https://news.detik.com/bbc-world/d-3481409/peran-perempuan-dalam-sains-belajar-dari-rusia?_ga=
<https://news.detik.com/bbc-world/d-3481409/peran-perempuan-dalam-sains-belajar-dari-rusia?_ga=1.110145669.1499136629.1492843237>
1.110145669.1499136629.1492843237
<https://news.detik.com/bbc-world/d-3481409/peran-perempuan-dalam-sains-belajar-dari-rusia?_ga=1.110145669.1499136629.1492843237>
Sabtu 22 Apr 2017, 13:32 WIB
Peran Perempuan dalam Sains: Belajar dari
Rusia
BBC Magazine - detikNews
Share *0*
<https://news.detik.com/bbc-world/d-3481409/peran-perempuan-dalam-sains-belajar-dari-rusia?_ga=1.110145669.1499136629.1492843237#>
Tweet
<https://news.detik.com/bbc-world/d-3481409/peran-perempuan-dalam-sains-belajar-dari-rusia?_ga=1.110145669.1499136629.1492843237#>
Share *0*
<https://news.detik.com/bbc-world/d-3481409/peran-perempuan-dalam-sains-belajar-dari-rusia?_ga=1.110145669.1499136629.1492843237#>
0 komentar
<https://news.detik.com/bbc-world/d-3481409/peran-perempuan-dalam-sains-belajar-dari-rusia?_ga=1.110145669.1499136629.1492843237#>
Peran Perempuan dalam Sains: Belajar dari Rusia
<https://news.detik.com/bbc-world/d-3481409/peran-perempuan-dalam-sains-belajar-dari-rusia?_ga=1.110145669.1499136629.1492843237#>
<https://news.detik.com/bbc-world/d-3481409/peran-perempuan-dalam-sains-belajar-dari-rusia?_ga=1.110145669.1499136629.1492843237#>
<https://news.detik.com/bbc-world/d-3481409/peran-perempuan-dalam-sains-belajar-dari-rusia?_ga=1.110145669.1499136629.1492843237#>
<https://news.detik.com/bbc-world/d-3481409/peran-perempuan-dalam-sains-belajar-dari-rusia?_ga=1.110145669.1499136629.1492843237#>
*Moskow* -
Irina Khoroshko dari Zelenograd di dekat Moskow, ibu kota Rusia, sudah
belajar perkalian sejak berusia lima tahun.
Bakat istimewa anak perempuan ini -- didorong keluarganya yang 'doyan
matematika' serta guru perempuannya yang membuat setiap pelajaran jadi
permainan untuk memecahkan masalah -- membuat dia belajar matematika
ekonomi di Plekhanov Russian University of Economics.
"Dosen saya menanamkan kepada saya kekuatan dari angka dan perhitungan,
bagaimana hal itu memberi kemampuan untuk memprediksi sesuatu, jadi
subjek yang dipelajari selalu terasa gaib."
* Kesenjangan pengupahan lelaki dan perempuan harus dilaporkan
<https://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/02/160212_majalah_bisnis_kesenjangan_upah>
* Anak perempuan lebih banyak kerjakan tugas rumah tangga
<https://www.bbc.com/indonesia/dunia/2016/10/161007_dunia_pbb_anak_perempuan>
* Perempuan 'kurang terwakili' dalam bidang ilmu pengetahuan
<https://www.bbc.com/indonesia/majalah/2015/03/150306_perempuan_ilmu_eksakta>
Kini Irina -yang sudah berusia 26 tahun- bekerja sebagai ilmuwan data di
perusahaan kredit keuangan internet, ID Finance, menikmati karier
cemerlang dengan mengembangkan model-model analisis untuk menentukan
kelayakan sebuah kredit.
Di Rusia, itu bukan cerita yang tidak biasa, seperti yang terjadi di
banyak negara-negara lain dunia, termasuk negara-negara maju sekalipun.
Rusia, perempuan, sains, Anak-anak perempuan yang tertarik pada
teknologi dan sains merupakan soal biasa di Rusia. (Getty Images)
Beberapa studi mengukuhkan terlalu sering dan cepat minat anak perempuan
hilang untuk subjek STEM -- sains, teknologi, teknik, matematika -- dan
tidak pernah muncul kembali.
Jadi hanya sedikit perempuan yang memilih untuk berkarier di
bidang-bidang tersebut. Kenapa?
Sebuah studi yang dilakukan raksasa industri komputer, Microsoft,
mungkin bisa memberi jawaban.
Berdasarkan wawancara dengan 11.500 anak perempuan di Eropa, studi
menemukan bahwa ketertarikan mereka atas STEM anjlok pada usia 15 tahun
karena stereotip jenis kelamin, sedikitnya panutan perempuan, tekanan
dari teman bermain, serta kurangnya dorongan orang tua maupun guru.
Tidak demikian halnya di Rusia.
Menurut UNESCO, tercatat 29% perempuan di seluruh dunia bekerja sebagai
peneliti sains namun di Rusia mencapai 41%. Perbandingan lainnya, di
Inggris hanya sekitar 4% perempuan penemu sementara di Rusia 15%.
Anak-anak perempuan di Rusia memandang STEM secara jauh lebih positif,
dengan ketertarikan yang muncul lebih awal dan bertahan lebih lama pula,
seperti dijelaskan Julian Lambertin, Direktur Pelaksana KRC Research,
perusahaan yang melakukan wawancara untuk studi Microsoft.
"Sebagian besar anak perempuan yang kami wawancarai dari negara-negara
lain, hanya sedikit yang melakukan pendekatan bermain dengan STEM,
sedang di Rusia, bahkan anak yang masih kecil memusatkan perhatian pada
kenyataan bahwa peluang pekerjaan di masa depan berakar dari
subjek-subjek STEM.
Anak-anak perempuan Rusia menyebut dorongan dari orang tua dan panutan
perempuan sebagai kuncinya, selain guru perempuan yang lebih banyak dari
guru pria yang membuat kurikulum dipandang seimbang secara jenis kelamin.
Bukan hanya itu saja yang membedakan Rusia dengan negara-negara lain.
Ketika Departemen Pendidikan Inggris mengajukan pertanyaan kepada para
remaja Inggris dari berbagai golongan sosial ekonomi tentang pandangan
mereka atas matematika dan fisika, maka lima kata bisa menyimpulkan
'citra'nya.
Kelima kata itu adalah: laki-laki, persamaan, membosankan, rumus, dan
tidak relevan.
Stigma ini tidak ada di Rusia, kata Lambertin.
"Mereka keluar dari sana. Orang-orang diharapkan berprestasi baik dalam
subjek-subjek tersebut terlepas dari jenis kelaminnya."
Pengalaman Alina Bezuglova juga bisa menjadi petunjuk lain.
Sebagai salah satu pimpinan di Tech London Advocates -organisasi yang
menyambungkan bakat di Rusia dengan kesempatan kerja di Inggris- dia
sering menggelar acara khusus teknologi untuk perempuan.
Hal yang jarang dilakukannya di Rusia.
"Anda bisa mengatakan karena kami mengabaikan persoalan itu atau tidak
ada masalah sama kali dalam soal itu, dan saya jauh lebih cenderung
untuk pemikiran yang belakangan," jelas Bezuglova
Dia menekankan bahwa dibandingkan dengan kawasan Eropa lain, Rusia tidak
tertekan dalam 'masalah perempuan' di bidang teknologi dan sains.
Jejak perempuan Rusia di kedua bidang itu, tambahnya, bisa dilacak
hingga ke zaman Uni Soviet dulu, ketika kemajuan ilmu pengetahuan
menjadi prioritas nasional.
Sejalan dengan perkembangan lembaga-lembaga riset, pendidikan teknik
juga dibuat tersedia untuk semua orang dan perempuan ikut didorong
berkarier di bidang tersebut.
"Tidak pernah terlintas di benak saya ketika sekolah bahwa karena saya
perempuan maka sebaiknya saya tidak memilih STEM, dan di tempat kerja
saya tidak melihat banyak seksisme. Anda hanya dinilai berdasarkan
kemampuan," tutur Bezuglova.
Rusia, perempuan, sains, Dorongan dari orang tua dan panutan perempuan
membuat anak-anak perempuan Rusia tertarik pada sains dan teknologi
sejak dini. (RIA NOVOSTI/SCIENCE PHOTO LIBRARY)
Karakter bangsa Rusia -- yang 'blak-blakan' -- juga diperkirakan
berperan karena perempuan Rusia menjadi lebih mudah untuk berbicara
dalam lingkungan yang didominasi kaum pria.
Emeli Dral -- asisten profesor di Moscow Institute of Physics and
Technology -- mengenang semangat itu ketika menjadi satu dari hanya dua
perempuan yang masuk dalam kelompok matematika lanjutan di sekolahnya.
"Itu membuat kami (berdua) bahkan lebih bersaing dan lebih bertekad
untuk membuktikan diri bahwa kami lebih baik dari anak laki-laki. Saya
kira perempuan-perempuan Rusia cukup yakin sebagai minoritas, karena
dukungan yang mereka dapatkan dari para orang tua sejak kecil."
"Saya tidak pernah tertanya-tanya kenapa saya tertarik pada matematika
dan perteknikan, tapi amat alami."
* UNESCO: Seksisme banyak ditemukan dalam buku pelajaran
<https://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/03/160308_majalah_perempuan_buku>
* Mendorong perempuan di India dan Kenya memperoleh pendidikan
<https://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/06/160613_majalah_pendidikan_perempuan_india_kenya>
* Tim Hunt mundur dari universitas karena komentar atas mahasiswa
perempuan
<https://www.bbc.com/indonesia/majalah/2015/06/150611_majalah_sains_perempuan>
Kisah Olga Reznikova, yang mengaku belajar STEM sendiri dan kini menjadi
ahli perangkat lunak juga tidak banyak berbeda.
Tumbuh di sebuah kota kecil yang sebagian penduduknya bekerja sebagai
penambang dan nelayan, dia mulai suka komputer ketika masih berusia
empat tahun namun berjuang untuk mengembangkan kesukaannya itu sebagai
karier.
Jadi dia belajar lewat internet untuk menguasai algoritme maupun membuat
program dan mendapat uang dari membuat kode-kode untuk situs internet.
Namun karena khawatir akan terperangkap di 'bisnis IT kecil' dia
berangkat ke kota besar St Petersburg demi belajar lebih lanjut dan
akhirnya mendapat karier bagus.
"Ada masanya saya adalah satu-satunya perempuan yang membuat program
komputer di perusahaan," kenangnya.
"Saya menghadapi beberapa masalah yang serius namun saya bertahan dan
sekarang mendapat gaji 30% lebih tinggi."
Walau tentu saja ada masalah diskriminasi jenis kelamin di Rusia, dalam
urusan sains dan teknologi Rusia tampaknya mendorong imajinasi anak-anak
perempuannya.
"Membawa kreatifitas ke ruang kelas dengan langsung mengerjakan,
penerapan praktis, dan penekanan relevansi subjek pada lapangan kerja,
bisa menjadi langkah maju bagi negara-negara yang anak perempuannya amat
terlepas (dari subjek STEM)," jelas Julian Lambertin.
*(ita/ita)
*
<http://www.avg.com/email-signature?utm_medium=email&utm_source=link&utm_campaign=sig-email&utm_content=webmail>
Virusvrij. www.avg.com
<http://www.avg.com/email-signature?utm_medium=email&utm_source=link&utm_campaign=sig-email&utm_content=webmail>