Coba tunjukkan alat produksi yang dimiliki Fidel Castro secara pribadi. Dan
juga modal yang dimilikinya.
Coba jelaskan dan tunjukkan pembunuhan yang dilakukan Lenin, Stalin dan Mao
yang bung anggap sama dengan pembunuhan yang direncanakan imperialis AS
terhadap Fidel Castro.
Yang jelas dan selalu saya tekankan, perbedaan pendapat kita memang berdasarkan
pada ideologi yang berlainan. Kalau anda bilang saya melihat dari sisi
komunisnya, maka anda melihat dari sisi kapitalis/dan borjuis, bukan? Atau
setengah-setengah, fifty-fifty, karena anda percaya pada kombinasi dua ideologi
atau lebih?
Saya tidak menuduh pendukung Jokowi kapitalis. Saya bilang mereka pendukung
statusquo, pendukung kabir, komprador dan tuan tanah, tapi orangnya sendiri
bukan kapitalis. Yang kapitalis adalah Jokowi. Orang melihat dia sebagai
bornas. Bagi saya dia bukan bornas, tapi kabir dan komprador. Rakyat Indonesia
mau maju, mau makmur, mau sejahtera. Di mana kemakmuran dan kesejahteraan kaum
tani yang tanahnya dirampas untuk membangun jalan tol, waduk raksasa, bandara
internasional, lingkungannya dicemarkan termasuk air dan tanah sehingga
mengancam kelangsungan hidup mereka? Anda berani pidato didepan kaum tani yang
menentang pabrik semen untuk meyakinkan mereka supaya tidak menentang pabrik
semen yang akan menguras sumber air minum mereka dan menjamin kesejahteraan
akan datang dengan pabrik semen? Anda berani pidato didepan kaum tani
Kulonprogo supaya melepaskan tanahnya dan menjanjikan kepada mereka bahwa
dengan bendara internasional kehidupannya akan lebih makmur?Memang saya
terpatok pada ideologi yang membela kepentingan rakyat jelata yang diwakili
oleh ormas-ormas rakyat yang mendampingi dan bersama rakyat di lapangan
perjuangan. Apa ideologi anda? Yang jelas, berbeda dengan ideologi saya, bukan?
Semua perbedaan pendapat kita bertolak pada ideologi kita yang berbeda. Anda
menolak bahwa semua tindakan dan pemikiran bertolak dari ideologi. Sedangkan
saya berpendapat semua tindakan dan pemikiran ada stempel ideologinya.
On Sunday, January 29, 2017 4:26 PM, "[email protected] [GELORA45]"
<[email protected]> wrote:
Macam2 definisi kapitalis itu. Seperti yang sudah saya tulis sebelumnya
dan mungkin belum jelas bagi saya kapitalis itu orang yg menggunakan
capital/modal dalam berusaha. Ketika seseorang menggunakan duit sebagai modal
dalam berusaha, dia itu kapitalis. Kapitalis itu adalah supporter nya
kapitalisme secara langsung dan atau tidak langsung. Langsung kalau dia sadar
mendukung kapitalisme. Tidak langsung karena dia tidak mendukungnya. Kenapa?
Karena dia anti kapitalisme. Tetapi dia tetap kapitalis karena dalam hidupnya
dia tetap menggunakan capital. Marx menelorkan istilah burguis. Definisi marx
burguis itu adalah kelas menengah. Ini yg dilihat oleh marx dalam hidupnya
dimana para burguis ini merevolusikan industry dan menyebabkan proletariat.
Disini konsep dasar marx bersandar. Teori2 marx itu berdasarkan asumsi ini dan
saya tidak yakin marx punya definisi burguis/kapitalis itu adalah mereka2 yang
menggunakan capital. Ini definisi saya. Bung berdua valid mempertanyakan
definisi ini. Selanjutnya marx mengklaim bahwa ujung2nya akan terjadi final
revolution. Dasar pemikirannya karena adanya perbedaan kepentingan antara
burguis vs. proleter. Perlu diketahui istilah burguis itu sendiri sudah
memudar di abad pertengahan 20. Sebetulnya pertentangan kepentingan ini sudah
terjadi sejak dulu kala sebelum marx. Aristotle dijaman sebelum masehi sudah
mengklaim ini. klaimnya adalah sebenarnya konflik politik itu kebanyakan
bersumber dari kompetisi dalam persaingan ekonomi. Dan ini dulunya bersumber
pada “property”. Iseng2 saya mencoba menyederhanakan istilah2 ini:Kapitalisme:
private owned of means of production.Sosialisme: transisi dari kapitalisme ke
komunisme. Ini kombinasinya/jalan tengahnya/realitasnya. State organize ekonomi
dan masyarakat dengan regulasi supaya kapitalis tidak merajalela. Begitu juga
pekerja dapat menjalankan bisnisnya sbg private property/hak milik
individu.Komunisme: semua property dan barang didistribusikan oleh pemerintah
secara kolektif. Ini ujung dari pemikiran marx.
kira2 begini anekdotnya:
Capitalism: You have two cows. You sell one and get a bull. Your herd
multiplies and the economy grows. You sell them and live comfortably.
Communism: You have two cows. The state takes both and gives you some milk.
Socialism: You have two cows. The state gives one to your neighbor.
Nationalism: You have two cows. You make sure the cows, or the milk does not
leave the country. Jadi perbedaan dasarnya adalah: kepemilikan. Public
ownership di komunisme dan private ownership di kapitalisme. Ketika bung
bertanya kenapa kapitalis mau membunuh castro, itu sama saja dengan pertanyaan
kenapa lenin, stalin, mao dll juga membunuh orang lain termasuk sama2 komunis
dan orang bukan komunis. Disini kelihatan sekali bung melihatnya dari sisi
komunismenya. Disinilah kesalahan bung dalam melihat suatu masalah termasuk
diskusi ini. jadi tidak heran ketika ada yang pro Jokowi dan pro pembangunan
kereta api cepat, bung lalu mencap orang2 ini sebagai kapitalis dll. Tetapi
sayangnya bung tidak bisa melihat sisi bagaimana bangsa Indonesia ingin maju,
ingin makmur, ingin sejahtera. Semua ini karena bung terpatok dalam pemikiran
ideolog itu. Hidup ini bukan hanya diukur dari ideologi saja. Hidup itu jauh
lebih luar dari ideologi saja. Begitu juga bagi mereka2 yang hanya melihat
hidup ini dari kacamata agama saja. Saya lebih cenderung mengakui hebatnya
bung Karno yang dapat melihat ini. Nasakom itu adalah produknya bung Karno dan
produk yg hebat dari bangsa Indonesia. Perjalanan hidupnya melihat ini dan
dituangkan dalam nasakom dan Pancasila. Itulah realitas bangsa Indonesia yang
tidak bisa dipungkiri sampai kapanpun. Jadi jangan heran ada gerakan FPI yang
akan ditentang habis2an oleh kelompok anti agamais. Sama saja kalaupun masih
ada gerakan komunisme yang mau hidup diindonesia itu mimpi saja namanya bisa
terjadi dibumi Indonesia dalam konteks sekarang. Seharusnya baik kelompok kiri
termasuk komunisme, agama termasuk fanatic agama dan nasionalis ditengah akan
harus bisa hidup bersama dalam koridor yang namanya demokrasi. Ini yang saya
percaya lebih baik untuk mewadai semua kepentingan ekstrim kiri dan ekstrim
kanan. Ini ini apa? Sosialisme! Bukan agama maupun komunisme! Nesare From:
[email protected] [mailto:[email protected]]
Sent: Sunday, January 29, 2017 9:19 AM
To: [email protected]; [email protected]; Sunny <[email protected]>
Subject: Re: [GELORA45] Pertumbuhan tidak Kurangi Kemiskinan Pertanyaan yang
bagus. Pertanyaan berikut, kalau semua mereka itu kapitalis, mengapa kekuatan
kapitalis dunia begitu membenci dan ingin menggulingkan kekuasaan di bawah
pimpinannya? Apalagi dalam kasus Fidel Castro, lebih dari seratus kali AS
mencoba membunuhnya... On Sunday, January 29, 2017 2:13 PM, "'Sunny'
[email protected] [GELORA45]" <[email protected]> wrote: “Bagi saya
marx, lenin, stalin, mao, castro dll itu semuanya adalah kapitalis”, apa itu
kapitas? From: mailto:[email protected] Sent: Sunday, January 29, 2017
1:39 PMTo: [email protected] Subject: RE: [GELORA45] Pertumbuhan tidak
Kurangi Kemiskinan Tidak perlu dikirim ke saya.Saya cukup mengerti jalan
pikiran bung dan juga jalan pikiran chan. Sekurang2nya saya punya persepsi
terhadap bung berdua dari tulisan2nya.Sederhana bagi saya, saya beranggapan
chan adalah kapitalis. Begitu juga saya dan mungkin bung. Kenapa saya bilang
bung mungkin adalah kapitalis juga karena ketika bung masih mengandalkan
capital dalam kehidupan sehari2 bung, bung telah menjadi seorang kapitalis
dalam arti umumnya. Saya katakan “mungkin” karena saya tidak mengenal kehidupan
bung. Siapa tahu bung hidup dihutan dan serba mandiri dan tidak pernah
berhubungan dengan capital.Bagi saya marx, lenin, stalin, mao, castro dll itu
semuanya adalah kapitalis. Ketika sosialis dan komunis terbentuk dan dilabelkan
kemereka2 ini, itu bukan berarti mereka bukan kapitalis. Mereka kapitalis lalu
mereduksi dan mempermasalahkan kesalahan2 kapitalis. Solusinya adalah gerakan
sosialisme dan komunisme. Bagi saya sederhana sekali ada pergerakan dari
capital ke non capital tetapi gerakan ini tidak dapat menghilangkan artinya
capital itu sendiri. TIDAK BISA!Saya mencoba menulis berulang2 kali dengan
menyinggung omongannya rizal ramli yang mengatakan “orang malu mengatakan
dirinya kapitalis dan siapa yang bukan kapitalis”. Saya mencoba menyampaikan
bahwa semua orang itu adalah kapitalis. Begitu juga saya ingin mengatakan semua
orang itu juga adalah sosialis walaupun saya belum pernah mengkoinkan istilah
ini dalam tulisan2 saya.Jadi baik kapitalisme maupun sosialisme itu bagi saya
adalah nyata dan ada serta tidak bisa dipisah2kan. Tidak ada kapitalisme sejati
atau sosialisme sejati. Yang ada adalah percampuran/interaksi antara
keduanya.Penghisapan itu bisa terjadi baik di sosialisme maupun kapitalisme.
Yang menghisap dan yang dihisap itu adalah orangnya. Kalau bung masih yakin
bahwa manusia itu berdosa dan tidak sempurna, niscaya bung harus dan akan
menerima bahwa disosialisme pun akan harus ada dan bisa terjadi adanya
penghisapan. Ini saja asumsinya. Kalau bung berpendapat manusia itu bisa
sempurna, saya bisa mengerti kalau bung ingin meniadakan penghisapan ini tidak
ada di sosialisme.Akhir kata: saya pro kapitalis, pro konglomerat, pro
konglomerasi, anti penghisapan begitu juga saya pro sosialis, pro labor union,
pro kelestarian lingkungan dll. Yang saya inginkan dan idam2kan bahwa rakyat
Indonesia itu sejahtera dan makmur. Saya tidak pernah bermimpi bahwa akan
hilang penghisapan dibumi Indonesia utk mencapai kesejahteraan dan kemakmuran
ini walaupun saya bermimpi utk melihat hilangnya penghisapan ini. Jelas sekali
dalam hidup saya yang masih bergejolak bertarung antara menerima penghisapan
itu dan atau tidak menerima penghisapan itu. Tetapi saya terlalu kecil untuk
mengetahuinya. Yang saya bisa ketahui adalah keinginan saya utk melihat
kesejahteraan dan kemakmuran bangsa Indonesia diluar kekuasaan saya untuk
menghapus penghisapan itu sendiri.Salam,NesareFrom: [email protected]
[mailto:[email protected]]
Sent: Sunday, January 29, 2017 7:09 AM
To: [email protected]; [email protected]
Subject: Re: [GELORA45] Pertumbuhan tidak Kurangi Kemiskinan Jangan melupakan
semua tulisan dan perdebatan saya dengan Chan. Kalau anda baca semuanya sejak
lebih dari tiga tahun, jelas Chan pro-kapitalisme, pro-konglomerat,
pro-penghisapan manusia atas manusia. Di sini tidak akan dan memang tidak perlu
saya ulangi alasan dan argumentasi saya. Kalau anda mau, bisa saya kirimkan
semua perdebatan itu langsung kepada anda. Saya masih menyimpan beberapa.On
Sunday, January 29, 2017 12:54 PM, "mailto:[email protected]%20[GELORA45]"
<[email protected]> wrote: Masih tidak berubah!Gayanya masih seperti
yang dulu walaupun kadar maki2nya sudah berkurang karena disemprit sama
moderator.Gayanya: lari dari diskusi. Sudah jelas ente salah melabel bung chan
kebakaran jenggot, mencap bung chan kapitalis sejati, mencap bung chan pro
konglomerat dll. Tidak ada satupun tulisan ente yang mengakui kesalahan2
ini.Sekarang lari ke: “masalah memotong tali kemiskinan”. Dengan pertanyaan ke
bung chan “Apakah bung Chan mempunyai pandangan/ide?”, tujuan ente itu apa?
Bertanya, berdiskusi atau apa?Setiap pertanyaannya setelah dijawab, ente itu
gak ada komentar dan gak berdiskusi Ngeyelnya saja yang ada!Coba belajar
berdiskusi. Lari begini ini bukan berdiskusi!NesareFrom:
[email protected] [mailto:[email protected]]
Sent: Saturday, January 28, 2017 1:15 PM
To: [email protected]
Subject: Re: [GELORA45] Pertumbuhan tidak Kurangi Kemiskinan Selamat pagi Bung
Chan, Selamat Hari Raya Imlek.Terima kasih telah meluangkan waktu menuangkan
pikiran, sebenarnya ingin menulis agak panjang lebar tetapi sayang ada beberapa
acara pada hari ini. Saya tuangkan saja sebuah topik pembahasan diambil dari
artikel awal.Saya kutipkan yg diutarakan Sri Mulyani:"Ini tidak mudah karena
harus berlanjut dalam jangka menengah. Kalau kita lihat angka kemiskinan, yang
harus diwaspadai adalah pertumbuhan kita tidak bisa mengurangi kemiskinan
secara lebih cepat. Intervensinya bukan hanya melalui cash transfer, tapi juga
memotong tali kemiskinan antargenerasi. Kalau keluarga miskin tidak bisa
memberikan nutrisi anak mereka sejak di dalam perut sehingga anak tidak sehat,
tidak punya akses kesehatan, tidak punya akses pendidikan, pasti anak mereka
akan miskin dan cucu mereka juga demikian. Inilah kemiskinan antargenerasi."
Apakah bung Chan mempunyai pandangan/ide?
---In [email protected], <mailto:SADAR@..> wrote :Bung Goei, Selamat
Pagi pertama kita memasuki Tahun Ayam-api! Mudah-mudahan ditahun AYAM ini dunia
menjadi lebih damai dan sejahtera, sesuai dengan sifat ayam-api yang katanya
lebih hangat bersahabat pada siapapun dan pandai mengais rejeki, ..! MAAAJUUUUU
TERUUUS, ...!Dari uraian bung dibawah ini saya bisa menyetujui jalan pikiran
anda, bahwa segala hal memang tidak bisa dimutlakkan, relatif saja, termasuk
kapitalisme dan sosialisme! Kedua isme yang bertentangan ini seringkali justru
harus mengambil jalan tengahnya sesuai dengan KONDISI, kesadaran masyarakat
yang dihadapi ketika itu, ... akan rusak kalau dijalankan secara mutlak, yang
biasa orang menyataakan sebagai yang sejati, murni atau ASLI itu!Contoh yang
bung angkat sekolah gratis dari TK sampai Univ, semua ditanggung pemerintah.
Bahwa Pemerintah hendaknya bisa menjamin dan menanggung setiap warganya untuk
sekolah tentu betuuul! Begitu juga dengan masalah KESEHATAN/Pengobatan yang
kenyataan sangat sulit dilaksanakan dengan terus makin melonjak tinggi biaya
asuransi kesehatan membuat Pemerintah berteriak, .. Menurut saya, disini ada
masalah KESADARAN masyarakat yang perlu diperhatikan, kenyataan tidak semua
orang suka dan bisa belajar baik. Sementara orang memang lebih suka dengan
GERAK jasmani daripada gerak otak, tidak suka belajar. Bagi mereka didorong
saja masuk sekolah praktis untuk lebih cepat langsung bekerja sesuai
kemampuannya. Dikasih sekolah-tinggi2 gratis ya percuma saja, ... hanya akan
boros membuang tunjangan Pemerintah! Mestinya, TUNJANGAN hanya diberikan pada
orang yang patut ditunjang, ...! Harus dijamin setiap warga bisa sekolah, ..
tidak mesti harus GRATIS. Bisa juga dibuat uang sekolah murah yang PASTI
kebayar oleh warga berkemampuan rata-rata, jadi pemerintah hanya memberikan
GRATIS pada warga berpenghasilan rendah, kasih saja batas maksimum penghasilan
keluarga atau orang tua anak itu. Sedang untuk mendorong kesungguhan anak-anak
lebih rajin belajar, berikan gratis penuh pada anak-anak BINTANG-PELAJAR
disetiap Kabupaten dan Propinsi, setgiap tingkat klas ditahun itu!Begitu juga
dengan asuransi KESEHATAN, menurut saya, mengingat tingkat kesadaran masyarakat
sekarang, kenyataan BELUM BISA dibuat semua gratis! Baik kesadaran dokternya
maupun pasiennya belum semua bisa dibikin gratis semua! Si dokter sebagai
manusia normal juga berkehendak bekerja main keras bisa mendapatkan penghasilan
lebih besar, mereka akan mencari jalan bagaimana bisa dapatkan pasien lebih
banyak dan memberi obat-obat dari pabrik yang kasih komisi, misalnya.
Sebaliknya juga pasien adalah manusia normal juga yang belum bisa berpandangan
bagaimana menjalankan pola hidup sehat agar tidak usah kedokter nelenin obat,
banyak orang masih saja berpikiran “Nikmatilah hidup ini dengan makan enak!”,
apalagi kalau sakit juga bisa dapatkan pengobatan gratis! Bahkan pasien yang
sudah bayar asuransi kesehatan, dia bilang: “RUGI dong, sudah bayar asuransi
mahal-mahal kalau tidak digunakan!” hehehee, ... Dengan kesadaran masyarakat
masih begini, apa bisa pemerintah memberi tunjangan kesehatan yang akan tidak
terus melonjak tinggi dan akan terus meningkat dengan kecepatan makin hebat?
Bukankah akan lebih baik pemerintah MENJAMIN setiap warga yang sakit bisa
mendapatkan pengobatan yang layak sebagai manusia! Jadi warga tidak mampu saja
yang ditanggung Pemerintah,sedang bagi warga yang mampu ya disuruh BAYAR,
bahkan kalau perlu bayar penuh! Sementara pemerintah terus berusaha keras
meningkatkan kesadaran masyarakat untuk jalankan pola hidup sehat
sebaik-baiknya!Tapi, bung Goei, ... dalam diskusi masalah mengatasi kemiskinan
ini, entah darimana bung bisa berkesan saya mengandalkan peran konglomerat,
hanya karena mengangkat contoh Wang Jianlin itu? Bukankah saya selama ini
menekankan usaha Pemerintah yg selama 30 tahun terakhir ini sudah BERHASIL
mengentaskan lebih 600 juta rakyatnya dari kemiskinan? Prestasi BESAR begitu
tentu saja usaha PEMERINTAH, bagaimana bisa bersandar pada konglomerat? Nah,
untuk menyelesaikan lebih 50 juta warga miskin yang tersisakan itu, saya bilang
nampaknya pemerintah mendorong konglomerat untuk ikut serta mempercepat
mengentaskan kemiskinan. Karena pemerintah sudah menargetkan lebih 50 juta
warga miskin yang tersisa itu harus selesai ditahun 2020 yad. Dan, ... karena
pemberitaan yang berjalan di Tiongkok itu tidak sebebas dibarat, pemberitaan
ada konglomerat yang ikut aktif membantu mengatasi kemiskinan baru saja terbaca
oleh saya, padahal spt. Wang Jianlin itu ternyata sudah berjalan 2014, lebih 2
tahun yl. Namun, saya pun memperhatikan, itulah arah perkembangan KESADARAN
manusia yang menuntut kehidupan makin demokratis dan manusiawi terjadi secara
wajar, ... dari tahun ke tahun, dari abad ke abad. Artinya perkembangan
kesadaran manusia menghendaki kehidupan yang lebih demokratis dan manusiawi!
Kehidupan masyarakat dijaman feodal jauh lebih demokratis dan manusiawi
ketimbang jaman perbudakan, begitu juga kehidupan masyarakat kapitalis jauh
lebih demokratis dan manusiawi ketimbang jaman feodal dan kehidupan jaman
kapitalis sekarang juga jauh lebih demokratis dan manusiawi ketimbang jaman
kapitalis 100 tahun yl. Umat manusia yang hidup didunia ini akan terjadi lebih
saling memperhatikan, bisa memberi BANTUAN dan KASIH pada sesama manusia yang
membutuhkan! Dan itu kenyataan yang akan terjadi, yang PASTI kesadaran umat
manusia yang menuntut kehidupan demokratis dan manusiawi itu bukan monopoli
komunis, sebagai manusia normal yang sehat, sekalipun kapitalis-kapitalis yang
selama ini diberi label “Serakah dan KEJAM” itu juga akan muncul
filantropis-filantropis, ... Salam,ChanCTFrom: Jonathan Goeij jonathangoeij@..
[GELORA45]Sent: Saturday, January 28, 2017 1:12 AMTo: YahoogroupsSubject: Re:
[GELORA45] Pertumbuhan tidak Kurangi KemiskinanYa namanya istilah kok mau
diliteralkan, yg namanya kebakaran jenggot khan bukan benar2 berarti jenggotnya
kebakaran, yg benar2 punya jenggot panjang juga seumur hidup jenggotnya nggak
kebakaran tapi bukan berarti tidak pernah kebakaran jenggot. Saya cuman kasih
contoh2 pemakaian kata kapitalis sejati se-hari2 dan umum bukan berarti
pemakaian arti dalam berita itu bagi anda, juga nggak niru2 istilah lha waktu
nulis masa mesti searching dulu kata2 apa yg mau dipakai ngapain juga. Hanya
orang2 yg hidup di-awang2 dan narsis yg sensitive banget yg sebentar2 offended
tersinggung nggak karu2an kebakaran jenggot mempermasalahkan kata2 yg
sebenarnya umum saja..Kapitalisme dan sosialisme dew asa ini memang sudah
campur baur bahkan sudah sedemikian menyatunya sehingga orang seringkali tidak
sadar atau tidak ngeh lagi, orang2 yg teriak2 anti kiri anti progressive
menyatakan diri sebagai kapitalis sejati juga nggak ngeh kalau dirinya bisa
baca tulis sekolah gratis itu ya hasil dari sosialisme. Ngobrol2 sama teman yg
menyuarakan ketidak setujuan program college gratis yg diajukan demokrat,
menurut beliau itu tidak ada artinya karena mereka yg niat sekolah biarpun
bayar ya tetap sekolah, itu tergantung kemauan katanya sambil juga berdalih ada
financial aid sambil kasih contoh dirinya yg dapat financial aid sehingga bisa
sekolah tanpa bayar. Saya ketawa sambil bilang anda beruntung tinggal di
California yg dikuasai demokrat dgn banyak program2 progressive, California
memang menyediakan financial aid sampai tingkat college bagi mereka yg
eligible, lha gimana dgn mereka yg tinggal diluar California di state2 yg tidak
progressive, program college gratis itu khan buat semuanya se luruh US. Saya
katakan saya juga dapat financial aid jadi ngerti betapa pentingnya dan sangat
bermanfaat, ketiadaan biaya merupakan obstacle besar dan bisa jadi batu
sandungan.Sekarang ini kalau bicara ekonomi politik adalah sebagaimana
keterlibatan atau peranan negara didalamnya, orang2 progressive lebih cenderung
peranan negara yg tinggi/besar sedang orang2 kapitalis sejati lebih menyerahkan
pada peran serta masyarakat sendiri dengan meminimalkan peranan negara.Dalam
diskusi pementasan kemiskinan ini saya katakan anda kapitalis sejati karena
kecenderungan anda dalam mengandalkan peranan konglomerat atawa taipan seperti
Wang Jianling misalnya. Tentu philantropis seperti ini sangat bagus sekali
tetapi dalam hal ini biarpun sangat kaya sekali juga jangkauann ya terbatas
tidak bisa menyeluruh. #yiv2624693410 #yiv2624693410 --
#yiv2624693410ygrp-mkp {border:1px solid #d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px
0;padding:0 10px;}#yiv2624693410 #yiv2624693410ygrp-mkp hr {border:1px solid
#d8d8d8;}#yiv2624693410 #yiv2624693410ygrp-mkp #yiv2624693410hd
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px
0;}#yiv2624693410 #yiv2624693410ygrp-mkp #yiv2624693410ads
{margin-bottom:10px;}#yiv2624693410 #yiv2624693410ygrp-mkp .yiv2624693410ad
{padding:0 0;}#yiv2624693410 #yiv2624693410ygrp-mkp .yiv2624693410ad p
{margin:0;}#yiv2624693410 #yiv2624693410ygrp-mkp .yiv2624693410ad a
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv2624693410 #yiv2624693410ygrp-sponsor
#yiv2624693410ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv2624693410
#yiv2624693410ygrp-sponsor #yiv2624693410ygrp-lc #yiv2624693410hd {margin:10px
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv2624693410
#yiv2624693410ygrp-sponsor #yiv2624693410ygrp-lc .yiv2624693410ad
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv2624693410 #yiv2624693410actions
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv2624693410
#yiv2624693410activity
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv2624693410
#yiv2624693410activity span {font-weight:700;}#yiv2624693410
#yiv2624693410activity span:first-child
{text-transform:uppercase;}#yiv2624693410 #yiv2624693410activity span a
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv2624693410 #yiv2624693410activity span
span {color:#ff7900;}#yiv2624693410 #yiv2624693410activity span
.yiv2624693410underline {text-decoration:underline;}#yiv2624693410
.yiv2624693410attach
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px
0;width:400px;}#yiv2624693410 .yiv2624693410attach div a
{text-decoration:none;}#yiv2624693410 .yiv2624693410attach img
{border:none;padding-right:5px;}#yiv2624693410 .yiv2624693410attach label
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv2624693410 .yiv2624693410attach label a
{text-decoration:none;}#yiv2624693410 blockquote {margin:0 0 0
4px;}#yiv2624693410 .yiv2624693410bold
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv2624693410
.yiv2624693410bold a {text-decoration:none;}#yiv2624693410 dd.yiv2624693410last
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv2624693410 dd.yiv2624693410last p
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv2624693410
dd.yiv2624693410last p span.yiv2624693410yshortcuts
{margin-right:0;}#yiv2624693410 div.yiv2624693410attach-table div div a
{text-decoration:none;}#yiv2624693410 div.yiv2624693410attach-table
{width:400px;}#yiv2624693410 div.yiv2624693410file-title a, #yiv2624693410
div.yiv2624693410file-title a:active, #yiv2624693410
div.yiv2624693410file-title a:hover, #yiv2624693410 div.yiv2624693410file-title
a:visited {text-decoration:none;}#yiv2624693410 div.yiv2624693410photo-title a,
#yiv2624693410 div.yiv2624693410photo-title a:active, #yiv2624693410
div.yiv2624693410photo-title a:hover, #yiv2624693410
div.yiv2624693410photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv2624693410
div#yiv2624693410ygrp-mlmsg #yiv2624693410ygrp-msg p a
span.yiv2624693410yshortcuts
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv2624693410
.yiv2624693410green {color:#628c2a;}#yiv2624693410 .yiv2624693410MsoNormal
{margin:0 0 0 0;}#yiv2624693410 o {font-size:0;}#yiv2624693410
#yiv2624693410photos div {float:left;width:72px;}#yiv2624693410
#yiv2624693410photos div div {border:1px solid
#666666;height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv2624693410
#yiv2624693410photos div label
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv2624693410
#yiv2624693410reco-category {font-size:77%;}#yiv2624693410
#yiv2624693410reco-desc {font-size:77%;}#yiv2624693410 .yiv2624693410replbq
{margin:4px;}#yiv2624693410 #yiv2624693410ygrp-actbar div a:first-child
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv2624693410 #yiv2624693410ygrp-mlmsg
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv2624693410
#yiv2624693410ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv2624693410
#yiv2624693410ygrp-mlmsg select, #yiv2624693410 input, #yiv2624693410 textarea
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv2624693410
#yiv2624693410ygrp-mlmsg pre, #yiv2624693410 code {font:115%
monospace;}#yiv2624693410 #yiv2624693410ygrp-mlmsg *
{line-height:1.22em;}#yiv2624693410 #yiv2624693410ygrp-mlmsg #yiv2624693410logo
{padding-bottom:10px;}#yiv2624693410 #yiv2624693410ygrp-msg p a
{font-family:Verdana;}#yiv2624693410 #yiv2624693410ygrp-msg
p#yiv2624693410attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv2624693410
#yiv2624693410ygrp-reco #yiv2624693410reco-head
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv2624693410 #yiv2624693410ygrp-reco
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv2624693410 #yiv2624693410ygrp-sponsor
#yiv2624693410ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv2624693410
#yiv2624693410ygrp-sponsor #yiv2624693410ov li
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv2624693410
#yiv2624693410ygrp-sponsor #yiv2624693410ov ul {margin:0;padding:0 0 0
8px;}#yiv2624693410 #yiv2624693410ygrp-text
{font-family:Georgia;}#yiv2624693410 #yiv2624693410ygrp-text p {margin:0 0 1em
0;}#yiv2624693410 #yiv2624693410ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv2624693410
#yiv2624693410ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none
!important;}#yiv2624693410