan data yang dirilis oleh BPS pada 18 juli 2016 lalu menunjukkan 
bahwa, angka kemiskinan per-Maret 2016 mencapai 28,1 juta jiwa (10,86%), di 
perkotaan 10,4 juta jiwa dan dipedesaan 17,67 juta jiwa.
Berbanding lurus dengan angka kemiskinan yang tak jua menurun, angka kelaparan 
di Indonesia juga masih tergolong tinggi. Hingga pertengahan 2016 lalu, angka 
kelaparan Indonesia mencapai 20 Juta jiwa, terutama di Indonesia wilayah timur, 
seperti Papua, Maluku dan NTT. Demikian pula dengan angka gizi buruk pada 
balita yang mencapai 7,6 juta (37%), masih belum sanggup dipecahkan oleh 
Pemerintah.
Sejatinya, kemiskinan, kelaparan dan kemerosotan penghidupan rakyat, utamanya 
kaum tani dan masyarakat luas pedesaan adalah akibat lansung atas semakin 
hilangnya akses tanah dan sumber penghidupan lainnya, akibat monopoli yang 
dilakukan oleh tuan tanah dan borjuasi komprador sebagai penopang utama 
dominasi dan ambisi monopoli imperialisme yang rakus tak berujung.
Kaum tani dan masyarakat luas pedesaan, mayoritas gagal memenuhi kebutuhan 
pendidikan anak dan kesehatan keluarganya. Mereka bahkan terus-menerus 
mengalami kemerosotan ekonomi dan kualitas hidup karena rendahnya upah yang 
mereka terima (buruh tani), mahalnya biaya produksi dan rendahnya harga hasil 
produksinya. Keadaan tersebut, tentunya bukanlah takdir yang lahir begitu saja, 
melainkan akibat dari penguasaan dan kontrol atas tanah, sarana produksi 
pertanian (alat kerja dan input pertanian) hingga pasar dan harga hasil 
produksi pertanian oleh imperialisme dan kaki tangannya didalam Negeri.
Penguasaan tanah, monopoli produksi hingga distribusi dan harga bahkan semakin 
kuat seiring dengan berbagai kesepakatan kerjasama dan perjanjian Internasional 
dibawah Kontrol dan Dominasi Imperialisme yang dijalankan oleh Pemerintah 
Indonesia.
Dengan ilusi perdagangan bebas, kaum tani Indonesia tidak memiliki kesanggupan 
bersaing dengan berbagai produk pertanian import yang membanjiri pasar domestik 
dengan harga yang lebih murah. Sementara Kaum Tani Indonesia, selain belenggu 
riba yang menggunung, juga harus menanggung beban biaya produksi yang tinggi 
karena kebijakan pencabutan subsidi yang kian menjerat kaum Tani. Bahkan saat 
ini, pendapatan kaum tani terancam semakin kering akibat berbagai skema 
pungutuan dana publik yang dibebankan oleh Pemerintah, seperti Asuransi tani 
yang diwajibkan, BPJS dan pungutan-pungutan harga jual untuk sejumlah komoditas 
pertanian tertentu, seperti sawit melalui CPO fund.
Lebih parah lagi, pengghidupan kaum tani, tidak dapat sedikitpun bergeser lebih 
baik, dimana dengan kenyataan pendapatannya yang terbatas dan terus terkuras, 
kaum tani dan masyarakat luas dipedesaan juga harus menanggung harga kebutuhan 
pokok yang terus naik akibat kegagalan pemerintah mencegah ataupun menekan 
inflasi yang terus terjadi dan tidak sanggup diatasi oleh Pemerintah.
Perjuangan Kaum Tani Dan Rakyat Semakin Maju Dan Meluas
<!--[if !supportLineBreakNewLine]-->
<!--[endif]-->
Di atas seluruh kenyataan atas penghisapan Imperialisme yang ditopang oleh tuan 
tanah, borjuasi komprador dan kenyataan penghidupan rakyat yang terus merosot, 
sejatinya tidak akan pernah berubah baik dengan mengharapkan niat baik dari 
pemerintah yang pada kenyataannya adalah pemerintahan boneka yang sangat 
bergantung dan terus menghamba pada Imperialisme.
<!--[if !supportLineBreakNewLine]-->
<!--[endif]-->
Karenanya, Aliansi Gerakan Reforma Agraria (AGRA) menyampaikan salut dan 
apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh anggota dan jajaran pimpinan 
organisasi, kaum tani dan rakyat luas Indonesia yang tak pernah menyerah dan 
terus gigih melancarkan perlawanannya, meskipun dengan berbagai bentuk dan 
perkembangannya. Namun tidak dapat ditutupi bahwa kenyataannya, gerakan rakyat 
memang terus bangkit dan meluas diseluruh penjuru negeri.
Dipenghujung tahun ini, AGRA juga menyampaikan SELAMAT MENYAMBUT TAHUN BARU 
2017.
AGRA mengajak kepada seluruh jajaran organisasi, seluruh kaum tani dan Rakyat 
luas Indonesia untuk bersama-sama terus memperbesar organisasi, memperkuat 
persatuan dan memajukan perjuangan untuk perubahan hidup yang lebih baik di 
tahun berikutnya, terlebih lagi berbagai bentuk penghisapan dan penindasan yang 
semakin buruk terus ancaman pada tahun-tahun mendatang.
Hidup Kaum tani!
Jayalah Perjuangan Rakyat!

Kirim email ke