Pada Kamis, 6 April 2017 6:43, May Swan <[email protected]> menulis:
 

 SURAT DARI SINGAPUR== REWARD & PUNISHMENT ==ByMAY SWANJudul surat kali ini 
“Reward & Punishment” sayapinjam dari ungkapan Bahasa Inggeris. Tidak saya 
ganti karena setelah berkalikali mencoba, belum berhasil menemui alih kata yang 
sama ataupun yang bersamaanartinya dan nuansa dalam Bahasa Indonesia. Tentunya 
ini bukan kesalahan BahasaIndonesia, tapi menunjukan kekurangan yang terdapat 
pada diri penulis.Seringkali dalam kehidupan sehari hari kita melihatsesuatu 
gejala yang jika dipikir lebih jauh, sebenarnya tidak masuk akal. Tapikarena 
demikian seringnya kita hadapi, maka tidak lagi terasa sebagi sesuatukejadian 
yang ganjil. Baik kita ambil contoh yang terdapat di Super Market.Tempat 
belanja yang paling sering dikunjungi masyarakat, umumnya selalu penuhsesak, 
terlebih pula pada hari hari dan waktu waktu tertentu. Customers 
mendorongtrolley penuh dengan barang pilihannya, ngantri panjang menunggu 
layanan darikasir. Pada waktu waktu tertentetu bisa ngantri lebih dari setengah 
jam barudapat kesempatan membayar. Terkadang cukup menjengkelkan, apa lagi 
kalaukebetulan ketemu dengan customer yang lambat mengeluarkan uang cash atau 
creditcard, mengorek ngorek isi handbag tidak juga ketemu. Ada lagi ketika 
maumembayar, tiba tiba teringat ada yang terlupa, maka kembali mencari barang 
yangia mau, sedangkan sang kasir terpaksa menunggu orang itu kembali. Yah, 
apaboleh buat, yang ngantri di belakang terpaksa turut menunggu. Super 
Marketbukan saja tempat berbelanja, juga tempat mengkaji kesabaran, 
toleransi.Sementara selalu ada disediakan seorang kasir yangtugasnya khusus 
hanya melayani customer yang barang belanjanya sedikit,ditentukan tidak lebih 
dari beberapa item misalnya. Peraturan ini ditulis dalamhuruf besar, dipasang 
ditempat yang mudah tampak oleh customer. MasyarakatSingapura umumnya terlatih 
patuh pada peraturan baik besar mau pun kecil, makaline yang satu ini selalu 
mulus jalannya, karena memang jarang orang datang keSuper Market hanya untuk 
membeli satu atau dua item. Kebanyakan customerberbelanja bahan dapur atau 
keperluan lainnya untuk seminggu, bukan untuksehari. Trolley mereka selalu 
penuh memumbung, maka tidak boleh bayar di line yangkhusus ini.Selanjutnya, 
kalau dipiker, Super Market itu, sepertijuga perusahaan mana pun, ujung 
ujungnya adalah profit oriented. Good services,pelayanan yang disediakan kepada 
customer juga berdasarkan profit orientedideology. Dalam dunia modern, open 
market economy kompetisi sangat meruncing,masing masing berusaha menarik 
customer dengan berbagai cara. Ini layak, samasekali tidak mengherankan. Yang 
mengherankan, situasi tersebut di Super Market,mengapa mereka yang berbelanja 
banyak diharuskan ngantri panjang, sedangkanyang berbelanja sedikit sebaliknya 
diberi kemudahan tersendiri. Dimanalogikanya? Bukankah ini terbalik menempatkan 
letaknya Reward & Punishment?Beberapa negara di Scandinavia, terlebih pula 
Swediasering dianggap oleh dunia Barat sebagai contoh kenegaraan yang paling 
berhasilsebagai negara welfare state. Kehidupan rakyat sangat terjamin, seorang 
anakdari lahir hingga usia 18 tahun dapat tunjangan hidup dari negara. 
Sekolahtidak bayar. Seluruh warga Swedia usia berapa pun tidak akan terlantar 
sepanjanghidupnya. Seluruh ongkos perobatan, termasuk beaya tinggal di rumah 
sakitterkecuali dentistry ditanggung oleh negara. Kalau tidak ada pekerjaan, 
tidakperlu kuatir; apa pun alasannya, akan tetap diberi tunjangan hidup yang 
memadai,cukup uang untuk makan dan tersedia rumah tinggal pula. Ketika 
meninggal, beayapemakaman pun ditanggung oleh pemerintah. Hidup tenang tanpa 
tekanan batin, tidak perlu susah payah banting tulangmencari nafkah seperti di 
kebanyakan negeri lain di dunia. Naah, mau apa lagi?Kalau hendak melihat sorga 
dunia, tahulah orang kemana ia harus menoleh. Maka tidaklah mengherankan ketika 
Donald Trumpmengatakan dalam sebuah political rally di Amerika, “Negeri aman 
sepertiSwedia, negeri yang selama ini dianggap sebagai model welfare state 
palingperfect di dunia, sekarang telah kacau balau, saban hari ada kasus 
perampokan,pembakaran, pembunuhan. Polisi dan ambulance tidak berani masuk ke 
daerah yangbermasalah seperti Marmo tanpa bantuan security lainnya.” Tentunya 
maksud Trumpbaik, memperingatkan Amerika perlu ada security control terhadap 
pendatang yangmasuk secara illegal, kalau tidak, risikonya akan sangat 
merugikan negara yangmenerimanya. Seperti biasa, Trump bicara blak blakan 
sebagaimana adanya. Tapiucapan Trump itu telah mengundang kontroversi sengit di 
sebagian kalanganpolitisi di Swedia. Reaksi pihak Swedia ini juga tidak 
mengherankan, karenadapat mempengaruh hasil polling di pemilihan umum nanti 
yang akandiselenggarakan pada tahun 2018. Jadi, yang terasa ganjil dalam sistim 
welfare statetersebut di Swedia itu apa? Bukan kah seluruh keperluan hidup 
warga menjaditanggung jawab negara, dan ini telah dilakukan oleh pemerintahnya, 
tercantumdalam konstitusi negara, tidak mudah diganggu gugat. Bukankah ini yang 
diidamidamkan banyak social activists di negeri berkembang? Baik. Hanya, kalau 
kitaperhatikan, pada hakikatnya, welfare state itu memberi Reward, berbagai 
kemudahankepada yang tidak bekerja, tidak berpenghasilan, dan sebaliknya 
menghukum yangbekerja melalui tingginya pembayaran pajak. Sekali lagi, 
menjungkil balikanReward & Punishment.Seperti sudah banyak diketahui umum, 
Singapura bukannegara yang berdasarkan welfare state policy. Kemudahan 
diberikan kepada yang berusaha bekerja keras memperbaiki kehidupanpribadi. 
Kemudahan juga berarti kesempatan mendirikan perusahaan dagang dipermudahdan 
trasparant, mengundang investors dari berbagai negara, tidak dihadangdengan 
pajak tinggi yang mencekik tumbuhnya private enterprise seperti diSwedia dan 
negara welfare state umumnya. Dalam menjalankan Reward &Punishment, kebijakan 
Singapura condong memberi reward kepada yang mau bekerja,mau berusaha, bukan 
sebaliknya.   

   

Kirim email ke