13:21 WIB - Sabtu , 08 April 2017

 
 Rosidi https://beritagar.id/penulis/rosidi
 
 Berebut berkah dari pegunungan Kendeng 
https://beritagar.id/artikel/laporan-khas/berebut-berkah-dari-pegunungan-kendeng
 

 Keterangan Gambar : Salah satu sudut Pegunungan Kendeng di wilayah Kecamatan 
Sukolilo. Foto diambil Rabu (29/3/2017). © Kontributor Beritagar / Rosidi

 

 Pembangunan pabrik semen di Rembang masih pro-kontra. Pemerintah diminta 
hati-hati. Apa dampaknya jika salah ambil keputusan?

 

 Kendati airnya tidak cukup jernih lantaran hujan, beberapa warga nampak asyik 
mandi di Sendang Jibing di Desa Prawoto, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati. 
Gemericik air mengalir tiada henti dari atas pegunungan. Itu adalah sumber mata 
air utama warga Desa Prawoto untuk berbagai keperluan sehari-hari, baik untuk 
memasak, mandi, mencuci pakaian, dan juga untuk mengelola lahan pertanian.
 Sendang ini baru sekitar empat tahun lalu dibangun pemerintah Pati. Pemerintah 
menjadikan sendang itu sebagai salah satu tujuan wisata. Warga sekitar sendang 
gembira karena mereka bisa berdagang di sekitarnya.
 Sendang Jibing, bukan satu-satunya sumber mata air di Pegunungan Kendeng yang 
berada di Desa Prawoto, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati. Menurut Ali Mahmudi 
(53) warga desa itu, ada beberapa mata air lain yang ada di desanya itu.
 "Ada Sendang Soko, Sendang Widodaren, Sendang Palungan, Sendang Beji, Sendang 
Bebek, dan Sendang Kuasen. Namun yang terbesar, Sendang Jibing,'' ujarnya, Rabu 
(29/3/2017).
 Karena air melimpah, warga desa tak perlu menggali sumur. Untuk kebutuhan 
sehari-hari, mereka cukup mengalirkan air yang melimpah itu ke rumah-rumah, 
tempat ibadah dan kantor pemerintahan desa, melalui peralon yang ditata rapi.
 Umi Kulsum (52), warga lainnya bercerita, melimpahnya sumber air itu sudah ada 
sejak ia kecil. "Toyo sendang mriki, mboten nate telas. (Airnya tidak pernah 
habis)," ujarnya.
 Sumber mata air itu tetap terjaga sampai sekarang, karena hutan pohon jati di 
kawasan itu masih terjaga. "Selagine alase tasih sae, sumber nggih sae. (Asal 
hutannya masih bagus, sumber mata air juga melimpah),'' tuturnya.
 Karena itu, kelestarian hutan menjadi kunci bagi kelestarian mata air di Desa 
Prawoto dan Pegunungan Kendeng secara umum.
 "Menjadi berbahaya jika Gunung Kendeng dieksplotasi (ditambang) atau 
dialihfungsikan karena berdampak pada sumber," kata warga lainnya Ahmad Munikan 
(35).
 Bergantungnya warga pada sumber mata air Pegunungan Kendeng ini juga bisa 
dilihat di Desa Mojoagung, Kecamatan Pucakwangi, Kabupaten Pati.
 Mojoagung terbilang desa yang sangat indah. Alam pegunungan dengan aneka 
tanaman penduduk di sawah dan ladang melengkapi keindahan Pegunungan Kendeng 
yang terhampar luas.
 Sunarto (53), Ketua RT 01 RW IV Desa Mojoagung menyampaikan, untuk kebutuhan 
air sehari-hari, warga yang rata-rata berprofesi sebagai petani dan peternak, 
ini bergantung pada sumber mata air Gunung Kendeng.
 
 Warga mandi di Sendang Jibing, salah satu sumber mata air di Desa Prawoto, 
Kecamatan Sukolilo, Pati, Rabu (29/3/2017). © Rosidi /Kontributor Beritagar 
"Kali mriki sumbere saking pegunungan. Banyune sae. (Sungai di sini airnya dari 
pegunungan. Airnya bagus)."

 Dari air pegunungan inilah, para petani bisa menanam padi hingga dua kali 
panen. Sedang untuk memenuhi kebutuhan air minum, dibuatkan Pamsimas. "Warga 
namung iuran kangge perawatan Pamsimas. (Warga hanya ditarik iuran untuk 
perawatan Pamsimas),'' ungkapnya.
 Karst kawasan lindung
 Pegunungan Kendeng Utara yang membentang dari Kabupaten Kudus, Jawa Tengah 
hingga Kabupaten Tuban Jawa Timur, merupakan kawasan karst, memiliki kekayaan 
melimpah berupa sumber mata air dan gua-gua.
 Subarkah, akademisi Universitas Muria Kudus (UMK) menuturkan, bentang alam 
karst Kendeng Utara tercermin melalui banyaknya bukit-bukit kapur, munculnya 
mata air-mata air pada rekahan bebatuan, dan mengalirnya sungai-sungai bawah 
tanah dengan lorong gua sebagai koridornya.
 Menurut Husaini, koordinator Program Manajemen Bencana dari Yayasan Society 
for Health, Education, Environment and Peace (SHEEP) Indonesia, menurunnya daya 
dukung Pegunungan Kendeng, sudah tampak sejak 2010 lalu. Tandanya, terjadinya 
bencana banjir di sekitaran Pati Kota dan Kecamatan Kayen.
 "Mulai 2012, banjir sering terjadi, sampai sekarang. Ini menandakan daya 
tampung Pegunungan Kendeng terhadap air kian melemah," ujarnya.
 Selain mengakibatkan banjir, kerusakan Pegunungan Kendeng juga akan berdampak 
pada sungai-sungai yang ada di sekitarnya. Menurut Husaini, ada tujuh sungai 
besar di wilayah Kendeng Pati dan 33 sungai kecil, yang pasokan airnya 
bergantung pada Pegunungan Kendeng.
 "Kawasan Kendeng di kabupaten/kota lain, tak terkecuali Kabupaten Rembang, 
akan mengalami hal serupa (banjir), jika gunungnya rusak," ujar mantan 
koordinator Yayasan SHEEP Indonesia untuk Jawa Tengah ini.
 Karena itu, baginya, pelestarian Pegunungan Kendeng, adalah hal yang sangat 
penting untuk diperhatikan. Sebab, kerugian masyarakat akan lebih besar jika 
dibandingkan dengan keuntungan investasi yang dihasilkan.
 "Bicara kendeng itu tidak sekadar soal kawasan karst atau tidak karst, juga 
soal Daerah Aliran Sungai (DAS)," ujarnya.
 Dia melihat, keberadaan DAS ini sangat penting, karena rata-rata air dari 
sungai-sungai yang ada di sekitar Pegunungan Kendeng, dimanfaatkan untuk 
pertanian dan kebutuhan rumah tangga seperti mandi, mencuci, dan mencari ikan.
 ''Tak sedikit warga di sekitar DAS di sekitar Pegunungan Kendeng, yang 
berprofesi sebagai nelayan sungai, khususnya di wilayah Kecamatan Gabus sampai 
Kecamatan Juwana," katanya.
 Kawasan karst Pegunungan Kendeng yang merupakan kawasan lindungpun 
mestinyatidak boleh digunakan untuk budi daya, baik untuk pertanian, tambang, 
maupun lainnya. Jika dibuka untuk pertanian, misalnya, maka akan mempercepat 
sedimentasi sungai dan anak sungai yang ada. Buntutnya, banjir tidak akan 
terhindari.
 
 Cahyo Rahmadi, peneliti Pusat Penelitian Zoologi Lembaga Ilmu Pengetahuan 
Indonesia (LIPI) di kantornya kawasan Cibinong, Kamis (6/4/2017). © Wisnu Agung 
Prasetyo /Beritagar Peneliti LIPI Cahyo Rahmadi: Pabrik semen di Jawa sudah 
cukup
 Karts nyaris identik dengan semen. Sebab, batuan ini memang menjadi bahan 
utamanya. Namun bagi sebagian warga yang tinggal di kawasan karst, batuan ini 
adalah simbol kehidupan. Dari karst ini mereka bisa menemukan air untuk 
kebutuhan hidup sehari-hari dan bercocok tanam. 

 Sejauh ini, menurut peneliti Pusat Penelitian Zoologi LIPI, Dr. Cahyo Rahmadi, 
informasi tentang karst dan sungai bawah tanah yang ada sangat minim. 
Akibatnya, jika menemukan gua kering itu dianggap tidak penting dan boleh 
ditambang.
 Padahal untuk menambang, perlu dilakukan kajian yang amat mendalam. "Jika 
salah, dampaknya fatal. Karts suatu kawasan memang bisa dimanfaatkan tapi tidak 
bisa diperbarui," ujar Cahyo kepada tim Beritagar.id yang menemui di kantornya, 
Kamis (6/4/2017).
 Tak hanya fasih bicara karst, ia juga lantang bicara soal lingkungan. Berikut 
petikan wawancaranya:
 Apakah benar ekplorasi terhadap karst itu akan mematikan pasokan air? 
Menurut saya, secara umum kawasan karst di Indonesia itu minim informasi 
mengenai sistem informasi sungai bawah tanah.
 Yang kedua, ketika suatu kawasan ingin di eksploitasi kajian-kajian tentang 
aspek-aspek keguaannya masih permukaan, tidak sampai mendalam. Asal gua kering, 
dianggap tidak penting, sehingga dianggap tidak masalah untuk ditambang. Jadi 
yang dilihat hanya fisiknya.
 Padahal ketika masuk ke ekosistem lingkungan, nilai fisik hanyalah sebagian 
kecil. Belum memandang kawasan karst sebagai ruang hidup, interaksi antara 
fisik, biotik, dan hubungan keduanya. Kalau mau fair kita harus melihat secara 
utuh.
 Layaknya rumah, kalau kosong enggak ada orangnya ya tinggal gusur aja, tapi 
kalau melihat rumah tersebut sebagai ruang untuk kita tinggal, berarti kita 
harus memperhatikan ada elemen yang memanfaatkan itu sebagai ruang hidup.
 Gua kering karst yang tidak memiliki sungai bawah tanah, di situ tempat hidup 
kelelawar, hewan-hewan anthropoda seperti kalajengking, jangkrik, dan 
kawan-kawannya. Membentuk satu kesatuan jaring-jaring makanan.
 Kalau prinsip ini diperhatikan dalam konteks pengelolaan kawasan karst saya 
yakin semua orang akan melihat secara objektif, tidak hanya sebagai komoditas 
industri.
 Dan ketika kita bicara air, kenyataannya air itu keluar dari gunung. Kalau 
suatu kawasan karst ini memiliki sawah-sawah di sekelilingnya dengan potensi 
besar, maka ketika ada ancaman jelas membuat penduduk di sekitar cemas. Prinsip 
awalnya, ketika memanfaatkan suatu sumber daya alam, otomatis kita sudah 
mengganggu atau menghilangkan keseimbangan kawasan tersebut. Jadi please deh, 
jangan bilang tidak akan mengganggu.
 Jika tadinya masyarakat bisa menikmati air secara langsung lalu karena ada 
pembangunan pabrik mereka dijanjikan akan dipasok airnya. Mau sampai kapan? 
Bagaimana jika pabrik itu nanti sudah selesai mengekplorasi? Siapa yang akan 
menyuplai?
 Karst kita memang kualitasnya bagus?
Kalau bicara kualitas, batu gamping yang sudah mengalami proses pelarutan air 
justru kualitas bagus untuk pemanfaatan lebih jauh, seperti untuk kosmetik, 
cat, dan lainnya. Karena (hasil tambangnya) tidak berhenti di industri semen 
saja.
 Sementara kita belum benar-benar melihat kawasan karst sebagai aset yang harus 
dilindungi hanya melihat sebagai aset yang bisa dimanfaatkan.
 Perlindungan tidak semata-mata untuk kepastian hukum, sudah dilindungi. You 
tidak boleh pakai, bukan itu, tapi lebih kepada bagaimana fungsi yang ada di 
dalamnya tetap bisa berlanjut, seperti untuk penyedia air, rumah kelelawar 
sebagai membantu ekosistem dalam konteks pengendalian hama, penyakit, penyerbuk 
tanaman mangrove misalnya.
 Anda pernah meneliti efek lingkungan dari kawasan yang ada pabriknya?
Saya punya pengalaman di Tuban pada 2007, pasca beroperasinya pabrik semen di 
sana. Memang ada beberapa gua yang pas persis berbatasan dengan lokasi tambang. 
Kalau dari sisi kualitas lingkungan, jelas berbeda dengan lokasi tambang.
 Waktu 2004 di Maros Sulawesi Selatan juga. Ketika mengkaji keberagaman hewan 
permukaan tanah dengan membandingkan hutan alami dengan lokasi terbuka atas 
pemanfaatan. Ya beda, dari sisi biologi kalau di hutan misal melihat komposisi 
hewan masih wajar tidak ada yang dominan.
 Begitu pindah ke lokasi terbuka untuk pabrik, ada gap yang sangat besar dari 
sisi keanekaragaman jenis, juga dominasi salah satu spesies. Itu artinya ada 
yang salah di situ. Kita punya indikator komposisi alami.
 Saya sudah menginventarisasikan gua-gua yang ada di Jawa. Masih ditemukan 
beberapa spesies baru. Di Cibinong spesies udang-udangan, stenaselus; Sukabumi 
satu; Cibadak satu; spesies kalacemeti beberapa jenis baru, ada tiga di 
Sangkulirang Kaltim.
 Saya dapat satu spesies laba-laba gua, di Jonggrangan. Di Malang, memperoleh 
kepiting yang selama ini hanya diketahui ada di Gunung Sewu, tapi saya yakin 
jenisnya berbeda.
 Saat ini juga ada dua spesies kepiting yang dinyatakan IUCN red list terancam 
punah, ada di gua Nusa Penida, hanya ada di situ di tempat lain tidak ada.
 Saya mengibaratkan, memasuki gua di Indonesia itu masih menyimpan banyak 
potensi jenis-jenis yang belum diketahui sebelumnya.
 Dari sisi fisik, ada beberapa studi LIPI Bandung yang menyebutkan bahwa suatu 
lokasi penambangan di Jawa memiliki kemampuan menyerap yang berbeda jauh dengan 
yang alami. Dapat dikatakan misal alami 55mm per jam kemampuan air terserap, 
begitu di tambang hanya tinggal 1mm per jam, cuma menggenang. Sisanya? Run off.
 Apakah gua itu identik dengan pegunungan karst?
Iya salah satunya, tapi tidak selalu gua berada di kawasan karst. 
Spesies-spesies memang muncul di kawasan karst
 Yang sudah beradaptasi biasanya memiliki sebaran yang amat sempit, hanya di 
satu dua gua atau satu kawasan karst. Jumlahnya hanya ya maksimal 10 individu. 
Ini yang selama ini kurang kita pahami bahwa gua itu sebagai laboratorium alami 
untuk beberapa kajian evolusi adaptasi jaring-jaring makanan.
 Kita masih menanggap gua itu mistis, ada hewan buas di dalam, untuk menyepi. 
Padahal di dalam gua itu ada banyak hal yang luar biasa dari sisi hewan.
 Kawasan karst itu identik dengan sungai bawah tanah?
Air lari kemana kalau tidak ada sungai bawah tanah? Dan itu terkoneksi.
 Biasanya kalau ada kawasan karst itu, tergantung, apa gamping putus tertutup 
aluvial atau putus sama sekali. Kalau tertutup aluvial mungkin masih menyambung 
alirannya. Kalau terputus maka selesai sungainya. Kalau ada lagi ya terbentuk 
baru. Tapi kemungkinan dulunya nyambung, karena ada beberapa gua memiliki level 
sungai yang sama. Dulu satu kesatuan, melalui proses alam terbuka.
 
 Salah satu gua dengan stalaktit yang masih aktif yang berada di lahan calon 
tambang batu kapur untuk kebutuhan pabrik semen di desa Tegaldowo, kecamatan 
Gunem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah (23/12/2016). © Suryo Wibowo /Kontributor 
Beritagar Daerah mana yang potensi karstnya paling besar?

 Kalimantan masih, meski kalah sama sawit. Kalau luasan Sangkulirang masih 
cukup meski terpisah.
 Kedua Maros, masih massive, satu sama lain terkoneksi. Maros termasuk 
impressive, sungai bawah tanah panjang sampai 21 km.
 Bagaimana dengan Papua?
Ada di Kaimana, Manokwari, Wamena freeport juga ada. Kaimana ada gua-gua tua, 
ada beberapa ikan, meski masih kalah banyak dari Sangkulirang.
 Wamena menarik karena tinggi, mencapai lebih dari 1.000 meter di atas 
permukaan laut. Karst itu kan terbentuk karena dasar permukaan laut yang naik. 
Itu artinya prosesnya luar biasa.
 Sebenarnya, karst itu bisa jadi komoditas wisata yang luar biasa. Lihatlah 
Cina, Malaysia, Thailand, Vietnam. Vietnam punya Panga, Phuket, Halong Bay. 
Kita punya Raja Ampat.
 Vietnam itu bisa mendapatkan revenue yang besar dari wisata. Kita memiliki 
masalah memang di konektivitas, akomodasi mahal.
 Kita lihat sekarang Cina buat Sky Bridge tertinggi di dunia dengan lantai 
tempered glass, buat apa? Wisata. Pembangunan pabrik semen mereka makin turun.
 Tapi juga bicara kebutuhan semen meningkat untuk pembangunan, jumlah penduduk 
juga semakin naik, kebutuhan air bersih tinggi, sementara pasokan air dari 
pegunungan karst juga berkurang, menjadi dua hal yang bertolak belakang.
 Seberapa mendesak sebenarnya penambahan pabrik semen di Jawa?
Kalau untuk Jawa buat saya sudahlah cukup penambangan semen, sudah krisis, 
lingkungan yang semakin tidak bersahabat, banyak bencana, seperti banjir, 
longsor.
 Penting untuk melihat karst itu irreversible. Karts suatu kawasan yang bisa 
dimanfaatkan tapi tidak bisa diperbarui. Ketika you made wrong decision ya 
konsekuensinya logisnya kita tidak bisa mengembalikan, so kehati-hatian jadi 
faktor utama dalam pemanfaatan kawasan karst.
 
 Kalau dalam debat, ada dua pihak yang sama-sama ngotot dan keduanya tidak 
punya bukti apakah lingkungan tidak akan hancur atas eksploitasi penambangan 
karst, kalau saya lebih memilih enggak usah ambil risiko. Daripada mengambil 
keputusan dengan minim data.
 

Kirim email ke