Bung Marco Terimakasih responsnya yang positif. Ini saya tambahkan.

 

Pesan Presiden Jokowi Kita semua ini adalah saudara, mirip dengan program  All 
in the Family, yang pernah ditayangkan di beberapa stasiun TV di AS pada tahun 
1971, beberapa stasiun TV mulai langsung membeberikan komentar bahwa program 
All in the Family memiliki pengaruh berbahaya dalam memperkuat rasa 
kefanatikan. Di Indonesia  program  All in the Family, tercermin dalam pesan 
pak Jokowi yang mengatakan Semua ini adalah saudara, yang secara hakekat adalah 
juga memiliki pengaruh berbahaya dalam memperkuat rasa kefanatikan. Betapa 
tidak, sebagai contoh misalnya peranan utama yang dilakukan oleh Prabowo dalam 
kerusuhan Mei 1998, yang digambarkan sebagai orang jenderal yang ``fanatik dan 
setia pada Orde Baru``, dengan demikian kefanatikannya dan kesetiaannya 
terhadap Orde baru itu dapat dimaklumi dan mungkin malah didukung, karena kita 
ini semua adalah saudara.

Demikian juga peranan ketua Umum FPI Habib Rizieq Shihab yang digambarkan 
sebagai seorang yang ``fanatik Islam dan anti Pancasila`` juga dapat dimaklumi 
dan juga malah didukung, karena mereka itu adalah saudara kita. Jadi pendapat 
yang mengatakan bahwa semua kita adalah saudara atau All in the Family secara 
hakekat adalah mengurangi rasa purbasangka (prejudice) dengan memunculkan rasa 
fanatik dikalngan msyarakat luas. 

 

Kesimpulannya : Pesan  Pak Jokowi : Semua kita adalah saudara, hakekatnya 
adalah mengurangi rasa purbasangka, atau sikap kritis terhadap adanya 
gejala-gejala perpolitikan yang mengancam keutuhan NKRI, persatuan bangsa 
Indonesia yang Bineka tunggal Ika, Pancasila dan UUD 45.

 

Roeslan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 








Von: Marco 45665 [mailto:[email protected]] 
Gesendet: Sonntag, 21. Mai 2017 19:51
An: Yahoo! Inc.
Cc: '[email protected]' [email protected] [temu_eropa]; Chalik 
Hammid; kh djie; 'Chan CT' [email protected]; Roeslan; Lusi.D
Betreff: Re: [nasional-list] AW: [temu_eropa] Ini Pidato Lengkap Jokowi soal 
Gejolak Perpecahan di Tengah Masyarakat

 

SENTILAN Bang UCOK ( Ikut2an beropini  Tidak haram kan -  dan semoga tidak 
dianggap sbg Kafir... ) 

 

Jika  demikian sudah ..dng apa yg umum dimaksud oleh sbg Banyak orang dan 
Pejabat tentang "SAUDARA" dallam Context ( atau sehubungan dng) RUBRIK BERITA 
dibawah ini  ..... Maka saya cendrung selalu bertanya  : 

** Tidakkah lebih baik dikatakan dng istilah  yang Filosofis lebih tepat " 
misalnya >> karena " Kita adalah SAUDARA SEBANGSA  da SETANAH AIR "   { jadi 
bukan " Saudara Sedarah " ...alias " KEKELUARGAAN ( yg sebenarnya Tidak lebih 
dan cenderung tersimoul didalamnya Jiwa dan Spirit NEPOTISME ) " ala  BUDAYA 
ORBA   - yang pada akhir2ny Istilah Saudara / sama2 saduduluran  (dlm arti 
KEKELUARGAAN ) sekaligus disalah gunakan  dan dijadikan KULT ISTILAH MIRING 
dalam  Pengertian " TAHU SAMA TAHU " atau "ANTARA SEAMA KITA  MAWON " ... baik 
dalam Kehidupan Politis , Ekonomis maupun

Administrasi dan bahkan HUKUM.....

 

Sehingga setiap  KASUS BUSUK DAN SEGALA MASALAH 

 

>> SKANDAL KORUPSI , SOGOKAN , Bagi2 KOMISI,

 

>> SKANDAL POLITIK dan KASUS2 KRIMINALISASI POLITIK , 

( Pemalsuan Fakta - Pemalsuan Sejarah , Membeli Suara, Agen MARKUS, 

Provokasi  dan Intimidasi Politik, PEMBUNUHAN dan PENCULIKAN POLITIK , DLL )

>> PELANGGRAN dan PERKOSAAN HAM dan PELANGGARAN serta PERKOSAAN HUKUM dalam 
>> segala Bentuknya 

 

** SEDANGKAN MASALAH2 KEHIDUPAN SOCIAL BANGSA INI ( Ketidakadilan Hukum, 
Ketidakadailan Social, Penghilangan dan Perkosaan Hak Pribadi dan Hak Hukum 
Warga  dan sebaliknya Pemaksaan serta Perkosaan Hak Azasi dan Hak Pribadi Warga 
yang dipaksakan secara sepihak menurut NORMA AGAMA - tetapi TIDAK MENURUT NORMA 
HUKUM dan NORMA SOCIAL nampaknya AKAN dan TETAP serta selalu diusahakan dan 
dicari2 serta DISELESAIKAN justru  dengan CARA2 KEKELUARGAAN  ( sebagai BUDAYA 
dan SYSTEM yang direka jasa ( Dicari2)  dan  DIPAKSAKAN OLEH REZIM TOTALITER 
MILTER ORBA yang KORUPT  dan Sisa2 Kekutannya sampai sekarang Dan  justru 
Melalui  KULT atau IMAGE " PENYELESAIAN SECARA KEKELUARGAAN  TSB " yang 
dikembangkan dan dipelihara oleh Rezim Pem.Militer Soeharto (ORBA) saat itu 
sampai DEWASA KINI ...  ( Jadi Bukan secara HUKUM > CODE CIVIL ) dimana "SYSTEM 
KEKELUARGAAN " tsb dijadikan sebagai  KULT atau BUDAYA PENYELESAIAN baik  dari 
segi KEKUASAAN POLITIS, EKONOMIS muapun LEGAL HUKUM  justru demi untuk  
MELINDUNGI Para KORUPTOR, TUKANG SOGOK dan TUKANG TADAH SOGOKAN,

MANIPULATOR HUKUM  dan POLITIK dan bahkan AGAMA ,DLL ( Dengan kata lain sebagai 
Suatu " System Business Kekuasan dan Jabatan POLITIK dan ADMINISTRASI  NEGARA 
/DAERAH "  yg dijadikan sebagai KEGIATAN BUSINES POLITIK nya untuk mencari 
Nafkah dan Laba TAMBAHAN untuk memperkaya diri ,Keluarga dan Kelompoknya 
masing2  dengan MENYALAH GUNAKAN  JABATAN dan KEKUASAN  DAN MEMANIPULASI HUKUM 
serta AGAMA .... > alias Terminus technicus kita sebut sbg POWER & POLITICAL AND

RELIGION TRAFFICKING ).....

 

Kesimpulan  :

Dari sudut pandang ilmiah POLITIK  ,Idiologi maupun Politik Praktis dan dari 
sudut Pandang System HUKUM maupun System Ketatanegaraan maupun System 
Kemasyarakatan Bangsa  , maka Istilah  " PERSAUDARAAN  dan atau KEKELUARGAAN "  
ini - jika ditempatkan sebagai SUATU ALAT atau MEKANISME PENYELESIAN DARI SUATU 
NORMA BEHAVIOR  dan atau GEJALA dari SUATU MASALAH   POLITIK, HUKUM ,EKONOMI 
DAN SOCIAL ( as A Tool & Mechanism to be considered as CODE SOLUTION  OF 
POLITICAL, LEGAL , ECONOMICAL and SOCIAL AFFAUR and  BEHAVIOUR   ... ) , maka 
akan sangat terasa JANGGAL dan bhakan SANGAT NAIF .

 

** Bahwa RASA EMOTIONAL TOTAL dan CARA dan SUDUT PANDANG yang NAIF  atas Suatu 
USAHA  PENYELASAIAN POLITIS, HUKUM, EKONOMI DAN SOCIAL KEMASYARAKATAN serta 
MASALAH KENEGARAAN melalui NORMA dan SPIRIT PERSAUDARAAN DAN KEKELUARGAAN 
adalah sangat ABSURD 

 ( Emangnya Setiap Masing2 Manusia Indonesia itu Sedarah - Sedaging dan 
Seketurunan yang sama dari Keluarga yang sama ....? - sehingga SETIAP dari Kita 
(Manusia Indonesia  adalah Saudara dan Keluarga sedarah -sedaging dari suatu 
DYNASTI KELUARGA yang sama2 KORUPT ,KRIMINAL, TUKANG SOGOK , PREMAN,

MANIPULTOR , TUKANG JUALAN OBAT,FALSIFIKATOR FAKTA DAN SEJARAH,TUKANG TADAH, 
PENYELUNDUP, PEMALSU IJAZAH dan GELAR serta Para Petualang Politik AMATIR dan 
Pemuja Kult Narcissism dan Gila Hormat ... yang karena Kemahirannya dalam 
KORUPSI dan sbg Tengkulak Penjual Kekeayaan Alam Indonesia ...tiba merasa 
sangta berhak MENDAPATKAN GELAR " PAHLAWAN BANGSA " INDONESIA.... ?  dan atau 
MAHA PUTRA INDONESIA kELAS 1 ..  (? ) serta mejadi Collector segala gelar 
DOCTOR HONORIS (segala) CAUSA.... ( LOL ) ...

yang Murah dan Free of Charge (tanpa harus mempunyai Pemahaman dan Pengalaman 
yg bisa diandalkan atas Kegiatan dalam Bidanngnya 

( "Causa" nya..) 

Note : 

Kecuali jika pada mendapat gelar terhormat sbg Gang COSA NOSTRA....

 

Selamat sore, malam dan siang

Bang UCOK , 

 

 

 

 

2017-05-21 16:02 GMT+02:00 roeslan [email protected] [nasional-list] 
<[email protected]>:

  

Kutipan :  Karena kita ini adalah saudara. Jangan saling menjelekan. Karena 
kita ini adalah saudara. Jangan saling memfitnah. Karena kita ini adalah 
bersaudara. Jangan saling menolak. Karena kita ini adalah saudara. Jangan kita 
saling mendemo. Habis energi kita untuk hal-hal yang tidak produktif seperti 
itu.(kutipan selesai)

Komentar :  Seruan Jokowi bahwa kita semua ini ``Saudara`` adalah khayalan 
belaka. Nampaknya dalam konteks ini pak Jokpowi tidak melihat dan juga tidak 
pernah mendengar bahwa dalam masyrakat dimana kita hidup di era 
``reformasi``ini, ada perjuangan yang sengit antara elemen-elemen Orde baru. 
yang ingin menghidupkan kembali kekuasaan otoriterisme militer di NKRI, yang 
berskutu dengan gearakan Islam Konservatif (radikal) seperti MUI,FPI,dan HTI, 
yang hendak meruabah NKRI menjadi Negara Syariah Islam Indonesia, yang cendrung 
mengarah ke bebtuk Negara Kekalufahan. Yang berhadap-hadapan langsung  dengan 
elemen-elemen dalam masyarakat kita yang secara teguh  berketetapan untuk 
menjunjung tinggi NKRI, Pancsia 1 Juni 1945 san UUD 45 naskah asli. 

Adanya perjuangan yang sengit ini tercermin dalam proses PILKADA Jakarta 2017, 
yang dampaknya  telah menyeret Ahok kedalam Penjara selama 2 tahun, atas 
tudukan penistaan agama, meskipun Jaksa Penuntut Umum pengadilan negeri Jakarta 
Utara tidak dapat menemukan bukti-bukti yang otentik bahwa Ahok telah melakukan 
penistaan agama. 

Maka gagasan Jokowi bahwa ``kita ini saudara``  secara hakekat berarti untuk 
menutup-nutupi adanya pertentangan yang sengit, seperti yang sudah disinggung 
diatas. Dengan menggunakan argumentasai bahwa  kita ini saudara, secara hakekat 
Jokowi cenderung untuk menegasi oposisi, pikiran tentang patriotisme dan 
semangat umum yang diwarnai oleh gelora tuntunan  jalankan Trisakti Bung Karno; 
Kembali ke UUD 45 dan Pancasila 1 Juni 1945,  yang ditolak oleh rezim 
totaliterisme militer pimpinan jendral TNI AD soeharto dan para sekutunya.

 

Seharusnya seruan Jokjowi harus bebunyi : Kita ini adalah bangsa yang Bineka 
Tunggal Ika, yang berideologikan Pancasila 1 Juni 1945, dan menjunjung tinggi 
UUD 45 naskah asli!!!.

 

Roeslan,

 

 

 

 

Von: [email protected] [mailto:[email protected]] 
Gesendet: Mittwoch, 17. Mai 2017 09:18
An: [email protected]; [email protected]; 
[email protected]
Betreff: [temu_eropa] Ini Pidato Lengkap Jokowi soal Gejolak Perpecahan di 
Tengah Masyarakat

 

  

 

 

http://nasional.kompas.com/read/2017/05/16/17274601/ini.pidato.lengkap.jokowi.soal.gejolak.

perpecahan.di.tengah.masyarakat


Ini Pidato Lengkap Jokowi soal Gejolak 


Perpecahan di Tengah Masyarakat


Fabian Januarius Kuwado

Kompas.com - 16/05/2017, 17:27 WIB

cid:[email protected]

Presiden Joko Widodo berbicara saat menemui tenaga kerja Indonesia (TKI) di 
Asia World Expo Ground, Hongkong, Minggu (30/4/2017). Presiden menggelar 
kunjungan kerja di Hongkong pada 30 April hingga 1 Mei dalam rangka 
meningkatkan kerja sama ekonomi antar-kedua negara(AFP PHOTO / ANTHONY WALLACE)

JAKARTA, KOMPAS.com - Presiden Joko Widodo akhirnya angkat bicara untuk 
merespons fenomena yang akhir-akhir ini mendera kesatuan Indonesia. Pernyataan 
Presiden tersebut diungkapkan usai menerima sejumlah tokoh lintas agama di 
Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Selasa (16/5/2017).

Berikut pernyataan utuh Presiden Jokowi:

Saya baru saja bersilaturahmi dengan beliau-beliau, tokoh agama dari Majelis 
Ulama Indonesia, Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Konferensi Wali Gereja 
Indonesia, Persekutuan Gereha Indonesia, perwakilan umat Buddha Indonesia, dari 
Hindu Dharma Indonesia dan majelis tinggi Konghucu Indonesia serta Panglima TNI 
dan Kapolri untuk membicarakan dinamika kebangsaan yang menjadi perhatian kita 
bersama.

Saya senang mendengar komitmen semua tokoh agama dan umatnya untuk terus 
menjaga terus mempertahankan dan terus memperkokoh Pancasila dan UUD 1945 dalam 
bingkai NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika.

Saya senang dan berterima kasih mendengar komitmen semua umat beragama untuk 
terus menjaga persatuan, persaudaraan, perdamaian dan toleransi antarumat 
antarkelompok dan antargolongan.

Saya juga senang dan berterima kasih atas komitmen semua pihak untuk membangun 
demokrasi yang sehat dan mendukung penegakan hukum. Saya perlu tegaskan di sini 
bahwa kebebasan berpendapat, berserikat dan berkumpul itu dijamin oleh 
konstitusi kita.

Tapi saya juga perlu tegaskan bahwa kebebasan tersebut harus sejalan dengan 
koridor hukum. Harus sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945. Harus berada dalam 
bingkai NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika.

Jikalaupun dalam beberapa waktu terakhir ini ada gesekan antarkelompok di 
masyarakat, mulai saat ini saya minta hal-hal tersebut, gesekan-gesekan 
tersebut, untuk segera dihentikan. Jangan saling menghujat. 

Karena kita ini adalah saudara. Jangan saling menjelekan. Karena kita ini 
adalah saudara. Jangan saling memfitnah. Karena kita ini adalah bersaudara. 
Jangan saling menolak. Karena kita ini adalah saudara. Jangan kita saling 
mendemo. Habis energi kita untuk hal-hal yang tidak produktif seperti itu.

Kita adalah saudara. Saudara sebangsa dan setanah air. Saya juga telah 
perintahkan kepada Kapolri, kepada Panglima TNI untuk tidak ragu-ragu menindak 
tegas segala bentuk tindakan dan ucapan yang mengganggu persatuan dan 
persaudaraan. Yang mengganggu NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika. Yang tidak sesuai 
dengan Pancasila dan UUD 1945. Semoga Tuhan YME meridhai upaya kita bersama.


(Baca: Perlawanan Koruptor dan Oligarki Berbungkus Agama dan Sentimen 
<http://nasional.kompas.com/read/xml/2017/05/15/08465081/perlawanan.koruptor.dan.oligarki.berbungkus.agama.dan.sentimen.etnis>
  Etnis)

Presiden Joko Widodo pada Selasa (16/5) sore bertemu sejumlah tokoh lintas 
agama di Istana Merdeka, Jakarta.(Kompas TV)

PenulisFabian Januarius Kuwado

EditorSabrina Asril

Tag:

*       Presiden <http://indeks.kompas.com/tag/Presiden.Jokowi>  Jokowi







 

Kirim email ke