Bung Goblok, dimaki goblok oleh sso yg keminter seperti anda itu tidak ada 
artinya sama sekali. Dengan menyamakan divonisnya Ahok dengan "pengorbanan 
Yesus" kelihatannya anda mencoba menggunakan "instinct of religion" hanya utk 
debat dimilis.
Bila menggunakan analogi kisah penyaliban Yesus, saya rasa memang yang paling 
mendekati adalah menganalogikan peran Jokowi dengan peran Pontius Pilatus yang 
"cuci tangan". 
Kenapa kok penganalogian Jokowi dengan Pontius Pilatus anda katakan sebagai 
bashing?

---In [email protected], <nesare1@...> wrote :

Pertama jelas2 sekali ente itu goblok. Karena kegoblokan ente, ente marah. Ente 
gak bisa berargumen dan maunya orang lain mengikuti jalan pikiran ente. Karena 
orang lain punya pendapat sendiri, bikin ente sewot. Lalu keluarlah kata2 
sumpahan. Ini habitat dan sifat ente!Ane tidak ada habitat dan sifat memaki 
orang lain. Ane hanya bilang ente dan siajeg yang goblok. Kenapa? Karena ente 
berdua hanya bisa mengumpat orang lain tanpa ada alasan/argument. Sama sekali 
tidak ada!Kan sudah ane telanjangi selama ini! Kedua koq ane munafik 
menganalogikan pengorbanan ahok dan Yesus? Ane lari lagi kan? Awalnya ente 
bilang ane menyamakan ahok dan yesus. Koq bisa2nya bilang ahok = Yesus? Jelas 
ahok beda sama Yesus. Ahok itu pengikut Yesus. Yang sama itu adalah sikapnya 
yaitu mencintai. Analogi ane itu adalah ahok dan Yesus adalah “korban”! Gampang 
begini dan sudah ditulis dengan rapi saja masih tidak mengerti! Kalau bukan 
goblok apa namanya? Pertanyaan: Ahok sengaja mengorbankan dirinya? Dan Yesus 
sengaja mengorbankan dirinya?Kata “sengaja” penuh dengan muatan filosofis. 
Kaya’nya otak ente gak akan nyampe disitu. Kalo ente menulis ttg ini, ente 
tidak konsekwen terhadap pendapat ane yg bilang ente goblok. Jadi ane sudahi 
disini saja. terlalu jauh buat IQ ente. Coba ngomong yg enteng2 saja….dan 
begitu banyak pertanyaan ane yg ente gak bisa jawab. Jangan ngomong Yesuslah, 
ente gak ngerti sama sosok ini! Sekarang bashing nya lari ke Jokowi = ponsius 
Pilatus? Hehehehehe. Kalau ini bukan goblok melainkan gila! Jelas sekali ente 
gak ngerti ajaran agama ente! Sama sekali tidak ngerti! Coba sekali2 baca injil 
ente seperti ahok! Koq bisa ada manusia bilang 2 manusia itu sama?! Kalau bukan 
goblok apa namanya? Ente sama spouse itu sama ya? Kalau sama koq bisa punya 
anak ya? Hehehehehehe lucu banget ente ini! ini persis dengan analogi interest 
rate dan mangga. Koq bisa2nya ente bilang semua interest rate sama. Ane kasih 
analoginya dengan mangga: mangga harum manis itu emangnya sama dengan mangga 
manalagi? Lalu kabuuurrrrr. Jangan lari dari substansi diskusinya! Salah satu 
substansi diskusinya adalah: khayalan!Mana argument khayalannya??????!!!!Ente 
hanya bisa bikin2 statement statement yang mencaci maki orang! Nesare    From: 
[email protected] [mailto:[email protected]] 
Sent: Wednesday, May 17, 2017 11:07 AM
To: Yahoogroups <[email protected]>
Subject: Re: [GELORA45] Re: Fw: PRESIDEN: Soal Vonis Ahok, Saya sudah Memancing 
Keluar Musuh dalam Selimut, .........  Melihat habit dan sukanya anda dgn kata 
"goblok" kelihatannya mau tidak mau saya ganti nama anda dari ""Oon" jadi 
"Goblok". Bung Goblok, selain goblok anda kok juga munafik setelah 
menganalogikan Ahok dgn Yesus sekarang bersilat lidah yg dianalogikan 
pengorbanan Yesus dgn pengorbanan Ahok. Apa maksud anda itu si Ahok dengan 
sengaja mengorbankan dirinya agar dipenjara sama seperti Yesus mengorbankan 
dirinya utk disalib?  Dgn analogi penyaliban Yesus ini saya kembangkan lagi:- 
kasusnya hampir mirip "penghinaan agama"- ada para Imam Besar dan kaum Farisi, 
mungkin disini para Imam Besar MUI, FPI, HTI, FUI, GNPF MUI, dlsb dan para 
munafik seperti Amin Rais, Prabowo dlsb.- ada tekanan massa yg teriak2 
penjarakan Ahok, gantung Ahok dlsb- mungkin si Anies Baswedan si mantan menteri 
bisa dianalogikan dgn Yesus Barabas si residivis Nah si Jokowi mau dianalogikan 
sebagai apa? kelihatannya yg paling cocok kok Pontius Pilatus yg biarpun tidak 
bisa menemukan kesalahan pada diri Yesus tetapi tunduk pada tekanan masa utk 
kemudian "cuci tangan" menyerahkan Yesus utk diadili dan disalib. Demikian juga 
si Jokowi yg juga cuci tangan sambil menyeret Ahok kepengadilan dan dipenjara.  
  ---In [email protected], <nesare1@...> wrote :

Goblok nya kelihatan lagi!Siapa yang menganalogikan ahok dengan yesus? Yang ane 
analogikan adalah pengorbanan dan korban yang ente persoalkan.Kan ente bilang 
ahok dikorbankan Jokowi? Moso’ bukan?Ane bilang ahok tidak dikorbankan Jokowi! 
Sama persis dengan dengan pendapat yesus dikorbankan.Bagi ane yesus tidak 
dikorbankan tetapi malah mengorbankan dirinya sendiri.Moso’ ente gak ngerti? 
Atau memang ente yang mengaku pengikut yesus malah menyangkal ini?Ane kasih 
tahu ya: yesus itu memang mengorbankan diri sebagai penggenapan dalam menebus 
dosa manusia. Ketika ane bilang ente goblok itu, ane tulis alasannya kenapa 
ente goblok.Ane tidak mengada2. Tempo hari ente bilang ane menggoblok2kan ente. 
Ini salah.Sama sekali salah. Ane tidak menggoblok2an ente. Ente bilang ente 
goblok dengan alasan. Telusuri tulisan ane dimilis ini.Ane tidak pernah bilang 
orang lain goblok selain ente dan si ajeg kadang kala saja. tetapi kebanyakan 
ente yg ane bilang goblok. Oh ya kalau menggoblok2an itu artinya ente tidak 
goblok.Ane bilang ente goblok. Jadi jangan bikin2 bilang ane menggoblok2an 
ente!Ane bilang ente goblok! Pertanyaan ente yang terakhir sijokowi 
dianalogikan sebagai apa itu seharusnya ente yang jawab.Ane tidak 
menganalogikan siapa2. Sekali lagi ane menganalogikan kata “korban” nya ente 
yang ingin menyerang Jokowi pake’ kasus ahok/almaidah. Seharusnya pertanyaan 
ini kan sudah ente jawab Jokowi = trump = puppet. Ini sudah ente tulis 
sebelumnya. Moso’ lupa?Koq nanya? Kalau bukan goblok apa namanya? Sudah dijawab 
sendiri, lalu nanya orang lain lagi! Nesare From: [email protected] 
[mailto:[email protected]] 
Sent: Tuesday, May 16, 2017 10:58 AM
To: Yahoogroups <[email protected]>
Subject: Re: [GELORA45] Re: Fw: PRESIDEN: Soal Vonis Ahok, Saya sudah Memancing 
Keluar Musuh dalam Selimut, .........   Sekarang menganalogikan Ahok dengan 
Yesus, penjara dengan salib. Terus si Jokowi dianalogikan sebagai apa? Makin 
lucu"It Goes On" (ngerpek ah) ---In [email protected], <nesare1@...> 
wrote :


Lucunya apa? Jonathan bilang Jokowi mengorbankan ahok atau ahok dikorbankan 
jokowi.Ini salah Jokowi tidak mengorbankan ahok. Mereka tetap bersahabat baik. 
Ahok tahu itu makanya tidak pernah mendiskreditkan Jokowi. Terbukti Jokowi juga 
sudah membubarkan HTI. Seperti orang2 yg gak ngerti bilang Yesus dikorbankan. 
Ini salah karena Yesus berkorban. Yesus berkorban demi menebus dosa manusia. 
Salib itu pengorbanan luar biasa karena penyaliban itu adalah cara mati paling 
sengsara saat itu. Itu kemenangan bukan kekalahan. Jonathan bilang ahok masuk 
penjara itu kekalahan.Itu salah. Ahok masuk penjara itu kemenangan. Seperti 
penyaliban Yesus itu adalah kemenangan. Yang perlu dipertanyakan selanjutnya 
apakah kemenangan yesus itu bikin manusia lebih baik?Begitu juga kemenangan 
ahok apakah akan bikin NKRI lebih baik? Ini yang perlu dijawab oleh manusia2 
dan rakyat Indonesia. Nesare  From: [email protected] 
[mailto:[email protected]] 
Sent: Tuesday, May 16, 2017 7:09 AM
To: [email protected]; nesare1@...
Subject: Re: [GELORA45] Re: Fw: PRESIDEN: Soal Vonis Ahok, Saya sudah Memancing 
Keluar Musuh dalam Selimut, .........  Logikanya lucu"It Goes On"From: 
"nesare1@... [GELORA45]" <[email protected]>Sender: 
[email protected]: Tue, 16 May 2017 06:59:38 -0400To: 
<[email protected]>ReplyTo: 
[email protected],<nesare1@..>Subject: RE: [GELORA45] Re: Fw: PRESIDEN: 
Soal Vonis Ahok, Saya sudah Memancing Keluar Musuh dalam Selimut, .........  Ya 
seperti ente juga berkhayal sama Tuhan ente: Yesus berkorban disalib mati untuk 
menebus dosa manusia2 seperti ente.Seharusnya menurut ente kan: Yesus 
dikorbankan bukan berkorban! Kaya’ begini pengikut Yesus?!!!! Coba bandingkan: 
yesus membenci orang yang menyalib dia tidak? versus Ahok membenci Jokowi yang 
telah mengorbankan dia tidak? Nesare  From: [email protected] 
[mailto:[email protected]] 
Sent: Monday, May 15, 2017 8:48 PM
To: [email protected]
Subject: [GELORA45] Re: Fw: PRESIDEN: Soal Vonis Ahok, Saya sudah Memancing 
Keluar Musuh dalam Selimut, .........  haiya... para Jokower ini khayalannya 
tinggi banget, mana adalah itu "Ahoklah yang mengorbankan dirinya kepada 
sahabatnya Jokowi untuk menyelesaikan misi mereka berdua." ada2 lagi. pingin 
tanya Kutipan:Jadi, salah besar jika Jokowi meninggalkan Ahok. Ahoklah yang 
mengorbankan dirinya kepada sahabatnya Jokowi untuk menyelesaikan misi mereka 
berdua. Misi menjadikan Indonesia negara maju dan berkeadilan. Bagi Jokowi 
menyelesaikan misi itu berarti mewujudkan nilai-nilai Ahok sahabatnya sendiri 

---In [email protected], <k.prawira@...> wrote :
Sabtu, 13 Mei 2017 
PRESIDEN: Soal Vonis Ahok, Saya sudah Memancing Keluar Musuh dalam Selimut,Mana 
yang bisa di pertahankan mana Yang harus di singkirkan,Karna saya lihat ini 
sangat Membahayakan NKRI 

CIKAOK NEWS - Satu lagi tulisan yang perlu ahoker dan Jokower pahami betul, 
terutama akan adanya aksi nyata musuh yang ingin membenturkan kubu Ahoker dan 
Jokower, penyusup kemarin adalah salah satu buktinya, seharusnya disaat ini 
ahoker dan jokower harus lebih solid lagi demi NKRI yang lebih baik !! 

Sejak kasus Ahok masuk persidangan kita tidak pernah mendengar Presiden Jokowi 
berkomentar. Masa-masa kampanye yang mengharu biru juga kita tidak mendengar 
sedikitpun sinyal gerakan Pak De. Pak De bak pertapa pergi bertapa brata 
meninggalkan sohib kentalnya Ahok, co drivernya saat pilgub 2012 lalu. 
Banyak orang membaca Pak De meninggalkan Ahok bertarung di gelanggang 
pertarungan sendirian. Benarkah anggapan itu? 

Selasa malam, 9 Mei 2017, di LP Cipinang, dari atas mobil komando seorang 
penyusup mendapat panggung untuk bersuara. Perempuan paruh baya ini mencoba 
memprovokasi ribuan massa dengan mengatakan rezim Jokowi lebih parah dari rezim 
SBY. Ocehannya itu telah menjadi viral. Videonya menyebar kemana-mana. 

Sebagai komandan di mobil komando, jujur saya kebobolan. Saat perempuan 
penyusup itu naik ke mobil komando, saya sedang merebahkan diri di atas aspal 
di samping truk kontainer yang terjebak macet sekitar sepelemparan batu 
jaraknya dari mobil komando. 

Saya sudah tidak mampu bertahan lagi berdiri di atas mobil komando. 
Tulang-tulangku serasa mau remuk. Tidak sanggup lagi menahan bobot tubuhku. 
Saya minta izin rehat sejenak. Kendali komando diambil alih oleh teman lain. 

Biasanya jika ada orang ingin orasi, jika tidak saya kenal akan saya selidiki 
siapa dirinya. Lalu membaca air mukanya. Menanyakan sedikit siapa dia. Apa 
motifnya. Apa yang mau diomongkannya. Sekaligus mewanti-wanti jangan ngomong 
macem-macem. Memastikan dia bukan penyusup yang akan membuat gaduh. Itu standar 
penyaringan untuk orang yang tidak saya kenal jika mau bicara. 

Seperti Mbak Ririn dari Koalisi Perempuan yang ingin orasi malam itu. Tidak 
mudah untuk naik ke panggung meski mereka terus mencolek kaki saya agar diberi 
kesempatan bicara. Ada seorang pria yang ingin bicara satu menit, juga tidak 
saya berikan meskipun terus merayu dan mendesak. 

Ya sudahlah, nasi sudah menjadi bubur. Pertanyaannya benarkah Jokowi 
meninggalkan Ahok? Seperti mulut ember perempuan penyusup itu? 

Setiap profesi entah itu politisi, tentara, polisi, dokter, perawat dlsb tentu 
sudah tahu risiko pilihan profesinya. Tentara pasti sudah ikat kontrak untuk 
rela mati saat perang. Polisi sudah ikat kontrak rela mati demi melawan 
penjahat. Dokter rela kena penyakit saat merawat pasien. Itu risiko. 

Politisi pejuang berkarakter seperti Jokowi dan Ahok sadar betul ranjau hutan 
belantara politik Indonesia. Mereka berdua tahu jalanan berliku penuh onak duri 
yang akan mereka lalui. 

Mereka berdua driver dan co driver yang saling mengisi saat menjadi gubernur 
dan wakil gubernur. Mereka sehati, sepikir dan sepergerakan dalam mewujudkan 
cita-cita menjadi administratur keadilan sosial rakyatnya. Muara dari tujuan 
mereka adalah rakyatnya. 

Sejarah berkehendak lain. Jokowi naik menjadi Presiden. Ahok naik menjadi 
gubernur. Dalam diri Presiden Jokowi melekat jabatan presiden sebagai pemimpin 
tertinggi eksekutif, Panglima Tertinggi TNI dan juga melekat jabatan kepala 
negara. Ia menjadi pemimpin bagi seluruh rakyat Indonesia. Bukan lagi partisan. 

Suka tidak suka, mau tidak mau kasus Ahok ini bergerak dengan banyak manuver 
dari elit nasional. Setiap pergerakan massa yang besar pasti ada elit yang 
terlibat. Apakah itu pendanaan atau juga pemikiran. 

Aksi 411 dan 212 bagian dari permainan elit politik nasional. Tujuannya jelas 
merebut kekuasaan Jokowi. Apakah dengan cara non konstitusional ataukah 
persiapan modal pilpres 2019. Ahok hanya sasaran antara saja untuk menggebuk 
Jokowi. Ahok hanya batu untuk menimpuk Jokowi. 

Kekeruhan pat gulipat dari elit politik nasional itu sekarang mulai tampak 
perlahan. Kekeruhan adukan mereka mulai mengendap. Kini kita sudah tahu siapa 
di belakang ini semua. Apa tujuannya. Apa targetnya. 

Apakah Jokowi tahu hal ini? Ya jelas dong. Masak tidak tahu. Saya saja yang 
makannya pecel lele sama minum kopi sachetan tahu. 

Jika Pak De tahu mengapa dia diam? 

Nah, inilah yang oleh anak Medan disebut Pak De itu diam-diam makan dalam. 
Makin diam Pak De makin dalam terpuruk musuh dalam sempak itu. Hahaha 

Pak De tahu musuh dalam sempak itu ingin dia bereaksi. Terselip lidah merespon 
kasus Ahok ini. Jika Pak De kelepasan bicara, tamatlah riwayat Pak De Senjata 
berkaliber ember raksasa akan terus memberondong Pak De setiap detik. 

Para cukong dibelakang siap memuntahkan uang tak berseri mendanai pembusukan 
Pak De. Mirip terselip lidahnya Ahok di Kepulauan Seribu kemarin. Ahok 
dibombardir tanpa ampun jadinya. Kalah dan masuk penjara. 

Apakah Pak De tahu skenario musuh dalam sempak ini? Ya tahulah dong. Wong gue 
saja tahu meski makannya pecel lele dan kopi sachetan. 

Pak De tahu musuh dalam sempak itu sedang membuat kubangan lumpur hidup. Jika 
Pak De semakin bergerak lumpur hidup itu akan menghisapnya semakin dalam. Pak 
De tahu di lingkaran dalamnya banyak musuh dalam sempak sedang mengincarnya 
agar bereaksi salah. Itulah yang diharapkan musuh dalam sempak ini. 

Sayangnya musuh dalam sempak ini keliru membaca pikiran rakyat. Hukuman dua 
tahun penjara buat Ahok malah menjadi api bumerang buat mereka. Tanpa 
disangka-sangka sejuta lilin menyala di banyak kota Indonesia. Ini di luar 
perkiraan mereka. 

Lilin-lilin ini menjadi tangan raksasa yang menolong Pak De keluar dari 
perangkap kubangan lumpur hidup yang dibuat musuh dalam sempak itu. Rakyat yang 
selama ini diam tiba-tiba bersuara dengan caranya sendiri. Spontan. Tanpa 
cukong dan mobilisasi. Tanpa iklan lama propaganda di rumah-rumah ibadah. 

Pak De dari Papua pasti tersenyum manis. “Rakyatku ternyata tahu harus 
bagaimana”, dalam hati Jokowi. 

Energi raksasa dari cahaya lilin yang dihidupkan dari seluruh nusantara ini 
menyilaukan mata musuh dalam sempak itu. Jokowi tidak sendirian. Jokowi kembali 
mendapat berkah dari sohibnya Ahok yang mengorbankan dirinya demi cita-cita 
luhur mereka. Menjadikan Indonesia maju dan disegani dunia. 

Dari balik jeruji besi Ahok berkata kepada sohib seperjuangannya Jokowi ” Hei 
buddy…Go !! Go !! Go !! You must go..dont think about me..save our country!!! 

Ahok telah merelakan dirinya demi Indonesia kita. Ia tahu bahwa tidak selamanya 
hidup dalam jeruji besi itu akan mengubur cita-cita keIndonesiannya. Jokowi dan 
Ahok sadar bahwa muara dari semua kerja keras dan dedikasi mereka adalah untuk 
rakyatnya. Siapapun diantara mereka akan menjadi pundak untuk memenangkan 
cita-cita luhur bangsa. 

Jadi, salah besar jika Jokowi meninggalkan Ahok. Ahoklah yang mengorbankan 
dirinya kepada sahabatnya Jokowi untuk menyelesaikan misi mereka berdua. Misi 
menjadikan Indonesia negara maju dan berkeadilan. Bagi Jokowi menyelesaikan 
misi itu berarti mewujudkan nilai-nilai Ahok sahabatnya sendiri 
Trending Topik di 20.47 
SUMBER: 
http://www.cikaok-news.com/2017/05/presiden-soal-vonis-ahok-saya-sudah.html?m=1 
(Message over 64 KB, truncated)

Kirim email ke