Pada Rabu, 17 Mei 2017 14:20, "[email protected] [GELORA45]"
<[email protected]> menulis:
Goblok nya kelihatan lagi!Siapa yang menganalogikan ahok dengan yesus?
Yang ane analogikan adalah pengorbanan dan korban yang ente persoalkan.Kan ente
bilang ahok dikorbankan Jokowi? Moso’ bukan?Ane bilang ahok tidak dikorbankan
Jokowi! Sama persis dengan dengan pendapat yesus dikorbankan.Bagi ane yesus
tidak dikorbankan tetapi malah mengorbankan dirinya sendiri.Moso’ ente gak
ngerti? Atau memang ente yang mengaku pengikut yesus malah menyangkal ini?Ane
kasih tahu ya: yesus itu memang mengorbankan diri sebagai penggenapan dalam
menebus dosa manusia. Ketika ane bilang ente goblok itu, ane tulis alasannya
kenapa ente goblok.Ane tidak mengada2. Tempo hari ente bilang ane
menggoblok2kan ente. Ini salah.Sama sekali salah. Ane tidak menggoblok2an ente.
Ente bilang ente goblok dengan alasan. Telusuri tulisan ane dimilis ini.Ane
tidak pernah bilang orang lain goblok selain ente dan si ajeg kadang kala saja.
tetapi kebanyakan ente yg ane bilang goblok. Oh ya kalau menggoblok2an itu
artinya ente tidak goblok.Ane bilang ente goblok. Jadi jangan bikin2 bilang ane
menggoblok2an ente!Ane bilang ente goblok! Pertanyaan ente yang terakhir
sijokowi dianalogikan sebagai apa itu seharusnya ente yang jawab.Ane tidak
menganalogikan siapa2. Sekali lagi ane menganalogikan kata “korban” nya ente
yang ingin menyerang Jokowi pake’ kasus ahok/almaidah. Seharusnya pertanyaan
ini kan sudah ente jawab Jokowi = trump = puppet. Ini sudah ente tulis
sebelumnya. Moso’ lupa?Koq nanya? Kalau bukan goblok apa namanya? Sudah dijawab
sendiri, lalu nanya orang lain lagi! Nesare From: [email protected]
[mailto:[email protected]]
Sent: Tuesday, May 16, 2017 10:58 AM
To: Yahoogroups <[email protected]>
Subject: Re: [GELORA45] Re: Fw: PRESIDEN: Soal Vonis Ahok, Saya sudah Memancing
Keluar Musuh dalam Selimut, ......... Sekarang menganalogikan Ahok dengan
Yesus, penjara dengan salib. Terus si Jokowi dianalogikan sebagai apa? Makin
lucu"It Goes On" (ngerpek ah) ---In [email protected], <nesare1@...>
wrote :
Lucunya apa? Jonathan bilang Jokowi mengorbankan ahok atau ahok dikorbankan
jokowi.Ini salah Jokowi tidak mengorbankan ahok. Mereka tetap bersahabat baik.
Ahok tahu itu makanya tidak pernah mendiskreditkan Jokowi. Terbukti Jokowi juga
sudah membubarkan HTI. Seperti orang2 yg gak ngerti bilang Yesus dikorbankan.
Ini salah karena Yesus berkorban. Yesus berkorban demi menebus dosa manusia.
Salib itu pengorbanan luar biasa karena penyaliban itu adalah cara mati paling
sengsara saat itu. Itu kemenangan bukan kekalahan. Jonathan bilang ahok masuk
penjara itu kekalahan.Itu salah. Ahok masuk penjara itu kemenangan. Seperti
penyaliban Yesus itu adalah kemenangan. Yang perlu dipertanyakan selanjutnya
apakah kemenangan yesus itu bikin manusia lebih baik?Begitu juga kemenangan
ahok apakah akan bikin NKRI lebih baik? Ini yang perlu dijawab oleh manusia2
dan rakyat Indonesia. Nesare From: [email protected]
[mailto:[email protected]]
Sent: Tuesday, May 16, 2017 7:09 AM
To: [email protected]; nesare1@...
Subject: Re: [GELORA45] Re: Fw: PRESIDEN: Soal Vonis Ahok, Saya sudah Memancing
Keluar Musuh dalam Selimut, ......... Logikanya lucu"It Goes On"From:
"nesare1@... [GELORA45]" <[email protected]>Sender:
[email protected]: Tue, 16 May 2017 06:59:38 -0400To:
<[email protected]>ReplyTo:
[email protected],<nesare1@...>Subject: RE: [GELORA45] Re: Fw: PRESIDEN:
Soal Vonis Ahok, Saya sudah Memancing Keluar Musuh dalam Selimut, ......... Ya
seperti ente juga berkhayal sama Tuhan ente: Yesus berkorban disalib mati untuk
menebus dosa manusia2 seperti ente.Seharusnya menurut ente kan: Yesus
dikorbankan bukan berkorban! Kaya’ begini pengikut Yesus?!!!! Coba bandingkan:
yesus membenci orang yang menyalib dia tidak? versus Ahok membenci Jokowi yang
telah mengorbankan dia tidak? Nesare From: [email protected]
[mailto:[email protected]]
Sent: Monday, May 15, 2017 8:48 PM
To: [email protected]
Subject: [GELORA45] Re: Fw: PRESIDEN: Soal Vonis Ahok, Saya sudah Memancing
Keluar Musuh dalam Selimut, ......... haiya.... para Jokower ini khayalannya
tinggi banget, mana adalah itu "Ahoklah yang mengorbankan dirinya kepada
sahabatnya Jokowi untuk menyelesaikan misi mereka berdua." ada2 lagi. pingin
tanya Kutipan:Jadi, salah besar jika Jokowi meninggalkan Ahok. Ahoklah yang
mengorbankan dirinya kepada sahabatnya Jokowi untuk menyelesaikan misi mereka
berdua. Misi menjadikan Indonesia negara maju dan berkeadilan. Bagi Jokowi
menyelesaikan misi itu berarti mewujudkan nilai-nilai Ahok sahabatnya sendiri
---In [email protected], <k.prawira@...> wrote :
Sabtu, 13 Mei 2017
PRESIDEN: Soal Vonis Ahok, Saya sudah Memancing Keluar Musuh dalam Selimut,Mana
yang bisa di pertahankan mana Yang harus di singkirkan,Karna saya lihat ini
sangat Membahayakan NKRI
CIKAOK NEWS - Satu lagi tulisan yang perlu ahoker dan Jokower pahami betul,
terutama akan adanya aksi nyata musuh yang ingin membenturkan kubu Ahoker dan
Jokower, penyusup kemarin adalah salah satu buktinya, seharusnya disaat ini
ahoker dan jokower harus lebih solid lagi demi NKRI yang lebih baik !!
Sejak kasus Ahok masuk persidangan kita tidak pernah mendengar Presiden Jokowi
berkomentar. Masa-masa kampanye yang mengharu biru juga kita tidak mendengar
sedikitpun sinyal gerakan Pak De. Pak De bak pertapa pergi bertapa brata
meninggalkan sohib kentalnya Ahok, co drivernya saat pilgub 2012 lalu.
Banyak orang membaca Pak De meninggalkan Ahok bertarung di gelanggang
pertarungan sendirian. Benarkah anggapan itu?
Selasa malam, 9 Mei 2017, di LP Cipinang, dari atas mobil komando seorang
penyusup mendapat panggung untuk bersuara. Perempuan paruh baya ini mencoba
memprovokasi ribuan massa dengan mengatakan rezim Jokowi lebih parah dari rezim
SBY. Ocehannya itu telah menjadi viral. Videonya menyebar kemana-mana.
Sebagai komandan di mobil komando, jujur saya kebobolan. Saat perempuan
penyusup itu naik ke mobil komando, saya sedang merebahkan diri di atas aspal
di samping truk kontainer yang terjebak macet sekitar sepelemparan batu
jaraknya dari mobil komando.
Saya sudah tidak mampu bertahan lagi berdiri di atas mobil komando.
Tulang-tulangku serasa mau remuk. Tidak sanggup lagi menahan bobot tubuhku.
Saya minta izin rehat sejenak. Kendali komando diambil alih oleh teman lain.
Biasanya jika ada orang ingin orasi, jika tidak saya kenal akan saya selidiki
siapa dirinya. Lalu membaca air mukanya. Menanyakan sedikit siapa dia. Apa
motifnya. Apa yang mau diomongkannya. Sekaligus mewanti-wanti jangan ngomong
macem-macem. Memastikan dia bukan penyusup yang akan membuat gaduh. Itu standar
penyaringan untuk orang yang tidak saya kenal jika mau bicara.
Seperti Mbak Ririn dari Koalisi Perempuan yang ingin orasi malam itu. Tidak
mudah untuk naik ke panggung meski mereka terus mencolek kaki saya agar diberi
kesempatan bicara. Ada seorang pria yang ingin bicara satu menit, juga tidak
saya berikan meskipun terus merayu dan mendesak.
Ya sudahlah, nasi sudah menjadi bubur. Pertanyaannya benarkah Jokowi
meninggalkan Ahok? Seperti mulut ember perempuan penyusup itu?
Setiap profesi entah itu politisi, tentara, polisi, dokter, perawat dlsb tentu
sudah tahu risiko pilihan profesinya. Tentara pasti sudah ikat kontrak untuk
rela mati saat perang. Polisi sudah ikat kontrak rela mati demi melawan
penjahat. Dokter rela kena penyakit saat merawat pasien. Itu risiko.
Politisi pejuang berkarakter seperti Jokowi dan Ahok sadar betul ranjau hutan
belantara politik Indonesia. Mereka berdua tahu jalanan berliku penuh onak duri
yang akan mereka lalui.
Mereka berdua driver dan co driver yang saling mengisi saat menjadi gubernur
dan wakil gubernur. Mereka sehati, sepikir dan sepergerakan dalam mewujudkan
cita-cita menjadi administratur keadilan sosial rakyatnya. Muara dari tujuan
mereka adalah rakyatnya.
Sejarah berkehendak lain. Jokowi naik menjadi Presiden. Ahok naik menjadi
gubernur. Dalam diri Presiden Jokowi melekat jabatan presiden sebagai pemimpin
tertinggi eksekutif, Panglima Tertinggi TNI dan juga melekat jabatan kepala
negara. Ia menjadi pemimpin bagi seluruh rakyat Indonesia. Bukan lagi partisan.
Suka tidak suka, mau tidak mau kasus Ahok ini bergerak dengan banyak manuver
dari elit nasional. Setiap pergerakan massa yang besar pasti ada elit yang
terlibat. Apakah itu pendanaan atau juga pemikiran.
Aksi 411 dan 212 bagian dari permainan elit politik nasional. Tujuannya jelas
merebut kekuasaan Jokowi. Apakah dengan cara non konstitusional ataukah
persiapan modal pilpres 2019. Ahok hanya sasaran antara saja untuk menggebuk
Jokowi. Ahok hanya batu untuk menimpuk Jokowi.
Kekeruhan pat gulipat dari elit politik nasional itu sekarang mulai tampak
perlahan. Kekeruhan adukan mereka mulai mengendap. Kini kita sudah tahu siapa
di belakang ini semua. Apa tujuannya. Apa targetnya.
Apakah Jokowi tahu hal ini? Ya jelas dong. Masak tidak tahu. Saya saja yang
makannya pecel lele sama minum kopi sachetan tahu.
Jika Pak De tahu mengapa dia diam?
Nah, inilah yang oleh anak Medan disebut Pak De itu diam-diam makan dalam.
Makin diam Pak De makin dalam terpuruk musuh dalam sempak itu. Hahaha
Pak De tahu musuh dalam sempak itu ingin dia bereaksi. Terselip lidah merespon
kasus Ahok ini. Jika Pak De kelepasan bicara, tamatlah riwayat Pak De. Senjata
berkaliber ember raksasa akan terus memberondong Pak De setiap detik.
Para cukong dibelakang siap memuntahkan uang tak berseri mendanai pembusukan
Pak De. Mirip terselip lidahnya Ahok di Kepulauan Seribu kemarin. Ahok
dibombardir tanpa ampun jadinya. Kalah dan masuk penjara.
Apakah Pak De tahu skenario musuh dalam sempak ini? Ya tahulah dong. Wong gue
saja tahu meski makannya pecel lele dan kopi sachetan.
Pak De tahu musuh dalam sempak itu sedang membuat kubangan lumpur hidup. Jika
Pak De semakin bergerak lumpur hidup itu akan menghisapnya semakin dalam. Pak
De tahu di lingkaran dalamnya banyak musuh dalam sempak sedang mengincarnya
agar bereaksi salah. Itulah yang diharapkan musuh dalam sempak ini.
Sayangnya musuh dalam sempak ini keliru membaca pikiran rakyat. Hukuman dua
tahun penjara buat Ahok malah menjadi api bumerang buat mereka. Tanpa
disangka-sangka sejuta lilin menyala di banyak kota Indonesia. Ini di luar
perkiraan mereka.
Lilin-lilin ini menjadi tangan raksasa yang menolong Pak De keluar dari
perangkap kubangan lumpur hidup yang dibuat musuh dalam sempak itu. Rakyat yang
selama ini diam tiba-tiba bersuara dengan caranya sendiri. Spontan. Tanpa
cukong dan mobilisasi. Tanpa iklan lama propaganda di rumah-rumah ibadah.
Pak De dari Papua pasti tersenyum manis. “Rakyatku ternyata tahu harus
bagaimana”, dalam hati Jokowi.
Energi raksasa dari cahaya lilin yang dihidupkan dari seluruh nusantara ini
menyilaukan mata musuh dalam sempak itu. Jokowi tidak sendirian. Jokowi kembali
mendapat berkah dari sohibnya Ahok yang mengorbankan dirinya demi cita-cita
luhur mereka. Menjadikan Indonesia maju dan disegani dunia.
Dari balik jeruji besi Ahok berkata kepada sohib seperjuangannya Jokowi ” Hei
buddy…Go !! Go !! Go !! You must go..dont think about me..save our country!!!
Ahok telah merelakan dirinya demi Indonesia kita. Ia tahu bahwa tidak selamanya
hidup dalam jeruji besi itu akan mengubur cita-cita keIndonesiannya. Jokowi dan
Ahok sadar bahwa muara dari semua kerja keras dan dedikasi mereka adalah untuk
rakyatnya. Siapapun diantara mereka akan menjadi pundak untuk memenangkan
cita-cita luhur bangsa.
Jadi, salah besar jika Jokowi meninggalkan Ahok. Ahoklah yang mengorbankan
dirinya kepada sahabatnya Jokowi untuk menyelesaikan misi mereka berdua. Misi
menjadikan Indonesia negara maju dan berkeadilan. Bagi Jokowi menyelesaikan
misi itu berarti mewujudkan nilai-nilai Ahok sahabatnya sendiri
Trending Topik di 20.47
SUMBER:
http://www.cikaok-news.com/2017/05/presiden-soal-vonis-ahok-saya-sudah.html?m=1
#yiv5951158406 #yiv5951158406 -- #yiv5951158406ygrp-mkp {border:1px solid
#d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv5951158406
#yiv5951158406ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv5951158406
#yiv5951158406ygrp-mkp #yiv5951158406hd
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px
0;}#yiv5951158406 #yiv5951158406ygrp-mkp #yiv5951158406ads
{margin-bottom:10px;}#yiv5951158406 #yiv5951158406ygrp-mkp .yiv5951158406ad
{padding:0 0;}#yiv5951158406 #yiv5951158406ygrp-mkp .yiv5951158406ad p
{margin:0;}#yiv5951158406 #yiv5951158406ygrp-mkp .yiv5951158406ad a
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv5951158406 #yiv5951158406ygrp-sponsor
#yiv5951158406ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv5951158406
#yiv5951158406ygrp-sponsor #yiv5951158406ygrp-lc #yiv5951158406hd {margin:10px
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv5951158406
#yiv5951158406ygrp-sponsor #yiv5951158406ygrp-lc .yiv5951158406ad
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv5951158406 #yiv5951158406actions
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv5951158406
#yiv5951158406activity
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv5951158406
#yiv5951158406activity span {font-weight:700;}#yiv5951158406
#yiv5951158406activity span:first-child
{text-transform:uppercase;}#yiv5951158406 #yiv5951158406activity span a
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv5951158406 #yiv5951158406activity span
span {color:#ff7900;}#yiv5951158406 #yiv5951158406activity span
.yiv5951158406underline {text-decoration:underline;}#yiv5951158406
.yiv5951158406attach
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px
0;width:400px;}#yiv5951158406 .yiv5951158406attach div a
{text-decoration:none;}#yiv5951158406 .yiv5951158406attach img
{border:none;padding-right:5px;}#yiv5951158406 .yiv5951158406attach label
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv5951158406 .yiv5951158406attach label a
{text-decoration:none;}#yiv5951158406 blockquote {margin:0 0 0
4px;}#yiv5951158406 .yiv5951158406bold
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv5951158406
.yiv5951158406bold a {text-decoration:none;}#yiv5951158406 dd.yiv5951158406last
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv5951158406 dd.yiv5951158406last p
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv5951158406
dd.yiv5951158406last p span.yiv5951158406yshortcuts
{margin-right:0;}#yiv5951158406 div.yiv5951158406attach-table div div a
{text-decoration:none;}#yiv5951158406 div.yiv5951158406attach-table
{width:400px;}#yiv5951158406 div.yiv5951158406file-title a, #yiv5951158406
div.yiv5951158406file-title a:active, #yiv5951158406
div.yiv5951158406file-title a:hover, #yiv5951158406 div.yiv5951158406file-title
a:visited {text-decoration:none;}#yiv5951158406 div.yiv5951158406photo-title a,
#yiv5951158406 div.yiv5951158406photo-title a:active, #yiv5951158406
div.yiv5951158406photo-title a:hover, #yiv5951158406
div.yiv5951158406photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv5951158406
div#yiv5951158406ygrp-mlmsg #yiv5951158406ygrp-msg p a
span.yiv5951158406yshortcuts
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv5951158406
.yiv5951158406green {color:#628c2a;}#yiv5951158406 .yiv5951158406MsoNormal
{margin:0 0 0 0;}#yiv5951158406 o {font-size:0;}#yiv5951158406
#yiv5951158406photos div {float:left;width:72px;}#yiv5951158406
#yiv5951158406photos div div {border:1px solid
#666666;height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv5951158406
#yiv5951158406photos div label
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv5951158406
#yiv5951158406reco-category {font-size:77%;}#yiv5951158406
#yiv5951158406reco-desc {font-size:77%;}#yiv5951158406 .yiv5951158406replbq
{margin:4px;}#yiv5951158406 #yiv5951158406ygrp-actbar div a:first-child
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv5951158406 #yiv5951158406ygrp-mlmsg
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv5951158406
#yiv5951158406ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv5951158406
#yiv5951158406ygrp-mlmsg select, #yiv5951158406 input, #yiv5951158406 textarea
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv5951158406
#yiv5951158406ygrp-mlmsg pre, #yiv5951158406 code {font:115%
monospace;}#yiv5951158406 #yiv5951158406ygrp-mlmsg *
{line-height:1.22em;}#yiv5951158406 #yiv5951158406ygrp-mlmsg #yiv5951158406logo
{padding-bottom:10px;}#yiv5951158406 #yiv5951158406ygrp-msg p a
{font-family:Verdana;}#yiv5951158406 #yiv5951158406ygrp-msg
p#yiv5951158406attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv5951158406
#yiv5951158406ygrp-reco #yiv5951158406reco-head
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv5951158406 #yiv5951158406ygrp-reco
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv5951158406 #yiv5951158406ygrp-sponsor
#yiv5951158406ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv5951158406
#yiv5951158406ygrp-sponsor #yiv5951158406ov li
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv5951158406
#yiv5951158406ygrp-sponsor #yiv5951158406ov ul {margin:0;padding:0 0 0
8px;}#yiv5951158406 #yiv5951158406ygrp-text
{font-family:Georgia;}#yiv5951158406 #yiv5951158406ygrp-text p {margin:0 0 1em
0;}#yiv5951158406 #yiv5951158406ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv5951158406
#yiv5951158406ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none
!important;}#yiv5951158406