Pada Jumat, 20 Januari 2017 7:31, "[email protected] [GELORA45]" 
<[email protected]> menulis:
 

     

Wawancara eksklusif Presiden Jokowi: Harapan warga terlalu tinggi
   
   - 19 Oktober 2016
KirimHak atas fotoBBC INDONESIAImage captionPresiden Jokowi berbicara banyak 
hal dalam wawancara khusus dengan wartawan BBC Yalda Hakim.Percakapan Yalda 
Hakim dari BBC dengan Presiden Jokowi berlangsung di kota kelahirannya, Solo, 
sebelum terbang ke Papua dan melanjutkan lawatan ke Manado.Berefleksi atas dua 
tahun kepemimpinannya, Jokowi menceritakan kekagetannya atas tugas berat 
presiden, masalah ekonomi, hingga urusan hukuman mati, kebiri, dan ekstrimisme. 
Berikut bagian pertama petikan wawancara eksklusif itu.Hak atas fotoBBC 
INDONESIAImage captionPresiden Jokowi mengaku kaget juga menjadi presiden 
Indonesia.Ketika Anda terpilih sebagai presiden, dua tahun lalu, kemenangan 
Anda dalam pemilihan presiden digambarkan sebagai sesuatu yang bersejarah, dan 
banyak kalangan melihatnya sebagai awal dari suatu era baru. Apakah Anda merasa 
memenuhi harapan–harapan itu?Ya memang, harapan masyarakat terlalu besar, 
terlalu tinggi. Dan ya, itulah masyarakat kita. Tetapi apapun yang bisa saya 
kerjakan, saya akan bekerja keras untuk menyelesaikan, untuk agar 
harapan-harapan itu bisa terwujud, saya kira yang paling penting itu.   
   - Presiden Jokowi tetapkan kebijakan 'Satu Harga BBM' di Papua
   - Hukuman kebiri 'bisa langsung diterapkan'
   - Istana Presiden pahami kekecewaan mama-mama Papua
Yang berkaitan dengan kesehatan, misalnya, kita berikan Kartu Indonesia Sehat 
sehingga masyarakat yang tidak mampu bisa ke rumah sakit, dan tidak membayar. 
Kemudian untuk murid-murid dari keluarga tidak mampu kita berikan Kartu 
Indonesia Pintar sehingga mereka bisa bersekolah ke jenjang SMA atau SMK.Dan 
juga untuk perputaran ekonomi di daerah, di desa-desa, anggaran untuk dana desa 
tahun yang lalu Rp20,5 triliun, tahun ini 2016 Rp47 triliun, saya kira hal-hal 
seperti ini yang akan kelihatan nantinya.Hak atas fotoBBC INDONESIAImage 
captionPresiden Jokowi mengajak wartawan BBC Yalda Hakim berjalan kaki di pusat 
kota Solo saat Hari Bebas Kendaraan.Apakah Anda terkejut oleh betapa besarnya 
cakupan tugas Anda?Ya, memang penduduk Indonesia sangat besar 252 juta dan 
negara Indonesia juga adalah negara besar. Dan saya memang kaget juga jadi 
Presiden dan harus mengelola 17.000 pulau, mengelola 252 juta penduduk 
Indonesia. Sesuatu yang itu tidak mudah karena ada kurang lebih 340 etnis di 
Indonesia, beda warna kulit, beda rambut, berbeda bahasa lokal.Inilah saya kira 
besarnya keaneka-ragaman bangsa Indonesia. Dan tantangannya juga besar, 
tantangannya juga banyak. Tapi dengan dukungan rakyat saya meyakini 
tantangan-tantangan itu satu persatu bisa kita selesaikan.Mari kita bicara 
tentang hal yang mengejutkan banyak pihak sesudah Anda menjadi presiden. Anda 
tergolong bergaris keras dalam banyak sekali isu. Catatan Anda tentang Hak 
Asasi Manusia, misalnya. Ambil saja contoh tentang eksekusi hukuman mati. 
Memang bukan hal baru dalam hukum Indonesia, namun di bawah pemerintahan Anda 
sudah terjadi 18 eksekusi, hamper sama dengan yang terjadi di masa Presiden 
Yudhoyono selama 10 tahun.Konstitusi kita sangat menghormati hak asasi manusia, 
tetapi undang-undang kita memperbolehkan eksekusi mati. Jadi kalau sudah 
diputuskan oleh pengadilan bahwa itu di eksekusi ya akan kita jalankan 
dieksekusi mati.Tapi jangan dilihat yang dieksekusi saja, lihatlah korban dari 
narkoba, sehari 30 sampai 50 generasi muda Indonesia mati karena narkoba. 
Sehingga harus dilihat korbannya, pengedarnya juga dilihat, jangan dilihat dari 
satu sisi.Jadi Anda menghadapi persoalan obat bius?Ya, karena ada 4,5 juta 
orang Indonesia addict narkoba.Hak atas fotoBBC INDONESIAImage captionPresiden 
Jokowi mengganggap, konstitusi Indonesia sangat menghormati HAM, kendati masih 
ada hukuman mati.Sejawat Anda, Presiden Duterte yang baru mengunjungi Indonesia 
beberapa waktu lalu, menggunakan pasukan pembunuh untuk membasmi obat bius. 
Anda ingin memberlakukannya pula di sini?Di sini ‘kan saya mengikuti 
undang-undang yang ada, di sini eksekusi mati masih diperbolehkan oleh 
undang-undang Indonesia, itu yang ikuti, kita mengikuti undang-undang.Tetapi 
Kepala Badan Narkotika Nasional (Budi Waseso) mengatakan dia ingin meniru 
kebijakan Filipina di negeri ini, karena dia pikir itu merupakan hal yang 
bagus…Aturan hukum di Indonesia akan kita ikuti, Kepala Kepolisian Republik 
Indonesia, Kepala BNN juga akan mengikuti undang-undang yang ada di Indonesia, 
peraturan hukum yang ada di Indonesia.   
   - Soal LGBT, benarkah pemerintah Jokowi lepas tangan?
   - PBB prihatinkan wacana hukum kebiri, LGBT, perkawinan anak
   - Dunia dilanda krisis pengungsi, Indonesia dilanda intoleransi
Hak atas fotoBBC INDONESIAImage captionDi Solo, Presiden Jokowi mengajak Yalda 
Hakim dan tim BBC ke kawasan tempat ia dibesarkan.Banyak yang sudah dijatuhi 
hukuman mati. Namun juga muncul pertanyaan apakah mereka benar-benar bersalah 
atau patut mendapat hukuman itu. Sebagian terpidana ada yang mengidap gangguan 
mental. Sistem hukum Anda masih bersalah dengan korupsi…Masalah korupsi ini 
akan kita perbaiki terus menerus. Kami sangat keras sekali terhadap korupsi. 
Sudah ada 9 menteri yang masuk penjara karena korupsi, ada 19 gubernur yang 
masuk penjara karena korupsi, ada 300 lebih bupati dan walikota yang masuk 
penjara karena korupsi ada ratusan anggota parlemen juga yang masuk penjara 
karena korupsi. Kita keras terhadap korupsi tapi ini adalah proses perbaikan 
yang terus menerus konsisten yang akan kita lakukan.Yang juga menyita perhatian 
dunia adalah hukum kebiri yang baru saja diberlakukan…Sekali lagi, Indonesia 
sangat menghargai hak asasi manusia, konstitusi kita juga sangat menghargai hak 
asasi manusi, tetapi untuk pelecehan seksual tidak ada kompromi, kita 
tegas,tegas, sesuai aturan hukum yang ada di Indonesia dan akan diberikan 
hukuman maksimal untuk pelecehan seksual. Tidak ada kompromi juga untuk itu.   
   - Indonesia laksanakan eksekusi hukuman mati ketiga di bawah Presiden Jokowi
   - Soal eksekusi, internasional 'harus hormati hukum' Indonesia
   - Jokowi: Eksekusi adalah kedaulatan Indonesia
   - Pelajaran Mary Jane Veloso untuk pembenahan hukum RI
Hak atas fotoBBC INDONESIAImage captionPresiden Jokowi di tengah anak-anak di 
kawasan tempatnya dibesarkan.Apa buktinya bahwa hukum kebiri berhasil?Saya kira 
kalau ada konsistensi kita melakukan pendekatan dengan cara-cara hukum 
Indonesia, saya meyakini ini akan sangat mengurangi dan menghilangkan hal-hal 
yang berkaitan dengan pelecehan seksual.Menurut Komnas HAM, mereka melihat di 
bukti di negara-negara lain, hukum kebiri tidak berhasil, terlalu mahal dan 
seharusnya dana untuk itu disalurkan bagi para korban.Saya kira jangan 
dibandingkan dengan negara-negara lain. Kenyataannya di Indonesia menurut 
Komisi Perempuan dan Anak dengan adanya undang-undang kebiri itu, justru 
pelecehan seksual terhadap anak dan perempuan menjadi turun, tanyakan pada 
mereka turun, turun drastis.Hak atas fotoBBC INDONESIAImage captionPresiden 
Jokowi dan Ibu Negara, Iriana Widodo, jelang sarapan di sebuah warung makan di 
Solo.Undang-undang ini juga dikecam keras oleh Ikatan Dokter Indonesua –menurut 
mereka melanggar etika professional dan para anggota IDI dianjurkan tidak 
melaksanakannya. Bagaimana bisa jalan kalau para dokter menolak 
melaksanakannya.Ya, silakan kalau memang dokter tidak mau mengeksekusi. Tetapi 
kita juga ‘kan memiliki dokter yang lain, bisa saja dokter dari militer, bisa 
saja dokter dari birokrasi kita. Saya kira masih banyak yang mau.Tidak adakah 
cara lain menghadapi pedofilia selain kebiri?Saya kira saya serahkan ke dokter 
Indonesia. Tapi yang jelas kalau sudah ada eksekusinya oleh pengadilan ya akan 
dilaksanakan. Bisa dokter dari militer bisa dokter dari birokrasi pemerintah
  #yiv3520575166 #yiv3520575166 -- #yiv3520575166ygrp-mkp {border:1px solid 
#d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv3520575166 
#yiv3520575166ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv3520575166 
#yiv3520575166ygrp-mkp #yiv3520575166hd 
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px 
0;}#yiv3520575166 #yiv3520575166ygrp-mkp #yiv3520575166ads 
{margin-bottom:10px;}#yiv3520575166 #yiv3520575166ygrp-mkp .yiv3520575166ad 
{padding:0 0;}#yiv3520575166 #yiv3520575166ygrp-mkp .yiv3520575166ad p 
{margin:0;}#yiv3520575166 #yiv3520575166ygrp-mkp .yiv3520575166ad a 
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv3520575166 #yiv3520575166ygrp-sponsor 
#yiv3520575166ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv3520575166 
#yiv3520575166ygrp-sponsor #yiv3520575166ygrp-lc #yiv3520575166hd {margin:10px 
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv3520575166 
#yiv3520575166ygrp-sponsor #yiv3520575166ygrp-lc .yiv3520575166ad 
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv3520575166 #yiv3520575166actions 
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv3520575166 
#yiv3520575166activity 
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv3520575166
 #yiv3520575166activity span {font-weight:700;}#yiv3520575166 
#yiv3520575166activity span:first-child 
{text-transform:uppercase;}#yiv3520575166 #yiv3520575166activity span a 
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv3520575166 #yiv3520575166activity span 
span {color:#ff7900;}#yiv3520575166 #yiv3520575166activity span 
.yiv3520575166underline {text-decoration:underline;}#yiv3520575166 
.yiv3520575166attach 
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px 
0;width:400px;}#yiv3520575166 .yiv3520575166attach div a 
{text-decoration:none;}#yiv3520575166 .yiv3520575166attach img 
{border:none;padding-right:5px;}#yiv3520575166 .yiv3520575166attach label 
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv3520575166 .yiv3520575166attach label a 
{text-decoration:none;}#yiv3520575166 blockquote {margin:0 0 0 
4px;}#yiv3520575166 .yiv3520575166bold 
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv3520575166 
.yiv3520575166bold a {text-decoration:none;}#yiv3520575166 dd.yiv3520575166last 
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv3520575166 dd.yiv3520575166last p 
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv3520575166 
dd.yiv3520575166last p span.yiv3520575166yshortcuts 
{margin-right:0;}#yiv3520575166 div.yiv3520575166attach-table div div a 
{text-decoration:none;}#yiv3520575166 div.yiv3520575166attach-table 
{width:400px;}#yiv3520575166 div.yiv3520575166file-title a, #yiv3520575166 
div.yiv3520575166file-title a:active, #yiv3520575166 
div.yiv3520575166file-title a:hover, #yiv3520575166 div.yiv3520575166file-title 
a:visited {text-decoration:none;}#yiv3520575166 div.yiv3520575166photo-title a, 
#yiv3520575166 div.yiv3520575166photo-title a:active, #yiv3520575166 
div.yiv3520575166photo-title a:hover, #yiv3520575166 
div.yiv3520575166photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv3520575166 
div#yiv3520575166ygrp-mlmsg #yiv3520575166ygrp-msg p a 
span.yiv3520575166yshortcuts 
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv3520575166 
.yiv3520575166green {color:#628c2a;}#yiv3520575166 .yiv3520575166MsoNormal 
{margin:0 0 0 0;}#yiv3520575166 o {font-size:0;}#yiv3520575166 
#yiv3520575166photos div {float:left;width:72px;}#yiv3520575166 
#yiv3520575166photos div div {border:1px solid 
#666666;height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv3520575166 
#yiv3520575166photos div label 
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv3520575166
 #yiv3520575166reco-category {font-size:77%;}#yiv3520575166 
#yiv3520575166reco-desc {font-size:77%;}#yiv3520575166 .yiv3520575166replbq 
{margin:4px;}#yiv3520575166 #yiv3520575166ygrp-actbar div a:first-child 
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv3520575166 #yiv3520575166ygrp-mlmsg 
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv3520575166 
#yiv3520575166ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv3520575166 
#yiv3520575166ygrp-mlmsg select, #yiv3520575166 input, #yiv3520575166 textarea 
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv3520575166 
#yiv3520575166ygrp-mlmsg pre, #yiv3520575166 code {font:115% 
monospace;}#yiv3520575166 #yiv3520575166ygrp-mlmsg * 
{line-height:1.22em;}#yiv3520575166 #yiv3520575166ygrp-mlmsg #yiv3520575166logo 
{padding-bottom:10px;}#yiv3520575166 #yiv3520575166ygrp-msg p a 
{font-family:Verdana;}#yiv3520575166 #yiv3520575166ygrp-msg 
p#yiv3520575166attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv3520575166 
#yiv3520575166ygrp-reco #yiv3520575166reco-head 
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv3520575166 #yiv3520575166ygrp-reco 
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv3520575166 #yiv3520575166ygrp-sponsor 
#yiv3520575166ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv3520575166 
#yiv3520575166ygrp-sponsor #yiv3520575166ov li 
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv3520575166 
#yiv3520575166ygrp-sponsor #yiv3520575166ov ul {margin:0;padding:0 0 0 
8px;}#yiv3520575166 #yiv3520575166ygrp-text 
{font-family:Georgia;}#yiv3520575166 #yiv3520575166ygrp-text p {margin:0 0 1em 
0;}#yiv3520575166 #yiv3520575166ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv3520575166 
#yiv3520575166ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none 
!important;}#yiv3520575166 

   

Kirim email ke