Keras, gampang patah. Tidak ulet ?

2017-02-14 4:36 GMT+01:00 'Chan CT' [email protected] [GELORA45] <
[email protected]>:

>
>
> *Sekeras-kerasnya Donald Trump,*
>
> *Akhirnya Takluk Juga Oleh Xi Jinping*
>
> 11 Februari 2017 14:56:58   Diperbarui: 13 Februari 2017 08:49:32
> [image: clip_image002]
>
>
>
>                           Donald Trump dan Xi Jin Ping. CNN.com
>
>
>
> Sikap keras Donald Trump terhadap China hanya mampu bertahan kurang dari
> tiga bulan. Donald Trump mengendur dan akhirnya mengubah kebijakannya
> terhadap China: tetap menghormati Kebijakan Satu China (One China Policy).
>
>
>
> Ceritanya, pada 2 Desember 2016, Trump melakukan komunikasi telepon selama
> 10 menit dengan Presiden Taiwan Tsai Ing-wen, yang kemudian disebut sebagai
> “unorthodox telephone call (komunikasi telepon yang tidak lazim)”, karena
> Trump adalah Presiden Amerika pertama yang berkomunikasi langsung dengan
> Presiden Taiwan sejak 1979. Selama kampanye dan setelah dinyatakan pemenang
> Pilpres Amerika, dalam beberapa kesempatan, Trump berkali-kali mengatakan,
> “Kenapa Amerika harus terikat dengan One China Policy", yakni kebijakan
> yang memperlakukan China dan Taiwan sebagai satu negara.
>
>
>
> Tentu saja China berang. China memboikot komunikasi. Tidak ada kontak
> antara Presiden Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping. Setelah
> berlangsung lebih dua bulan, para pejabat Gedung Putih akhirnya
> berkesimpulan: China marah benaran. Dan Xi tidak akan mau menerima telepon
> Donald Trump, kecuali jika Trump memberikan pernyataan publik bahwa dirinya
> akan menghormati One China Policy.
>
>
>
> Seperti diketahui, pada Kamis malam Waktu Amerika, 9 Februari 2017, Trump
> menelpon Xi Jinping, dan menegaskan bahwa dirinya dan Amerika akan
> menghormati “Kebijakan Satu China”. Sebuah kemenangan diplomasi Xi, yang
> berhasil mengendurkan sikap jumawa Trump terhadap China.
>
>
>
> Dan kemudian diketahui, sebelum menelepon Xi, Donald Trump ternyata dan
> terpaksa melakukan rangkaian manuver di balik layar untuk membujuk Xi
> Jinping mau menerima teleponnya.
>
>
>
> Pada Jumat 3 Februari, penasehat Keamanan Nasional Michael T. Flynn,
> berbicara dengan petinggi kebijakan luar negeri China, Yang Jiechi, untuk
> menegaskan bahwa ketegangan hubungan kedua negara hanya bisa dilunakkan
> melalui “reinforce high-level exchanges,” (memberdayakan kembali komunikasi
> sesama pejabat tinggi). Maksudnya antara Trump dan Xi Jinping.
>
>
>
> Gedung Putih bergerak cepat. Pada Rabu, 8 Februari 2017, Gedung Putih
> mengirim surat ucapan selamat Tahun Baru China dari Donald Trump kepada Xi
> Jinping, yang berisi harapan agar Xi berbahagia. Surat ini diantar langsung
> (hand-delivered) oleh Michael T. Flynn kepada Cui Tiankai, Dubes China di
> Washington.
>
>
>
> Dalam surat itu, Trump berharap semoga “the Chinese people a happy Lantern
> Festival and prosperous Year of the Rooster (bangsa China berbahagia pada
> Pestival Lampion dan sejahtera di Tahun Ayam Jago)”. Trump juga menegaskan
> untuk “looks forward to working with President Xi to develop a constructive
> relationship that benefits both the United States and China (berharap bisa
> bekerjasama dengan Xi untuk mengembangkan hubungan konstruktif yang
> menguntungkan kedua negara Amerika dan China)”.
>
>
>
> Menanggapi Surat Donald Trump, pada Kamis, 9 Februari 2017, di Beijing, Lu
> Kang, Jubir Kemenlu China mengucapkan terimakasih, dan secara diplomatis,
> menegaskan tidak mempercayai spekulasi yang tidak masuk akal (“senseless
> speculation”), yang menyatakan Trump telah menghina Xi Jinping dengan cara
> sengaja tidak menjadwalkan untuk menelepon Xi. “The two countries share
> wide common interests, and cooperation is the only correct path for
> both(kedua negara memiliki kepentingan bersama yang sangat besar, dan
> kerjasama adalah satu-satunya cara yang benar untuk Amerika-China”.
>
>
>
> Beberapa bocoran dari Gedung Putih juga menegaskan bahwa Menlu Amerika
> yang baru, Tillerson menginginkan Pemerintah Amerika memberikan lebih
> banyak sinyal positif yang lebih tegas untuk mencairkan kebekuan: Trump
> harus memberikan pernyataan publik bahwa Amerika akan menghormati Kebijakan
> Satu China, agar kedua presiden bisa kembali berkomunikasi langsung via
> telepon. Sikap Tillerson ini mengacu pada pandangan umum di kalangan
> pejabat dan tokoh-tokoh Amerika, terutama dari kalangan pebisnis, bahwa
> tidak ada hubungan bilateral yang lebih penting dibanding hubungan
> bilateral Amerika-China.
>
>
>
> Dan berbagai sinyal positif untuk meredam kemarahan China dilakukan oleh
> Gedung Putih lewat diplomasi di balik layar. Jared Kushner, menantu Donald
> Trump yang juga penasehat seniornya, bertemu dengan Dubes China di
> Washington, Cui Tiankai, sebagai upaya mencairkan hubungan langsung antara
> Trump dan Xi. Jared Kushner memang dikenal memiliki hubungan dan pernah
> bertemu dengan seorang miliarder China, Wu Xiaohui, untuk memintanya
> membangun kembali crown jewel, sebuah gedung komersial di Fifth Avenue,
> milik keluarga Kushner.
>
>
>
> Dan yang lebih menarik, Ivanka Trump, putri Donald Trump, menghadiri pesta
> Lunar New Year di Kedubes China Washington. Pada kesempatan itu, adiknya,
> Arabella, sempat menyanyikan lagu ucapan selamat berbahasa Mandarin, yang
> rekamannya sempat viral di China.
>
>
>
> Berbagai upaya itu kemudian mencapai klimaksnya ketika Donald Trump
> akhirnya “terpaksa” menelepon Xi Jinping pada 9 Februari 2017, dan dalam
> komunikasi telepon itu, Donald Trump terpaksa atau dipaksa menelan ludah
> sendiri: bahwa dirinya dan Amerika akan menghormati “Kebijakan Satu China
> (One China Policy)”. Wow.
>
>
>
> Catatan:
>
>
>
> *Pertama,* dalam diplomasi global, setiap negara harus memaksimalkan
> potensinya untuk memperkuat bargaining position-nya ketika berhadapan
> dengan negara besar dan pemimpinnya.
>
>
>
> *Kedua,* negara yang meyakini potensi dan kekuatannya akan membiarkan
> negara lain agar menyadari dan terpaksa menghargai kekuatan dan potensi
> itu. China meyakini potensi dan kekuatannya dan berhasil memaksa Donald
> Trump mengakuinya.
>
>
>
> *Ketiga,* harga diri sebuah bangsa hanya bisa dihargai oleh bangsa negara
> lain, bila bangsa itu sendiri menghargai negerinya sendiri. Jika pemmpin
> tidak menghargai negaranya, jangan berharap pemimpin dan bangsa lain akan
> menghargainya.
>
>
>
> *Keempat,* bahwa setegang dan sekritis bagaimanapun hubungan bilateral
> antar dua negara, saluran-saluran komunikasi tidak resmi dibalik layar -
> antar pejabat terkait ataupun melalui pihak ketiga - tetap harus dilakukan
> secara maksimal dan terukur. Bukan tiap sebentar, setiap kali muncul
> persoalan, langsung mengambil tindakan radikal: memutuskan hubungan secara
> sepihak.
>
>
>
> *Kelima,* setelah memenangkan suatu “pertarungan diplomasi”, seorang
> pemimpin negara pemenang tidak perlu sesumbar mengeksploitasi kemenangan
> itu untuk menyudutkan pemimpin negara yang kalah. Xi Jinping tidak sesumbar
> kepada dunia bahwa dirinya telah mengalahkan Donald Trump, dan Donald Trump
> tetap bisa berwibawa meskipun kalah telak. Hasilnya, hubungan Amerika-China
> kembali ke posisi sebelumnya. Para diplomat Indonesia masih perlu belajar
> banyak.
>
>
>
> Syarifuddin Abdullah | Sabtu, 11 Februari 2017 / 15 Jumadil-ula 1438H
>
> Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/sabdullah/sekeras-kerasnya-
> donald-trump-akhirnya-takluk-juga-oleh-xi-jinping_589ec3cab49373a4048b4568
>
>
>
> 
>

Kirim email ke