From: Institut Peradaban 
Sent: Sunday, March 12, 2017 2:13 PM
To: IP 
Subject: (Pengingat) Undangan Seminar Peradaban (15 Maret 2017)


Undangan Seminar Institut Peradaban


Institut Peradaban (IP) bekerjasama dengan Yayasan Wakaf Paramadina, Sinar Mas 
Group dan Pusat Studi Kelirumologi
dengan hormat mengundang Anda  hadir dan berpartisipasi dalam acara Seminar 
Peradaban pada:


Hari  Rabu, 15 Maret 2017 - pukul 12.00 



bertempat di:


 Auditorium Nurcholis Madjid,
Universitas Paramadina

Jl. Jenderal Gatot Subroto Kavling 97 – Jakarta Selatan
Jakarta Selatan




Topik Seminar:


"Masih Relevankah Politik Luar Negeri Bebas Aktif?"

Pembicara:
- Dr. H Fadli Zon, S.S., M.Sc

(Wakil Ketua DPR RI)



- Dr. Jusuf Wanandi

(Salah Seorang Pendiri CSIS)


- Drs. Wiryono Sastrohandoyo

(Mantan Dubes RI di Prancis, dan Australia)



Penanggap Utama:


Dr. Adriana Elizabeth

( Peneliti LIPI)


Moderator:

Dr. Ali Munhanif



Mengingat relevan dan pentingnya topik ini, kami sangat mengharapkan kedatangan 
dan partisipasi Anda. Berhubung dengan terbatasnya tempat, 
kami berharap kesediaan Anda untuk lebih dahulu melakukan konfirmasi kedatangan 
 melalui email ke:

[email protected]


Atau SMS ke 0877 2111 8855




 
Institut Peradaban (IP)


Prof. Dr. Salim Haji Said, M.A., MAIA,
Direktur Eksekutif.


==========================================================================================

Acuan Seminar



Masih Relevankah Politik Luar Negeri Bebas Aktif?



Selama  Perang Dingin, Indonesia    memilih sikap tidak memihak kepada salah 
satu blok yang bertikai. Ini untuk pertama kali diuraikan Perdana Menteri 
Mohammad Hatta (Mendayung di antara Dua Karang). Pasca Perang Dingin, 
pengendalian politik dunia nyaris sepenuhnya berada di tangan Amerika Serikat. 
Mereka sangat ekspansif dalam mengatur negara-negara di dunia dalam tata 
hubungan internasionalnya.. 



Seiring perkembangan waktu, dunia mengalami perubahan yang signifikan. 
Perubahan itulah  yang nampak pada berkembangnya peranan  Cina menjadi kekuatan 
baru perekonomian dunia. Perubahan ekonomi Cina berpotensi menjadi menjadikan 
negeri itu  penyaing  dominasi Amerika Serikat. Kondisi seperti ini 
dipersepsikan sebagai berpotensi memicu konflik  internasional.



Amerika Serikat  yang dewasa ini berada  di bawah kendali  Presiden Donald 
Trump dinilai banyak kalangan berpotensi mengubah peta politik dunia secara 
dramatis. Jika ketegangan  kedua blok  ini (Cina dan Amerika Serikat) 
mengkristal,  keadaan bisa berdampak dilematis  pada hubungan diplomatik 
Indonesia dengan negara-negara  tersebut. Pertarungan Amerika dan Cina ini akan 
menyeret Indonesia kepada pilihan politik dan ekonomi yang tidak mudah. 
Keduanya melahirkan risiko yang berdampak strategis pada pembangunan nasional 
Indonesia yang sejak awal menjalankan kebijakan politik bebas aktif.



Di masa pemerintahan Soekarno,  Indonesia memiliki power tersendiri dengan 
membentuk kekuatan baru negara-negara yang tergabung dalam non blok. Dengan 
kelompok non blok itu,  Indonesia berpotensi besa  mempertahankan    kebijakan 
politik luar negeri bebas aktif .



Di bawah pemerintahan Joko Widodo, hari-hari ini banyak pengamat yang menilai 
Indonesia berada dalam dilema politik yang berat. Terutama ketika Indonesia 
menghadapi  perseteruan sejumlah negara mengenai  konflik Laut Cina Selatan.



Pertanyaannya adakah masih relevankah politik bebas aktif Indonesia itu? 
Bagaimana cara Indonesia sebaiknya memposisikan diri secara tepat dalam medan 
percaturan politik diantara Amerika dan Cina? Haruskah Indonesia memilih salah 
satu dari dua kekuatan yang sedang berseteru tersebut?


Kirim email ke