Hehehehehe koq sekarang pemimpin harus: professional?

Professional sekarang ini diseluruh dunia adalah kapitalis loh. 

Professional ini menjalankan organisasi berdasarkan teori bisnis dan teori 
ekonomi yang penuh dengan kapitalisme. 

 

Jokowi dan ahok itu contoh professional di Indonesia.

Mereka berdua ini bukan saja professional tetapi professional baik dan jujur 
lagi.

Yang lebih penting mereka berdua ini menjalankan profesionalisme mereka tanpa 
SARA.

 

Kenapa ente masih menentang kedua orang ini dan mencaci maki mereka?

 

Aneh aneh saja komentar ente ini yang jelas bertolak belakang.

 

Nesare

 

 

From: [email protected] [mailto:[email protected]] 
Sent: Thursday, March 2, 2017 11:45 PM
To: [email protected]
Subject: Re: [GELORA45] Bagi Partai Islam Ini, Agama Tidak Penting dalam 
Memilih Pemimpin

 

  

Bukan bagi PKB saja. Secara umum, bahkan kelompok Islam sontoloyo pun pasti 
tahu bahwa kaum muslim punya metode pemilihan / pengangkatan pemimpin yang 
diajarkan melalui salat berjamaah. Tidak ada urusan dengan latarbelakang, sebab 
yang terpenting adalah "profesionalitas" sang calon dalam memimpin 
terlaksananya hajat orang banyak. Dan, biasanya sang profesional ini dikenal 
cukup mahir memimpin dirinya sendiri

 

--- jonathangoeij@... wrote:

Kamis, 02 Maret 2017 | 11:20

 
<http://www.beritasatu.com/nasional/417089-bagi-partai-islam-ini-agama-tidak-penting-dalam-memilih-pemimpin.html>
    
<http://www.beritasatu.com/nasional/417089-bagi-partai-islam-ini-agama-tidak-penting-dalam-memilih-pemimpin.html>
    
<http://www.beritasatu.com/nasional/417089-bagi-partai-islam-ini-agama-tidak-penting-dalam-memilih-pemimpin.html>
    <http://www.addthis.com/tellfriend.php> 

  
<http://ad.beritasatumedia.com/b1-ads/www/delivery/lg.php?bannerid=0&campaignid=0&zoneid=59&loc=http%3A%2F%2Fwww.beritasatu.com%2Fnasional%2F417089-bagi-partai-islam-ini-agama-tidak-penting-dalam-memilih-pemimpin.html&cb=2a1524afa7>
 

  <http://img.beritasatu.com/cache/beritasatu/600x350-2/851438571520.jpg> 


Bagi Partai Islam Ini, Agama Tidak Penting dalam Memilih Pemimpin 
<http://www.beritasatu.com/nasional/417089-bagi-partai-islam-ini-agama-tidak-penting-dalam-memilih-pemimpin.html>
 


 




                

        

Bagi Partai Islam Ini, Agama Tidak Penting dalam Memilih Pemimpin


Kata Wasekjen PKB, Maman Imanulhaq, yang diajarkan adalah lebih melihat 
integritas, komitmen, serta track record...

        

 

Maman Imanulhaq (Istimewa)

Jakarta - Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) melihat fatwa Majelis Ulama Indonesia 
(MUI) sebagai sebuah opini yang tak mengikat partai itu dalam mengajukan calon 
kepala daerah yang hendak diusung di pilkada. Itu sebabnya, di pilkada di 
sejumlah daerah, PKB juga mengusung calon kepala daerah non-Muslim.

"‎Fatwa MUI itu merupakan opini yang coba diterapkan MUI dan itu tidak 
mengikat. Itu hanya menjadi landasan pertimbangan yang bisa dipakai, dan bisa 
juga tidak," kata Wasekjen PKB, Maman Imanulhaq, Kamis (2/3).

Ajaran Islam sendiri tak mengarahkan umat untuk memilih pemimpin berdasarkan 
apa agamanya. Kata Maman, yang diajarkan adalah lebih melihat integritas, 
komitmen, serta track record seorang calon.

"Maka itu juga yang lebih penting bagi PKB," kata Maman.

"Kedua, dalam politik, kita lebih mengandalkan suara masyarakat. Maka di 
beberapa tempat, dengan PKS dan PPP, kita bisa mengusung calon non muslim. 
Misalnya di Papua."

Dijelaskannya, PKB memiliki desk pilkada, yang bertugas mengetes kemampuan 
calon kepala daerah yang hendak diusung. Tim tersebut akan lebih melihat 
kemampuan serta program unggulan sang calon.

"Kami tak pernah tanya apa agamamu, sukumu, tapi apa yang akan dilakukan bila 
terpilih. Lalu sejauh mana program kerakyatannya. Itu semua diolah di desk 
pilkada," jelasnya.

"Sehingga fatwa MUI dihormati, tapi bukan pertimbangan utama."

Lalu apa sebenarnya yang terjadi dengan isu SARA yang kencang di Jakarta? 
Menurut Maman, tak ada satupun agama yang mengajarkan memecah belah rakyat, 
terkecuali agama telah menjadi alat politisasi. Ketika agama dijadikan alat 
politisasi, maka yang terjadi memang sebuah sinyal bahaya.

Walau demikian, hasil pilgub Jakarta putaran pertama justru menunjukkan tingkat 
kematangan politik warga masyarakat di Jakarta. Kata Maman, kemenangan pasangan 
Basuki-Djarot justru menunjukkan bahwa isu SARA sama sekali tak mempan.

"Maka kita harap di putaran II, yang head to head lebih mempertimbangkan adu 
gagasan dan ide. Sehingga yang diuntungkan adalah rakyat Jakarta. Tak perlu ada 
komentar berbau SARA," ujar Maman.

"Ini ada dua pasang yang terpilih untuk menunjukkan menjadi pelayan bagi 
masyarakat di Jakarta."





Markus Junianto Sihaloho/FMB

BeritaSatu.com

 

 



Kirim email ke