Pembicaraan kita tentang pemilu di Indonesia dengan contoh pilpres 2014, dalam hal ini sudah pasti saya tidak nyoblos. Turnout di US justru jauh lebih parah dibanding Indonesia:th 2000 - 50.3%; 2004 - 55.7%; 2008 - 57.1%; 2012 - 54.9%; 2016 - 55.3% Saya pakai contoh th 2008 yg turnout-nya paling tinggi.Obama 69.5 juta suara, McCain 60 juta suara, sedang kandidat2 lain hanya beberapa ratus ribu. Tidak nyoblos 97.6 juta.Dikatakan Obama 52.9% sedang McCain 45.6%. Sudah jelas terlihat yg tidak nyoblos tidak masuk dalam perhitungan padahal yg tidak nyoblos justru jauh lebih banyak dari Obama.
---In [email protected], <ajegilelu@...> wrote : Sebagai WN Amerika apa Anda juga nggak nyoblos/memilih? Kalau ada Americans tidak cocok dengan Hillary & Trump kemudian tidak memilih keduanya, mereka dihitung nggak? Saya tidak tahu dan tidak peduli negara lain pakai formula apa.Saya cuma melihat ada yang salah dengan sistem pemilu di Indonesia dalam menegakkan demokrasi. Salah, karena Rakyat Indonesia sangat percaya demokrasi itu berdaulatnya Rakyat dengan landasan prinsip dari Rakyat oleh Rakyat untuk Rakyat. Sedangkan pemilu ini kan cuma dari-oleh-untuk maling. "Indonesia, carilah demokrasimu sendiri"- soekarno Artinya ya tidak perlu ikut-ikutan cara di negara lain. --- jonathangoeij@... wrote: apakah anda bisa menunjukkan negara yg pakai formula 50%+1 DPT? anda tanyanya aneh, saya US citizen gimana mau nyoblos, sudah jelas nggak. --- ajegilelu@... wrote : Pantas Anda mendukung pemilu yang tidak fair, lha Anda juga nggak fair. Jawab dong, ikut nyoblos nggak? --- jonathangoeij@... wrote: ada berapa banyak suara masuk yg rusak itu? --- ajegilelu@... wrote : Ada suara masuk lalu dianggap 'rusak' dan tidak dijadikan faktor penghitungan bukan masalah berarti?? Hmm, Ikut nyoblos? --- jonathangoeij@... wrote: tidak begitu, saya lihat tidak ada masalah berarti dalam pilpres 2014 yg bisa mengatakan hasil pemilu ilegitimate. tetapi begitu pemilu selesai maka dimulailah sikap kritis pd pemimpin itu. --- ajegilelu@... wrote : Jangan salah, yang dihitung itu cuma suara sah. Suara pemilih yang nyoblos lebih dari 1 gambar, abstain / golput, dianggap sebagai suara rusak. Tidak dipehitungkan sebagai faktor. Karena seperti ini Anda bilang demokratis ya sudah, dukung saja semua keputusan pemerintah hasil pemilu ini. Termasuk hukuman mati, penggusuran tanpa ganti rugi dll. Anda sendiri ikut nyoblos? --- jonathangoeij@... wrote: dari jawaban anda kelihatannya sekitar 56 juta yg tidak nyoblos itu bukan karena "tidak boleh nyoblos, dilarang, dihalangin, diintimidasi", jadi disini ke 56 juta pemilih itu sudah menggunakan hak pilihnya, memilih utk tidak memilih. kemudian, apakah para pemilih itu tahu kalau tidak memilih suaranya tidak akan diperhitungkan, yg dihitung hanya suara masuk. seandainya mereka tahu tetapi tetap memilih utk tidak memilih artinya disini mereka secara sadar telah menyerahkan pilihan pada mereka2 yg memilih. itulah pilihan mereka yg tidak nyoblos. dengan kondisi diatas terpenuhi saya beranggapan formula 50%+1 dari suara masuk itu demokratis. --- ajegilelu@... wrote : Saya tidak bisa mewakili 56 juta orang itu seluruhnya.Yang pasti, dari sekian banyak yang nyoblos abstain maupun yang tidak nyoblos samasekali (sebut saja Golput), menunjukkankejenuhan pada pemilu - lewat berbagai istilah yang mereka ekspresikan, al. 'bosan'; 'percuma'; sampai merasa capek dibodohi. Sejelas dan setegas itu. Hasilnya, pada 2014:Pilpres, lebih dari 60% Rakyat bersuara tidak memilih Jokowi. Sementara untuk Pileg, lebih dari 30% Rakyat bersuara tidak percaya pada partai - jauh lebih besar dari perolehan sang juara PDIP yang cuma 18,9%. Jadi, lucu sekali Anda kesulitan berpendapat soal pemilu yang lagi-lagi menghasilkan pemerintahan yang tidak didukung mayoritas begini. --- jonathangoeij@... wrote:Sebelum memberikan judgement demokratis atau tidak, saya ingin tahu dulu sekitar 56 juta yang tidak nyoblos itu apa tidak boleh nyoblos, dilarang, dihalangin, diintimidasi, atau apa? --- ajegilelu@... wrote : Nanti dulu. Gantian saya tanya, pemilu yang cuma menghitungsuara sah begitu menurut Anda demokratis atau tidak?
