Pilkada Jakarta Tidak Lagi Ramah Ketika Politik Menunggangi Sara Memicunya http://www.dobrak.net/2017/03/pilkada-jakarta-tidak-lagi-ramah-ketika.html
dobrakNet. Belum lama lalu, Anies R. Baswedan berpidato; Jakarta bukan kota yang ramah untuk umat beragama. Sayangnya, hal itu dikatakan hanya karena Monas dilarang (oleh Ahok) untuk aktivitas keagamaan (Islam dalam hal ini), dan menyembelih kambing korban dilarang (lagi-lagi oleh Ahok) di jalanan atau kaki lima. Anies kemudian berjanji mengembalikan dua hal itu, sembari mengatakan Jakarta mesti terbuka untuk berbagai kegiatan agama. Tapi lagi-lagi yang dimaksudkan ternyata hanya sisi aktivitas keagamaan (Islam). Ketika berpidato soal ketidakramahan bagi umat beragama itu, saya berharap mendapat pencerahan soal toleransi dan pluralitas. Sayangnya, Anies tak lebih beda dengan kaum wahabiyah, hanya mengeksploitasi sentimen keberagamaan golongan reaksioner. Pada sisi itu, Ahok terlihat lebih naif dalam berpolitik dibanding Anies Baswedan, yang jago retorika dalam merespons segala sesuatu. Tak sebagaimana Ahok yang cablak, tutur kata Anies lebih terukur. Ahok sembarang kalir dikomentari dan mudah terpancing, Anies sangat piawai mengkapitalisasi sembarang kalir bagi citra politiknya. Kenaifan Ahok, lebih pada kepercayaan diri bahwa berpolitik hanya butuh semangat pelayanan dan niatan jujur. Maka komentarnya mengenai Al Maidah jadi blunder dan santapan empuk bagi yang pintar menggorengnya. Apapun penjelasan rasional mengenai hal itu, dari sisi semantik dan substansi, tak akan gampang diterima. Tapi, apakah kepemimpinan hanya soal kepiawaian retorika, mengkapitalisasi pencitraan? Di situ persoalannya ketika jabatan publik adalah perihal amanah. Pada sisi itu, program-program Anies-Sandi, nyaris tak ada yang orisinal, apalagi otentik, meski dibungkus slogan ‘oke-oce’. Kepiawaian Anies mengkapitalisasi citra diri, terlihat dari reaksi-reaksi oportunistiknya. Hanya menghadang dan memanfaatkan bola muntah dari Ahok. Karena itu Anies lebih sibuk menebarkan janji. Semua yang terindikasi tak menyukai Ahok, dirangkul. Apapun latar-belakangnya. Anies dengan sadar memainkan isu-isu sensitive untuk mendulang suara. Dengan senjata politik identitas, dan kelompok kepentingan yang lebih spesifik, Anies sedang mencoba menenun dukungan. Diantara sekian banyak pilkada di berbagai daerah, pilkada DKI Jakarta rendah kualitasnya, juga paling parah. Lebih didominasi elite sosial-politik daripada daulat rakyat pemegang kartu suara. Ketika mobilisasi lebih kuat dibanding partisipasi, yang ada hanyalah pseudo-democracy. Bagaimana jika Anies terpilih jadi Gubernur Jakarta? Saya kira apa yang dikatakannya akan menjadi kenyataan. Jakarta menjadi makin tak ramah bagi umat beragama. Tak saja bagi yang bukan Islam, melainkan juga bagi umat Islam sendiri. Namun memilih Ahok juga menyebalkan, mulut cablaknya suka membuat kuping kaum normative merah padam. Jika saja Agus Harimurti bukan anak SBY, mungkin dia bisa jadi gubernur alternative. Itu kalau saja dia memenangkan putaran pertama kemarin. Sayangnya, nasi sudah ada di dubur. Beberapa petinggi ormas Islam, ada yang sangat sopan menghimbau; Agar yang pada putaran pertama Pilkada DKI Jakarta 2017 memilih Ahok pada sadar, dan dalam putaran dua kemudian akan memilih Anies. Kenapa begitu? Karena memilih Ahok itu sebuah kesalahan, kekhilafan, apalagi bagi yang beragama Islam. Apakah dengan himbauan ini akan diikuti orang Islam, atau yang non Islam, untuk berbondong kemudian jadi orang Islam terbaik di dunia, dan masuk sorga? Mungkin saja ada. Tapi, tentu juga ada yang berdoa sebaliknya; Semoga yang mendoakan pemilih Ahok yang khilaf, juga sadar untuk tidak lagi memilih Anies di putaran kedua nanti. Kenapa begitu? Ya doa sih berangkat dari niatan, keyakinan dan kepentingan masing-masing. Soal dikabulkan atau tidak, para yang disebut nabi pun tak ada yang berani menjamin. Kecuali doa itu dimanifestasikan dalam perbuatan dan perilaku, dengan syarat dan ketentuan berlaku. Lha bagaimana syarat dan ketentuannya dalam Pilkada DKI Jakarta 2017? Baca saja UU Pilkada. Jika memilih non muslim itu salah, maka sumber kesalahan tentu pada KPUD DKI Jakarta yang meloloskan cagub non-muslim. Maka KPUD DKI Jakarta itu yang mesti diganyang, difitnah, atau dikafir-kafirkan. Karena kalau KPUD DKI tidak meloloskan Ahok, bukankah tak ada masalah, taka da keguncangan politik? Tapi bisa dipastikan KPUD DKI juga tak mau disalahkan. Mereka akan menunjuk UU Pilkadanya sudah diikuti dengan baik dan benar. Artinya apa? Artinya pembuat UU itu, baik parlemen maupun pemerintah sebagai biangnya. Dan di parlemen, partai-partai yang ambisius sampai merevisi UU Pilkada kemarin, ternyata juga yang membuat Ahok bisa lolos sebagai cagub. Kalau parlemen pro Islam, bukankah tinggal bikin pasal yang Cina dan bukan Islam tak boleh ikut Pilkada Jakarta? Terus saja jika kita runut, maka siapa sumber masalah itu? Kalau mengutip pendapat Buya Syafii Maarif, rakyat Islam itu sendirilah sumber masalahnya. Kalau mereka bisa melahirkan orang pinter, dan baik, dan berguna, dan tidak korup, Ahok bisa jadi tidak laku. Sekarang umat Islam sudah dikasih cagub Anies, yang bahkan menurut Anies dirinya pilihan tuhan, wong sudah diselamatkan dari upaya pembunuhan dalam kasus jatuhnya lift di Blok M. Kok tetap saja tidak yakin, bahwa Ahok akan kalah dalam coblosan putaran kedua? Kurang apa menderitanya Anies coba, jadi sasaran pembunuhan yang dirancang oleh yang menghendaki diri sebagai calon tunggal (siapa hayo jika bukan Ahok)? Bukankah kita selalu jatuh hati pada calon yang teraniaya atau didzalimi? Demikian kutbah Jumat kali ini, sebagai pembanding kutbah-kutbah di masjid-masjid yang lebih sering dipakai kampanye politik partisan para da’inya.
