Kutipan :  Karena kita ini adalah saudara. Jangan saling menjelekan. Karena 
kita ini adalah saudara. Jangan saling memfitnah. Karena kita ini adalah 
bersaudara. Jangan saling menolak. Karena kita ini adalah saudara. Jangan kita 
saling mendemo. Habis energi kita untuk hal-hal yang tidak produktif seperti 
itu.(kutipan selesai)

Komentar :  Seruan Jokowi bahwa kita semua ini ``Saudara`` adalah khayalan 
belaka. Nampaknya dalam konteks ini pak Jokpowi tidak melihat dan juga tidak 
pernah mendengar bahwa dalam masyrakat dimana kita hidup di era 
``reformasi``ini, ada perjuangan yang sengit antara elemen-elemen Orde baru. 
yang ingin menghidupkan kembali kekuasaan otoriterisme militer di NKRI, yang 
berskutu dengan gearakan Islam Konservatif (radikal) seperti MUI,FPI,dan HTI, 
yang hendak meruabah NKRI menjadi Negara Syariah Islam Indonesia, yang cendrung 
mengarah ke bebtuk Negara Kekalufahan. Yang berhadap-hadapan langsung  dengan 
elemen-elemen dalam masyarakat kita yang secara teguh  berketetapan untuk 
menjunjung tinggi NKRI, Pancsia 1 Juni 1945 san UUD 45 naskah asli. 

Adanya perjuangan yang sengit ini tercermin dalam proses PILKADA Jakarta 2017, 
yang dampaknya  telah menyeret Ahok kedalam Penjara selama 2 tahun, atas 
tudukan penistaan agama, meskipun Jaksa Penuntut Umum pengadilan negeri Jakarta 
Utara tidak dapat menemukan bukti-bukti yang otentik bahwa Ahok telah melakukan 
penistaan agama. 

Maka gagasan Jokowi bahwa ``kita ini saudara``  secara hakekat berarti untuk 
menutup-nutupi adanya pertentangan yang sengit, seperti yang sudah disinggung 
diatas. Dengan menggunakan argumentasai bahwa  kita ini saudara, secara hakekat 
Jokowi cenderung untuk menegasi oposisi, pikiran tentang patriotisme dan 
semangat umum yang diwarnai oleh gelora tuntunan  jalankan Trisakti Bung Karno; 
Kembali ke UUD 45 dan Pancasila 1 Juni 1945,  yang ditolak oleh rezim 
totaliterisme militer pimpinan jendral TNI AD soeharto dan para sekutunya.

 

Seharusnya seruan Jokjowi harus bebunyi : Kita ini adalah bangsa yang Bineka 
Tunggal Ika, yang berideologikan Pancasila 1 Juni 1945, dan menjunjung tinggi 
UUD 45 naskah asli!!!.

 

Roeslan,

 

 

 

 

Von: [email protected] [mailto:[email protected]] 
Gesendet: Mittwoch, 17. Mai 2017 09:18
An: [email protected]; [email protected]; 
[email protected]
Betreff: [temu_eropa] Ini Pidato Lengkap Jokowi soal Gejolak Perpecahan di 
Tengah Masyarakat

 

  

 

 

http://nasional.kompas.com/read/2017/05/16/17274601/ini.pidato.lengkap.jokowi.soal.gejolak.

perpecahan.di.tengah.masyarakat


Ini Pidato Lengkap Jokowi soal Gejolak 


Perpecahan di Tengah Masyarakat


Fabian Januarius Kuwado

Kompas.com - 16/05/2017, 17:27 WIB

cid:[email protected]

Presiden Joko Widodo berbicara saat menemui tenaga kerja Indonesia (TKI) di 
Asia World Expo Ground, Hongkong, Minggu (30/4/2017). Presiden menggelar 
kunjungan kerja di Hongkong pada 30 April hingga 1 Mei dalam rangka 
meningkatkan kerja sama ekonomi antar-kedua negara(AFP PHOTO / ANTHONY WALLACE)

JAKARTA, KOMPAS.com - Presiden Joko Widodo akhirnya angkat bicara untuk 
merespons fenomena yang akhir-akhir ini mendera kesatuan Indonesia. Pernyataan 
Presiden tersebut diungkapkan usai menerima sejumlah tokoh lintas agama di 
Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Selasa (16/5/2017).

Berikut pernyataan utuh Presiden Jokowi:

Saya baru saja bersilaturahmi dengan beliau-beliau, tokoh agama dari Majelis 
Ulama Indonesia, Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Konferensi Wali Gereja 
Indonesia, Persekutuan Gereha Indonesia, perwakilan umat Buddha Indonesia, dari 
Hindu Dharma Indonesia dan majelis tinggi Konghucu Indonesia serta Panglima TNI 
dan Kapolri untuk membicarakan dinamika kebangsaan yang menjadi perhatian kita 
bersama.

Saya senang mendengar komitmen semua tokoh agama dan umatnya untuk terus 
menjaga terus mempertahankan dan terus memperkokoh Pancasila dan UUD 1945 dalam 
bingkai NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika.

Saya senang dan berterima kasih mendengar komitmen semua umat beragama untuk 
terus menjaga persatuan, persaudaraan, perdamaian dan toleransi antarumat 
antarkelompok dan antargolongan.

Saya juga senang dan berterima kasih atas komitmen semua pihak untuk membangun 
demokrasi yang sehat dan mendukung penegakan hukum. Saya perlu tegaskan di sini 
bahwa kebebasan berpendapat, berserikat dan berkumpul itu dijamin oleh 
konstitusi kita.

Tapi saya juga perlu tegaskan bahwa kebebasan tersebut harus sejalan dengan 
koridor hukum. Harus sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945. Harus berada dalam 
bingkai NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika.

Jikalaupun dalam beberapa waktu terakhir ini ada gesekan antarkelompok di 
masyarakat, mulai saat ini saya minta hal-hal tersebut, gesekan-gesekan 
tersebut, untuk segera dihentikan. Jangan saling menghujat. 

Karena kita ini adalah saudara. Jangan saling menjelekan. Karena kita ini 
adalah saudara. Jangan saling memfitnah. Karena kita ini adalah bersaudara. 
Jangan saling menolak. Karena kita ini adalah saudara. Jangan kita saling 
mendemo. Habis energi kita untuk hal-hal yang tidak produktif seperti itu.

Kita adalah saudara. Saudara sebangsa dan setanah air. Saya juga telah 
perintahkan kepada Kapolri, kepada Panglima TNI untuk tidak ragu-ragu menindak 
tegas segala bentuk tindakan dan ucapan yang mengganggu persatuan dan 
persaudaraan. Yang mengganggu NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika. Yang tidak sesuai 
dengan Pancasila dan UUD 1945. Semoga Tuhan YME meridhai upaya kita bersama.


(Baca: Perlawanan Koruptor dan Oligarki Berbungkus Agama dan Sentimen 
<http://nasional.kompas.com/read/xml/2017/05/15/08465081/perlawanan.koruptor.dan.oligarki.berbungkus.agama.dan.sentimen.etnis>
  Etnis)

Presiden Joko Widodo pada Selasa (16/5) sore bertemu sejumlah tokoh lintas 
agama di Istana Merdeka, Jakarta.(Kompas TV)

PenulisFabian Januarius Kuwado

EditorSabrina Asril

Tag:

*       Presiden Jokowi <http://indeks.kompas.com/tag/Presiden.Jokowi> 








Kirim email ke