Surat Terbuka untuk Jusuf Kalla Terkait Kesenjangan Ekonomi Berdasarkan SARA 
http://www.gerilyapolitik.com/surat-terbuka-untuk-jusuf-kalla-terkait-kesenjangan-ekonomi-berdasarkan-sara/
 
 gerilyapolitik.com http://www.gerilyapolitik.com/author/gerpol3/  -

 14 Mei 2017
 

 

 

 Surat Terbuka Kpd Yth. Bpk. Yusuf Kalla
 Dear pa Kalla,
Statistik yg Anda kemukakan itu saya sangat percaya kebenarannya. Mungkin Anda 
bingung Pak dgn statistik ini, biar saya coba bantu menjelaskan dari sudut 
pandang saya sebagai tionghoa Kristen, walau sebetulnya Anda juga pasti tahu 
kisah banyak konglomerat tionghoa Kristen atau tionghoa Kong hu cu Indonesia 
yang memulai usahanya dari nol dan berasal dari keluarga miskin!
 Menurut saya Pak, penyebab kesenjangan tersebut adalah akibat perbedaan budaya 
yang sangat besar, antara budaya yg sangat efisien dengan budaya yg sangat 
boros.
Biar saya jabarkan dalam bahasa sehari-hari Pak…
 
 1. Bagi orang tionghoa, dlm berbisnis menjaga kepercayaan bos (supplier) dan 
kepercayaan customer sangat penting. Ini menyebabkan kami tidak pernah 
kekurangan modal ketika dagangan membesar karena selalu disupport supplier.
 

 2. Rata2 kami dididik dan mendidik anak2 kami, anggota keluarga kami dengan 
disiplin dan diajari tanggungjawab, terutama secara ekonomi. Bagi seorang 
tionghoa membebani keluarga secara ekonomi sangatlah memalukan. Sebagian akan 
mengalami tidak dipandang sebelah mata, perasaan terinjak2. Namun semua itu 
tidak membuat kami cuma bisa sirik dan benci Pak, tp memicu kami utk bangkit 
dan berusaha sebaik2nya agar tidak dihina.
 3. Kami tidak banyak mengeluarkan uang untuk berdandan, bersosialisasi, 
beramal, saweran sekeliling supaya dipandang kaya dan dihormati. Jika ada 
tionghoa yg melakukan itu semua biasanya mereka yang sudah di level berekonomi 
berlimpah atau sedikit yg maksa. 
Pelit ya? Memang itu sifat dasar etnis tionghoa yang sudah tidak begitu parah 
sekarang karena akulturasi budaya dan ajaran agama yg mengajarkan untuk memberi 
dan menabur kepada yg membutuhkan.
 Karena kami sangat disiplin kepada diri sendiri, kamipun memperlakukan orang 
lain seperti itu. Kalau kami dari susah bisa bangkit dengan kerja keras, maka 
orang lain kalau susah ya salahnya sendiri malas dan boros, tidak bisa jaga 
kepercayaan dan mental krupuk. Kami tidak akan kasihan dengan orang yg malas 
dan bermental jelek.
 4. Kami jarang melakukan kawin cerai dan berpoligami. Sehingga energi dan 
sumber daya keluarga tidak terbuang untuk urusan ribut rumah tangga dan kami 
bisa terus mengejar target ekonomi kami.
 5. Tionghoa Kristen yg sungguh2 beriman banyakan bayar perpuluhan dari 
pendapatannya ke gereja, dan menurut janji Alkitab berkat Tuhan akan tercurah 
bagi umat yg taat. Percaya atau tidak, data statistik Anda membuktikannya toh? 
Sedang tionghoa Kong hu cu rata2 banyak membantu anggota keluarganya untuk 
bangkit secara ekonomi, tidak diberi ikan tetapi kail! Dan orang yang menabur 
yang baik tentu akan menuai yg baik kan?
 6. Kesuksesan para tionghoa tersebut tentu secara otomatis menarik naik kaum 
keluarga dan kerabatnya dari generasi ke generasi. Semua suku tentu lebih mudah 
berkomunikasi, berinteraksi dan menanamkan kepercayaannya kepada sesama kerabat 
dan sukunya sendiri toh? Apa Bpk tidak begitu?
 7. Pembatasan profesi suku tionghoa dari zaman dahulu dalam segala bidang 
telah membuat jalur dagang satu2nya jalan penghidupan. Sekarang di kala bangsa 
ini mulai menyadari perlunya mencetak byk enterprenueur kami sudah melakukannya 
dari generasi ke generasi.
 8. Mungkin darah dan air mata kami yang telah banyak tercurah di Bumi Pertiwi 
saat peristiwa pembantaian dgn isu PKI dan Kerusuhan rasial 13 Mei 1998 telah 
mengetuk pintu belas kasihan Tuhan kepada kami, dan sebaliknya mendatangkan 
kutuk bagi para pelaku dan keturunannya. Mohon maaf Pak, saya tidak maksud 
mengutuki, saya diajar untuk mengampuni dan mendoakan pertobatan mereka.
 Begitu kurang lebih analisa saya sebagai seorang tionghoa Kristen Pak. Mungkin 
Bapak bisa kasih analisa mengapa banyak orang Islam yg miskin?
Kalau boleh saya kasih masukan Pak… karena jumlah orang Islam itu ratusan juta 
di Indonesia Pak! Ya iyalah lebih banyak orang miskin Islam dibanding orang 
miskin tionghoa, lho.
 Dan ilmu ekonomi suku tionghoa yg muktahir ada dalam diri seorang Ahok Pak, 
Tionghoa Kristen gila yang menyimpang dari kebiasaan sukunya yg rata2 punya 
prinsip “Jangan mencampuri urusan orang lain, apa untungnya?” Si kafir Ahok 
punya hati dan belas kasihan untuk membenahi perekonomian orang2 miskin di DKI 
dengan visi “Penuh perutnya, dompetnya dan otaknya” dengan tidak mengejar 
pertambahan kekayaan bagi dirinya sendiri yang sangat bertentangan dengan 
budaya Tionghoa di mana ekonomi keluarga itu no.1, sosial nomor terakhir.
 Dan apa yang dilakukan bangsa ini kepada Ahok? Memenjarakannya! Dan 
menggesernya dengan pejabat yg trackrecord, kapabilitas dan integritasnya belum 
teruji hanya karena seiman.
 Nah, dengan pola pikir dan mental yg seperti ini ya saya gak heran Pak, 
mengapa masih banyak orang muslim yg miskin di tanah air. Karena mereka masih 
dijajah oleh saudara seimannya (para koruptor yang punya prinsip tidak apa2 
korupsi kalau buat bangun mesjid dan sumbang anak yatim piatu… Bapak tahu gak 
uang haram itu mengandung kutuk?)
 Well, begitulah panjang lebar penjelasan saya untuk dimengerti Pak. 
Mohon maaf bila tersinggung, karena kamipun sudah bukan tersinggung lagi dan 
merasa dibully habis sejak dari zaman kecil yg kalau lewat sering diteriaki 
“Cina! Cina loe!” Hingga hari ini dipanggil dgn nama kafir, dirusak tempat 
ibadahnya, didiskriminasi dalam segala perijinan dan beasiswa, dan dihalalkan 
darahnya untuk dibunuh.
 Catatan:
 Kami memperolah tulisan ini di sebuah Grup WA, Gerilyawan sedang mengonfirmasi 
ke J Kristiani terkait tulisan ini.
 
 (gerpol)
 

Kirim email ke