http://sp.beritasatu.com/home/menyinggung-kedaulatan-indonesia-batalkan-hubungan-pertahanan-dengan-australia/117886
Menyinggung Kedaulatan, Indonesia Batalkan Hubungan Pertahanan dengan Australia Kamis, 5 Januari 2017 | 12:58 Ilustrasi hubungan Indonesia dan Australia [google] [SYDNEY] Australia pada Kamis menyatakan penyesalan terhadap Indonesia dan berjanji akan menggelar penyelidikan terkait temuan bahan ajar yang "menyinggung" sehingga membuat Jakarta membatalkan hubungan pertahanan kedua negara. Pada Rabu Indonesia membenarkan telah menghentikan sementara kerja sama militer dengan Australia sejak Desember. Keputusan itu awalnya diambil secara mandiri oleh militer. Meski demikian, Presiden Indonesia Joko Widodo pada Kamis mengaku telah memberi izin bagi keputusan penghentian kerja sama itu. Dia juga meminta kepada menteri pertahanan dan panglima militer untuk melakukan penyelidikan. Kerja sama militer antara kedua negara mencakup berbagai macam aktivitas, dari penanggulangan terorisme sampai perlindungan wilayah perbatasan. Selama beberapa tahun terakhir hubungan militer antara Jakarta dan Canberra memang selalu naik turun. Australia sempat menghentikan pelatihan bersama dengan pasukan khusus Kopassus akibat dugaan pelanggaran hak asasi manusia di Timor Leste pada 1999, saat wilayah itu tengah memperjuangkan kemerdekaan dari Indonesia. Hubungan kembali normal setelah tahun 2002 usai serangan bom di dua klub malam di Bali yang menewaskan 202 orang, 88 di antaranya warga Australia. Menteri Pertahanan Australia Marise Payne pada Kamis mengaku telah melakukan penyelidikan atas bahan ajar yang ditemukan di Barak Campbell, Perth. "Kami menyatakan penyesalan atas peristiwa ini. Saya berpendapat, adalah hal yang wajar bagi negara sahabat untuk menyatakan protes mereka," kata Payne kepada sejumlah wartawan di Sydney. Australia akan memaparkan hasil investigasi itu kepada pihak pemerintah dan militer Indonesia, kata Payne. Payne menolak mengungkap apa yang membuat Indonesia merasa terhina. Sejumlah media melaporkan bahwa seorang pejabat militer Indonesia yang tengah mengikuti pelatihan di Australia tersinggung atas sebuah poster yang mempertanyakan kedaulatan Indonesia atas wilayah barat Papua. Ada juga laporan dari pejabat sama yang menemukan sejumlah dokumen penghinaan terhadap ideologi dasar Tentara Nasional Indonesia. Papua memang merupakan isu yang sensitif bagi pemerintah dan militer. "Tentu saja kami mengakui kedaulatan dan keutuhan wilayah Indonesia. Ini adalah sikap tegas kami," kata Payne. Dia mengatakan bahwa semua materi bahan ajar yang sensitif telah dihapus dan telah disesuaikan secara budaya. Pada 2013 lalu, Indonesia juga sempat memutus hubungan militer dengan Australia setelah terungkap bahwa pihak intelejen Canberra memata-matai telepon genggam milik presiden saat itu, Susilo Bambang Yudhoyono. Australia saat ini membutuhkan bantuan Indonesia untuk turut mendukung kebijakan imigrasi yang kontroversial, termasuk di antaranya mengusir kapal-kapal yang ditumpangi oleh para pencari suaka. [Ant/L-9] +++++ http://sp.beritasatu.com/home/australia-bantah-rekrut-prajurit-indonesia/117883 Australia Bantah Rekrut Prajurit Indonesia U-5 | Kamis, 5 Januari 2017 | 12:45 Menteri Pertahanan Australia Marise Payne menggelar jumpa pers terkait pembekuan kerja sama militer dengan Indonesia di Sydney, Australia, Kamis (5/1) [AFP] [SYDNEY] Pemerintah Australia menyangkal telah mencoba merekrut prajurit terbaik di Indonesia. Pada Kamis (5/1), Menteri Pertahanan Australia Marise Payne menyangkal bahwa Canberra menargetkan tentara Indonesia untuk menjadi agen Australia yang potensial. “Tidak, tidak begitu masalahnya dan ini adalah sesuatu yang tidak akan pernah kami setujui,” katanya. Australia juga berusaha meluruskan masalah kedua negara terkait bahan-bahan pelatihan yang dianggap menghina negara Indonesia. Bahan pelajaran itu dianggap menghina dasar negara Pancasila. Kantor berita ABC melaporkan material pelatihan militer menampilkan poster-poster Papua Barat di Pangkalan Pasukan Khusus Australia, kota Perth pada November lalu. Payne menambahkan pihaknya juga menggelar penyelidikan terhadap bahan-bahan pengajaran yang memicu kemelut diplomatik. Canberra berjanji mengambil langkah serius. “Kami bekerja sama secara erat antara kedua pihak di bidang militer dan di tingkat politik kami ingin memperbaiki masalah apa pun, untuk mengatasi segala kekhawatiran dan melanjutkan hubungan secara keseluruhannya secepat mungkin,” katanya. Payne berharap Indonesia akan kembali menjalin kerja sama militer dengan Australia setelah penyelidikan terhadap bahan pelatihan yang ofensif di pangkalan militer Perth, dapat diselesaikan. Australia telah menyikapi keluhan Indonesia secara sungguh-sungguh dan segera menindaklanjutinya dengan penyelidikan. [AFP/AAP/U-5]
