Menarik. Langsung atau tidak, ini menggambarkan bahwa 
angkatan bersenjata, khususnya Angkatan Darat, selalu terlibat 
dalam kudeta di Indonesia.
Lalu, bagaimana dengan jatuhnya Gus Dur, dulu sempat ramai 
polemik itu kudeta, makar, atau pemakzulan? Banyak juga yang 
cenderung mengatakan itu adalah "prestasi" sipil dalam 
menjungkalkan presiden. Lainnya, ada juga yang berpendapat 
itu hasil permufakatan sipil (partai) dan "angkatan bersenjata" sipil 
alias polisi. Dengan dasar, setelah tuduhan korupsi (BruneiGate & 
BulogGate) tidak terbukti, partai-partai menggunakan pemecatan 
Kapolri oleh Gus Dur sebagai peluru pamungkas untuk menyingkirkan 
Gus Dur.
--- lusi_d@... wrote:
Para sahabat.
Yang pertama kali melakukan budaya kudeta dalam sejarah Nasion
Indonesia adalah klik Tan Malaka. Di kalangan kaum marxis-leninis
terkenal sekali doktrin bahwa bagi kaum revolusioner sekali-kali tidak
dibenarkan melakukan kudeta. Kudeta bertentangan dengan ajaran tentang
revolusi.

Sebagai bahan studi sejarah, berikut ini saya turunkan kutipan buku
Revolusi Agustus - Hasta Mitra hlm.64-70, dari salah seorang saksi
langsung dalam Peristiwa 3 Juli 1946, Pak Soemarsono, dengan kedudukan
waktu itu sebagai seorang Mayor Jendral, memberi perintah bersejarah
langsung kepada letkol. Soeharto untuk melucuti pasukan Divisi
Sudarsono yang sedang terlibat melakukan kudeta terhadap Presiden
Soekarno di Yogyakarta pada tgl. 3 Yuli 1946. Saya kirimkan juga dlm
format pdf.
Kutipan mulai:

5. Ambisi Tan Malaka dan Kudeta 3 Juli 1946

Walaupun Bung Karno sudah menjadi Presiden RI Tan Malaka masih terus
berambisi ingin menjadi Presiden Republik Indonesia. Lalu caranya
bagaimana? Ambisi Tan Malaka ini ada hubungannya dengan Soekarno dan
termasuk juga dengan Hatta, tapi hubungannya yang menonjol itu dengan
Soekarno. Sebenarnya ketika itu Soekarno masih suka diliputi rasa
takut-takut, ngeri bagaimana kalau tertangkap oleh Sekutu. Sebab dia
masih bisa dituduh sebagai kolaborator Jepang dan bisa diadili sebagai
penjahat perang. Karena syak wasangkanya Soekarno itu, dia selalu
ditakut-takuti oleh orang-orangnya Tan Malaka, antara lain oleh
Soekarni, Chaerul Saleh dengan maksud supaya Soekarno siap bila suatu
ketika Inggris atau Sekutu menangkap Soekarno, sambil mengajukaan
pertanyaan:

“Kalau Bung Karno ketangkap lalu siapa yang menggantikan Bung Karno?”

Akhirnya mereka mengemukakan Tan Malaka yang akan menggantinya dan
mereka tahu bahwa Soekarno kenal Tan Malaka ini. Orang yang pernah
termasuk lingkaran pimpinan PKI, dia juga bukan sembarang orang.
Akhirnya Soekarno minta bertemu dengan Tan Malaka dan pertemuan itu
terjadi beberapa kali, yang terakhir kali pertemuan di rumah Dokter
Suharto, dokter pribadi Bung Karno di Kramat, Jakarta. Bung Karno dan
Tan Malaka datang ke situ dan tercapai satu persetujuan yang ditulis
sendiri oleh Bung Karno yang intinya: ”Bila Bung Karno menemui
halangan, tidak bisa melanjutkan tugasnya sebagai Presiden, maka
kedudukan itu diserahkan kepada Tan Malaka.”. 

Dengan demikian Tan Malaka punya dokumen mandat. Kalau seandainya Tan
Malaka benar jadi Presiden, Tan Malaka bisa mengatakan “Ini Soekarno
menyerahkan jabatan kepresidenan kepada saya!”, jadi syah. Malah kalau
testamen ini dibandingkan dengan kejadian G30S seperti Supersemar itu
sebenarnya tidak syah, karena dengan Supersemar itu Suharto yang
mengoper wewenang Bung Karno. Itulah sebabnya Suharto tidak berani
mempublikasi Supersemar-nya, karena Soekarno hanya memberikan kuasa
pengamanan saja kepada Suharto. Jadi bukan wewenang kepresidenan yang
diserahkan, bukan menyerahkan supaya Suharto yang jadi presiden.

Karena Tan Malaka itu akalnya banyak akhirnya dia dapat surat kuasa
dari Bung Karno itu. Itu benar saya lihat suratnya. Kalau Bung Karno
berhalangan, maksudnya kalau Sekutu datang dan Bung Karno ditangkap,
‘kan kepresidenan jadi vacum, nah majulah itu Tan Malaka. Jadi menurut
surat itu jelasnya apabila Bung Karno berhalangan. Tapi waktu kejadian
Peristiwa 3 Juli 1946 itu Bung Karno tidak ada halangan apa-apa, kok
Bung Karno dituntut oleh pengikut Tan Malaka supaya Tan Malaka
dijadikan Presiden.

Untuk melaksanakannya dibikinlah suatu rekayasa dengan terlebih dahulu
menculik Sutan Sjahrir, jadi Perdana Menterinya diculik. Lalu Amir
Sjarifuddin, Menteri Pertahanan juga diculik, tapi bisa digagalkan.
Kemudian mereka menggerebek Istana. Tetapi dalam waktu singkat setelah
terjadi peristiwa penculikan itu saya berada di Istana Presiden di
Yogya bersama Letkol Suharto yang waktu itu menjabat Komandan Resimen
di Yogya. Orang-orang Tan Malaka itu menuntut pelaksanaan supaya Tan
Malaka menjadi presiden. Padahal isi dalam surat itu pengertiannya yang
benar, itu kalau Presiden berhalangan dan itupun maksudnya kalau Bung
Karno ditangkap oleh Sekutu. Waktu itu tidak terjadi apa-apa yang
menimpa Bung Karno, tapi dia dituntut supaya menyerahkan
kepresidenannya kepada Tan Malaka dan kalau Bung Karno menyerahkan
kekuasaan seperti yang memang benar ditulis pada testamennya itu,
menyerahkan kepresidenannya, ya Tan Malaka yang menjadi Presiden pada 3
Juli 1946 itu dan waktu itu calon-calon menteri Tan Malaka sudah
berdatangan di Istana.

Di luar perhitungan mereka, ternyata Amir Sjarifuddin lolos dari
penculikan itu dan kebetulan saya juga segera datang ke Istana dan ikut
mengatur pasukan yang menjaga Istana bersama Letkol Suharto yang waktu
itu menjabat Komandan Resimen di Yogya. 

Saya kebetulan sedang menghadiri konferensi di Yogya dan juga ada
pertemuan Pesindo waktu itu. Saya memang sering ke Yogya,Perjuangan
Sesudah Jepang karena ada kalanya menyelesaikan urusan-urusan yang
memang saya musti kerjakan di Yogya. Dan saat-saat terakhir karena
sering ada pertemuan dengan Panglima Besar Sudirman, dengan Djokosujono
atau pertemuan Dewan Pertahanan Negara, jadi saya lebih banyak berada
di Yogya.

Jadi hari itu tanggal 3 Juli 1946, Menteri Pertahanan Amir Sjarifuddin
diculik. Peristiwa penculikan itu baru kami ketahui kemudian. Maksud
penculikannya tidak tahu, juga dia mau dibawa ke mana. Dalam peristiwa
penculikan itu Amir Sjarifuddin, di luar perhitungan mereka, sempat
merebut senjata si penculik itu, dengan sigap dia todongkan senjata itu
ke sopir yang menculik dan Amir Sjarifuddin memerintahkan - kiri -
kanan - kiri - akhirnya masuk Istana. Kejadian ini saya ketahui
kemudian dari cerita Amir Sjarifuddin sendiri.

Kembali pada kejadiannya. Sementara proses penculikan itu berlangsung,
kami dari tempat penginapan pagi hari mendengar tembakan, kemudian
melihat keluar, ini kok suara tembakan jurusannya ke arah tempat
tinggal Amir di sana. Kita memang jadi waspada waktu itu dan rupanya
memang tempat Amir itu diserang. Dia itu Menteri Pertahanan diserang
oleh Kompi Jusuf dari Divisi Sudarsono di Yogya dan pasukan pengawal
Menteri Pertahanan mempertahankan. Jadi itulah pasal terjadinya
tembak-menembak itu, karena itu kami rombongan Pesindo, semua berangkat
ke sana. Waktu pengawal di rumah Amir itu diserang, saya ikut bertempur
juga di situ dan itu saya ikut secara perorangan saja, wong kami tidak
membawa pasukan, ikut bertempur di situ untuk menghalau serangan
terhadap Amir itu. Tapi rupanya Amir bisa lolos, dan penyerangnya kabur
semua. Akhirnya pertempuran ini tidak diteruskan, lalu mereda begitu
saja, pasukan mereka buyar dan lari. Dan kita tidak memperhatikan itu
lagi. Kemudian kami mendengar bahwa Amir sudah dibawa pergi oleh suatu
truk, jadi kami terus ikut pergi juga mencari ke jurusan mana truk itu
pergi. Akhirnya kami mendengar bahwa Amir itu tilpun dari kepresidenan,
dari Istana, artinya dia ada di Istana. Karena Amir Sjarifuddin sudah
berada di Istana, lalu kami pagi itu terus menuju ke Istana dan
kira-kira setengah enam pagi begitu saya sudah di Istana Presiden dan
berjumpa Amir Sjarifuddin. Jadi yang pertama kali ketemu Amir di Istana
ya rombongan kami, bukan saya saja, tapi teman-teman Pesindo juga yang
masuk di Istana, Amir kelihatan masih gusar sekali. Di Istana saya juga
berjumpa dengan Bung Karno. Saya ada di Istana, dan Amir juga.

Ini cerita the naked truth suasana pagi waktu itu. Amir masih pakai
sarung dan baju piyama, dia bilang: “Coba lihat!” Yang dimaksudkan
adalah Bung Karno. Waktu itu saya masuk ke ruangan, Bung Karno duduk
bersila di kursinya, ada keris di depannya. Amir cuma mengatakan: “Saya
lari ke Istana, tapi lihat itu. Presiden bukan bertindak untuk
menolong, tapi malah kehilangan akal.” Maksudnya Amir, Soekarno ini kan
Presiden, mustinya kan kalau dia pemimpin dia musti cari bantuan untuk
menolongnya, tapi hij had niks gedaan (Dia tidak melakukan apa-apa).
Yaa, itulah kenyataannya, kehilangan akalnya apa bagaimana. Itu
kenyataan pada waktu itu Bung Karno kayak begitu dan itu kesaksian
saya. Jadi waktu Amir diculik, Bung Karno mencari sesuatu yang gaib. 

Waktu itu semua yang berada di Istana belum tahu kalau itu suatu
peristiwa kup. Dari Amir pun tidak ada ucapan kup begitu. Dari Amir pun
tidak ada ucapan kup begitu, Dia tidak tahu, tapi dia cuma menunjukkan
kepada kami mengapa dia tidak dapat pertolongan dari Soekarno. Kami
juga tidak tahu apakah akan ada serangan pada Istana. Karena yang
menjaga Istana waktu itu terdiri dari anak-anak dari Surabaya, kalau
ndak salah waktu itu komandannya itu Ririhema namanya, karena saya
sudah biasa dengan anak-anak Surabaya ini, jadi yang saya kerjakan
waktu itu yah pokoknya mengatur persiapan membela Istana itu,
kalau-kalau ada serangan seperti di rumah Amir tadi. Dan akhirnya itu
saya ikut mengatur pertahanan, mengatur kesiapsiagaan pasukan anak-anak
Surabaya itu. Lalu ada yang menyampaikan nama Suharto pada saya. Kalau
tidak salah yang bilang itu Pramudji, sama-sama dari Yogya:

“Harto itu komandan resimen di Yogya, Harto itu kawan kita.” Karena dia
termasuk dari golongan Pemuda Pathook itu, jadi mustinya dia juga
bersama Sjahrir dan Sjahrir kan termasuk yang diculik juga waktu itu.
Pramudji ini, dulu dia dari golongan Pemuda Pathook juga. Kemudian dia
bersama saya di Surabaya menjadi salah satu komandan resimen. Kecuali
itu Pramudji juga di Pesindo, sekarang sudah meninggal. Karena yang
tahu tilpunnya juga Pramudji lalu saya bilang:

“Panggil Harto saja!” Jadi Suharto dipanggil oleh Pramudji.

Ketika itu dia masih overste, letnan kolonel, sebagai komandan Resimen
di Yogya. Itulah saat saya mengenal Suharto untuk yang pertama kali dan
bertatap muka dengan dia. Suharto cepat datang dari markasnya. Kalau
tidak salah markasnya di Wiyoro, ada juga ditulis di buku
Otobiografi-nya Suharto. Karena waktu itu Suharto dianggap berpihak
pada kita juga, artinya dia musti membela Presiden. Dia punya satu
resimen dan sudah tentu membesarkan hati kita. Tapi kita juga belum
tahu kalau komandan Divisi Sudarsono ada di belakang penculikan ini.
Jadi kita belum tahu kalau mereka merancang untuk kup itu.

Tentang Sudirman sikapnya tidak jelas. Memang Sudirman sering dikatakan
tidak jelas begitu. Bahkan kita belum tahu kalau komandan divisi itu
terlibat juga. Baru belakangan kita tahu, oo, ini mau kup. Ada Komandan
Divisi Sudarsono, lalu mendengar juga kalau Panglima Besar Sudirman itu
ada kemungkinan bisa bersama mereka. Karena itu kejadian ini peristiwa
besar, makanya kita namakan kup. Kalau cuma serangan kepada Amir saja
ya sudah, tapi ini termasuk rancangan besar Divisi Sudarsono, lalu ada
juga kekuatiran kita kalau Sudirman juga ikut. Jadi perasaan kita, wah
kekuatan kita kecil kalau menghadapi itu, sebab mereka memang
besar-besaran, karena mau kup. Mau kup kan musti kekuatannya besar.

Ketika itu suasana kup sedang menguasai semua yang berada di Istana.
Jadi pada waktu itu suasana setiap orang bisa tembak-menembak,
bertempur satu sama lainnya. Saya tanya mula-mula pada Harto setelah
saya tahu dia dari Pemuda Pathook, dari Partai Sosialis. Saya juga dari
Partai Sosialis waktu itu. Dan hubungannya Suharto dekat dengan Dayino,
Dayino itu godfather-nya Pemuda Pathook. Waktu Suharto ini sampai di
Istana pertama kali yang saya tanyakan pada dia:

“Dik Harto terlibat ndak?”
“Ndak mas, ndak mas.”
“Bener ndak?”
“Ndak.”
“Ha, ya sudah kalau tidak, sekarang pasukannya dislokasinya
di mana?” Nah kemudian dia kasih tahu.
“Ha sekarang coba, pasukannya itu digerakkan untuk membantu melindungi
Istana.”, itulah yang saya katakan pada dia.

Di Istana waktu itu sudah ada Mr. Mohamad Yamin. Pada waktu Peristiwa 3
Juli 1946 di Yogya itu dia berada di Istana Yogya. Saya ketemu dengan
Chaerul Saleh, dia juga ada di Istana. Saya bersama Chaerul di Jakarta
juga satu kelompok waktu gerakan pemuda proklamasi, hanya saya sudah
berkedudukan di Surabaya, tapi kita terus nyambung. Chaerul Saleh pada
waktu itu sempat mengatakan:

“Yah, kali ini kau menang Son, tapi lain kali, saya tangkep kau!”

“Yah, boleh aja. He, he.”

Dan saya akhirnya menangkapi calon-calon menterinya Tan Malaka yang
sudah berada di Istana itu.

Karena kejadian di Istana itu, saya lalu mendatangkan pasukan dari
Front Surabaya, termasuk pasukan dan komandannya Soengkono. Saya suruh
tarik pasukan dari Kolonel Soengkono ini, akibat kejadian di Yogya itu.
Hubungan saya dengan Soengkono itu ada sejarahnya ketika pertempuran di
Surabaya, waktu itu saya memimpin pertempuran menghadapi pasukannya
Mallaby – Inggris.

Sudah saya jelaskan di atas, waktu itu saya tidak tahu apakah Suharto
ini terlibat atau tidak, saya tidak tahu. Di kemudian hari baru saya
tahu bahwa Suharto sebenarnya terlibat dalam Peristiwa 3 Juli 1946 itu.
Dari buku Otobiografi-nya yang sudah diterbitkan itu baru diketahui,
bahwa Suharto ternyata ada hubungan dengan komandan divisi yang waktu
itu terlibat, yaitu Sudarsono. Di dalam Divisi Sudarsono itu ada Kompi
Jusuf, kompi yang menculik Amir. Kecuali itu Suharto sebagai Komandan
Resimen di Yogya juga dekat dengan Panglima Sudirman, dengan Sudarsono,
Komandan Divisi yang terlibat dan ikut menggerakkan pasukannya untuk
mendukung gerakan Tan Malaka 3 Juli 1946 ini. Jadi pada waktu Peristiwa
3 Juli 1946 itu Suharto sudah mencari jalan untuk mau ikut berkuasa,
karena waktu itu juga Panglima Besar Sudirman dalam keadaan bimbang,
apakah memihak Bung Karno atau memihak Tan Malaka.

Kutipan selesai.

Salam akhir minggu.
Lusi.- 

--------------------

Am Fri, 9 Dec 2016 09:11:41 +0800
schrieb Chan CT :

> Dari Maklumat, Penculikan, sampai Pembunuhan
> 
> 7 Desember 2016
> 
> http://koransulindo.com/dari-maklumat-penculikan-sampai-pembunuhan/ 
> 
> Pelantikan Kabinet Sjahrir
> 
> Koran Sulindo – Istilah makar atau kudeta kembali menjadi populer
> belakangan ini di Tanah Air. Dalam buku Political Order in Changing
> Societies (1968), Samuel P. Huntington memilah kudeta menjadi tiga:
> kudeta sempalan, kudeta wali, dan kudeta veto.
> 
> Kudeta sempalan dilakukan oleh sekelompok bersenjata yang dapat
> terdiri dari militer atau tentara yang tidak puas dengan kebijakan
> pemerintahan tradisional saat itu. Kemudian, mereka melakukan gerakan
> yang bertujuan menggulingkan pemerintah tradisional dan kemudian
> menciptakan elite birokrasi baru.
> 
> Sementara itu, kudeta wali dilakukan sekelompok orang dengan
> mengumumkan diri sebagai perwalian guna meningkatkan ketertiban umum,
> efisiensi, dan mengakhiri korupsi tapi pada kenyataan tidak akan ada
> perubahan yang mendasar pada struktur kekuasaan umumnya. Para
> pemimpin kudeta akan menggambarkan diri dan tindakan mereka bersifat
> sementara dan akan menyesuaikan dengan kebutuhan.
> 
> Yang ketiga adalah kudeta veto. Kudeta ini dilakukan melalui
> partisipasi dan mobilisasi sosial sekelompok massa rakyat dalam
> melakukan penekanan skala besar berbasis luas pada oposisi sipil.
> 
> Dalam perjalanan sejarah Indonesia, berbagai percobaan makar terhadap
> pemerintahan yang sah pernah terjadi. Tercatat percobaan makar atau
> kudeta pertama kali terjadi bahkan ketika negara ini baru setahun
> berdiri, yakni pada 3 Juli 1946. Ketika itu, Mayor Jendral R.P.
> Sudarsono, pelaku utama penculikan Perdana Menteri Sjahrir yang
> sehaluan dengan kelompok Persatuan Perjuangan, menghadap Soekarno
> bersama beberapa rekannya dan menyodorkan empat maklumat untuk
> ditandatangani presiden.
> 
> Pertama: Presiden memberhentikan Kabinet Sjahrir II. Kedua: Presiden
> menyerahkan pemimpin politik, sosial, dan ekonomi kepada Dewan
> Pimpinan Politik. Ketiga: Presiden mengangkat 10 anggota Dewan
> Pimpinan Politik yang diketuai Tan Malaka dan beranggotakan Muhammad
> Yamin, Ahmad Subarjo, Dokter Boentaran Martoatmodjo, Mr. R. S.
> Budhyarto Martoatmodjo, Sukarni, Chaerul Saleh, Sudiro, Gatot, dan
> Iwa Kusuma Sumantri. Keempat: Presiden mengangkat 13 menteri negara
> yang nama-namanya dicantumkan dalam maklumat tersebut.
> 
> Presiden Soekarno, pihak pemerintah yang sudah jauh hari siap
> menghadapi pihak Soedarsono, tidak menerima maklumat tersebut dan
> memerintahkan penangkapan para pengantar maklumat. Akhirnya,
> percobaan pemebrontakan itu pun gagal karena partai-partai seperti
> Masyumi, PNI, dan PBI yang diharapkan mengerahkan mendukung dengan
> massa ke jalan-jalan untuk berpawai tidak menjalankan hal tersebut.
> 
> Pihak militer pun tidak memberikan dukungan. Terbukti dengan
> munculnya Soeharto yang ditugaskan langsung oleh Presiden Soekarno
> untuk menangkap Soedarsono dan yang terlibat dari pihak tentara dan
> polisi.
> 
> Pada akhirnya, Sjahrir berhasil dibebaskan dan Tan Malaka beserta
> kelompoknya masuk jeruji besi di Penjara Wirogunan, Yogyakarta.
> Sementara itu, 14 orang yang diduga terlibat dalam upaya kudeta
> diajukan ke Mahkamah Tentara Agung. Tujuh orang dibebaskan, 5 orang
> dihukum 2 sampai 3 tahun, sedangkan R.P. Sudarsono dan Muhammad Yamin
> dijatuhi hukuman selama 4 tahun penjara. Dua tahun kemudian, pada 17
> Agustus 1948, seluruh tahanan Peristiwa 3 Juli 1946 dibebaskan
> melalui pemberian grasi presiden.
> 
> Latar belakang peristiwa pemberontakan itu berawal dari, perbedaan
> pemikiran yang frontal antara Perdana Menteri Soetan Sjahrir dengan
> kelompok oposisi Persatuan Perjuangan yang dipimpin Tan Malaka.
> Terjadi insiden penculikan hingga upaya kudeta Kabinet Sjahrir II
> pada medio 1946. Pemicunya adalah ketidakpuasan pihak oposisi
> terhadap politik diplomasi yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia
> terhadap Belanda. Kelompok ini menginginkan pengakuan kedaulatan
> penuh, sedangkan kabinet yang berkuasa hanya menuntut pengakuan
> kedaulatan atas Jawa dan Madura.
> 
> Ide penculikan Sjahrir berawal dari A.K Joesoef, Kepala Tentara
> Pendjagaan Kota (Jogjakarta), karena Sjahrir dianggap telah merugikan
> bangsa dengan hasil perundingannya. Karena Sjahrir pada waktu itu
> sedang ada di Solo, yang berarti di luar wilayah kekuasaan Joesoef,
> dia meminta surat perintah kepada Soedarsono, Komandan Batalyon 63
> dan juga disetujui Panglima Divisi IV Kolonel Sutarto, yang merupakan
> tangan kanan Jendral Soedirman. Akhirnya, dari Soedarsono, ide itu
> merembet sampai ke penasihat- penasihat politik Soedirman dan sampai
> pada Yamin. Berbekal surat itulah A.K. Joesoef tak menemui halangan
> berarti dari Kepolisian Solo untuk melakukan penangkapan terhadap
> Sjahrir.
> 
> Kudeta Militer 17 Oktober 1952
> 
> Peristiwa 17 Oktober 1952 berakar dari pertentangan sipil-militer
> pascakemerdekaan. Pada masa Kabinet Wilopo, pemimpin TNI berniat
> mereorganisasi dan merasionalisasi militer untuk menanggalkan
> mentalitas tentara gerilya menjadi tentara profesional. Proses ini
> akan diikuti pemberhentian hampir 40% personel TNI sebagai
> konsekuensi dari pemangkasan anggaran.
> 
> Para pemimpin militer, seperti KSAD Kolonel AH Nasution dan Kepala
> Staf Angkatan Perang Kolonel TB Simatupang, mengusulkan untuk
> mendatangkan Misi Militer Belanda (MMB) yang ditugaskan membantu
> dalam segi teknis—bukan doktrin—untuk menyediakan kader bagi
> lembaga-lembaga pendidikan militer. Hanya saja, ide ini ditentang
> keras golongan lain di dalam Angkatan Darat. Kolonel Bambang Supeno
> melaporkan ketidaksukaannya terhadap rencana itu kepada Presiden
> Soekarno secara langsung tanpa mengindahkan alur komando.
> 
> Sejak pukul 04.00 WIB, militer mengamankan tempat-tempat strategis:
> kantor RRI, gedung DPRS-MPRS, dan stasiun-stasiun kereta api. Pukul
> 08.00 WIB, kerumuman massa menjalar. Mereka diangkut dari
> pabrik-pabrik di luar kota, sisanya dari Jakarta yang dikoordinasi
> jagoan-jagoan Betawi. Tentara mengorganisasi demonstrasi itu dengan
> dukungan tank dan artileri, bergerak ke istana presiden, menuntut
> pembubaran parlemen.
> 
> Soekarno mencoba menengahi, bahkan cenderung tak setuju dengan usulan
> Nasution-Simatupang. Musyawarah ketiganya, yang juga dihadiri Menteri
> Pertahanan Hamengkubuwono IX, tak berjalan mulus. “Pembicaraan itu
> meningkat panas dan hampir berkembang menjadi adu teriak antara
> Sukarno dan Simatupang,” tulis John D. Legge dalam buku Sukarno:
> Sebuah Biografi Politik.
> 
> Nasution kemudian memecat Bambang Supeno. Parlemen mengecam tindakan
> tersebut dan mengeluarkan mosi untuk menghentikan MMB, karena
> dianggap pro-Barat dan menyudutkan golongan personel eks- Pembela
> Tanah Air, seperti Bambang Supeno.
> 
> Mosi dari Manai Sophiaan yang disetujui parlemen memaksa militer
> untuk menurut. Namun, pihak Angkatan Darat menganggap itu sebagai
> usaha ikut campur kalangan sipil dalam urusan militer.
> 
> Tak lama kemudian, militer melancarkan operasi penangkapan terhadap
> enam anggota parlemen. Manai Sophiaan nyaris diculik di kediamannya,
> sementara sekelompok perwira loyalis Soekarno di Jawa Timur berhasil
> kabur karena tim penyergap pimpinan Mayor Kemal Idris salah
> menggrebek rumah.
> 
> Dini hari, 17 Oktober 1952, para panglima berkumpul di kantor Staf
> Umum Angkatan Darat. Mereka saling melempar ide gerakan dengan kepala
> panas, sampai disela oleh Simatupang. “Setop. Ini sudah berbau kup.
> Kritik oke, tetapi jangan kup,” demikian dikatakan Simatupang,
> sebagaimana dikutip dari biografi A.E. Kawilarang, Untuk Sang Merah
> Putih, yang ditulis Ramadhan K.H.
> 
> Jakarta pun dipenuhi suara-suara protes. Kepala Intel Biro Informasi
> Perang Zulkifli Lubis sebelumnya sudah menghubungi ajudan Soekarno
> tentang pengerahan massa tersebut. Bahkan, Kolonel Moestopo yang
> mengorganisasi demonstrasi itu sudah diminta membatalkan niatnya.
> Namun, demonstrasi tetap terjadi. Puncaknya: moncong meriam diarahkan
> ke istana atas arahan Kemal Idris.
> 
> Sementara itu, di dalam istana, Soekarno dan para panglima yang
> dipimpin Nasution berunding. Nasution menuntut parlemen dibubarkan.
> Soekarno menolak dengan marah. “Mataku terbakar karena marah. Engkau
> benar dalam tuntutanmu, akan tetapi salah di dalam caranya. Sukarno
> tidak akan sekali-kali menyerah karena paksaan. Tidak kepada seluruh
> tentara Belanda dan tidak kepada satu batalyon Tentara Nasional
> Indonesia!” kata Bung Karno, sebagaimana tertera dalam
> otobiografinya, Penyambung Lidah Rakyat, sebagaimana diceritakan
> kepada Cindy Adams.
> 
> Bung Karno lalu keluar dan menenangkan massa. Setelah menasihati
> mereka akan pentingnya parlemen sebagai sarana demokrasi, layaknya
> seorang ayah kepada anaknya, tensi massa mulai menurun. Massa malah
> menerikkan yel-yel “Hidup Bung Karno!” dan kemudian bubar teratur.
> 
> Nasution menamakan gerakan itu sebagai “separo kudeta”. Dan, gerakan
> itu gagal total. Tak lama kemudian, Nasution dicopot sebagai KSAD,
> digantikan Bambang Sugeng, kawan dekat Bambang Supeno. Namun,
> Soekarno kelak mengangkat kembali Nasution dengan alasan “menjaga
> persatuan.”
> 
> Kudeta 30 September 1965
> 
> Kudeta paling terkenal dalam sejarah Indonesia adalah Gerakan 30
> September, yang sebagian orang menyebutnya sebagai G30S/PKI. Pelaku
> utama pemberontakan, yang dilancarkan sejak 30 September 1965 malam,
> adalah Letnan Kolonel Untung, salah satu komandan batalyon pasukan
> pengawal Presiden Soekarno, Cakrabirawa. Dalam gerakan ini, sejumlah
> perwira diculik dan dibunuh.
> 
> Untung akhirnya tertangkap dan segera dihukum mati. Setelah Surat
> Perintah 11 Maret (Supersemar) diberikan kepada Soeharto, kekuasaan
> Soekarno semakin lemah dan Soeharto semakin kuat dan populer. Tak
> sampai dua tahun setelah kudeta ini, Soekarno dilengserkan dari kursi
> kepresidenan. Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) yang
> dulu mendukung Soekarno sebagai Presiden Seumur Hidup justru menolak
> pidato pertanggungjawabannya, Nawaksara. Kemudian, MPRS yang dipimpin
> Abdul Haris Nasution mengangkat Letnan Jenderal Soeharto sebagai
> Pejabat Presiden Republik Indonesia pada 1967. [NYT]
> 
> 

View attachments on the web
   

Kirim email ke