http://www.antaranews.com/berita/625074/kartini-modern-di-balik-go-life-dayu-dara
*Kartini modern di balik Go-Life; Dayu Dara *
Kamis, 20 April 2017 12:00 WIB | 320 Views
Oleh NTA
Kartini modern di balik Go-Life; Dayu Dara
Salah satu pendiri layanan Go-Life dari Go-Jek, Dayu Dara Permata
(ANTARA News/Natisha)
Menurut saya, itu label yang membuat perempuan jadi alergi ke situ.
Karena enggan, jadi, nanti nggak ada penerus
Jakarta (ANTARA News) - Tak banyak yang tahu di balik Go-Life dari
Go-Jek, Dayu Dara Permata sejak 2015 lalu turut membantu Nadiem Makarim
membidani layanan yang fokus ke gaya hidup masyarakat urban.
“Saya /nggak /pernah terpikir gabung ke /startup/,” kata Dara, begitu
dia biasa dipanggil, saat ANTARA News menemuinya di sela-sela
kegiatannya sebagai salah satu pendiri Go-Life di kantornya.
Dara paham betul bahwa dunia yang digelutinya, /startup /dan berkaitan
dengan teknologi, internet bahkan transportasi, identik dengan pekerjaan
kaum Adam. Ia pun masih mendengar dunianya lebih cocok digeluti
laki-laki karena ada anggapan dunia teknologi butuh seseorang yang fokus
dan mengedepankan rasionalitas.
“Menurut saya, itu label yang membuat perempuan jadi alergi ke situ.
Karena enggan, jadi, nanti /nggak ada /penerus “ kata dia.
Lulusan Teknik Industri Institut Teknologi Bandung (ITB) itu mengaku
bukan seorang yang “/digital savvy/”, alias jago teknologi, ketika ia
memutuskan menerima tawaran Nadiem untuk bergabung ke Go-Jek.
Saya harus belajar lebih keras, bertanya ke orang yang tepat, kata Dara.
Saat bertemu Nadiem, Dara masih bergabung dengan perusahaan konsultan
McKinsey dan mengenal pendiri Go-Jek itu sebagai sesama orang yang
pernah bekerja di perusahaan tersebut.
Ia tergerak mendengar tawaran bergabung selain karena sesuai dengan
minatnya, memecahkan masalah, juga kesempatan untuk membuka lapangan
pekerjaan bagi orang lain.
“Waktu itu dia bilang, ‘Kasihan /nggak/, sih, Indonesia, kalau orang
/kayak /kita cari kerja? Kita beruntung dikasih kesempatan kuliah.
Kenapa /nggak/, orang kayak kita ini membuka lapangan pekerjaan?,” kata
Dara mengenang pertemuannya dengan Nadiem beberapa tahun lalu.
Sepulang pertemuan itu, ia pun mencoba layanan ojek motor itu, sambil
mengobrol ringan dengan pengemudi, yang kebetulan mantan tukang ojek
pangkalan.
Ia merasa tertantang untuk mengembangkan layanan berbasis transportasi
itu setelah mendengar cerita lugu dari sang pengemudi, yang menceritakan
ia kini mengenal ponsel pintar selain mendapat tambahan penghasilan.
“Dia juga bilang, ‘dulu, saya /nggak /ngerti ada orang punya uang
plastik, sekarang saya ngerti, punya juga’,” kata dia, menirukan cerita
si pengemudi yang baru mengenal kartu ATM.
Tidak sulit bagi Dara untuk hengkang dari pekerjaannya sebagai
konsultan, bidang yang sangat disukainya, karena di tempat yang baru, ia
merasa kegemarannya memecahkan masalah tidak pernah hilang, tapi justru
bertambah.
“Jadi tambah bisa/build a new thing/. Memecahkan masalah dengan membuat
sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya,” kata dia.
Bersama temannya Windy Natriavi, ia pun turun lansgung ke lapangan untuk
menawarkan bergabung dengan layanan awal mereka di Go-Life, yatu Go-Glam
(kecantikan), Go-Clean (bersih-bersih) dan Go-Massage (pijat).
*Merekrut pekerja perempuan*
Dara banyak bersentuhan dengan pekerja dari sektor informal untuk
mengembangkan layanan ini. Ketika ke mal, hotel atau gedung perkantoran,
ia menyempatkan diri mengobrol dengan tukang bersih-bersih.
Begitu juga saat ke salon, ia mencari tahu apa yang diminati para
pemberi jasa kecantikan dan pijat.
Awalnya, ia menilai peluang mendapatkan penghasilan tambahan akan
menarik bagi para pekerja sektor informal itu, nyatanya, hanya berhasil
untuk laki-laki.
“Tapi, perempuan nggak tertarik dengan insentif finansial. Tapi, ketika
saya bilang ‘ibu bisa kerja dari rumah jam kerja, terserah’, itu yang
menggerakkan mereka,” kata perempuan kelahiran 1989 ini.
Fleksibilitas jam kerja dan kesempatan untuk menghabiskan waktu dengan
keluarga dinilainya menjadi hal yang paling diutamakan oleh perempuan
yang bekerja, terutama yang sudah berkeluarga.
Para perempuan itu, ingin berkontribusi terhadap perekonomian
keluarganya tanpa harus mengabaikan kewajiban lainnya.
*Pencapaian*
Bidang yang digelutinya ini bisa dibilang mengubah cara masyarakat,
terutama yang di kota besar, menikmati layanan berbasis transportasi.
Dara mengaku dirinya masih jauh dari kata puas dengan capaian tersebut.
Tahun pertama, ia berusaha membangun tim yang solid. Tahun berikutnya,
menyebarkan layanan ke kota-kota besar di Indonesia.
Saat ini, Go-Jek ada di 25 kota di Indonesia sementara Go-Life sudah
tersedia untuk 13 kota. Go-Life, yang saat enam bulan berdiri memiliki
30 karyawan, kini berkembang menjadi 130 orang dan mitra yang terdaftar
berada di angka 30 ribuan.
“Saya jauh dari kata puas… Layanan ini, bukan yang dibutuhkan setiap
hari. Aspirasi saya, menjangkau kota lain supaya seperti di Jakarta,”
kata dia.
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2017