Yang dikemukakan Anies benar, dan sayangnya ternyata antitesis dengan alasan 
pemilih beliau. Dalam Survei Median pemilih menganggap kompetensi dan 
integritas/personal Anies sangat kecil.
Survei Median:Alasan memilih Anies: identitas (agama) dan anti Ahok sebesar 
55,9 persen, kinerja mesin 5,7 persen, framing kompetensi 13,3 persen dan 
framing personal 8,6 persen.Alasan memilih Ahok: kompetensi 41,2 persen, 
karakter personalnya 34,5 persen, sedangkan kinerja mesinn 8,8 persen
---
Anies: Pemimpin Harus Miliki Kompetensi, Integritas dan Kedekatan

Bima SetiyadiKamis,  16 Maret 2017  −  21:05 WIBCagub DKI Anies Baswedan 
(kanan) dan Cawagub Sandiaga Uno (kiri).Foto/SINDOphoto/DokA+ A-JAKARTA - Calon 
Gubernur (Cagub) DKI Jakarta 2017 Anies Baswedan menilai pemimpin itu berbeda 
dengan pejabat. Pemimpin lahir dengan adanya kepercayaan melalui tiga komponen, 
yaitu kompetensi, integritas dan kedekatan.

Anies mengatakan, seorang pemimpin itu hadir karena ada yang mengikutinya. 
Pemimpin itu berbeda dengan jabatan yang terikat dengan status dan peraturan. 
Selama ini, orang-orang yang menunjuknya menjadi pemimpin di berbagai hal 
karena telah dilatih melalui diskusi dan dialog hingga ada ide yang sama dari 
hasil diskusi tersebut.

Baginya, ide dan gagasan itu penting meskipun dewasa ini, masyarakat 
mengenalnya dengan istilah mimpi. "Jadi bermunculan ide gagasan yang mau 
dikerjakan bersama-sama, saya diminta untuk mengelolanya. Dan itulah disebut 
pemimpin. Ide, gagasan itu penting sekali bagi seorang pemimpin," kata Anies di 
kediamannya di Cilandak, Jakarta Selatan, Kamis (16/3/2017).

Anies menjelaskan, pemimpin itu lahir dengan adanya kepercayaan melalui tiga 
komponen, yaitu kompetensi, integritas dan kedekatan. Semakin dia kompeten, 
berintegritas dan dekat dengan rakyat, maka pemimpin semakin dipercaya menjadi 
pemimpin. Ketiganya membuat nilai kepercayaan seseorang semakin tinggi.

Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu pun menuturkan, semua komponen 
kepercayaan tersebut tidak ada artinya bila ada self-interest (kepentingan 
pribadi). "Nilai kepercayaan seorang pemimpin akan turun drastis bila ada 
self-interest," tegasnya.

Anies menilai self-interest seseorang tidak akan bisa dihilangkan sepenuhnya, 
namun bisa dikendalikan dengan baik. Untuk itulah, seorang pemimpin harus bisa 
menyelaraskan kepentingan pribadinya dengan kepentingan umum.

"Misal, seorang pemimpin daerah bekerja sebaik-baiknya untuk bisa terpilih 
kembali. Itu artinya kepentingan pribadinya sejalan dengan kepentingan umum. 
Tapi kalau pemimpin tadi mengambil anggaran negara untuk berkampanye artinya 
dia mengedepankan kepentingan pribadinya di atas kepentingan umum," ujarnya. 



(whb)


Kirim email ke