Orang menggunakan alasan sikon untuk mendukung Jokowi. Karena sikonnya seperti sekarang ini maka jalan satu-satunya adalah mendukung Jokowi, artinya mendukung statusquo. Tapi pelajaran apa yang dapat ditarik dari kawan-kawan perempuan muda buruh migran?? Buruh migran tidak menerima begitu saja sikon yang ada dan berpangku tangan menerima dan menyetujui apa yang ditentukan oleh para elit yang berkuasa. Kebesaran dan kekuatan massa yang sudah sadar justru pada kemampuannya untuk mengubah sikon yang tidak menguntungkan menjadi sikon yang akhirnya berpihak kepada kepentingan massa rakyat. Apakah dengan mendukung statusquo, sikon akan berubah??? Apakah kaum elite penguasa yang akan mengubah sikon agar menguntungkan kaum pekerja???
Kepada Eni Lestari yang Berdiri di Podium Persatuan Bangsa-bangsa.Rekaman gambarmu En, diputar berkali-kali, disiarkan di sana, disiarkan di sini. "Jangan berbicara tentang kami tanpa kami," demikianlah kalimat sederhana dalam pidatomu yang sengaja aku garis bawahi. Diam-diam aku sudah menandai kalimatmu sebelum kau turun dari podium megah itu, atau bisa jadi jauh sebelum kau punya kesempatan untuk membacakannya.Sebab naskah yang kau bacakan itu sebenarnya adalah rangkuman dari suara-suara purba di dada kita. Dada para perempuan migran yang tersekap di pengap teralis marginal, terasing di tengah belantara kapitalis yang brutal. Itulah mengapa kata-kata yang berhasil lolos dari gerimis tangis selalu terdengar ironis dan sarkatis. Kau, aku dan para perempuan migran lainnya itu En, adalah para perempuan yang terlahir sebagai sepotong rusuk yang dipaksa keadaan untuk bertumbuh menjadi tulang punggung.Begitu banyak beban hidup atas nama cinta, cita-cita dan masa depan keluarga yang mesti ditanggung. Tak terhitung berapa banyak perempuan yang disebut sebagai istri, sebagai ibu, sebagai adik, sebagai kakak, sebagai anak, terjebak menjadi budak. Terperangkap, diperdagangkan, dilecehkan, dikorbankan, dan dikriminalkan ketika tertangkap melakukan pembelaan pun perlawanan. Tak ada perlindungan. Perempuan itu bunga. Tetapi perempuan migran itu seperti raflesia, yang seindah apapun bentuk dan rupanya tak pernah ingin dicium baunya.Pidatomu itu En, bisa jadi akan terdengar hanya sesaat, sebelum tertelan angin dan lenyap dalam senyap. Maka, aku sengaja mencatat dan mengingat bagian-bagian terpentingnya dalam sebuah puisi bersayap. Agar kumpulan kata-kata itu kelak bisa menjadi burung, yang terus berkabar dan menyebar tanpa henti. Berkobar seperti api. "Jangan bicara tentang kami tanpa kami!" Sebab di tubuh kami yang tak lagi menjadi milik kami ini masih mengalir darah juang.Tidak seperti kata Madona, banyak orang takut untuk mengatakan apa yang mereka inginkan. Kami adalah perempuan dengan rahim nurani, yang mengandung janin-janin pemberani. Selalu siap terlahir sebagai martir, hidup untuk berjuang sampai titik akhir.HK,2016
