Pada Jumat, 21 April 2017 8:18, "'j.gedearka' [email protected]
[nasional-list]" <[email protected]> menulis:
https://finance.detik.com/wawancara-khusus/d-3480271/kisah-susi-kartini-yang-sukses-jadi-menteri-kelautan-dan-perikanan?_ga=1.5723955.1270181063.1492752132
Jumat 21 Apr 2017, 09:32 WIB
Wawancara Menteri Kelautan dan Perikanan
Kisah Susi, 'Kartini' yang Sukses Jadi Menteri
Kelautan dan Perikanan
Michael Agustinus - detikFinance Share 0 Tweet Share 0 31
komentar Foto: Wahyu Daniel/detikFinance Jakarta - Susi
Pudjiastuti adalah perempuan pertama yang diangkat menjadi Menteri Kelautan dan
Perikanan. Ketika ditunjuk Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada 27 Oktober 2014,
banyak yang meragukannya, apalagi bila melihat latar belakang pendidikan Susi
yang hanya lulusan SMP.
Tetapi Susi menjawab keraguan publik dengan berbagai gebrakan dan prestasi.
Sejak menjabat, Susi konsisten memerangi pencurian ikan oleh kapal-kapal asing
di laut Indonesia.
Sepanjang 2016 saja, ada 236 kapal pencuri ikan yang ditenggelamkan Susi.
Keberaniannya mengundang decak kagum, menginsipirasi banyak orang, Susi pun
menjadi idola baru.
Perempuan kelahiran Pangandaran 52 tahun lalu ini menunjukkan bahwa gender
bukan halangan untuk berprestasi. Susi adalah Kartini di zaman modern.
Kepada detikFinance, Susi mengungkapkan pengalamannya di dunia yang didominasi
laki-laki. Berikut petikan wawancara dengan Susi pada Kamis (20/4/2017) dalam
rangka memperingati Hari Kartini.
Ibu Susi sudah sekitar 3 tahun anda menjadi Menteri Kelautan dan Perikanan,
langsung membuat gebrakan yang mengguncang dunia. Bahkan sudah menjadi komik di
Jepang. Anda tidak takut? Apa yang menjadi visi anda?
Saya sebagai seorang profesional harus berani mengeksekusi Undang Undang dan
tidak pernah merasa sebagai seorang individu yang berani banget. Saya tidak
takut sih untuk tegas mengeksekusi Undang Undang, itu kan tugas saya, amanat
Undang Undang. Sebagai pejabat negara, ya amanah ini harus dijalankan, Undang
Undang melindungi saya.
Jadi karena terpaksa?
Oh tidak terpaksa, itu kan amanat. Kalau kita sudah komitmen ambil pekerjaan
ini, kan itu bukan terpaksa. Itu profesionalisme, saya sign, saya terima sumpah
saya sebagai seorang menteri, berarti saya mesti melaksanakan amanat Undang
Undang. Jadi bukan karena terpaksa, bukan karena berani, tapi karena
profesionalisme, sebagai pejabat negara ya amanat Undang Undang mesti kita
jalankan. Tidak boleh tidak, tidak ada choice, itu saja.
Anda menjadi Menteri Kelautan dan Perikanan wanita pertama di Indonesia, dan
gebrakan anda langsung didukung masyarakat banyak. Bagaimana anda melihat
kondisi sektor kelautan dan perikanan Indonesia sebelum menjadi menteri, dan
sekarang setelah menjadi menteri?
Kalau dari urusan illegal fishing perikanan, dari gambar satelit tahun 2014
sebelum November setelah saya dilantik bulan Oktober, kemudian gambar satelit
sekarang picture-nya di laut beda jauh. Dulu penuh sama lampu, sekarang tidak
lagi. Kemudian saya lihat masyarakat nelayan sekarang dapat ikan besar-besar.
Dan saya dengar dari beberapa kawan, mereka sekarang belanja ikan di pasar,
berani ditim ikannya, kalau dulu digoreng karena kurang segar. Sekarang
warteg-warteg sudah jual ikan banyak. Saya pikir itu perbedaan.
Kalau dulu kan susah beli ikan dan mahal, adanya di supermarket, ikannya juga
adanya ikan tertentu. Kemudian kalau lihat data BPS, angka-angkanya berbeda.
Dulu NTN (Nilai Tukar Nelayan) cuma 104-106 persen sekarang 110 persen. Saya
pikir sekarang Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) juga lebih dikenal.
Mudah-mudahan masyarakat dimudahkan, itu saja.
Di kampung saya, dan kemarin inspeksi ke beberapa daerah, di Maluku, itu
ikannya makin besar. Kalau di tempat saya di Pangandaran, itu ada ikan yang
17-20 tahun enggak kelihatan, sekarang kelihatan lagi ikannya, seperti ikan
teri, tuna, yellowfin.
Sekarang kan yang tangkap sudah banyak. Yang beli dan mengolah harus ada.
Salah satu yang paling maju di bidang pengolahan adalah Jepang. Mereka mau
masuk tapi tidak di perikanan tangkap, tapi ke dalam industri pengolahannya.
Perikanan tangkap, biar orang-orang Indonesia yang tangkap ikan.
Anda berada di dunia yang mayoritas dikerjakan oleh kaum laki-laki. Sebagai
perempuan, bagaimana anda memimpin orang di Kementerian dan kalangan pengusaha
yang mayoritas laki-laki?
Saya kalau kerja enggak pikir laki-laki atau perempuan. Saya enggak pernah
merasa sendirian karena banyaknya laki-laki, enggak ada. Sama saja. Kalau orang
lain bisa, ya bisa. Saya tidak pernah merasa keperempuanan saya itu handicap
atau obstacle, biasa saja.
Tidak pernah merasa terhalang atau tidak mampu karena perempuan?
Tidak pernah. Tadi saya bilang, keperempuanan saya tidak pernah terasa oleh
saya oleh saya sebagai sesuatu yang handicap, obstacle, 'oh itu tidak bisa
karena perempuan'. Harus dikerjakan, ya dikerjakan. Simple.
Apa rencana prioritas di bidang kelautan dan perikanan di 2 tahun sisa
pemerintahan?
Membuat industri-industri kerakyatan karena arahan Pak Presiden di bidang
ekonomi harus ada keberpihakan dan unsur keadilan. Jadi saya ingin
mengembangkan UMKM, industri kerakyatan, dan memberikan porsi masyarakat
Indonesia untuk bisa menikmati hasil perikanan ini seperti pemain-pemain besar
zaman dulu.
Yang kedua, memastikan bahwa keberlanjutan dari sumber daya ikan ini tetap ada
dan banyak. Kalau sedikit tidak cukup untuk menghidupi banyak orang. Harus ada
dan banyak. Maka kelestariannya mesti kita atur, penangkapannya. Visi Pak
Presiden menjadikan laut masa depan bangsa akan terjadi. Kalau tidak, 10 tahun
lagi habis, masak bangsa kita cuma bisa hidup dari laut sekarang? Tidak boleh.
Hal-hal apa saja yang Ibu Susi rasakan sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan?
Kalau bikin policy baik, tujuannya membantu masyarakat dengan baik, terus
diprotes. Terus ada provokator yang menyesatkan masyarakat. Memprovokasi
masyarakat yang baik, yang sudah menerima, yang ingin memperbaiki, ingin maju.
Itu saya jengkel sekali.
Kadang-kadang tekanan ya misalnya saya tidak bisa ngomong leluasa, situasi
publik tidak mengizinkan. Saya pikir so far bisa saya manage.
Apa saran anda terhadap wanita-wanita di Indonesia, supaya bisa sukses seperti
anda?
Kita stop mempermasalahkan gender. Kerja, bergerak, berkarir, berprestasi
tanpa mikir 'saya perempuan', 'saya tidak boleh ini', 'saya tidak boleh itu',
'saya harus diistimewakan'. Stop itu. Jangan pikir gender itu handicap,
persoalan. (mca/ang)
#yiv9296156583 #yiv9296156583 -- #yiv9296156583ygrp-mkp {border:1px solid
#d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv9296156583
#yiv9296156583ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv9296156583
#yiv9296156583ygrp-mkp #yiv9296156583hd
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px
0;}#yiv9296156583 #yiv9296156583ygrp-mkp #yiv9296156583ads
{margin-bottom:10px;}#yiv9296156583 #yiv9296156583ygrp-mkp .yiv9296156583ad
{padding:0 0;}#yiv9296156583 #yiv9296156583ygrp-mkp .yiv9296156583ad p
{margin:0;}#yiv9296156583 #yiv9296156583ygrp-mkp .yiv9296156583ad a
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv9296156583 #yiv9296156583ygrp-sponsor
#yiv9296156583ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv9296156583
#yiv9296156583ygrp-sponsor #yiv9296156583ygrp-lc #yiv9296156583hd {margin:10px
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv9296156583
#yiv9296156583ygrp-sponsor #yiv9296156583ygrp-lc .yiv9296156583ad
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv9296156583 #yiv9296156583actions
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv9296156583
#yiv9296156583activity
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv9296156583
#yiv9296156583activity span {font-weight:700;}#yiv9296156583
#yiv9296156583activity span:first-child
{text-transform:uppercase;}#yiv9296156583 #yiv9296156583activity span a
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv9296156583 #yiv9296156583activity span
span {color:#ff7900;}#yiv9296156583 #yiv9296156583activity span
.yiv9296156583underline {text-decoration:underline;}#yiv9296156583
.yiv9296156583attach
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px
0;width:400px;}#yiv9296156583 .yiv9296156583attach div a
{text-decoration:none;}#yiv9296156583 .yiv9296156583attach img
{border:none;padding-right:5px;}#yiv9296156583 .yiv9296156583attach label
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv9296156583 .yiv9296156583attach label a
{text-decoration:none;}#yiv9296156583 blockquote {margin:0 0 0
4px;}#yiv9296156583 .yiv9296156583bold
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv9296156583
.yiv9296156583bold a {text-decoration:none;}#yiv9296156583 dd.yiv9296156583last
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv9296156583 dd.yiv9296156583last p
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv9296156583
dd.yiv9296156583last p span.yiv9296156583yshortcuts
{margin-right:0;}#yiv9296156583 div.yiv9296156583attach-table div div a
{text-decoration:none;}#yiv9296156583 div.yiv9296156583attach-table
{width:400px;}#yiv9296156583 div.yiv9296156583file-title a, #yiv9296156583
div.yiv9296156583file-title a:active, #yiv9296156583
div.yiv9296156583file-title a:hover, #yiv9296156583 div.yiv9296156583file-title
a:visited {text-decoration:none;}#yiv9296156583 div.yiv9296156583photo-title a,
#yiv9296156583 div.yiv9296156583photo-title a:active, #yiv9296156583
div.yiv9296156583photo-title a:hover, #yiv9296156583
div.yiv9296156583photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv9296156583
div#yiv9296156583ygrp-mlmsg #yiv9296156583ygrp-msg p a
span.yiv9296156583yshortcuts
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv9296156583
.yiv9296156583green {color:#628c2a;}#yiv9296156583 .yiv9296156583MsoNormal
{margin:0 0 0 0;}#yiv9296156583 o {font-size:0;}#yiv9296156583
#yiv9296156583photos div {float:left;width:72px;}#yiv9296156583
#yiv9296156583photos div div {border:1px solid
#666666;height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv9296156583
#yiv9296156583photos div label
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv9296156583
#yiv9296156583reco-category {font-size:77%;}#yiv9296156583
#yiv9296156583reco-desc {font-size:77%;}#yiv9296156583 .yiv9296156583replbq
{margin:4px;}#yiv9296156583 #yiv9296156583ygrp-actbar div a:first-child
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv9296156583 #yiv9296156583ygrp-mlmsg
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv9296156583
#yiv9296156583ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv9296156583
#yiv9296156583ygrp-mlmsg select, #yiv9296156583 input, #yiv9296156583 textarea
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv9296156583
#yiv9296156583ygrp-mlmsg pre, #yiv9296156583 code {font:115%
monospace;}#yiv9296156583 #yiv9296156583ygrp-mlmsg *
{line-height:1.22em;}#yiv9296156583 #yiv9296156583ygrp-mlmsg #yiv9296156583logo
{padding-bottom:10px;}#yiv9296156583 #yiv9296156583ygrp-msg p a
{font-family:Verdana;}#yiv9296156583 #yiv9296156583ygrp-msg
p#yiv9296156583attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv9296156583
#yiv9296156583ygrp-reco #yiv9296156583reco-head
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv9296156583 #yiv9296156583ygrp-reco
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv9296156583 #yiv9296156583ygrp-sponsor
#yiv9296156583ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv9296156583
#yiv9296156583ygrp-sponsor #yiv9296156583ov li
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv9296156583
#yiv9296156583ygrp-sponsor #yiv9296156583ov ul {margin:0;padding:0 0 0
8px;}#yiv9296156583 #yiv9296156583ygrp-text
{font-family:Georgia;}#yiv9296156583 #yiv9296156583ygrp-text p {margin:0 0 1em
0;}#yiv9296156583 #yiv9296156583ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv9296156583
#yiv9296156583ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none
!important;}#yiv9296156583