Kamis, 02 Maret 2017 | 11:20      
Bagi Partai Islam Ini, Agama Tidak Penting dalam Memilih Pemimpin


  
|  
|   
|   
|   |    |

   |

  |
|  
|   |  
Bagi Partai Islam Ini, Agama Tidak Penting dalam Memilih Pemimpin
 Kata Wasekjen PKB, Maman Imanulhaq, yang diajarkan adalah lebih melihat 
integritas, komitmen, serta track record...  |   |

  |

  |

 
Maman Imanulhaq (Istimewa)Jakarta - Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) melihat 
fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebagai sebuah opini yang tak mengikat 
partai itu dalam mengajukan calon kepala daerah yang hendak diusung di pilkada. 
Itu sebabnya, di pilkada di sejumlah daerah, PKB juga mengusung calon kepala 
daerah non-Muslim."‎Fatwa MUI itu merupakan opini yang coba diterapkan MUI dan 
itu tidak mengikat. Itu hanya menjadi landasan pertimbangan yang bisa dipakai, 
dan bisa juga tidak," kata Wasekjen PKB, Maman Imanulhaq, Kamis (2/3).Ajaran 
Islam sendiri tak mengarahkan umat untuk memilih pemimpin berdasarkan apa 
agamanya. Kata Maman, yang diajarkan adalah lebih melihat integritas, komitmen, 
serta track record seorang calon."Maka itu juga yang lebih penting bagi PKB," 
kata Maman."Kedua, dalam politik, kita lebih mengandalkan suara masyarakat. 
Maka di beberapa tempat, dengan PKS dan PPP, kita bisa mengusung calon non 
muslim. Misalnya di Papua."Dijelaskannya, PKB memiliki desk pilkada, yang 
bertugas mengetes kemampuan calon kepala daerah yang hendak diusung. Tim 
tersebut akan lebih melihat kemampuan serta program unggulan sang calon."Kami 
tak pernah tanya apa agamamu, sukumu, tapi apa yang akan dilakukan bila 
terpilih. Lalu sejauh mana program kerakyatannya. Itu semua diolah di desk 
pilkada," jelasnya."Sehingga fatwa MUI dihormati, tapi bukan pertimbangan 
utama."Lalu apa sebenarnya yang terjadi dengan isu SARA yang kencang di 
Jakarta? Menurut Maman, tak ada satupun agama yang mengajarkan memecah belah 
rakyat, terkecuali agama telah menjadi alat politisasi. Ketika agama dijadikan 
alat politisasi, maka yang terjadi memang sebuah sinyal bahaya.Walau demikian, 
hasil pilgub Jakarta putaran pertama justru menunjukkan tingkat kematangan 
politik warga masyarakat di Jakarta. Kata Maman, kemenangan pasangan 
Basuki-Djarot justru menunjukkan bahwa isu SARA sama sekali tak mempan."Maka 
kita harap di putaran II, yang head to head lebih mempertimbangkan adu gagasan 
dan ide. Sehingga yang diuntungkan adalah rakyat Jakarta. Tak perlu ada 
komentar berbau SARA," ujar Maman."Ini ada dua pasang yang terpilih untuk 
menunjukkan menjadi pelayan bagi masyarakat di Jakarta."

Markus Junianto Sihaloho/FMBBeritaSatu.com


Kirim email ke