*Hehehehehe, kalau tidak maju dalam ilmu pengetahuan duniawi, bukan masalah besar nan istimewa, karena yang terpenting adalah ilmu untuk hari kemudian setelah hayat meninggalkan tubuh, sebab nanti di sana itu terdapat kehidupan penuh kelimpahan kekal, maka oleh karena itu rezim neo-Mojopahit membuat anggaran belanja untuk kementrian agama dua kali lipat lebih besar dari pada anggaran belanja untuk kementrian agraria. Selain itu diberitakan bahwa dalam waktu singkat mendatang kementrian agama akan menciptakan 5000 doktor. Tentu doktor-doktor ini dimaksudkan untuk kehidupan kekal yang penuh kelimpahan. Jadi jangan khawatir, hari depan gemilang berada di horison*.
2017-05-14 15:50 GMT+02:00 ajeg [email protected] [GELORA45] < [email protected]>: > > > Kutipan: > "Menurut Chairil, Indoneisa telah masuk masa krisis dalam pengembangan > iptek. > Untuk itu, mewakili AIPI, ia meminta kepada pemerintah untuk membenahi > kualitas iptek. > Salah satunya dengan peningkatan pertumbuhan ekonomi." > > Dalam obrolan santai di meja kopi, seorang kawan pernah mengibaratkan > anggaran sebagai ruh dalam dunia penelitian. Di media, para peneliti juga > sering mengeluhkan minimnya anggaran penelitian. Ternyata, semua keluhan > cocok dengan permintaan Chairil Abidin di atas. Apalagi dalam APBN > belum ada pos anggaran khusus untuk penelitian - sedangkan anggaran dari > Kementrian Ristek-Dikti sudah 2 tahun ini terus mengalami pengurangan, > termasuk untuk lembaga pengkajian besar seperti LIPI, BPPT, BATAN. > > Karena itu permintaan membenahi kualitas iptek dengan meningkatkan > pertumbuhan ekonomi nggak bisa enggak bikin saya nyengir sendiri, malu. > Bukan cuma karena permintaan Chairil dkk pada bulan pendidikan ini > sudah ada jawabannya 2 bulan lalu, tapi juga isi permintaan dan jawaban > itu > hanya memperkokoh lingkaran setan belaka. Tak ubahnya teka-teki > ayam & telur; mana yang lebih dulu. > > Ekonomi Indonesia *Akan* Kuat *Jika* Memiliki Generasi CerdasĒ > <http://economy.okezone.com/read/2017/03/25/320/1651085/jokowi-ekonomi-indonesia-akan-kuat-jika-miliki-generasi-cerdas> > > Masih tersedia 28 tahun untuk membuktikan Indonesia menjadi negara yang > maju berkat pendidikan atau tetap sebagai negara tertinggal yang > perekonomiannya > semakin tenggelam dalam lautan hutang, pada seabad kemerdekaan nanti. > > Pemanfaatan waktu yang tersedia sangatlah bergantung pada pemerintah > sekarang > yang dipimpin seorang insinyur (insinyur ketiga yang menjabat presiden > RI). > Apakah dia ingin dikenang sebagai peletak dasar kemajuan nasional > berlandaskan > pendidikan atau dikenang berabad-abad hanya sebagai bintang iklan > industri Esemka.. > > --- j.gedearka@... wrote: > > http://sains.kompas.com/read/2017/05/13/13104961/kenapa. > indonesia.tak.maju-maju.dalam.sains.dan.teknologi. > <http://sains.kompas.com/read/2017/05/13/13104961/kenapa.indonesia.tak.maju-maju.dalam> > Kenapa Indonesia Tak Maju-maju dalam Sains dan Teknologi? > Lutfy Mairizal Putra > Kompas.com - 13/05/2017, 13:10 WIB > [image: alt] > Ilustrasi(Thinkstockphotos) > > *JAKARTA, KOMPAS.com* - Indonesia telah tertinggal dalam pengembangan > sains, teknologi, serta kualitas pendidikan tinggi. Tidak hanya di tingkat > dunia, tetapi juga di lingkup yang lebih kecil seperti ASEAN. > > Chairil Abidin, anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) > menguraikan, penyebab ketertinggalan itu terurai dalam Hal itu tertuang > dalam Buku Putih Sains, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Menuju Indonesia > 2045. > > Chairil mengatakan, pendidikan tinggi menghadapi sejumlah kendala dalam > melakukan riset, seperti ketidaksesuaian waktu mengajar dan waktu > penelitian, keterbatasan anggaran serta fasilitas riset, dan insentif yang > tidak menarik bagi peneliti. > > Kompetensi guru juga ikut memberikan sumbangsih. Hasil rata-rata uji > kompetensi guru pada tahun 2015 hanya 53,02 persen. Untuk calon guru, nilai > uji kompetensi lebih rendah lagi, 44 persen kemampuan di bidang kompetensi > dan 56,69 di bidang pedagogik. > > "Tidak ada anak SMA yang *bright* yang mau menjadi guru. Persoalan > kualitas dosen yang dirilis Asia Week tahun 2000, Indonesia berada di bawah > kualitas Singapura, Filipina, Thailand, Malaysia," kata Chairil dalam > peluncuran buku putih itu di Jakarta pada Jumat (12/5/2017). > > Faktor bahasa rupanya juga tidak dapat disepelekan. Mengutip penelitian > Richard Horton, faktor bahasa menjadi kendala utama kuranngya suara > Indonesia dalam penelitian di tingkat global, khususnya kesehatan dan > kedokteran. > > Sebelum Indonesia merdeka, pernah terdapat kewajiban mmebaca buku sastra > sebanyak 25 judul di Algemene Middelbare School (Pendidikan Menengah) > Hindia Belanda A dan 15 Judul pada AMS Hindia Belanda B, 15 judul. > > Namun, sejak 1950an, secara bertahap kewajiban itu hilang. "Taufik Ismail > sebut sekarang anak SMA nol buku. Mahasiswa juga nol buku hanya diktator, > belajar dari diktat yang ditulis 20 tahun lalu," ujar Chairil. > > Chairl bercerita pengalamannya saat menghadiri pertemuan antara pelaku > usaha dan universitas ternama di kantor Wakil Presiden BJ Habibie tahun > 1998. > > Usai pertemuan itu, salah seorang dosen mengungkapkan bahwa buku ajar yang > digunakannnya tidak lagi relevan. > > "Faktor gizi juga berperan. Ada 37 persen prevalensi tubuh pendek dengan > rata-rata IQ 89. Jadi tidak heran kalau skor PISA (Programme for > Internasional Student Assessment) kita rendah," ucap Chairil. > > Menurut Chairil, Indoneisa telah masuk masa krisis dalam pengembangan > iptek. Untuk itu, mewakili AIPI, ia meminta kepada pemerintah untuk > membenahi kualitas iptek. Salah satunya dengan peningkatan pertumbuhan > ekonomi. > > Kenaikan pertumbuhan ekonomi diharapakan dapat menaikan daya beli > masyarakat terhadap hasil industri dalam negeri. > Universitas dapat bekerja sama dengan pelaku industri untuk mendongrak > industri dalam negeri. > > Selain itu, hal paling utama paling utama adalah lingkungan kondusif bagi > inovasi nasional. > > PenulisLutfy Mairizal Putra > EditorYunanto Wiji Utomo > > Ada 5 komentar untuk artikel ini > > Kompas.com <http://www.kompas.com/> tidak bertanggung jawab atas isi > komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab > komentator seperti diatur dalam UU ITE > Saru sosact <http://my.kompas.com/users/view/54de29ebb5ecd53e12000001> Sabtu, > 13 Mei 2017 | 14:16 > karena walaupun ada yang salah, tidak mau meperbaiki diri sendiri karena > merasa diri sudah paling benar. karena merasa pemahaman iman dan > pengetahuan sudah paling benar, maka tidak mau belajar dri jatuh bangun > proses pembangunan negara lain yang sudah maju duluan. > (0) (0) Tanggapi Laporkan > hanafi tan > <http://my.kompas.com/users/view/7dd7b5bb8134326738e80852a789e000> Sabtu, > 13 Mei 2017 | 13:59 > di indonesia kebodohan dipelihara > (0) (0) Tanggapi Laporkan > I me <http://my.kompas.com/users/view/24e23081aecc1643555fbc3c698b564d> Sabtu, > 13 Mei 2017 | 13:52 > masyarakat masih bingung antara spiritualitas dan agama. ketika agama > dianggap spiritualitas maka rusaklah cara berpikir org tsb krn agama adalah > produk sosial politik terstruktur dg pemuka agama sbg tuhannya yg > mengendalikan masyarakat. untuk melanggengkan hal ini kebodohan di > masyarakat diperlukan > (1) (0) Tanggapi Laporkan > Nyai Menyan > <http://my.kompas.com/users/view/a7aff704c1ffa222f465f5b8545e0d1d> Sabtu, > 13 Mei 2017 | 13:29 > indonesia terlalu religius, sekulerisme ibaratnya hewan langka di > indonesia. > (2) (0) Tanggapi Laporkan > > Ristama Simorangkir > <http://sains.kompas.com/read/2017/05/13/13104961/kenapa.indonesia.tak.maju-maju.dalam.sains.dan.teknologi.#> > Sabtu, > 13 Mei 2017 | 13:19 > gara2 angggota dpr, dprd, dpd, gubernur ( kepala daerah ) masih sangat > banyak yang "maling". > > > > >
