Pilih Firaun atau Musa. . . Di Jakarta! 
http://medan.tribunnews.com/2017/03/10/pilih-firaun-atau-musa-di-jakarta?page=all
 Jumat, 10 Maret 2017 19:04

 

 

 BASUKI Tjahaja Purnama 

 

 HISTERIA kedatangan Raja Salman sudah redup meski beliau dan rombongannya yang 
konon berjumlah 1500 orang itu masih pelesiran di Bali. Sekarang sorotan yang 
memunculkan keingar-bingaran dan kehebohan kembali ke titik semula, Pilkada 
Jakarta.
 Kampanye putaran kedua telah dimulai sejak 7 Maret dan dijadwalkan berakhir 
satu pekan sebelum hari pencoblosan, 15 April 2017. Dan persis seperti di 
putaran pertama, semangat kampanye di putaran ini tidak berbeda: pro Ahok dan 
anti Ahok. Dan pertarungan di medan peperangan ternyata masih berkutat pada 
persoalan yang itu ke itu juga.
 Pro Ahok makin rajin menebar "kebaikan-kebaikan" Ahok. Mengemukakan apa yang 
mereka anggap sebagai kinerja baik Ahok. Kinerja yang menjadikannya lebih 
istimewa dibanding pemimpin-pemimpin daerah lain, terutama sekali 
gubernur-gubernur Jakarta sebelum dia.
 Mereka juga membuka mata dan telinga lebar-lebar terhadap segala sesuatu 
tentang Anies Baswedan dan Sandiaga Uno, pesaing Ahok (dan Djarot) di putaran 
kedua. Tentu saja segala sesuatu yang sifatnya negatif.
Misalnya tudingan bahwa Anies Baswedan terlibat dugaan penyelewengan dana 
operasional keikutsertaan Indonesia di ajang pameran buku internasional, 
Frankfurt Book Fair. Anies masih menteri saat kasus ini ditengarai terjadi.
 Begitu juga dengan pemanggilan Sandiaga Uno atas satu kasus pencemaran nama 
baik. Kasus yang terjadi tahun 2013. Kasus pribadi yang berada di ruang lingkup 
satu klub lari di mana Sandiaga menjabat ketua. Menurut polisi, Sandiaga Uno 
dipanggil dalam kapasitas sebagai saksi.
 ANIES Baswedan (ANTARA FOTO/M AGUNG RAJASA) Bagaimana para anti Ahok? Kelompok 
ini, yang sebagian di antaranya merupakan pendukung Anies Baswedan dan Sandiaga 
Uno dan sebagian lainnya bukan (bahkan ada yang sama sekali tidak bersinggungan 
dengan Pilkada Jakarta), menyerukan lebih kencang agar Ahok yang diduga 
melakukan penistaan agama jangan dipilih.
 Andaikata Anda hidup di zaman Firaun, siapa yang akan Anda ikuti, Firaun atau 
Musa? Begitu kata mereka. Kalimat yang konon dicuplik dari satu tabligh di 
Jogja, pertengahan Februari 2017 lalu.
 Intinya, kalimat ini dan kalimat-kalimat lain yang berasal dari tabligh yang 
sama, yang disebarkan lewat Facebook, ingin menegaskan bahwa Firaun adalah 
pemimpin yang cakap dalam pembangunan fisik namun zalim, dan Bani Israil, kaum 
pilihan keturunan Nabi Yakub bin Ishak bin Ibrahim, telah melakukan langkah 
tepat memilih Musa, pemuda cakap namun tempramental yang (atas izin kuasa 
Allah) bisa mengubah tongkatnya menjadi ular.
 Sampai di sini tidak ada masalah. Andai hidup di zaman Firaun, siapa yang Anda 
pilih? Firaun atau Musa? Sebagaimana pertanyaan-pertanyaan yang bersifat 
pengandaian lainnya, pertanyaan ini aduhai namun tidak punya jawaban sahih.
 Artinya, jawaban apapun sah belaka. Sebab untuk menjawabnya siapapun mesti 
lebih dahulu melepaskan diri dari fakta sejarah yang dipapar dalam Al Quran 
--bahwa Firaun adalah penista Allah.
 Dalam hakikat pengandai-andaian, fakta itu hilang, kembali kepada titik nol, 
awal peristiwa di mana fakta sejarah belum ada dan dengan demikian belum 
dituliskan.
 Kita mengandaikan diri berada di Mesir pada tahun 1279-1213 Sebelum Masehi, di 
masa pemerintahan Ramesses II, Sang Firaun Generasi ke 19. Kita bisa berperan 
di sini. Entah sekadar peran pembantu atau bisa jadi peran utama.
 Misalnya, berperan untuk mengubah alur sejarah. Bagaimana seandainya Ramesses 
II bukan penguasa diktator kufur yang patut dilaknat? Bagaimana kalau ternyata 
dia justru penguasa yang arif dan bijak dan karena itu patut dicinta?
 Atau barangkali jawaban seperti ini kelewat liar dan hanya termungkinkan 
terjadi dalam film- film fantasi yang mengisahkan para pelintas dan pengelana 
waktu semacam Back to The Future atau Quantum Leap. Hanya Marty McFly atau Dr. 
Samuel Beckett yang bisa mengubah alur sejarah.
 Barangkali pilihannya adalah bersikap lebih pasif. Sejarah tetap sebagaimana 
telah dituliskan dan kita mengandaikan diri kembali ke masa itu hanya untuk 
memilih dan pilihannya adalah Firaun atau Musa.
 Begitulah, sekali lagi tidak ada masalah. Pengandaian ini baru menjadi masalah 
saat dibawa dan didekatkan pada Pilkada Jakarta. Bukan sekadar melintas waktu. 
Pengandaian ini juga dilesatkan melintas batas-batas geografi dan kultural. 
Mesir dan Jakarta abad 21.
 Dan satu pertanyaan terpenting. Di Pilkada Jakarta, siapa Firaun siapa Musa? 
Apakah Ahok dapat merepresentasikan Firaun? Kapan kali dia pernah mengucapkan 
kalimat sebagaimana pernah diucap Firaun yang dicatat dalam Al-Qashshas ayat 
38: "Wahai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui Tuhan bagimu selain aku"?
 
 Sejauh ini belum pernah. Justru, entah disadari entah tidak, justru tidak 
sedikit dari para pengandai dan penuding (dan pengikut-pengikutnya) itu yang 
berlaku seperti Firaun. Sebuah hipokrisi. Bahkan ultrahipokrisi. Lain di mulut 
lain di perbuatan. Satu kecenderungan yang entah sadar entah tidak pula telah 
melahirkan Firaun-compulsive disorder, "penyakit kejiwaan" yang memang sangat 
sulit disembuhkan.(t agus khaidir)
 

Kirim email ke