Sistem electoral colleges dgn perwakilan melalui MPR tidaklah sama, tetapi 
tentu bukan ini fokus pembicaraan kita.
Saya sepakat dengan anda "Terlebih dalam pemilihan langsung, satu orang satu 
suara, setiap orang punya hak untuk dihitung."
Kelihatannya concern anda terletak pada sekian banyak orang sekitar 56 juta 
orang yg tidak memilih dalam pilpres 2014 itu, disini saya katakan ke 56 juta 
orang itu telah melakukan pilihan yaitu memilih untuk tidak mencoblos, disini 
mereka memilih untuk menyerahkan pilihan pada mereka2 yang memilih. 
Tetapi lain ceritanya kalau 56 juta yg tidak memilih itu karena diintimidasi, 
dibohongin, diancam, tidak boleh memilih, dlsb itu. Sepanjang tidak memilih 
karena memang pilihannya sendiri, itu bagian dari demokrasi.

---In [email protected], <ajegilelu@...> wrote :

Sebelumnya, Indonesia juga memakai sistem perwakilan, 
presiden dipilih dan diangkat MPR. 

Saya kira kesepakatan hanya berlaku untuk teknis pemilunya, 
bukan untuk prinsip demokrasinya. Terlebih dalam pemilihanlangsung, satu orang 
satu suara, setiap orang punya hak 
untuk dihitung. 



--- jonathangoeij@... wrote:
Pemilu di AS sudah pasti saya ikut voting, juga ikut aktif jadi precinct 
election board itu maksudnya petugas TPS ha ha ha.
Sistem yg digunakan berbeda dgn Indonesia karena US menggunakan electoral 
colleges bukannya popular votes yg dipakai di Indonesia. Dalam pemilu Bush v. 
Al Gore, Bush v. Kerry, Obama v. McCain, Obama v. Romney saya lihat masih 
terhitung demokratis walaupun dalam Bush v. Al Gore si Bush kalah dalam popular 
votes tetapi tetap demokratis karena memang yg disepakati electoral colleges.
Tetapi dalam pemilu 2016 saya sukar melihat demokratis karena faktor hacking 
itu, yg terjadi adalah deceitful election.
--- ajegilelu@... wrote :

Anda tau yang dimaksud tentu nyoblos di pemilu AS.
Dengan kondisi lebih parah dari pemilu di Indonesia menurut Anda pemilu AS 
demokratis tidak?

--- jonathangoeij@... wrote:

Pembicaraan kita tentang pemilu di Indonesia dengan contoh pilpres 2014, dalam 
hal ini sudah pasti saya tidak nyoblos.

Turnout di US justru jauh lebih parah dibanding Indonesia:
th 2000 - 50.3%;  2004 - 55.7%; 2008 - 57.1%; 2012 - 54.9%; 2016 - 55.3%

Saya pakai contoh th 2008 yg turnout-nya paling tinggi.
Obama 69.5 juta suara, McCain 60 juta suara, sedang kandidat2 lain hanya 
beberapa ratus ribu. Tidak nyoblos 97.6 juta.

Dikatakan Obama 52.9% sedang McCain 45.6%. Sudah jelas terlihat yg tidak 
nyoblos tidak masuk dalam perhitungan padahal yg tidak nyoblos justru jauh 
lebih banyak dari Obama.

--- ajegilelu@... wrote :

Sebagai WN Amerika apa Anda juga nggak nyoblos/memilih?
Kalau ada Americans tidak cocok dengan Hillary & Trump 
kemudian tidak memilih keduanya, mereka dihitung nggak?

Saya tidak tahu dan tidak peduli negara lain pakai formula apa.
Saya cuma melihat ada yang salah dengan sistem pemilu di 
Indonesia dalam menegakkan demokrasi. Salah, karena Rakyat 
Indonesia sangat percaya demokrasi itu berdaulatnya Rakyat 
dengan landasan prinsip dari Rakyat oleh Rakyat untuk Rakyat.

Sedangkan pemilu ini kan cuma dari-oleh-untuk maling.

"Indonesia, carilah demokrasimu sendiri"
- soekarno

Artinya ya tidak perlu ikut-ikutan cara di negara lain.

--- jonathangoeij@... wrote:

apakah anda bisa menunjukkan negara yg pakai formula 50%+1 DPT?

anda tanyanya aneh, saya US citizen gimana mau nyoblos, sudah jelas nggak.

--- ajegilelu@... wrote :

Pantas Anda mendukung pemilu yang tidak fair, 
lha Anda juga nggak fair.
Jawab dong, ikut nyoblos nggak?

--- jonathangoeij@... wrote:

ada berapa banyak suara masuk yg rusak itu?

--- ajegilelu@... wrote :

Ada suara masuk lalu dianggap 'rusak' dan tidak dijadikanfaktor penghitungan 
bukan masalah berarti??

Hmm,

Ikut nyoblos?

--- jonathangoeij@... wrote:

tidak begitu, saya lihat tidak ada masalah berarti dalam pilpres 2014 yg bisa 
mengatakan hasil pemilu ilegitimate. tetapi begitu pemilu selesai maka 
dimulailah sikap kritis pd pemimpin itu.

--- ajegilelu@... wrote :

Jangan salah, yang dihitung itu cuma suara sah. Suara pemilihyang nyoblos lebih 
dari 1 gambar, abstain / golput, dianggapsebagai suara rusak. Tidak 
dipehitungkan sebagai faktor.

Karena seperti ini Anda bilang demokratis ya sudah, dukung sajasemua keputusan 
pemerintah hasil pemilu ini. Termasuk hukuman mati,penggusuran tanpa ganti rugi 
dll.

Anda sendiri ikut nyoblos?
--- jonathangoeij@... wrote:

dari jawaban anda kelihatannya sekitar 56 juta yg tidak nyoblos itu bukan 
karena "tidak boleh nyoblos, dilarang, dihalangin, diintimidasi", jadi disini 
ke 56 juta pemilih itu sudah menggunakan hak pilihnya, memilih utk tidak 
memilih.

kemudian, apakah para pemilih itu tahu kalau tidak memilih suaranya tidak akan 
diperhitungkan, yg dihitung hanya suara masuk. seandainya mereka tahu tetapi 
tetap memilih utk tidak memilih artinya disini mereka secara sadar telah 
menyerahkan pilihan pada mereka2 yg memilih. itulah pilihan mereka yg tidak 
nyoblos.

dengan kondisi diatas terpenuhi saya beranggapan formula 50%+1 dari suara masuk 
itu demokratis.

--- ajegilelu@... wrote :

Saya tidak bisa mewakili 56 juta orang itu seluruhnya.
Yang pasti, dari sekian banyak yang nyoblos abstain maupunyang tidak nyoblos 
samasekali (sebut saja Golput), menunjukkan
kejenuhan pada pemilu - lewat berbagai istilah yang mereka 
ekspresikan, al. 'bosan'; 'percuma'; sampai merasa capek dibodohi.

Sejelas dan setegas itu. 

Hasilnya, pada 2014:
Pilpres, lebih dari 60% Rakyat bersuara tidak memilih Jokowi.Sementara untuk 
Pileg, lebih dari 30% Rakyat bersuara tidak percaya 
pada partai - jauh lebih besar dari perolehan sang juara PDIP yang 
cuma 18,9%.

Jadi, lucu sekali Anda kesulitan berpendapat soal pemilu yang lagi-l

(Message over 64 KB, truncated)

Kirim email ke