Kutipan:"Menurut Chairil, Indoneisa telah masuk masa krisis dalam pengembangan 
iptek. 
Untuk itu, mewakili AIPI, ia meminta kepada pemerintah untuk membenahi kualitas 
iptek. 
Salah satunya dengan peningkatan pertumbuhan ekonomi."
Dalam obrolan santai di meja kopi, seorang kawan pernah mengibaratkan 
anggaran sebagai ruh dalam dunia penelitian. Di media, para peneliti juga 
sering mengeluhkan minimnya anggaran penelitian. Ternyata, semua keluhan 
cocok dengan permintaan Chairil Abidin di atas. Apalagi dalam APBN 
belum ada pos anggaran khusus untuk penelitian - sedangkan anggaran dari 
Kementrian Ristek-Dikti sudah 2 tahun ini terus mengalami pengurangan, 
termasuk untuk lembaga pengkajian besar seperti LIPI, BPPT, BATAN.

Karena itu permintaan membenahi kualitas iptek dengan meningkatkan 
pertumbuhan ekonomi nggak bisa enggak bikin saya nyengir sendiri, malu. 
Bukan cuma karena permintaan Chairil dkk pada bulan pendidikan ini 
sudah ada jawabannya 2 bulan lalu, tapi juga isi permintaan dan jawaban itu 
hanya memperkokoh lingkaran setan belaka. Tak ubahnya teka-teki 
ayam & telur; mana yang lebih dulu.

Ekonomi Indonesia Akan Kuat Jika Memiliki Generasi Cerdasǃ

Masih tersedia 28 tahun untuk membuktikan Indonesia menjadi negara yang 
maju berkat pendidikan atau tetap sebagai negara tertinggal yang 
perekonomiannya 
semakin tenggelam dalam lautan hutang, pada seabad kemerdekaan nanti.
Pemanfaatan waktu yang tersedia sangatlah bergantung pada pemerintah sekarang
yang dipimpin seorang insinyur (insinyur ketiga yang menjabat presiden RI). 
Apakah dia ingin dikenang sebagai peletak dasar kemajuan nasional berlandaskan 
pendidikan atau dikenang berabad-abad hanya sebagai bintang iklan industri 
Esemka..
--- j.gedearka@... wrote:
http://sains.kompas.com/read/2017/05/13/13104961/kenapa.indonesia.tak.maju-maju.dalam.sains.dan.teknologi.
 
Kenapa Indonesia Tak Maju-maju dalam Sains dan Teknologi?
     Lutfy Mairizal Putra Kompas.com - 13/05/2017, 13:10 WIB                    
  Ilustrasi(Thinkstockphotos)
         JAKARTA, KOMPAS.com - Indonesia telah tertinggal dalam pengembangan 
sains, teknologi, serta kualitas pendidikan tinggi. Tidak hanya di tingkat 
dunia, tetapi juga di lingkup yang lebih kecil seperti ASEAN. 
Chairil Abidin, anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) menguraikan, 
penyebab ketertinggalan itu terurai dalam Hal itu tertuang dalam Buku Putih 
Sains, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Menuju Indonesia 2045. 
Chairil mengatakan, pendidikan tinggi menghadapi sejumlah kendala dalam 
melakukan riset, seperti ketidaksesuaian waktu mengajar dan waktu penelitian, 
keterbatasan anggaran serta fasilitas riset, dan insentif yang tidak menarik 
bagi peneliti. 
Kompetensi guru juga ikut memberikan sumbangsih. Hasil rata-rata uji kompetensi 
guru pada tahun 2015 hanya 53,02 persen. Untuk calon guru, nilai uji kompetensi 
lebih rendah lagi, 44 persen kemampuan di bidang kompetensi dan 56,69 di bidang 
pedagogik. 
"Tidak ada anak SMA yang bright yang mau menjadi guru. Persoalan kualitas dosen 
yang dirilis Asia Week tahun 2000, Indonesia berada di bawah kualitas 
Singapura, Filipina, Thailand, Malaysia," kata Chairil dalam peluncuran buku 
putih itu di Jakarta pada Jumat (12/5/2017). 
Faktor bahasa rupanya juga tidak dapat disepelekan. Mengutip penelitian Richard 
Horton, faktor bahasa menjadi kendala utama kuranngya suara Indonesia dalam 
penelitian di tingkat global, khususnya kesehatan dan kedokteran. 
Sebelum Indonesia merdeka, pernah terdapat kewajiban mmebaca buku sastra 
sebanyak 25 judul di Algemene Middelbare School (Pendidikan Menengah) Hindia 
Belanda A dan 15 Judul pada AMS Hindia Belanda B, 15 judul. 
Namun, sejak 1950an, secara bertahap kewajiban itu hilang. "Taufik Ismail sebut 
sekarang anak SMA nol buku. Mahasiswa juga nol buku hanya diktator, belajar 
dari diktat yang ditulis 20 tahun lalu," ujar Chairil. 
Chairl bercerita pengalamannya saat menghadiri pertemuan antara pelaku usaha 
dan universitas ternama di kantor Wakil Presiden BJ Habibie tahun 1998. 
Usai pertemuan itu, salah seorang dosen mengungkapkan bahwa buku ajar yang 
digunakannnya tidak lagi relevan. 
"Faktor gizi juga berperan. Ada 37 persen prevalensi tubuh pendek dengan 
rata-rata IQ 89. Jadi tidak heran kalau skor PISA (Programme for Internasional 
Student Assessment) kita rendah," ucap Chairil. 
Menurut Chairil, Indoneisa telah masuk masa krisis dalam pengembangan iptek. 
Untuk itu, mewakili AIPI, ia meminta kepada pemerintah untuk membenahi kualitas 
iptek. Salah satunya dengan peningkatan pertumbuhan ekonomi. 
Kenaikan pertumbuhan ekonomi diharapakan dapat menaikan daya beli masyarakat 
terhadap hasil industri dalam negeri. Universitas dapat bekerja sama dengan 
pelaku industri untuk mendongrak industri dalam negeri. 
Selain itu, hal paling utama paling utama adalah lingkungan kondusif bagi 
inovasi nasional.
                 PenulisLutfy Mairizal Putra EditorYunanto Wiji Utomo
Ada 5 komentar untuk artikel ini
Kompas.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar 
sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE     
Saru sosact  Sabtu, 13 Mei 2017 | 14:16 
 karena walaupun ada yang salah, tidak mau meperbaiki diri sendiri karena 
merasa diri sudah paling benar. karena merasa pemahaman iman dan pengetahuan 
sudah paling benar, maka tidak mau belajar dri jatuh bangun proses pembangunan 
negara lain yang sudah  maju duluan.    (0)   (0)   Tanggapi   Laporkan     
hanafi tan   Sabtu, 13 Mei 2017 | 13:59 
 di indonesia kebodohan dipelihara    (0)   (0)   Tanggapi   Laporkan     I me  
Sabtu, 13 Mei 2017 | 13:52 
 masyarakat masih bingung antara spiritualitas dan agama. ketika agama dianggap 
spiritualitas maka rusaklah cara berpikir org tsb krn agama adalah produk 
sosial politik terstruktur dg pemuka agama sbg tuhannya yg mengendalikan 
masyarakat. untuk  melanggengkan hal ini kebodohan di masyarakat diperlukan   
(1)   (0)   Tanggapi   Laporkan     Nyai Menyan  Sabtu, 13 Mei 2017 | 13:29 
 indonesia terlalu religius, sekulerisme ibaratnya hewan langka di indonesia.   
(2)   (0)   Tanggapi   Laporkan
     Ristama Simorangkir  Sabtu, 13 Mei 2017 | 13:19 
 gara2 angggota dpr, dprd, dpd, gubernur ( kepala daerah ) masih sangat banyak 
yang "maling".


   

Kirim email ke