1. Reward and Punishment  bagaiman kalau diterjemhkan sebagai Ganjaran dan
Hukuman.
2. Di negeri Belanda, seperti di Albert Heyn, kalau pembeli sedikit, hanya
beberapa kassa dibuka.
    Kalau antrian kelihatan jadi panjang, beberapa kassa dibuka lagi. Di
samping itu, ada cara pembeli
    memakai alat dari toko, yang menghitung sendiri barang yang dibeli. Ini
melalui jalur lain, kadang2 diperiksa
    , kadang2 disuruh lewat saja.
3. Kalau suatu tempat sumber alamnya banyak, dan penghasilannya tinggi,
kelebihan penghasilan dibagikan
    kembali ke penduduk daerah itu. Ini terjadi di Amerika, di Alaska. Yang
mau jadi dokter di sana bayarannya
    lebih tinggi dari di tempat lain. Patientnya sedikit. Tetapi ya sepi.
Jadi mereka sering kumpul2 bikin kegiatan makan, nyanyi2.
    Kalau dipikir sumber alam, tanah air itu milik seluruh bangsa, hasilnya
kan pantes dibagi, paling tidak untuk sekolah
    Ada lebih lagi, untuk kesehatan, paling tidak untuk dirikan rumah2
sakit.
    Kalau negeri tidak punya sumber alam, ya tidak ada yang dapat
dibagikan. Semua harus kerja keras untuk hidup.
    Yang berpenghasilan banyak, dianggap banyak juga memakai fasilitas ,
jadi ada negeri yang membebani mereka
    dengan  pajak progressif.


2017-04-06 6:54 GMT+02:00 Chalik Hamid [email protected] [GELORA45] <
[email protected]>:

>
>
>
>
> Pada Kamis, 6 April 2017 6:43, May Swan <[email protected]> menulis:
>
>
> *SURAT DARI SINGAPUR*
> *== REWARD & PUNISHMENT ==*
> *By*
> *MAY SWAN*
> Judul surat kali ini “Reward & Punishment” saya pinjam dari ungkapan
> Bahasa Inggeris. Tidak saya ganti karena setelah berkali kali mencoba,
> belum berhasil menemui alih kata yang sama ataupun yang bersamaan artinya
> dan nuansa dalam Bahasa Indonesia. Tentunya ini bukan kesalahan Bahasa
> Indonesia, tapi menunjukan kekurangan yang terdapat pada diri penulis.
> Seringkali dalam kehidupan sehari hari kita melihat sesuatu gejala yang
> jika dipikir lebih jauh, sebenarnya tidak masuk akal. Tapi karena demikian
> seringnya kita hadapi, maka tidak lagi terasa sebagi sesuatu kejadian yang
> ganjil.
> Baik kita ambil contoh yang terdapat di Super Market. Tempat belanja yang
> paling sering dikunjungi masyarakat, umumnya selalu penuh sesak, terlebih
> pula pada hari hari dan waktu waktu tertentu. Customers mendorong trolley
> penuh dengan barang pilihannya, ngantri panjang menunggu layanan dari
> kasir. Pada waktu waktu tertentetu bisa ngantri lebih dari setengah jam
> baru dapat kesempatan membayar. Terkadang cukup menjengkelkan, apa lagi
> kalau kebetulan ketemu dengan customer yang lambat mengeluarkan uang cash
> atau credit card, mengorek ngorek isi handbag tidak juga ketemu. Ada lagi
> ketika mau membayar, tiba tiba teringat ada yang terlupa, maka kembali
> mencari barang yang ia mau, sedangkan sang kasir terpaksa menunggu orang
> itu kembali. Yah, apa boleh buat, yang ngantri di belakang terpaksa turut
> menunggu. Super Market bukan saja tempat berbelanja, juga tempat mengkaji
> kesabaran, toleransi.
> Sementara selalu ada disediakan seorang kasir yang tugasnya khusus hanya
> melayani customer yang barang belanjanya sedikit, ditentukan tidak lebih
> dari beberapa item misalnya. Peraturan ini ditulis dalam huruf besar,
> dipasang ditempat yang mudah tampak oleh customer. Masyarakat Singapura
> umumnya terlatih patuh pada peraturan baik besar mau pun kecil, maka line
> yang satu ini selalu mulus jalannya, karena memang jarang orang datang ke
> Super Market hanya untuk membeli satu atau dua item. Kebanyakan customer
> berbelanja bahan dapur atau keperluan lainnya untuk seminggu, bukan untuk
> sehari. Trolley mereka selalu penuh memumbung, maka tidak boleh bayar di
> line yang khusus ini.
> Selanjutnya, kalau dipiker, Super Market itu, seperti juga perusahaan mana
> pun, ujung ujungnya adalah profit oriented. Good services, pelayanan yang
> disediakan kepada customer juga berdasarkan profit oriented ideology. Dalam
> dunia modern, open market economy kompetisi sangat meruncing, masing masing
> berusaha menarik customer dengan berbagai cara. Ini layak, sama sekali
> tidak mengherankan. Yang mengherankan, situasi tersebut di Super Market,
> mengapa mereka yang berbelanja banyak diharuskan ngantri panjang, sedangkan
> yang berbelanja sedikit sebaliknya diberi kemudahan tersendiri. Dimana
> logikanya? Bukankah ini terbalik menempatkan letaknya Reward & Punishment?
> Beberapa negara di Scandinavia, terlebih pula Swedia sering dianggap oleh
> dunia Barat sebagai contoh kenegaraan yang paling berhasil sebagai negara
> welfare state. Kehidupan rakyat sangat terjamin, seorang anak dari lahir
> hingga usia 18 tahun dapat tunjangan hidup dari negara. Sekolah tidak
> bayar. Seluruh warga Swedia usia berapa pun tidak akan terlantar sepanjang
> hidupnya. Seluruh ongkos perobatan, termasuk beaya tinggal di rumah sakit
> terkecuali dentistry ditanggung oleh negara. Kalau tidak ada pekerjaan,
> tidak perlu kuatir; apa pun alasannya, akan tetap diberi tunjangan hidup
> yang memadai, cukup uang untuk makan dan tersedia rumah tinggal pula.
> Ketika meninggal, beaya pemakaman pun ditanggung oleh pemerintah.  Hidup
> tenang tanpa tekanan batin, tidak perlu susah payah banting tulang mencari
> nafkah seperti di kebanyakan negeri lain di dunia. Naah, mau apa lagi?
> Kalau hendak melihat sorga dunia, tahulah orang kemana ia harus menoleh.
> Maka tidaklah mengherankan ketika Donald Trump mengatakan dalam sebuah
> political rally di Amerika, “Negeri aman seperti Swedia, negeri yang selama
> ini dianggap sebagai model welfare state paling perfect di dunia, sekarang
> telah kacau balau, saban hari ada kasus perampokan, pembakaran, pembunuhan.
> Polisi dan ambulance tidak berani masuk ke daerah yang bermasalah seperti
> Marmo tanpa bantuan security lainnya.” Tentunya maksud Trump baik,
> memperingatkan Amerika perlu ada security control terhadap pendatang yang
> masuk secara illegal, kalau tidak, risikonya akan sangat merugikan negara
> yang menerimanya. Seperti biasa, Trump bicara blak blakan sebagaimana
> adanya. Tapi ucapan Trump itu telah mengundang kontroversi sengit di
> sebagian kalangan politisi di Swedia. Reaksi pihak Swedia ini juga tidak
> mengherankan, karena dapat mempengaruh hasil polling di pemilihan umum
> nanti yang akan diselenggarakan pada tahun 2018.
> Jadi, yang terasa ganjil dalam sistim welfare state tersebut di Swedia itu
> apa? Bukan kah seluruh keperluan hidup warga menjadi tanggung jawab negara,
> dan ini telah dilakukan oleh pemerintahnya, tercantum dalam konstitusi
> negara, tidak mudah diganggu gugat. Bukankah ini yang diidam idamkan banyak
> social activists di negeri berkembang? Baik. Hanya, kalau kita perhatikan,
> pada hakikatnya, welfare state itu memberi Reward, berbagai kemudahan
> kepada yang tidak bekerja, tidak berpenghasilan, dan sebaliknya menghukum
> yang bekerja melalui tingginya pembayaran pajak. Sekali lagi, menjungkil
> balikan Reward & Punishment.
> Seperti sudah banyak diketahui umum, Singapura bukan negara yang
> berdasarkan welfare state policy. Kemudahan diberikan kepada yang
> berusaha bekerja keras memperbaiki kehidupan pribadi. Kemudahan juga
> berarti kesempatan mendirikan perusahaan dagang dipermudah dan trasparant,
> mengundang investors dari berbagai negara, tidak dihadang dengan pajak
> tinggi yang mencekik tumbuhnya private enterprise seperti di Swedia dan
> negara welfare state umumnya. Dalam menjalankan Reward & Punishment,
> kebijakan Singapura condong memberi reward kepada yang mau bekerja, mau
> berusaha, bukan sebaliknya.
>
>
>
>
> 
>

Kirim email ke