Bg Nesare, thanks. Lin

On Feb 14, 2017 7:17 PM, "[email protected] [GELORA45]" <
[email protected]> wrote:



Syafuddin Abdullah nulis di kompasiana, bukan di CNN.



Ini kira2 rujukan/referensinya:



http://www.cnn.com/2017/02/09/politics/trump-xi-phone-call/

https://www.nytimes.com/2017/02/09/world/asia/donald-trump-
china-xi-jinping-letter.html

US President Donald Trump and his Chinese counterpart Xi Jinping spoke by
phone Thursday evening, the first conversation between the two since Trump
took office.

In the call, the two leaders discussed "numerous topics," and Trump
committed to honoring the "One China" policy at Xi's request, the White
House said.

Since his election in November, President Trump has challenged Beijing over
several issues and, most controversially, upended decades of diplomatic
protocol by questioning longstanding American policy towards Taiwan.

China views Taiwan as a breakaway province and, since 1979, the US has
acknowledged Beijing's claim that Taiwan is part of China, with US-China
relations governed by the set of protocols known as the "One China" policy
<http://www.cnn.com/2017/02/10/asia/one-china-policy-explainer/index.html>.



Nesare





*From:* [email protected] [mailto:[email protected]]
*Sent:* Tuesday, February 14, 2017 1:10 AM
*To:* Kiong Hoo Djie <[email protected]>; [email protected]
*Subject:* Re: [GELORA45] Sekeras-kerasnya Donald Trump, Akhirnya Takluk
Juga Oleh Xi Jinping





Bg. DJIE,
Saya mencari naskah asli dalam bhasa Inggris dr penulis  Syafuddin Abdullah
d CNN tapi gagal, bisakah anda bantu mendapatkannya. Thanks,.lin



On Feb 14, 2017 10:30 AM, "kh djie [email protected] [GELORA45]" <
[email protected]> wrote:



Keras, gampang patah. Tidak ulet ?



2017-02-14 4:36 GMT+01:00 'Chan CT' [email protected] [GELORA45] <
[email protected]>:



*Sekeras-kerasnya Donald Trump,*

*Akhirnya Takluk Juga Oleh Xi Jinping*

11 Februari 2017 14:56:58   Diperbarui: 13 Februari 2017 08:49:32

[image: clip_image002]



                          Donald Trump dan Xi Jin Ping. CNN.com



Sikap keras Donald Trump terhadap China hanya mampu bertahan kurang dari
tiga bulan. Donald Trump mengendur dan akhirnya mengubah kebijakannya
terhadap China: tetap menghormati Kebijakan Satu China (One China Policy).



Ceritanya, pada 2 Desember 2016, Trump melakukan komunikasi telepon selama
10 menit dengan Presiden Taiwan Tsai Ing-wen, yang kemudian disebut sebagai
“unorthodox telephone call (komunikasi telepon yang tidak lazim)”, karena
Trump adalah Presiden Amerika pertama yang berkomunikasi langsung dengan
Presiden Taiwan sejak 1979. Selama kampanye dan setelah dinyatakan pemenang
Pilpres Amerika, dalam beberapa kesempatan, Trump berkali-kali mengatakan,
“Kenapa Amerika harus terikat dengan One China Policy", yakni kebijakan
yang memperlakukan China dan Taiwan sebagai satu negara.



Tentu saja China berang. China memboikot komunikasi. Tidak ada kontak
antara Presiden Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping. Setelah
berlangsung lebih dua bulan, para pejabat Gedung Putih akhirnya
berkesimpulan: China marah benaran. Dan Xi tidak akan mau menerima telepon
Donald Trump, kecuali jika Trump memberikan pernyataan publik bahwa dirinya
akan menghormati One China Policy.



Seperti diketahui, pada Kamis malam Waktu Amerika, 9 Februari 2017, Trump
menelpon Xi Jinping, dan menegaskan bahwa dirinya dan Amerika akan
menghormati “Kebijakan Satu China”. Sebuah kemenangan diplomasi Xi, yang
berhasil mengendurkan sikap jumawa Trump terhadap China.



Dan kemudian diketahui, sebelum menelepon Xi, Donald Trump ternyata dan
terpaksa melakukan rangkaian manuver di balik layar untuk membujuk Xi
Jinping mau menerima teleponnya.



Pada Jumat 3 Februari, penasehat Keamanan Nasional Michael T. Flynn,
berbicara dengan petinggi kebijakan luar negeri China, Yang Jiechi, untuk
menegaskan bahwa ketegangan hubungan kedua negara hanya bisa dilunakkan
melalui “reinforce high-level exchanges,” (memberdayakan kembali komunikasi
sesama pejabat tinggi). Maksudnya antara Trump dan Xi Jinping.



Gedung Putih bergerak cepat. Pada Rabu, 8 Februari 2017, Gedung Putih
mengirim surat ucapan selamat Tahun Baru China dari Donald Trump kepada Xi
Jinping, yang berisi harapan agar Xi berbahagia. Surat ini diantar langsung
(hand-delivered) oleh Michael T. Flynn kepada Cui Tiankai, Dubes China di
Washington.



Dalam surat itu, Trump berharap semoga “the Chinese people a happy Lantern
Festival and prosperous Year of the Rooster (bangsa China berbahagia pada
Pestival Lampion dan sejahtera di Tahun Ayam Jago)” Trump juga menegaskan
untuk “looks forward to working with President Xi to develop a constructive
relationship that benefits both the United States and China (berharap bisa
bekerjasama dengan Xi untuk mengembangkan hubungan konstruktif yang
menguntungkan kedua negara Amerika dan China)”.



Menanggapi Surat Donald Trump, pada Kamis, 9 Februari 2017, di Beijing, Lu
Kang, Jubir Kemenlu China mengucapkan terimakasih, dan secara diplomatis,
menegaskan tidak mempercayai spekulasi yang tidak masuk akal (“senseless
speculation”), yang menyatakan Trump telah menghina Xi Jinping dengan cara
sengaja tidak menjadwalkan untuk menelepon Xi. “The two countries share
wide common interests, and cooperation is the only correct path for
both(kedua negara memiliki kepentingan bersama yang sangat besar, dan
kerjasama adalah satu-satunya cara yang benar untuk Amerika-China”.



Beberapa bocoran dari Gedung Putih juga menegaskan bahwa Menlu Amerika yang
baru, Tillerson menginginkan Pemerintah Amerika memberikan lebih banyak
sinyal positif yang lebih tegas untuk mencairkan kebekuan: Trump harus
memberikan pernyataan publik bahwa Amerika akan menghormati Kebijakan Satu
China, agar kedua presiden bisa kembali berkomunikasi langsung via telepon.
Sikap Tillerson ini mengacu pada pandangan umum di kalangan pejabat dan
tokoh-tokoh Amerika, terutama dari kalangan pebisnis, bahwa tidak ada
hubungan bilateral yang lebih penting dibanding hubungan bilateral
Amerika-China.



Dan berbagai sinyal positif untuk meredam kemarahan China dilakukan oleh
Gedung Putih lewat diplomasi di balik layar. Jared Kushner, menantu Donald
Trump yang juga penasehat seniornya, bertemu dengan Dubes China di
Washington, Cui Tiankai, sebagai upaya mencairkan hubungan langsung antara
Trump dan Xi. Jared Kushner memang dikenal memiliki hubungan dan pernah
bertemu dengan seorang miliarder China, Wu Xiaohui, untuk memintanya
membangun kembali crown jewel, sebuah gedung komersial di Fifth Avenue,
milik keluarga Kushner.



Dan yang lebih menarik, Ivanka Trump, putri Donald Trump, menghadiri pesta
Lunar New Year di Kedubes China Washington. Pada kesempatan itu, adiknya,
Arabella, sempat menyanyikan lagu ucapan selamat berbahasa Mandarin, yang
rekamannya sempat viral di China.



Berbagai upaya itu kemudian mencapai klimaksnya ketika Donald Trump
akhirnya “terpaksa” menelepon Xi Jinping pada 9 Februari 2017, dan dalam
komunikasi telepon itu, Donald Trump terpaksa atau dipaksa menelan ludah
sendiri: bahwa dirinya dan Amerika akan menghormati “Kebijakan Satu China
(One China Policy)”. Wow.



Catatan:



*Pertama,* dalam diplomasi global, setiap negara harus memaksimalkan
potensinya untuk memperkuat bargaining position-nya ketika berhadapan
dengan negara besar dan pemimpinnya.



*Kedua,* negara yang meyakini potensi dan kekuatannya akan membiarkan
negara lain agar menyadari dan terpaksa menghargai kekuatan dan potensi
itu. China meyakini potensi dan kekuatannya dan berhasil memaksa Donald
Trump mengakuinya.



*Ketiga,* harga diri sebuah bangsa hanya bisa dihargai oleh bangsa negara
lain, bila bangsa itu sendiri menghargai negerinya sendiri. Jika pemmpin
tidak menghargai negaranya, jangan berharap pemimpin dan bangsa lain akan
menghargainya.



*Keempat,* bahwa setegang dan sekritis bagaimanapun hubungan bilateral
antar dua negara, saluran-saluran komunikasi tidak resmi dibalik layar -
antar pejabat terkait ataupun melalui pihak ketiga - tetap harus dilakukan
secara maksimal dan terukur. Bukan tiap sebentar, setiap kali muncul
persoalan, langsung mengambil tindakan radikal: memutuskan hubungan secara
sepihak.



*Kelima,* setelah memenangkan suatu “pertarungan diplomasi”, seorang
pemimpin negara pemenang tidak perlu sesumbar mengeksploitasi kemenangan
itu untuk menyudutkan pemimpin negara yang kalah. Xi Jinping tidak sesumbar
kepada dunia bahwa dirinya telah mengalahkan Donald Trump, dan Donald Trump
tetap bisa berwibawa meskipun kalah telak. Hasilnya, hubungan Amerika-China
kembali ke posisi sebelumnya. Para diplomat Indonesia masih perlu belajar
banyak.



Syarifuddin Abdullah | Sabtu, 11 Februari 2017 / 15 Jumadil-ula 1438H

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/sabdullah/sekeras-kerasnya-
donald-trump-akhirnya-takluk-juga-oleh-xi-jinping_589ec3cab49373a4048b4568






Kirim email ke