Barat Merangkul Budaya Tionghoa (1)

By Erabaru - 14/01/2017Share on Facebook Tweet on Twitter  Beberapa tahun 
terakhir, pemikiran Lao Zi juga telah beredar sampai ke masyarakat Barat, 
meskipun lebih sulit dipahami, tapi banyak warga Barat yang mencoba 
mengaplikasikan sejumlah filsafat Tiongkok kuno untuk meningkatkan kualitas 
diri. Lukisan Zhang Lu dari Dinasti Ming “Lukisan Lao Zi Menunggang Kerbau”. 
(internet)Oleh: Zhang TingKebudayaan Tiongkok adalah suatu sistem ideologi dan 
budaya yang berfilsafat sangat luas dan mendalam. Kebudayaan tradisional yang 
berlandaskan pada ajaran Konfusius (Khonghucu), Buddha, dan Taoisme itu tidak 
hanya berpengaruh sangat dalam terhadap kehidupan masyarakat Tiongkok kuno, 
juga memiliki manfaat luar biasa bagi masyarakat modern.Beberapa tahun terakhir 
kebudayaan Tiongkok tersebar kian luas ke luar negeri, bahkan menjadi pedoman 
bagi masyarakat asing dalam kehidupan dan pekerjaan mereka.Aplikasi Konsep 
“Hampa Niat” Oleh Masyarakat BaratMenurut pemberitaan di situs “Quartz”, 
seorang penulis sekaligus pengacara AS bernama Ephrat Livni acap kali 
menggunakan konsep “Wu Wei, 無為, hampa niat, “melakukan tanpa 
melakukan.”Menghasilkan suatu pencapaian namun meraihnya bagaikan air mengalir, 
tanpa kengototan, filsuf Lao Zi (dibaca: Lao Tse) yang tercatat di dalam 
kitabnya yang berjudul “Tao Te Ching” (The Morality Bible, Red.) untuk 
menyelesaikan masalah pelik dalam pekerjaannya.Pemikiran “Wu Wei” menekankan 
mengikuti siklus alam semesta untuk mencapai taraf “hampa niat menjadi hampa 
tidak berniat.” Pemahaman Livni adalah manusia tidak seharusnya “memaksakan 
tindakan,” setelah mencapai kondisi “hampa niat”, jika ditambah dengan 
tindakan, maka tindakan itu adalah alami dan penuh energi, justru malah dapat 
membuat seseorang meraih hasil yang diinginkan.Livni menggunakan pengalaman 
pribadinya sendiri, menjelaskan bagaimana dia merelakan tidak memaksakan, 
setelah kondisi pikirannya mencapai “Wu Wei” itu, dirasakan segala sesuatu di 
sekelilingnya mulai berubah.Menurut Livni, di luar negeri tidak ada terjemahan 
bahasa Inggris yang tepat untuk kata “Wu Wei” ini. Namun filsuf Alan Watts 
yakin, konsep “Wu Wei” sangat penting bagi manusia untuk bisa hidup dengan 
baik. namun di tengah budaya masyarakat modern yang berorientasi “tindakan”, 
konsep “Wu Wei” ini terdengar seolah sangat bodoh.Livni mengatakan, dirinya 
sendiri sempat menentang konsep “Wu Wei” ini. Dia berkata, “Meskipun 
‘ketelatenan’ adalah sifat yang baik, tapi itu jelas bukan kemahiran saya. Saya 
lebih suka berusaha meraih prestasi.”Tapi beberapa tahun terakhir Livni mulai 
menyadari, gaya hidupnya itu sepertinya tidak meningkatkan kualitas hidupnya. 
Pada  2012 Livni adalah seorang pengacara tanpa profesi, di pagi hari dia 
bekerja serabutan, di malam hari dia bermain seni jalanan.Dia khawatir akan 
masa depannya, bahkan dirinya sempat mempertimbangkan untuk mengambil kuliah 
kedokteran. Namun karena hutang sebelumnya ketika kuliah di fakultas hukum, 
ditambah lagi dirinya tidak tahan melihat darah, dia memilih tidak melanjutkan 
studi.Kemudian Livni berhenti memaksa diri, dan percaya bahwa segala sesuatunya 
akan berubah. Dengan konsep di dalam “Tao Te Ching” dia berusaha untuk tidak 
memikirkan masa depan. Dia berkata, “Saya mulai menyadari ‘hampa niat / Wu Wei’ 
mungkin adalah suatu pendorong yang sangat kuat. Mempertahankan ‘diam’ 
membutuhkan keberanian dan keyakinan, dan harus percaya bahwa di alam semesta 
ini yakin ada suatu tempat yang merupakan porsi bagi diri kita.”Dengan konsep 
‘Wu Wei’ ini, Livni berkata, “Saya telah mengumpulkan energi, tahu bahwa segala 
sesuatu akan berubah. Begitu berubah, speednya akan sangat cepat.”Livni 
menyatakan, dia dengan segera direkrut oleh perusahaan Google sebagai 
pengacara. Selain itu, dia juga berbagi pengalamannya beberapa kali menggunakan 
konsep “Wu Wei” untuk menyelesaikan masalah.Pemahaman Livni adalah  yang 
ditampilkan konsep ‘Wu Wei’ itu kepada kita adalah, ketika kita berhenti 
memaksakan diri bertindak, dan belajar mengamati dengan tenang, kita akan bisa 
melihat energi dari luar secara lebih jelas, kemudian bisa mengambil tindakan 
yang lebih bijak.Jika bertindak terburu-buru, maka setiap langkah pasti 
berpotensi menimbulkan kesalahan, karena yang membuat keputusan adalah perasaan 
dan ego, dan bukan akal sehat yang mendorong kita. (Epoch 
Times/sud/whs/rmat)BERSAMBUNG


Kirim email ke