Data diretas dari Komite Demokrasi Nasional (DNC) dan pemimpin partai di AS 
kepada WikiLeaks atas arahan dari Presiden Rusia, Vladimir Putin, seperti 
dilaporkan Reuters, Jumat (6/1/2017).
 Menurut para petinggi AS, Kamis (5/1/2016), dalam laporan terbaru intelijen AS 
disebutkan bahwa arahan Putin itu disampaikan melalui pihak ketiga.
 ...
 CIA Amerika Serikat Identifikasi Pejabat Rusia Peretas Data Pemilu AS 
http://kupang.tribunnews.com/2017/01/06/cia-amerika-serikat-identifikasi-pejabat-rusia-peretas-data-pemilu-as
 Jumat, 6 Januari 2017 10:43
 
 
 
 AP Photo
 
 Lambang CIA. 



 

 POS KUPANG.COM, WASHINGTON DC -- Badan Intelijen Pusat (CIA) Amerika 
http://kupang.tribunnews.com/tag/amerika Serikat telah mengidentifikasi 
pejabat-pejabat Rusia yang telah meretas dan membocorkan data pemilihan 
Presiden AS.
 Data diretas dari Komite Demokrasi Nasional (DNC) dan pemimpin partai di AS 
kepada WikiLeaks atas arahan dari Presiden Rusia, Vladimir Putin, seperti 
dilaporkan Reuters, Jumat (6/1/2017).
 Menurut para petinggi AS, Kamis (5/1/2016), dalam laporan terbaru intelijen AS 
disebutkan bahwa arahan Putin itu disampaikan melalui pihak ketiga.
 Pejabat-pejabat AS mengatakan, CIA http://kupang.tribunnews.com/tag/cia dan 
mitra lainnya telah menyimpulkan bahwa Rusia meningkat usahanya untuk 
mendiskreditkan proses Pemilu AS demi kemenangan Donald Trump.
 Penilaian intelijen telah disampaikan kepada Presiden Barack Obama, Kamis 
(5/1/2017), dan akan diteruskan kepada Trump, Jumat ini.
 Trump menolak penilaian pihak intelijen yang mencurigai Rusia sebagai pelaku 
peretasan data-data Pemilu AS selama masa kampanye untuk melemahkan rivalnya, 
Hillary Clinton.
 "Pada Oktober (2016) tampak jelas bahwa Rusia berusaha membantu kampanye 
Trump," kata seorang pejabat yang dekat dengan intelijen AS.
 Dalam beberapa kasus, seorang pejabat mengatakan, data atau materi hasil retas 
mengikuti apa yang disebut "jalan memutar" dari badan intelijen militer Rusia 
(GRU) kepada WikiLeaks.
 Langkah itu merupakan sebuah upaya nyata untuk menyulitkan pelacakan soal 
asal-usul data, praktik yang umum digunakan oleh semua badan intelijen, 
termasuk AS.
 Rusia telah menolak tuduhan peretasan tersebut. Trump juga kembali 
menyampaikan keraguannya atas dugaan peretasan oleh Rusia.
 Trump, Rabu (4/1/2016) telah mengirim sejumlah pesan di Twitter tentang isu 
peretasan itu, dengan mengatakan "pendiri WikiLeaks Julian Assange mengatakan 
'seorang anak berusia 14 tahun pun bisa meretas akun Podesta.' Mengapa DNC 
begitu ceroboh? Assange juga mengatakan bukan Rusia yang memberinya informasi."
 Trump juga mengutip Assange ketika mengatakan kepada stasiun televisi Fox News 
bahwa liputan media tentang isu ini "sangat tidak jujur."
 "Ini benar-benar standar ganda. Media, seperti biasa, meloloskannya," tulis 
Trump di Twitter.
 Rincian laporan muncul ketika pejabat tinggi intelijen AS, James Clapper, 
mengatakan pada Kamis (5/1/2017) bahwa ia "bahkan lebih tegas" dalam 
keyakinannya bahwa Rusia melancarkan serangan siber kepada Partai Demokrat 
selama kampanye Pilres 2016 .
 
 Terkait dengan skandal dugaan peretasan itu, Presiden AS Barack Obama juga 
telah mengusir 35 diplomat AS untuk kembali ke Rusia. Putin mengatakan, takkan 
membalas tindakan Obama itu. (Kompas.Com)
 

Kirim email ke