http://internasional.kompas.com/read/2017/03/11/10543731/.mereka.bergeming.meski.
<http://internasional.kompas.com/read/2017/03/11/10543731/.mereka.bergeming.meski.anak-anak.berteriak.di.tengah.kobaran.api>
anak-anak.berteriak.di.tengah.kobaran.api
<http://internasional.kompas.com/read/2017/03/11/10543731/.mereka.bergeming.meski.anak-anak.berteriak.di.tengah.kobaran.api>.
"Mereka Bergeming, Meski Anak-anak Berteriak
di Tengah Kobaran Api"
Sabtu, 11 Maret 2017 | 10:54 WIB
*
*
*
*
<http://internasional.kompas.com/read/2017/03/11/10543731/.mereka.bergeming.meski.anak-anak.berteriak.di.tengah.kobaran.api.#komentar>
*
<http://internasional.kompas.com/read/2017/03/11/10543731/.mereka.bergeming.meski.anak-anak.berteriak.di.tengah.kobaran.api.#>
580
Shares
Guatemalan Volunteer Firefighters / AFP Korban kebakaran di asrama putri
di timur Guatemala City, 8 Maret 2017 sedang diangkut oleh petugas medis.
*GUATEMALA CITY <http://indeks.kompas.com/tag/GUATEMALA.CITY>,
KOMPAS.com -*Sebuah peti mati berisi jasad Siona Hernandez Garcia,
dimasukkan perlahan ke dalam liang lahad di sebuah komplek pemakaman di
Guatemala City, Jumat (11/3/2017).
Prosesi itu diiringi lantunan hymne yang dimainkan oleh sejumlah pemusik
jalanan, hingga liang kubur tertutup rapat.
Gadis berusia 16 tahun itu adalah salah satu dari 36 korban tewas dalam
kebakaran yang terjadi di asrama putri di San Jose Pinula, 10 kilometer
timur dari Guatemala City.
Maria Garcia, ibunda Siona pun berseru dan menuntut keadilan.
"Guatemala penuh dengan kekerasan, banyak kasus pembunuhan dan
pemerkosaan terhadap gadis-gadis miskin," ungkap Garcia seperti dikutip
dari /Associated Press/.
Maria Garcia tidak sendiri. Kerumunan orangtua serta kerabat para
korban mamadati halaman kantor otoritas pengelola tempat penampungan
remaja milik pemerintah, di Guatemala City.
Mereka menuntut kejelasan, tentang apa yang sebenarnya terjadi, hingga
muncul kebakaran yang menelan banyak korban jiwa.
Jumlah korban dalam kejadian ini pun telah bertambah.
Mereka yang tewas adalah korban yang mengalami luka bakar parah setelah
aksi pembakaran kasur di asrama itu, pada Rabu lalu.
*Baca: 19 Anak Gadis di Sebuah Asrama di Guatemala Tewas Terbakar
<http://internasional.kompas.com/read/2017/03/09/06262821/19.anak.gadis.di.sebuah.asrama.di.guatemala.tewas.terbakar>
*
Pertanyaan pun muncul, mengapa sampai ada remaja perempuan di
penampungan itu yang membakar kasur?
Lalu, bagaimana mungkin seluruh pintu di asrama itu tetap terkunci,
ketika gadis-gadis remaja itu berseru memohon keselamatan?
Banyak di antara penghuni asrama tersebut yang dikirimkan ke penampungan
itu karena kasus-kasus kenakalan.
Namun, ada pula mereka yang menjadi penghuni karena persoalan kemiskinan
dan konflik keluarga.
Sebagian lainnya adalah mereka yang berdasarkan perintah hakim harus
mendekam di tempat tersebut.
*Baca: 20 Anak-anak Asrama Tewas, Guatemala Tetapkan Tiga Hari Berkabung
<http://internasional.kompas.com/read/2017/03/09/09220451/20.anak-anak.asrama.tewas.guatemala.tetapkan.tiga.hari.berkabung>
*
*Protes dan perlawanan
*
Di pintu masuk RS Roosevelt, Claudia Tecun masih tak mampu membendung
air matanya.
Perempuan ini tak henti-hentinya menangis saat menyaksikan tubuh
putrinya, Noemi Tecun Munoz terbaring di ruang perawatan.
Gadis berumur 17 tahun itu mengalami luka bakar hingga 70 persen.
"Para dokter mengatakan, tak ada harapan besar dia akan tetap hidup,"
kata Claudia sambil terisak.
"Saya mendengar di berita, anak saya menjadi salah satu pelaku yang
melakukan pembakaran di tempat itu. Itu tidak benar," kata dia.
"Anak perempuan saya tak mungkin mencoba menghabisi nyawanya sendiri,"
tegas Claudia.
Memang beredar kabar, termasuk dari kerabat korban lainnya, bahwa
sejumlah gadis penghuni asrama itu melakukan pembakaran kasur.
Mereka melakukan itu sebagai bentuk perlawanan atas penangkapan setelah
mereka yang sempat melarikan diri malam sebelumnya.
Remaja-remaja itu kabur dari tempat penampungan karena tak sanggup
menghadapi penganiayaan, makanan yang buruk, dan ketakutan akan pemerkosaan.
Seperti yang diberitakan, awalnya ada 19 gadis yang dinyatakan tewas di
lokasi kejadian.
Jumlah itu pun kian hari semakin bertambah. Kini ada 17 nyawa lain yang
melayang menyusul luka bakar parah yang mereka alami.
*Baca: Kebakaran Asrama Putri yang Dipicu Kericuhan Sudah Renggut 29
Nyawa
<http://internasional.kompas.com/read/2017/03/09/22114641/kebakaran.asrama.putri.yang.dipicu.kericuhan.sudah.renggut.29.nyawa>
*
Salah satu kesaksian diungkapkan oleh Geovany Castillo.
Castillo mengaku anak perempuannya yang berumur 15 tahun, Kimberly
menderita luka bakar di wajah, kedua lengan dan tangan. Beruntung,
nyawanya masih bisa diselamatkan.
Saat kebakaran terjadi, dia terkunci di areal di mana para gadis yang
mencoba kabur ditempatkan.
"Anak saya mengatakan, daerah itu dikunci rapat, dan sejumlah gadis
mencoba membobol pintu. Dia bisa selamat karena menyelimuti tubuhnya
dengan lembaran basah," kata Castillo.
"Anak saya bilang, gadis-gadis yang sempat kabur itu menjadi korban
perkosaan. Sebagai bentuk perlawanan, mereka pun kabur dari penampungan,
demi mendapat perhatian."
Castillo mengatakan, anaknya telah memberikan kesaksian di hadapan
polisi bahwa gadis-gadis yang memicu kebakaran adalah mereka yang tewas.
*Bawa ke AS*
Carlos Soto, Direktur RS San Juan de Dios, mengatakan, tim dokter yang
menangani para korban merekomendasikan agar delapan di antara korban
yang kini dirawat untuk dibawa ke Galveston, Texas.
Di Galveston, ada perawatan khusus untuk luka bakar. Soto pun
mengatakan, pemerintah akan memperoleh visa kemanusiaan dari Pemerintah AS.
Sehingga kini, otoritas hanya membutuhkan persetujuan dari pihak
keluarga korban.
*Belum ditemukan*
Meskipun sebagian besar keluarga korban sudah mulai memakamkan anak-anak
mereka, namun masih ada sebagian lain yang disibukkan dengan proses
identifikasi.
Vianney Clareth Hernandez misalnya. Dia menunggu di luar kamar jenazah
sambil memegang foto anaknya, Ashley.
Gadis 14 tahun itu adalah salah satu penghuni di tempat penampungan,
namun sang ibu tak menemukan keberadaannya. Dia telah melacak ke
sejumlah RS setempat.
"Ini merupakan perbuatan kriminal. Mereka tak membuka pintu asrama,
mereka tak melakukan apa-apa untuk menyelamatkan anak-anak ini," kata dia.
"Mereka tetap bergeming, meski anak-anak itu berteriak-teriak," sambung
Vianney.
Ketika banyak orang memercayai kabar yang beredar ini, otoritas terkait
hanya mengatakan masih melakukan investigasi.
Namun, kronologi persis dari tragedi ini belum terungkap.
Sebagian kecil korban selamat kini dirawat dengan pengawalan ketat pihak
kepolisian. Hal itu dilakukan sebagai bagian dari upaya perlindungan saksi.
Editor : Glori K. Wadrianto