Pada Minggu, 9 April 2017 2:34, "'Chan CT' [email protected] 
[GELORA45]" <[email protected]> menulis:
 

     Indonesia Bukan Negara Agama!Sabtu, 08 April 2017 | 
18:00http://www.beritasatu.com/politik/423981-indonesia-bukan-negara-agama.htmlIndonesia
 Bukan Negara AgamaMantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Syafii Maarif saat 
berbicara dalam seminar dan lokakarya bertema "Indonesia di Persimpangan: 
Negara Pancasila vs Negara Agama", di Jakarta, Sabtu (8/4). (SP/Ruht 
Semiono)Jakarta - Bangsa Indonesia diingatkan bahaya gerakan radikalisme. 
Gerakan ini dinilai sangat berpotensi membawa Indonesia menjadi negara agama. 
Kondisi yang dihadapi saat ini diperparah oleh sikap pragmatis sejumlah 
politisi, yang justru dekat dan memanfaatkan kelompok radikal untuk mewujudkan 
tujuan pragmatis mereka, yakni merebut kekuasaan.Untuk itu, seluruh elemen 
bangsa perlu menyadari bahwa Indonesia bukanlah negara agama. Para pendiri 
bangsa menyepakati Indonesia sebagai negara kesatuan yang berlandaskan 
Pancasila.Demikian penegasan mantan Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah, 
Ahmad Syafii Maarif, dalam seminar dan lokakarya (semiloka) bertema “Indonesia 
di Persimpangan: Negara Pancasila versus Negara Agama”, di Jakarta, Sabtu (8/4) 
pagi.Menurut Buya Syafii, kondisi saat ini tak bisa terlepas dari masih adanya 
kesenjangan sosial di Tanah Air dan dunia. Manakala kesenjangan makin berjarak, 
muncul ideologi yang disebutnya Arabisme sesat jalan. “Ideologi ini seperti 
ISIS (gerakan negara Islam Irak dan Suriah atau yang juga dikenal gerakan 
negara Islam atau Islamic States/IS). Ini yang bisa membuat Indonesia sebagai 
negara dengan dasar Pancasila, bisa menuju menjadi negara agama.“Lelah 
sebenarnya kalau negara kita yang sehebat ini, sebesar ini, tetapi terpecah. 
Apalagi, sesama Muslim saling hujat. Coba saudara bayangkan, Suriah sudah 
hancur, Irak, Libia, Mesir juga tidak karuan,” tandasnya.Seandainya Pancasila 
secara masif diamalkan, menurut Buya, tidak ada lagi persoalan kesenjangan yang 
mengakibatkan suburnya paham radikalisme di Tanah Air. Hal ini sekaligus 
menjauhkan Indonesia dari kehancuran, sebagaimana terjadi di sejumlah negara 
Islam di Timur Tengah.Sikap Politisi
Syafii menyayangkan situasi kebangsaan justru diperparah dengan sikap dan 
perilaku politisi. Dia menegaskan, politis tidak bisa diharapkan ikut mengatasi 
ancaman ini. Menurutnya, ada sejumlah politisi yang dekat dan memanfaatkan 
gerakan radikalisme untuk mewujudkan kepentingan pragmatis mereka. “Cara 
berpikir mereka sebagian besar masih sangat pragmatis atau bahkan berteman 
dengan radikalisme,” ungkapnya.Untuk itu, dia mengajak seluruh elemen bangsa 
bersatu melawan radikalisme. Perjuangan ini bisa dilakukan dengan mengamalkan 
Pancasila sepenuhnya.Di sisi lain, dia juga meminta Polri agar tidak kalah oleh 
kehadiran kelompok-kelompok radikal, yang sejatinya jumlahnya tidak banyak. 
“Saya beberapa kali kirim SMS ke Kapolri, negara tidak boleh kalah. Saya 
katakan, keluhan di semua negara Islam itu silent majority. Kita masih jauh 
dari Suriah, tetapi kalau tidak hati-hati bisa terjadi. Sekarang ada kelompok 
sempalan yang tidak mendukung Pancasila (jumlahnya) cuma kecil. Jadi, polisi 
dan tentara harus jeli melihatnya. Kalau politisi yang di Senayan, ini agak 
sulit,” ujarnya.Dalam pandangan Syafii, selama lebih 70 tahun Indonesia 
merdeka, kesenjangan sosial dan ekonomi justru semakin tajam. Hal ini sebagai 
konsekuensi lemahnya pengamalan sila kelima Pancasila, Keadilan Sosial Bagi 
Seluruh Rakyat Indonesia. Sebaliknya, pragmatisme semakin merajai dalam setiap 
elemen masyarakat.“Sekarang sudah 70 tahun kita merdeka. Kesenjangan sosial dan 
ekonomi kita semakin tajam. Pancasila yang teratas Ketuhanan yang Maha Esa. 
Sila kelima Keadilan Sosial. Itu sudah luar biasa. Tetapi itu masih menggantung 
di awan, terutama sila kelima. Dalam kenyataan rakyat kita masih bergumul 
dengan berbagai persoalan,” ujarnya.Untuk itu, lanjutnya, kunci mengatasi 
berbagai masalah kebangsaan adalah pengamalan Pancasila, terutama sila kelima. 
Hal ini mengingat persoalan di Tanah Air muncul karena adanya 
kesenjangan.“Jujur atau tidak kita membela bangsa ini? Sungguh atau tidak kita 
membela negara ini? Jangan dibuat-buat, harus datang dari dalam hati. Jangan 
memakai topeng lagi. Topeng itu berkeliaran di mana-mana. Mereka seolah bagian 
dari masyarakat kita, namun sangat merusak suasana kebangsaan kita,” 
tandasnya.Pendidikan Pancasila
Secara terpisah, Ketua PB Nahdlatul Ulama (NU) Marsudi Syuhud menjelaskan, ada 
tiga model relasi antara agama dan negara. Pertama, model pemisahan antara 
agama dan negara, seperti yang dijalankan di Amerika Serikat. Kedua, model 
negara yang menyatu dengan agama seperti yang terjadi di Timur Tengah. Ketiga, 
model tengah, seperti yang terjadi di Indonesia.“Indonesia didirikan oleh 
pejuang bangsa yang disepakati dengan nilai-nilai universal agama, lantas 
diturunkan menjadi kultur budaya, kemudian diangkat menjadi dasar negara yaitu 
Pancasila. Ini berbeda dengan yang di Timur Tengah, di mana negaranya saja 
sudah menunjukkan agama,” jelasnya.Menurutnya, adanya gerakan yang masif untuk 
membentuk negara agama, karena mereka tidak memahami Pancasila. Untuk itu, 
perlu ada edukasi agar paham Pancasila dihidupkan kembali.“Anak sekolah harus 
ada pelajaran pendidikan Pancasila. Ini yang harus dihidupkan kembali paham 
dasar negara pada generasi bangsa,” jelasnya.Mantan Sekjen PBNU ini juga 
menegaskan, pihaknya akan meminta pemerintah untuk membuat anggaran khusus 
untuk mengedukasi kembali paham Pancasila. “Kita harus memulai dari sekarang, 
daripada rusak seperti Timur Tengah,” ujarnya.Dia mengingatkan, banyak aturan 
hukum yang sejatinya turunan dari ajaran agama. “Ajaran agama ini sejatinya 
yang menjiwai sebuah aturan perundangan. Misalnya, korupsi itu dilarang dalam 
agama apapun. Jadi ini semangatnya sudah benar. Lalu untuk apa lagi menuntut 
negara agama,” tandasnya.    #yiv0424602971 #yiv0424602971 -- 
#yiv0424602971ygrp-mkp {border:1px solid #d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 
0;padding:0 10px;}#yiv0424602971 #yiv0424602971ygrp-mkp hr {border:1px solid 
#d8d8d8;}#yiv0424602971 #yiv0424602971ygrp-mkp #yiv0424602971hd 
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px 
0;}#yiv0424602971 #yiv0424602971ygrp-mkp #yiv0424602971ads 
{margin-bottom:10px;}#yiv0424602971 #yiv0424602971ygrp-mkp .yiv0424602971ad 
{padding:0 0;}#yiv0424602971 #yiv0424602971ygrp-mkp .yiv0424602971ad p 
{margin:0;}#yiv0424602971 #yiv0424602971ygrp-mkp .yiv0424602971ad a 
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv0424602971 #yiv0424602971ygrp-sponsor 
#yiv0424602971ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv0424602971 
#yiv0424602971ygrp-sponsor #yiv0424602971ygrp-lc #yiv0424602971hd {margin:10px 
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv0424602971 
#yiv0424602971ygrp-sponsor #yiv0424602971ygrp-lc .yiv0424602971ad 
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv0424602971 #yiv0424602971actions 
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv0424602971 
#yiv0424602971activity 
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv0424602971
 #yiv0424602971activity span {font-weight:700;}#yiv0424602971 
#yiv0424602971activity span:first-child 
{text-transform:uppercase;}#yiv0424602971 #yiv0424602971activity span a 
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv0424602971 #yiv0424602971activity span 
span {color:#ff7900;}#yiv0424602971 #yiv0424602971activity span 
.yiv0424602971underline {text-decoration:underline;}#yiv0424602971 
.yiv0424602971attach 
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px 
0;width:400px;}#yiv0424602971 .yiv0424602971attach div a 
{text-decoration:none;}#yiv0424602971 .yiv0424602971attach img 
{border:none;padding-right:5px;}#yiv0424602971 .yiv0424602971attach label 
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv0424602971 .yiv0424602971attach label a 
{text-decoration:none;}#yiv0424602971 blockquote {margin:0 0 0 
4px;}#yiv0424602971 .yiv0424602971bold 
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv0424602971 
.yiv0424602971bold a {text-decoration:none;}#yiv0424602971 dd.yiv0424602971last 
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv0424602971 dd.yiv0424602971last p 
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv0424602971 
dd.yiv0424602971last p span.yiv0424602971yshortcuts 
{margin-right:0;}#yiv0424602971 div.yiv0424602971attach-table div div a 
{text-decoration:none;}#yiv0424602971 div.yiv0424602971attach-table 
{width:400px;}#yiv0424602971 div.yiv0424602971file-title a, #yiv0424602971 
div.yiv0424602971file-title a:active, #yiv0424602971 
div.yiv0424602971file-title a:hover, #yiv0424602971 div.yiv0424602971file-title 
a:visited {text-decoration:none;}#yiv0424602971 div.yiv0424602971photo-title a, 
#yiv0424602971 div.yiv0424602971photo-title a:active, #yiv0424602971 
div.yiv0424602971photo-title a:hover, #yiv0424602971 
div.yiv0424602971photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv0424602971 
div#yiv0424602971ygrp-mlmsg #yiv0424602971ygrp-msg p a 
span.yiv0424602971yshortcuts 
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv0424602971 
.yiv0424602971green {color:#628c2a;}#yiv0424602971 .yiv0424602971MsoNormal 
{margin:0 0 0 0;}#yiv0424602971 o {font-size:0;}#yiv0424602971 
#yiv0424602971photos div {float:left;width:72px;}#yiv0424602971 
#yiv0424602971photos div div {border:1px solid 
#666666;height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv0424602971 
#yiv0424602971photos div label 
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv0424602971
 #yiv0424602971reco-category {font-size:77%;}#yiv0424602971 
#yiv0424602971reco-desc {font-size:77%;}#yiv0424602971 .yiv0424602971replbq 
{margin:4px;}#yiv0424602971 #yiv0424602971ygrp-actbar div a:first-child 
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv0424602971 #yiv0424602971ygrp-mlmsg 
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv0424602971 
#yiv0424602971ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv0424602971 
#yiv0424602971ygrp-mlmsg select, #yiv0424602971 input, #yiv0424602971 textarea 
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv0424602971 
#yiv0424602971ygrp-mlmsg pre, #yiv0424602971 code {font:115% 
monospace;}#yiv0424602971 #yiv0424602971ygrp-mlmsg * 
{line-height:1.22em;}#yiv0424602971 #yiv0424602971ygrp-mlmsg #yiv0424602971logo 
{padding-bottom:10px;}#yiv0424602971 #yiv0424602971ygrp-msg p a 
{font-family:Verdana;}#yiv0424602971 #yiv0424602971ygrp-msg 
p#yiv0424602971attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv0424602971 
#yiv0424602971ygrp-reco #yiv0424602971reco-head 
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv0424602971 #yiv0424602971ygrp-reco 
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv0424602971 #yiv0424602971ygrp-sponsor 
#yiv0424602971ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv0424602971 
#yiv0424602971ygrp-sponsor #yiv0424602971ov li 
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv0424602971 
#yiv0424602971ygrp-sponsor #yiv0424602971ov ul {margin:0;padding:0 0 0 
8px;}#yiv0424602971 #yiv0424602971ygrp-text 
{font-family:Georgia;}#yiv0424602971 #yiv0424602971ygrp-text p {margin:0 0 1em 
0;}#yiv0424602971 #yiv0424602971ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv0424602971 
#yiv0424602971ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none 
!important;}#yiv0424602971 

   

Kirim email ke