Soal 'welfare state', ada baiknya juga diingat dan dianalisa sebab atau asal
muasal lahirnya "welfare state" itu. Itu berhubungan dengan keadaan setelah
Perang Dunia Kedua dan Soviet Uni sebagai unsur pokok dalam mengalahkan
Fascisme Hitler serta lahirnya kubu sosialis di Eropa Timur. Jangan lupa
kucuran bantuan "Marshal Plan" untuk membangun kembali Eropa dengan maksud
membendung pengaruh sosialisme di negeri-negeri di mana pengaruh dan
partisipasi kaum komunis besar dalam perlawanan terhadap fascisme, seperti
misalnya Perancis dan Italia.
Kedua, jangan melupakan siapa yang turut menyangga "welfare state" ini, di
samping penghisapan terhadap rakyatnya sendiri (banyak yang tidak "merasa"
dihisap karena diimbangi dengan kehidupan yang makmur dibanding dengan
kehidupan rakyat Dunia Ketiga seperti Indonesia), juga penghisapan terhadap
rakyat negeri-negeri Dunia Ketiga melalui investasi modalnya yang mengeruk
keuntungan raksasa karena tenaga kerja murah dan praktis "dibolehkan'
mengotori lingkungan tanpa bayar apa-apa. Ingat siapa yang bikin produk yang
dijual IKEA!! Designnya memang dari Swedia tapi yang kerja kongkrit
menghasilkan produknya banyak di negeri-negeri dunia ketiga yang selalu
menerapkan politk upah buruh murah!! Ada baiknya diselidiki berapa profit yang
dikeruk para pemilik/pemengang saham IKEA!!
Ketiga, jangan berasumsi bahwa mereka yang nganggur merasa senang dan bahagia
hidup dengan menerima tunjangan pemerintah. Sudah tentu akan ada selalu orang
yang malas dan tidak mau kerja. Tetapi jangan lupa mayoritas orang ingin hidup
dengan rasa harga diri sebagai manusia yang berguna bagi masyarakat, bukan
menerima "sedekah". Orang yang tidak punya pekerjaan berarti juga terpisah dan
terpinggirkan dari masyarakat. Perlahan-lahan rasa harga dirinya menurun. Di
Belanda, pemerintah sangat mendorong orang yang pensiunan dan penganggur untuk
bekerja secara suka rela "vrijwillig". Dan memang banyak orang yang dengan
senang melakukannya. Justru karena mereka tidak senang "menganggur"! Sebetulnya
itu adalah juga mekanisme penghisapan yang terselubung! Orang yang mendapat
tunjangan sangat banyak syarat dan kontrolnya. Lain dengan orang yang punya
pekerjaan dan pendapatan sendiri. Jadi jangan berasumsi bahwa mereka yang hidup
dari tunjangan karena tidak ada pekerjaan merasa mendapat "reward" dan merasa
beruntung dan berbahagia dengan kehidupannya!! Pandangan yang menghina,
meremehkan dan merendahkan orang yang hidup dari tunjangan adalah pandangan
yang reaksioner!! Pandangan ini juga yang didorong oleh Pemerintah "welfare"
seperti Belanda. Mereka yang menganggur selalu disalahkan, dianggap tidak cukup
berusaha untuk cari pekerjaan, dianggap tidak cukup bertanggung jawab atas
kehidupannya, dianggap malas, etc. Orang yang berumur 50 tahun keatas harus
terus bikin surat permohonan pekerjaan, padahal pekerjaan sulit didapat. Memang
dalam bidang tertentu masih banyak pekerjaan, seperti di rumah sakit, rumah
jompo, tapi dengan upah rendah, tanpa jaminan sosial, kondisi kerja sangat
tidak stabil..Itulah yang dinamakan kontrak Zero UUR (kontrak 0 jam!). Sekarang
ini SANGAT SULIT SEKALI mendapat pekerjaan tetap!! Makanya banyak anak muda
yang berdiploma dan punya pekerjaan, tapi karena tidak stabil, sewaktu-waktu
bisa dikeluarkan atau tidak diperpanjang kontraknya, maka tidak bisa hidup
independen, meninggalkan rumah orang tuanya...
Selidiki dulu keadaan kongkrit kehidupan para penganggur, para penerima
tunjangan di negeri "welfare state" baru bikin judgement!!
On Thursday, April 6, 2017 8:21 AM, "kh djie [email protected] [GELORA45]"
<[email protected]> wrote:
1. Reward and Punishment bagaiman kalau diterjemhkan sebagai Ganjaran dan
Hukuman.2. Di negeri Belanda, seperti di Albert Heyn, kalau pembeli sedikit,
hanya beberapa kassa dibuka. Kalau antrian kelihatan jadi panjang, beberapa
kassa dibuka lagi. Di samping itu, ada cara pembeli memakai alat dari toko,
yang menghitung sendiri barang yang dibeli. Ini melalui jalur lain, kadang2
diperiksa , kadang2 disuruh lewat saja.3. Kalau suatu tempat sumber alamnya
banyak, dan penghasilannya tinggi, kelebihan penghasilan dibagikan kembali
ke penduduk daerah itu. Ini terjadi di Amerika, di Alaska. Yang mau jadi dokter
di sana bayarannya lebih tinggi dari di tempat lain. Patientnya sedikit.
Tetapi ya sepi. Jadi mereka sering kumpul2 bikin kegiatan makan, nyanyi2.
Kalau dipikir sumber alam, tanah air itu milik seluruh bangsa, hasilnya kan
pantes dibagi, paling tidak untuk sekolah Ada lebih lagi, untuk kesehatan,
paling tidak untuk dirikan rumah2 sakit. Kalau negeri tidak punya sumber
alam, ya tidak ada yang dapat dibagikan. Semua harus kerja keras untuk hidup.
Yang berpenghasilan banyak, dianggap banyak juga memakai fasilitas , jadi ada
negeri yang membebani mereka dengan pajak progressif.
2017-04-06 6:54 GMT+02:00 Chalik Hamid [email protected] [GELORA45]
<[email protected]>:
Pada Kamis, 6 April 2017 6:43, May Swan <[email protected]> menulis:
SURAT DARI SINGAPUR== REWARD & PUNISHMENT ==ByMAY SWANJudul surat kali ini
“Reward & Punishment” sayapinjam dari ungkapan Bahasa Inggeris. Tidak saya
ganti karena setelah berkalikali mencoba, belum berhasil menemui alih kata yang
sama ataupun yang bersamaanartinya dan nuansa dalam Bahasa Indonesia. Tentunya
ini bukan kesalahan BahasaIndonesia, tapi menunjukan kekurangan yang terdapat
pada diri penulis.Seringkali dalam kehidupan sehari hari kita melihatsesuatu
gejala yang jika dipikir lebih jauh, sebenarnya tidak masuk akal. Tapikarena
demikian seringnya kita hadapi, maka tidak lagi terasa sebagi sesuatukejadian
yang ganjil. Baik kita ambil contoh yang terdapat di Super Market.Tempat
belanja yang paling sering dikunjungi masyarakat, umumnya selalu penuhsesak,
terlebih pula pada hari hari dan waktu waktu tertentu. Customers
mendorongtrolley penuh dengan barang pilihannya, ngantri panjang menunggu
layanan darikasir. Pada waktu waktu tertentetu bisa ngantri lebih dari setengah
jam barudapat kesempatan membayar. Terkadang cukup menjengkelkan, apa lagi
kalaukebetulan ketemu dengan customer yang lambat mengeluarkan uang cash atau
creditcard, mengorek ngorek isi handbag tidak juga ketemu. Ada lagi ketika
maumembayar, tiba tiba teringat ada yang terlupa, maka kembali mencari barang
yangia mau, sedangkan sang kasir terpaksa menunggu orang itu kembali. Yah,
apaboleh buat, yang ngantri di belakang terpaksa turut menunggu. Super
Marketbukan saja tempat berbelanja, juga tempat mengkaji kesabaran,
toleransi.Sementara selalu ada disediakan seorang kasir yangtugasnya khusus
hanya melayani customer yang barang belanjanya sedikit,ditentukan tidak lebih
dari beberapa item misalnya. Peraturan ini ditulis dalamhuruf besar, dipasang
ditempat yang mudah tampak oleh customer. MasyarakatSingapura umumnya terlatih
patuh pada peraturan baik besar mau pun kecil, makaline yang satu ini selalu
mulus jalannya, karena memang jarang orang datang keSuper Market hanya untuk
membeli satu atau dua item. Kebanyakan customerberbelanja bahan dapur atau
keperluan lainnya untuk seminggu, bukan untuksehari. Trolley mereka selalu
penuh memumbung, maka tidak boleh bayar di line yangkhusus ini.Selanjutnya,
kalau dipiker, Super Market itu, sepertijuga perusahaan mana pun, ujung
ujungnya adalah profit oriented. Good services,pelayanan yang disediakan kepada
customer juga berdasarkan profit orientedideology. Dalam dunia modern, open
market economy kompetisi sangat meruncing,masing masing berusaha menarik
customer dengan berbagai cara. Ini layak, samasekali tidak mengherankan. Yang
mengherankan, situasi tersebut di Super Market,mengapa mereka yang berbelanja
banyak diharuskan ngantri panjang, sedangkanyang berbelanja sedikit sebaliknya
diberi kemudahan tersendiri. Dimanalogikanya? Bukankah ini terbalik menempatkan
letaknya Reward & Punishment?Beberapa negara di Scandinavia, terlebih pula
Swediasering dianggap oleh dunia Barat sebagai contoh kenegaraan yang paling
berhasilsebagai negara welfare state. Kehidupan rakyat sangat terjamin, seorang
anakdari lahir hingga usia 18 tahun dapat tunjangan hidup dari negara.
Sekolahtidak bayar. Seluruh warga Swedia usia berapa pun tidak akan terlantar
sepanjanghidupnya. Seluruh ongkos perobatan, termasuk beaya tinggal di rumah
sakitterkecuali dentistry ditanggung oleh negara. Kalau tidak ada pekerjaan,
tidakperlu kuatir; apa pun alasannya, akan tetap diberi tunjangan hidup yang
memadai,cukup uang untuk makan dan tersedia rumah tinggal pula. Ketika
meninggal, beayapemakaman pun ditanggung oleh pemerintah. Hidup tenang tanpa
tekanan batin, tidak perlu susah payah banting tulangmencari nafkah seperti di
kebanyakan negeri lain di dunia. Naah, mau apa lagi?Kalau hendak melihat sorga
dunia, tahulah orang kemana ia harus menoleh. Maka tidaklah mengherankan ketika
Donald Trumpmengatakan dalam sebuah political rally di Amerika, “Negeri aman
sepertiSwedia, negeri yang selama ini dianggap sebagai model welfare state
palingperfect di dunia, sekarang telah kacau balau, saban hari ada kasus
perampokan,pembakaran, pembunuhan. Polisi dan ambulance tidak berani masuk ke
daerah yangbermasalah seperti Marmo tanpa bantuan security lainnya.” Tentunya
maksud Trumpbaik, memperingatkan Amerika perlu ada security control terhadap
pendatang yangmasuk secara illegal, kalau tidak, risikonya akan sangat
merugikan negara yangmenerimanya. Seperti biasa, Trump bicara blak blakan
sebagaimana adanya. Tapiucapan Trump itu telah mengundang kontroversi sengit di
sebagian kalanganpolitisi di Swedia. Reaksi pihak Swedia ini juga tidak
mengherankan, karenadapat mempengaruh hasil polling di pemilihan umum nanti
yang akandiselenggarakan pada tahun 2018. Jadi, yang terasa ganjil dalam sistim
welfare statetersebut di Swedia itu apa? Bukan kah seluruh keperluan hidup
warga menjaditanggung jawab negara, dan ini telah dilakukan oleh pemerintahnya,
tercantumdalam konstitusi negara, tidak mudah diganggu gugat. Bukankah ini yang
diidamidamkan banyak social activists di negeri berkembang? Baik. Hanya, kalau
kitaperhatikan, pada hakikatnya, welfare state itu memberi Reward, berbagai
kemudahankepada yang tidak bekerja, tidak berpenghasilan, dan sebaliknya
menghukum yangbekerja melalui tingginya pembayaran pajak. Sekali lagi,
menjungkil balikanReward & Punishment.Seperti sudah banyak diketahui umum,
Singapura bukannegara yang berdasarkan welfare state policy. Kemudahan
diberikan kepada yang berusaha bekerja keras memperbaiki kehidupanpribadi.
Kemudahan juga berarti kesempatan mendirikan perusahaan dagang dipermudahdan
trasparant, mengundang investors dari berbagai negara, tidak dihadangdengan
pajak tinggi yang mencekik tumbuhnya private enterprise seperti diSwedia dan
negara welfare state umumnya. Dalam menjalankan Reward &Punishment, kebijakan
Singapura condong memberi reward kepada yang mau bekerja,mau berusaha, bukan
sebaliknya.
#yiv7189507920 #yiv7189507920 -- #yiv7189507920ygrp-mkp {border:1px solid
#d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv7189507920
#yiv7189507920ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv7189507920
#yiv7189507920ygrp-mkp #yiv7189507920hd
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px
0;}#yiv7189507920 #yiv7189507920ygrp-mkp #yiv7189507920ads
{margin-bottom:10px;}#yiv7189507920 #yiv7189507920ygrp-mkp .yiv7189507920ad
{padding:0 0;}#yiv7189507920 #yiv7189507920ygrp-mkp .yiv7189507920ad p
{margin:0;}#yiv7189507920 #yiv7189507920ygrp-mkp .yiv7189507920ad a
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv7189507920 #yiv7189507920ygrp-sponsor
#yiv7189507920ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv7189507920
#yiv7189507920ygrp-sponsor #yiv7189507920ygrp-lc #yiv7189507920hd {margin:10px
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv7189507920
#yiv7189507920ygrp-sponsor #yiv7189507920ygrp-lc .yiv7189507920ad
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv7189507920 #yiv7189507920actions
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv7189507920
#yiv7189507920activity
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv7189507920
#yiv7189507920activity span {font-weight:700;}#yiv7189507920
#yiv7189507920activity span:first-child
{text-transform:uppercase;}#yiv7189507920 #yiv7189507920activity span a
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv7189507920 #yiv7189507920activity span
span {color:#ff7900;}#yiv7189507920 #yiv7189507920activity span
.yiv7189507920underline {text-decoration:underline;}#yiv7189507920
.yiv7189507920attach
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px
0;width:400px;}#yiv7189507920 .yiv7189507920attach div a
{text-decoration:none;}#yiv7189507920 .yiv7189507920attach img
{border:none;padding-right:5px;}#yiv7189507920 .yiv7189507920attach label
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv7189507920 .yiv7189507920attach label a
{text-decoration:none;}#yiv7189507920 blockquote {margin:0 0 0
4px;}#yiv7189507920 .yiv7189507920bold
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv7189507920
.yiv7189507920bold a {text-decoration:none;}#yiv7189507920 dd.yiv7189507920last
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv7189507920 dd.yiv7189507920last p
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv7189507920
dd.yiv7189507920last p span.yiv7189507920yshortcuts
{margin-right:0;}#yiv7189507920 div.yiv7189507920attach-table div div a
{text-decoration:none;}#yiv7189507920 div.yiv7189507920attach-table
{width:400px;}#yiv7189507920 div.yiv7189507920file-title a, #yiv7189507920
div.yiv7189507920file-title a:active, #yiv7189507920
div.yiv7189507920file-title a:hover, #yiv7189507920 div.yiv7189507920file-title
a:visited {text-decoration:none;}#yiv7189507920 div.yiv7189507920photo-title a,
#yiv7189507920 div.yiv7189507920photo-title a:active, #yiv7189507920
div.yiv7189507920photo-title a:hover, #yiv7189507920
div.yiv7189507920photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv7189507920
div#yiv7189507920ygrp-mlmsg #yiv7189507920ygrp-msg p a
span.yiv7189507920yshortcuts
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv7189507920
.yiv7189507920green {color:#628c2a;}#yiv7189507920 .yiv7189507920MsoNormal
{margin:0 0 0 0;}#yiv7189507920 o {font-size:0;}#yiv7189507920
#yiv7189507920photos div {float:left;width:72px;}#yiv7189507920
#yiv7189507920photos div div {border:1px solid
#666666;height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv7189507920
#yiv7189507920photos div label
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv7189507920
#yiv7189507920reco-category {font-size:77%;}#yiv7189507920
#yiv7189507920reco-desc {font-size:77%;}#yiv7189507920 .yiv7189507920replbq
{margin:4px;}#yiv7189507920 #yiv7189507920ygrp-actbar div a:first-child
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv7189507920 #yiv7189507920ygrp-mlmsg
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv7189507920
#yiv7189507920ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv7189507920
#yiv7189507920ygrp-mlmsg select, #yiv7189507920 input, #yiv7189507920 textarea
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv7189507920
#yiv7189507920ygrp-mlmsg pre, #yiv7189507920 code {font:115%
monospace;}#yiv7189507920 #yiv7189507920ygrp-mlmsg *
{line-height:1.22em;}#yiv7189507920 #yiv7189507920ygrp-mlmsg #yiv7189507920logo
{padding-bottom:10px;}#yiv7189507920 #yiv7189507920ygrp-msg p a
{font-family:Verdana;}#yiv7189507920 #yiv7189507920ygrp-msg
p#yiv7189507920attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv7189507920
#yiv7189507920ygrp-reco #yiv7189507920reco-head
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv7189507920 #yiv7189507920ygrp-reco
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv7189507920 #yiv7189507920ygrp-sponsor
#yiv7189507920ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv7189507920
#yiv7189507920ygrp-sponsor #yiv7189507920ov li
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv7189507920
#yiv7189507920ygrp-sponsor #yiv7189507920ov ul {margin:0;padding:0 0 0
8px;}#yiv7189507920 #yiv7189507920ygrp-text
{font-family:Georgia;}#yiv7189507920 #yiv7189507920ygrp-text p {margin:0 0 1em
0;}#yiv7189507920 #yiv7189507920ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv7189507920
#yiv7189507920ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none
!important;}#yiv7189507920