Wu Wei dulu ada yang menganggap sebagai prinsip tidak melakukan apa2,
membiarkan semua berjalan sendirinya secara alami.
Tetapi bagaimana kalau ada orang melakukan sesuatu, dus tidak alami (jadi
tidak wu wei), yang berakibat buruk?
Di buku2 sekarang di negeri Belanda tentang Wu Wei, dikatakan bahwa Wu Wei
tidak berarti tidak berreaksi terhadap sesuatu, tetapi berreaksi yang tidak
boleh emosionil, tidak berlebih-lebihan, karena kalau berlebih lebihan
keseimbangan akan sangat jomplang, yang akan mengundang reaksi yang jauh
lebih keras, yang makin merusak.
Semacam Teori Yin dan Yang dijumpai pada teori Hegel tentang These, anti
these dan synthese.
Ada yang berpendapat bahwa teori Hegel ini berdasarkan teori yin dan yang.
Hegel pasti juga tahu tentang teori yin dan yang, tetapi ada yang
mengatakan ini teori dari hegel murni tidak berdasarkan teori Yin dan Yang,
tetapi dari pengembangan teori segala sesuatu berubah, seperti air
mengalir-Pantha Rei dari Heraclitus.
Buddhisme mengatakan bahwa sesuatu itu tidak langgeng.
Di Buddhisme, Confucianisme digunakan istilah Jalan Tengah, The Golden
Means.
Di Buddhisme ada istilah Midden path : Kebenaran itu tidak pada ujung
paling extreem di kiri, juga tidak diujung paling extreem di kanan, tetapi
ada di antara keduanya. Ini berdasarkan apa yang pernah di dengar kalau
Siddharta Gautama waktu dia beridiri di tepi sungai. Dia mendengar seorang
tua bicara dengan muridnya yang sedang mengayuh :"Pasng snar itu jangan
terlalu tegang, nanti putus. jangan terlalu kendor, suaranya tidak enak."
Di situ Siddharta tiba2 insaf, bahwa hidupnya untuk mencari pencerahan
dengan cara hidup seperti ascet yang hanya minum air dari tetesan air
hujan, ari tetesan embun pagi, dan dengan meditasi yang sangat terfocus
bukan cara yang tepat. lalu dia mandi, makan sedikit, dan melakukan
meditasi di bawah suatu pohon, yang orang sekarang bilang itu pohon Bodhi,
dan dia mendapat enlightment.
Confucianisme, dibahas oleh mencius lebih jauh, juga menggunakan istilah
yang artinya sama : Chung Yung (Tiong Yong).
Socrates juga mengajarkan Golden means : Jangan buang2 uang. jangan kikir.
Harus berani keluar uang kalau diperlukan.
Di reaksi kesetimbangan kimia, orang mencari kondisi optimum.
Temperatur tinggi akan mempercepat reaksi. Tetapi temperatur tinggi sekali
akan menyebabkan banyak byproduct. Product oganik yang dihasilkan rusak
pada temperatur Tinggi. orang berusaha mendapatkan hasil paling besar pada
kondisi optimum dengan menyelidiki pengaruh tempratur, tekanan,
perbandingan antara jat2 yang berreaksi, penarikan salah satu hasil
sehingga keseimbangan bergeser ke kanan.
Kalau bicara tentang keseimbangan, tentang teori Yin dan yang, kan juga
berarti orang tidak cukup hanya mempelajari teori Yin dan yang, tetapi juga
teori2 lainnya . Ada yang berkata : Saya akan mempelajari filsafat Timur
dengan Yin dan yang. Tetapi saya juga akan mempelajari filsafat Barat,
filsafat cowboy dengan Pang pang (tembakan).
Jadi ya, terjadi sosialisme dengan menjalankan ekonomi pasar. Kalau terlalu
berlebihan ke ekonomi pasar, ya berbahaya juga, bisa jadi kapitalis.
Sedangkan negeri kapitalis tahu bahayanya kapitalisme berlebihan, mencoba
membuat keadaan dalam negeri damai dengan mengambil beberapa cara dari
sosialisme : tunjangan, sekolah gratis, assuransi murah.

2017-01-18 0:45 GMT+01:00 Jonathan Goeij [email protected] [GELORA45]
<[email protected]>:

>
>
>
> Share on Facebook
>
> <http://www.facebook.com/sharer.php?u=http%3A%2F%2Ferabaru.net%2F2017%2F01%2F14%2Fbarat-merangkul-budaya-tionghoa-1%2F>
>
> Tweet on Twitter
>
> <https://twitter.com/intent/tweet?text=Barat+Merangkul+Budaya+Tionghoa+%281%29&url=http%3A%2F%2Ferabaru.net%2F2017%2F01%2F14%2Fbarat-merangkul-budaya-tionghoa-1%2F&via=Erabaru>
>
> <http://plus.google.com/share?url=http://erabaru.net/2017/01/14/barat-merangkul-budaya-tionghoa-1/>
>
> <http://pinterest.com/pin/create/button/?url=http://erabaru.net/2017/01/14/barat-merangkul-budaya-tionghoa-1/&media=http://erabaru.net/wp-content/uploads/2017/01/lao-zi.jpg&description=Barat+Merangkul+Budaya+Tionghoa+%281%29>
> <http://erabaru.net/wp-content/uploads/2017/01/lao-zi.jpg?x12729>Beberapa
> tahun terakhir, pemikiran Lao Zi juga telah beredar sampai ke masyarakat
> Barat, meskipun lebih sulit dipahami, tapi banyak warga Barat yang mencoba
> mengaplikasikan sejumlah filsafat Tiongkok kuno untuk meningkatkan kualitas
> diri. Lukisan Zhang Lu dari Dinasti Ming “Lukisan Lao Zi Menunggang
> Kerbau”. (internet)
> Oleh: Zhang Ting
> Kebudayaan Tiongkok adalah suatu sistem ideologi dan budaya yang
> berfilsafat sangat luas dan mendalam. Kebudayaan tradisional yang
> berlandaskan pada ajaran Konfusius (Khonghucu), Buddha, dan Taoisme itu
> tidak hanya berpengaruh sangat dalam terhadap kehidupan masyarakat Tiongkok
> kuno, juga memiliki manfaat luar biasa bagi masyarakat modern.
> Beberapa tahun terakhir kebudayaan Tiongkok tersebar kian luas ke luar
> negeri, bahkan menjadi pedoman bagi masyarakat asing dalam kehidupan dan
> pekerjaan mereka.
> *Aplikasi Konsep “Hampa Niat” Oleh Masyarakat Barat*
> Menurut pemberitaan di situs “Quartz”, seorang penulis sekaligus pengacara
> AS bernama Ephrat Livni acap kali menggunakan konsep “Wu Wei, 無為
> <https://www.epochtimes.com/b5/tag/%e7%84%a1%e7%82%ba.html>, hampa niat,
> “melakukan tanpa melakukan.”
> Menghasilkan suatu pencapaian namun meraihnya bagaikan air mengalir, tanpa
> kengototan, filsuf Lao Zi (dibaca: Lao Tse) yang tercatat di dalam kitabnya
> yang berjudul “Tao Te Ching” (The Morality Bible, Red.) untuk menyelesaikan
> masalah pelik dalam pekerjaannya.
> Pemikiran “Wu Wei” menekankan mengikuti siklus alam semesta untuk mencapai
> taraf “hampa niat menjadi hampa tidak berniat.” Pemahaman Livni adalah
> manusia tidak seharusnya “memaksakan tindakan,” setelah mencapai kondisi
> “hampa niat”, jika ditambah dengan tindakan, maka tindakan itu adalah alami
> dan penuh energi, justru malah dapat membuat seseorang meraih hasil yang
> diinginkan.
> Livni menggunakan pengalaman pribadinya sendiri, menjelaskan bagaimana dia
> merelakan tidak memaksakan, setelah kondisi pikirannya mencapai “Wu Wei”
> itu, dirasakan segala sesuatu di sekelilingnya mulai berubah.
> Menurut Livni, di luar negeri tidak ada terjemahan bahasa Inggris yang
> tepat untuk kata “Wu Wei” ini. Namun filsuf Alan Watts yakin, konsep “Wu
> Wei” sangat penting bagi manusia untuk bisa hidup dengan baik. namun di
> tengah budaya masyarakat modern yang berorientasi “tindakan”, konsep “Wu
> Wei” ini terdengar seolah sangat bodoh.
> Livni mengatakan, dirinya sendiri sempat menentang konsep “Wu Wei” ini.
> Dia berkata, “Meskipun ‘ketelatenan’ adalah sifat yang baik, tapi itu jelas
> bukan kemahiran saya. Saya lebih suka berusaha meraih prestasi.”
> Tapi beberapa tahun terakhir Livni mulai menyadari, gaya hidupnya itu
> sepertinya tidak meningkatkan kualitas hidupnya. Pada  2012 Livni adalah
> seorang pengacara tanpa profesi, di pagi hari dia bekerja serabutan, di
> malam hari dia bermain seni jalanan.
> Dia khawatir akan masa depannya, bahkan dirinya sempat mempertimbangkan
> untuk mengambil kuliah kedokteran. Namun karena hutang sebelumnya ketika
> kuliah di fakultas hukum, ditambah lagi dirinya tidak tahan melihat darah,
> dia memilih tidak melanjutkan studi.
> Kemudian Livni berhenti memaksa diri, dan percaya bahwa segala sesuatunya
> akan berubah. Dengan konsep di dalam “Tao Te Ching” dia berusaha untuk
> tidak memikirkan masa depan. Dia berkata, “Saya mulai menyadari ‘hampa niat
> / Wu Wei’ mungkin adalah suatu pendorong yang sangat kuat. Mempertahankan
> ‘diam’ membutuhkan keberanian dan keyakinan, dan harus percaya bahwa di
> alam semesta ini yakin ada suatu tempat yang merupakan porsi bagi diri
> kita.”
> Dengan konsep ‘Wu Wei’ ini, Livni berkata, “Saya telah mengumpulkan
> energi, tahu bahwa segala sesuatu akan berubah. Begitu berubah, speednya
> akan sangat cepat.”
> Livni menyatakan, dia dengan segera direkrut oleh perusahaan Google
> sebagai pengacara. Selain itu, dia juga berbagi pengalamannya beberapa kali
> menggunakan konsep “Wu Wei” untuk menyelesaikan masalah.
> Pemahaman Livni adalah  yang ditampilkan konsep ‘Wu Wei’ itu kepada kita
> adalah, ketika kita berhenti memaksakan diri bertindak, dan belajar
> mengamati dengan tenang, kita akan bisa melihat energi dari luar secara
> lebih jelas, kemudian bisa mengambil tindakan yang lebih bijak.
> Jika bertindak terburu-buru, maka setiap langkah pasti berpotensi
> menimbulkan kesalahan, karena yang membuat keputusan adalah perasaan dan
> ego, dan bukan akal sehat yang mendorong kita. (Epoch Times/sud/whs/rmat)
> *BERSAMBUNG*
>
>
>
> 
>

Kirim email ke