Tadi siang saya tertarik utk. melihat-lihat persiapan utk. kompestisi penemuan baru dibidang sains/science di Universitas setempat yg. dibuat oleh anak2 pintar dari tingkat SMP dan SMA dari seluruh Kanada. Kompetisi seperti ini dilakukan setiap tahun. Saya kagum dgn. penelitian2 dari anak2 muda ini. Kebetulan anak saya yg. menjadi Chair/Kepala dari penyelangaran ini. Poin saya adalah penelitian harus sudah dimulai/dipromosikan dari tingkat SMP. BH Jo
Canada’s brightest young scientists will be in Regina May 14-20 for the 56th edition of the Canada-Wide Science Fair. The event will feature 500 students and their 400 projects that have earned top marks at regional science fairs across the country. The event is expected to attract about 6,000 visitors to the Regina area, making this Canada’s largest youth science competition. Visitors will include 500 volunteers, 350 judges, 200 chaperones and the public. The national science fair, taking place on the campus of the University of Regina, recognizes students from Grades 7 to 12 that have identified solutions to a local, regional or global concern through their science project. Past projects have addressed issues from climate change and food security to declining natural resources and environmental degradation. Students are competing for nearly $1 million in cash awards and scholarships and are assessed by volunteer judges, including professional scientists, researchers and engineers. “It’s a thrill to host this showcase of finalists from our regional fairs across the country,” says Jim Jo, Vice-President at Saskatchewan Association of Science Fairs. “Everyone involved is committed to supporting youth as they develop solutions that will help humanity in the years and generations to come. Each year, the Canada-Wide Science Fair brings thousands of people together and we’re simply delighted to welcome them to Regina, and celebrate the achievements of the finalists.” ttps://www.youthscience.ca/news/canada-wide-science-fair-coming-regina ---In [email protected], <ajegilelu@...> wrote : Kutipan: "Menurut Chairil, Indoneisa telah masuk masa krisis dalam pengembangan iptek. Untuk itu, mewakili AIPI, ia meminta kepada pemerintah untuk membenahi kualitas iptek. Salah satunya dengan peningkatan pertumbuhan ekonomi." Dalam obrolan santai di meja kopi, seorang kawan pernah mengibaratkan anggaran sebagai ruh dalam dunia penelitian. Di media, para peneliti juga sering mengeluhkan minimnya anggaran penelitian. Ternyata, semua keluhan cocok dengan permintaan Chairil Abidin di atas. Apalagi dalam APBN belum ada pos anggaran khusus untuk penelitian - sedangkan anggaran dari Kementrian Ristek-Dikti sudah 2 tahun ini terus mengalami pengurangan, termasuk untuk lembaga pengkajian besar seperti LIPI, BPPT, BATAN. Karena itu permintaan membenahi kualitas iptek dengan meningkatkan pertumbuhan ekonomi nggak bisa enggak bikin saya nyengir sendiri, malu. Bukan cuma karena permintaan Chairil dkk pada bulan pendidikan ini sudah ada jawabannya 2 bulan lalu, tapi juga isi permintaan dan jawaban itu hanya memperkokoh lingkaran setan belaka. Tak ubahnya teka-teki ayam & telur; mana yang lebih dulu. Ekonomi Indonesia Akan Kuat Jika Memiliki Generasi Cerdasǃ http://economy.okezone.com/read/2017/03/25/320/1651085/jokowi-ekonomi-indonesia-akan-kuat-jika-miliki-generasi-cerdas Masih tersedia 28 tahun untuk membuktikan Indonesia menjadi negara yang maju berkat pendidikan atau tetap sebagai negara tertinggal yang perekonomiannya semakin tenggelam dalam lautan hutang, pada seabad kemerdekaan nanti. Pemanfaatan waktu yang tersedia sangatlah bergantung pada pemerintah sekarang yang dipimpin seorang insinyur (insinyur ketiga yang menjabat presiden RI). Apakah dia ingin dikenang sebagai peletak dasar kemajuan nasional berlandaskan pendidikan atau dikenang berabad-abad hanya sebagai bintang iklan industri Esemka.. --- j.gedearka@... wrote: http://sains.kompas.com/read/2017/05/13/13104961/kenapa.indonesia.tak.maju-maju.dalam.sains.dan.teknologi. http://sains.kompas.com/read/2017/05/13/13104961/kenapa.indonesia.tak.maju-maju.dalam Kenapa Indonesia Tak Maju-maju dalam Sains dan Teknologi? Lutfy Mairizal Putra Kompas.com - 13/05/2017, 13:10 WIB Ilustrasi(Thinkstockphotos) JAKARTA, KOMPAS.com - Indonesia telah tertinggal dalam pengembangan sains, teknologi, serta kualitas pendidikan tinggi. Tidak hanya di tingkat dunia, tetapi juga di lingkup yang lebih kecil seperti ASEAN. Chairil Abidin, anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) menguraikan, penyebab ketertinggalan itu terurai dalam Hal itu tertuang dalam Buku Putih Sains, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Menuju Indonesia 2045. Chairil mengatakan, pendidikan tinggi menghadapi sejumlah kendala dalam melakukan riset, seperti ketidaksesuaian waktu mengajar dan waktu penelitian, keterbatasan anggaran serta fasilitas riset, dan insentif yang tidak menarik bagi peneliti. Kompetensi guru juga ikut memberikan sumbangsih. Hasil rata-rata uji kompetensi guru pada tahun 2015 hanya 53,02 persen. Untuk calon guru, nilai uji kompetensi lebih rendah lagi, 44 persen kemampuan di bidang kompetensi dan 56,69 di bidang pedagogik. "Tidak ada anak SMA yang bright yang mau menjadi guru. Persoalan kualitas dosen yang dirilis Asia Week tahun 2000, Indonesia berada di bawah kualitas Singapura, Filipina, Thailand, Malaysia," kata Chairil dalam peluncuran buku putih itu di Jakarta pada Jumat (12/5/2017). Faktor bahasa rupanya juga tidak dapat disepelekan. Mengutip penelitian Richard Horton, faktor bahasa menjadi kendala utama kuranngya suara Indonesia dalam penelitian di tingkat global, khususnya kesehatan dan kedokteran. Sebelum Indonesia merdeka, pernah terdapat kewajiban mmebaca buku sastra sebanyak 25 judul di Algemene Middelbare School (Pendidikan Menengah) Hindia Belanda A dan 15 Judul pada AMS Hindia Belanda B, 15 judul. Namun, sejak 1950an, secara bertahap kewajiban itu hilang. "Taufik Ismail sebut sekarang anak SMA nol buku. Mahasiswa juga nol buku hanya diktator, belajar dari diktat yang ditulis 20 tahun lalu," ujar Chairil. Chairl bercerita pengalamannya saat menghadiri pertemuan antara pelaku usaha dan universitas ternama di kantor Wakil Presiden BJ Habibie tahun 1998. Usai pertemuan itu, salah seorang dosen mengungkapkan bahwa buku ajar yang digunakannnya tidak lagi relevan. "Faktor gizi juga berperan. Ada 37 persen prevalensi tubuh pendek dengan rata-rata IQ 89. Jadi tidak heran kalau skor PISA (Programme for Internasional Student Assessment) kita rendah," ucap Chairil. Menurut Chairil, Indoneisa telah masuk masa krisis dalam pengembangan iptek. Untuk itu, mewakili AIPI, ia meminta kepada pemerintah untuk membenahi kualitas iptek. Salah satunya dengan peningkatan pertumbuhan ekonomi. Kenaikan pertumbuhan ekonomi diharapakan dapat menaikan daya beli masyarakat terhadap hasil industri dalam negeri. Universitas dapat bekerja sama dengan pelaku industri untuk mendongrak industri dalam negeri. Selain itu, hal paling utama paling utama adalah lingkungan kondusif bagi inovasi nasional. PenulisLutfy Mairizal Putra EditorYunanto Wiji Utomo Ada 5 komentar untuk artikel ini Kompas.com http://www.kompas.com/ tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE Saru sosact Sabtu, 13 Mei 2017 | 14:16 karena walaupun ada yang salah, tidak mau meperbaiki diri sendiri karena merasa diri sudah paling benar. karena merasa pemahaman iman dan pengetahuan sudah paling benar, maka tidak mau belajar dri jatuh bangun proses pembangunan negara lain yang sudah maju duluan. (0) (0) Tanggapi Laporkan hanafi tan Sabtu, 13 Mei 2017 | 13:59 di indonesia kebodohan dipelihara (0) (0) Tanggapi Laporkan I me Sabtu, 13 Mei 2017 | 13:52 masyarakat masih bingung antara spiritualitas dan agama. ketika agama dianggap spiritualitas maka rusaklah cara berpikir org tsb krn agama adalah produk sosial politik terstruktur dg pemuka agama sbg tuhannya yg mengendalikan masyarakat. untuk melanggengkan hal ini kebodohan di masyarakat diperlukan (1) (0) Tanggapi Laporkan Nyai Menyan Sabtu, 13 Mei 2017 | 13:29 indonesia terlalu religius, sekulerisme ibaratnya hewan langka di indonesia. (2) (0) Tanggapi Laporkan Ristama Simorangkir Sabtu, 13 Mei 2017 | 13:19 gara2 angggota dpr, dprd, dpd, gubernur ( kepala daerah ) masih sangat banyak yang "maling".
