Pada Senin, 12 Juni 2017 22:20, "Jonathan Goeij [email protected]
[GELORA45]" <[email protected]> menulis:
Ketakutan yang ada itu justru terjadi karena memang dipelihara dan dengan
sengaja TAP MPRS tidak di-cabut2, TAP dipakai utk melegalisasi ketakutan.
Seandainya TAP dan hukum2 turunannya dicabut tidak akan ada lagi legalisasi
kriminalisasi pemikiran, tidak ada lagi pembenar pelaku2 intoleran yang
melakukan sweeping melarang lokakarya pembakaran buku dlsb itu. Tidak ada lagi
stigmatisasi komunis ataupun PKI. Tidak ada lagi phobia sehingga tulisan PKI
dikaos anak2 juga disweeping sedemikian rupa tanpa tahu singkatan apa. TAP MPRS
itu pada dasarnya hanya legalisasi kekerasan nan diskriminatif.
Hal yg kurang lebih sama dgn pasal penodaan agama, tidak akan ada kasus
penodaan agama yg tidak karuan juntrungannya itu kalau tidak ada pasal penodaan
agama.
---In [email protected], <nesare1@...> wrote :
Nakut2in?Coba tanya tuh orang2 yang masih tidak bebas lingkungan masih takut
tidak hidup diindonesia?Coba tanya mereka2 itu apakah berani teriak2 “hidup
PKI”? Ente saja yg ndak ada empati, sok2an petentang petenteng mau begini
begitu tetapi ndak ngerti permasalahannya!Ane kan sudah bilang dari dulu orang2
seperti ente inilah yang bisa bikin runyam.Sok demokratis, sok agamais, sok
HAM, sok2an saja yg dipamerkan. Koq bisa ya ada orang yg menyarankan TAP MPRS
25/1966 dicabut tanpa melihat konsekwensi yang akan dibawa?! Ane saja yang
ngerti banget gimana kerasnya Gus Dur simpati dengan orang2 terhalang pulang
karena kasus 1965, tidak mampu berbuat banyak selain hanya bisa minta maaf
secara pribadi. Minta maaf secara pribadi saja sudah menimbulkan masalah yg
besar, belum lagi memulangkan mereka2 yang terhalang pulang ini. ini baru
proses rekonsiliasi saja sudah susahnya setengah mati.Eh hebatnya ente ini
minta TAP MPRS itu dicabut?!!!!!! Hehehehehe ane ketawa bukan karena lucu tapi
ane tertawa krn ada manusia seperti ente yg ngakunya pro demokrasi, pro HAM,
petentang petenteng beragama nasrani mau mencabut TAP MPRS anti komunis?!!!!!!
Ini kan persis dengan pendapat ente yg maunya ahok tidak boleh masuk penjara
dan ahok tidak boleh diadili! Ahok masuk penjara karena diadili itu salahnya
Jokowi. MANA BERANI ENTE BILANG YANG SALAH ISLAM RADIKAL?Hehehe ente sadar
ndak? Ente itu mengidap minority syndrome. Berani2nya berkoar2 maki2 orang
sendiri, tetapi pengecutnya kelihatan gak berani ngomongin ttg musuhnya!!!!
Kenapa? Karena takut!!!! Jelas sekali ente gak ngerti ttg Indonesia. Jelas
sekali ente ndak ngerti kekuatan massa rakyat Islam yg turun kejalan dengan
demo jilid 1, 411 dna 211 saja sudah harus dipikirin kekuatannya. APALAGI
KOMUNISME MAU DIHIDUPKAN?!!!!Ente ini jangan2 intel CIA ya mau Indonesia bubar
lalu ente gampang mencaploknya?!!!!Jangan maen2 sama negara ane ya!!!! Nesare
From: [email protected] [mailto:[email protected]]
Sent: Monday, June 12, 2017 2:33 PM
To: Yahoogroups <[email protected]>
Subject: RE: [GELORA45] FW: Saatnya Rehabilitasi Bung Karno! Tulisan ini
intinya cuman me-nakut2in, memang dasarnya darimana kalau TAP MPRS dicabut
menimbulkan disintegrasi bangsa dan negara? Omongan penuh agitasi.
kutipan:Tetapi kalau mau dilihat lebih mendalam lain perkaranya. Soeharto/Orba
sudah runtuh pun, kenapa Tap MPRS itu tidak dicabut? Gampang sekali kan kalau
mau mencabutnya? Disinilah letak persoalannya bahwa ketakutan akan PKI dan
ajaran komunisme itu sudah merasuk dalam rakyat Indonesia. Persoalannya kan
jadi jelas sekali bahwa bukan Tap MPRS nya yg menjadi masalah, tetapi masalah
ketakutan bahaya PKI dan komunisme.Bagi yang tidak mengerti hal ini kan selalu
mengklaim: takut…takut dan takut untuk mencabut TAP MPRS itu kan?Tetapi efek
mencabutnya itu tidak pernah dipertanyakan. Bagaimana kalau TAP MPRS nya sudah
dicabut dan menimbulkan disintegrasi bangsa dan negara? ---In
[email protected], <nesare1@...> wrote :
Chan: kalau saja diusut lebih lanjut, yang SALAH yaa TAP MPRS 25/1966
ituNesare: gampangnya memang begini. Tetapi kalau mau dilihat lebih mendalam
lain perkaranya. Soeharto/Orba sudah runtuh pun, kenapa Tap MPRS itu tidak
dicabut? Gampang sekali kan kalau mau mencabutnya? Disinilah letak persoalannya
bahwa ketakutan akan PKI dan ajaran komunisme itu sudah merasuk dalam rakyat
Indonesia. Persoalannya kan jadi jelas sekali bahwa bukan Tap MPRS nya yg
menjadi masalah, tetapi masalah ketakutan bahaya PKI dan komunisme.Bagi yang
tidak mengerti hal ini kan selalu mengklaim: takut…takut dan takut untuk
mencabut TAP MPRS itu kan?Tetapi efek mencabutnya itu tidak pernah
dipertanyakan. Bagaimana kalau TAP MPRS nya sudah dicabut dan menimbulkan
disintegrasi bangsa dan negara?Presiden yang paling berani berbicara ttg PKI
dan komunisme itu adalah Gus Dur. Sampai akhir hidupnya Gus Dur tidak bisa
mencabut TAP MPRS itu walaupun berani membubarkan department penerangan dan
departemen social. Walaupun teriakan Gus Dur disukai utk membubarkan DPR tetapi
dia juga tidak bisa membubarkan DPR. Bandingkan di USA dimana komunisme itu
saya pastikan tidak akan bisa hidup lagi. Bagaimana mereka melakukannya? Mereka
membiarkan ajaran marxisme leninisme komunisme itu dimana2 dalam pendidikannya.
Rakyatnya sudah berdiskusi membicarakan ajaran2 kiri, tengah dan kanan dari
bangku sekolah. Komunisme sudah mati di USA tetapi rakyatnya mencari bentuk
sosialisme yg lain seperti social democrat ala partai democrat dan juga sudah
ada yang lebih kiri ala Bernie sanders. Libertarian juga adalah hasil pemikiran
yg relative baru yg jenuh dengan partai republic dan democrat. Ini yang perlu
dilakukan oleh rakyat Indonesia. Pelajari ajaran2nya sebelum bilang setuju atau
tidak setuju. Tidak ada gunanya TAP MPRS itu dicabut tetapi rakyat Indonesia
masih menolak dalam hatinya. Ini parallel dengan masalah diskriminasi terhadap
kelompok tionghoa. Coba bandingkan diskriminasi tionghoa di Malaysia dan
Indonesia: diskriminasi di Indonesia itu tidak formal. Diskriminasi di Malaysia
terang2an/bumiputera. Hasilnya apa? tionghoa Malaysia tahu dimana letaknya
diskriminasi itu dan bermain dalam boundary nya. Di Indonesia bentuk
diskriminasi nya tidak jelas tetapi prakteknya dimana2. Jadi persoalannya itu
bukan TAP MPRS atau ada diskriminasi atau tidak, tetapi bagaimana penerimaan
dan penolakan rakyat itu yg lebih penting. Kalau rakyatnya diajak berpikir,
mestinya jalan keluar akan lebih terbuka. Mulailah dengan belajar. Mulailah
dengan buku. Mulailah dengan diskusi. Kalau kita ikuti dengan adanya milis2 ini
dengan tersedianya internet gratis, luar biasa hasilnya. Banyak yang sudah
melek melihat perkara pembunuhan massal 1965 itu bukan hanya miliknya Orba
saja. Saya tekankan betapa pentingnya media alternative seperti milis2 ini
dalam membuka wawasan rakyat Indonesia. Nesare From: [email protected]
[mailto:[email protected]]
Sent: Saturday, June 10, 2017 10:14 PM
To: [email protected]; nesare1@...
Subject: Re: [GELORA45] FW: Saatnya Rehabilitasi Bung Karno! Makanya, kalau
saja diusut lebih lanjut, yang SALAH yaa TAP MPRS 25/1966 itu! Bukan saja
melarang PKI tanpa dasar, tapi juga melarang ajaran Marxisme-Leninisme, dan,
... sampai sekarang, setelah era reformasi-demokrasi berlangsung hampir 20
tahun, masih tetap saja diberlakukan! Padahal jelas TAP MPRS 25/1966 itu
dikeluarkan oleh Sidang MPRS yang terlebih dahulu direkayasa jenderal Suharto,
dengan menangkapi seluruh anggota DPR/MPRS yang dituduh PKI dan Soekarnois dan
digantikan dengan pendukung2 Suharto! Jadi jelas, MPRS yang cacad HUKUM, dan
dengan sendirinya TAP MPRS yang dikeluarkan juga cacad hukum! TIDAK SAH, ...!
Tapi, saya SETUJUUU dengan pemikiran, satu pandangan ideologi, khususnya
Marxisme-Leninisme yang jelas merupakan teori mewujudkan KEADILAN SOSIAL bagi
SELURUH RAKYAT (Sila ke-5 Pancasila) itu menjadi KENYATAAN, mengapa dan
bagaimana bisa dilarang? Apalagi menghadapi kenyataan bukan saja kesenjangan
sosial dalam masyarakat yang makin tajam tapi juga makin buaanyak jumlah rakyat
miskin, warga yang terhimpit dalam kehidupan miskin. Dan kemiskinan itu pasti
akan dengan mudah menerima pandangan-pandangan Sosialisme, Komunisme itu, ..
Dari sudut pandang lain, kalau diperhatikan setiap pandangan ideologi itu,
termasuk pandangan KOMUNIS dalam kenyataan terus berubah dan berkembang sesuai
perkembangan jaman. Dan, ... yang PASTI setiap orang boleh-boleh saja mempunyai
pandangan ideologi/politik tertentu, baik Pancasila, liberalisme, kapitalisme,
sosialisme, komunisme maupun Islam, Kristen, Budha, Hindu Konghucu, ... menjadi
komunis, sosialis, liberalis, atau kapitalis bukanlah kejahatan. Sama seperti
menjadi Islam atau Kristen bukan kejahatan sekalipun tergolong radikalis.
Pikiran seseorang tak bisa dipidanakan. Tindakan pemaksaan dengan kekerasanlah,
terjadi pelanggaran UU/HUKUM yang dilakukan oleh siapa pun, baik komunis atau
Islam, yang bisa dipidanakan. Salam,ChanCT From: nesare1@... [GELORA45]Sent:
Saturday, June 10, 2017 8:29 PMTo: [email protected]: [GELORA45]
FW: Saatnya Rehabilitasi Bung Karno! Chan: Lho, ... bukankah istilah atau
sebutan KOMUNIS itu yang diajukan bung Karno di tahun 1959, dengan seruan
persatuan NASAKOM!Nesare: betul NASAKOM itu ide pikiran bung Karno. Kom nya ada
karena waktu itu ada PKI sebagai partai politik yang sah Sekarang sudah tidak
ada PKI itu – dalam arti partai politik. Ajarannya yang bisa ada karena tidak
melembaga dan bisa diajarkan dan diteruskan oleh siapa saja. jadi memang betul
Jokowi bilang “gebuk PKI” kalau memang PKI nya (dalam bentuk lembaga) ada.
Kenapa harus digebuk? Karena komunisme itu tidak sah di Indonesia. Sepanjang
Tap MPRS 25/1966 yang ditertawakan oleh bung Karno. Bung Karno mentertawakan
larangan komunisme itu karena dia berpendapat bahwa larangan itu tidak mungkin
dapat meredam ajaran2 sosialisme itu karena ajaran2 sosialisme itu ada karena
adanya keadilan social yang jelek. Bung Karno bilang kalau mau melarang
marxisme, komunisme, islamisasi dll itu adalah yang merugikan rakyat dan
negara. Makanya bung Karno pun mati2an melawan Darul Islam karena DI adalah
kegiatan islamisme yang ngladrah. (“Bukan islamisme sejati, yang suci, yang
baik, tapi yang ngladrah.")Belum lagi Tap MPRS 25/1966 itu terus didukung
dengan peraturan, UU, KUHP dll yang melarang ajaran marxisme, leninisme
dll.Chan: sampaik-sampai Presiden Jokowi pun ikut-ikutan hendak gebuk PKI yang
dibilang muncul kembali itu. Padahal Islam radikalisme yang sudah bergerak
nyata dengan teror dimana-mana dan makin agresif itulah yang merupakan bahaya
nyata perpecahan NKRI!Nesare: semoga sudah jelas dengan penjelasan diatas bahwa
bagi bung Karno islamisasi seperti DI yang ngladrah atau komunisme yang
misalnya kalau menang mau melarang/represif rakyat Indonesia untuk beragama dan
beribadah. Yang dilihat bung Karno itu adalah “ngladrah”nya bukan ajarannya.
Bung Karno menekankan dalam pentingnya NAS A KOM itu harus bersatu. Gak berdiri
sendiri2. Itulah wajah bangsa Indonesia. Ini yang saya percaya sampai sekarang
masih relevan dalam bangsa Indonesia.Ketakutan/keprihatinan bung atas
islamisasi itu wajar2 saja. tetapi itu bukan kekhawatiran/keprihatinan non
muslim saja. Said Aqil sudah bilang NU dan Muhammadiyah itu adalah ulama
(plural) dan tidak perlu dibela. Dia mau bilang orang2 yang teriak2 bela ulama
itu “ngladrah” dan akan dilawan. Jadi Islamnya tidak perlu ditakuti tetapi
orang2 yang “ngladrah” menggunakan Islam yg perlu dilawan.Salam,NesareFrom:
[email protected] [mailto:[email protected]]
Sent: Friday, June 9, 2017 7:36 PM
To: [email protected]; nesare1@...
Subject: Re: [GELORA45] FW: Saatnya Rehabilitasi Bung Karno! Lho, ... bukankah
istilah atau sebutan KOMUNIS itu yang diajukan bung Karno di tahun 1959, dengan
seruan persatuan NASAKOM! Bahwa yang memperjuangkan ideologi Keadilan sosial
itu bukan hanya komunis, tentu juga BETUUUL! Bisa Marhaenisme, Soekarnoisme,
Sun Yat Sen, ataupun Sosialisme, ..Dan juga tidak dapat disangkal semua
pandangan ideologi itu ada kelebihan dan kekurangan, ada kebenaran sekaligus
ada kesalahannya juga. TIDAK PERLU saling gempur apalagi saling bunuh membunuh,
... Semua boleh-boleh saja memperjuangkan dan berusaha mewujudkan menjadi
kenyataan dimana mereka berada, dijalankan saja kompetisi secara damai
pandangan mana yang akan berhasil lebih baik, lebih cepat dan lebih ADIL bagi
rakyat banyak!Kalau memang semua pandangan itu mengatas namakan RAKYAT, kenapa
pula harus saling hujat menghujat, saling gontok-gontokan bahkan saling bunuh?
Belum apa-apa sudah harus mengorbankan sekelompok RAKYAT yang dituduh komunis
itu?! Dan semua dijalankan TANPA proses pengadilan yang sah dan adil untuk
membuktikan TUDUHAN “PKI dalang G30S”, dan, ... kalau saja Suharto menganggap
PKI ketika itu telah melakukan kekejaman kemanusiaan dengan membunuh 7 jenderal
tanpa proses hukum, sebagaimana didengungkan diangsa-raya Nusantara ini, kenapa
pula mereka sendiri membalas juga dengan kekejaman kemanusiaan yang bahkan
lebih dahsyat lagi!!! Tanpa segan-segan membantai, memenjarakan, mengasingkan
jutaan RAKYAT nya sendiri hanya karena dituduh PKI, simpatisan dan pendukung
Soekarno, padahal jelas PKI ketika itu adalah PARTAI yang sah dan legal bahkan
dipertahankan matimatian oleh Presiden Soekarno!Dan yang lebih aneh lagi, PKI
yang sudah masuk kubur lebih 1/2 abad masih saja dijadikan momok bahaya laten,
begitu ditakuti nya setiap gerak bahkan hanya logo Palu-Arit dan baju anak-anak
berhuruf PKI saja bisa dianggap momok PKI yang sedang gentayangan! PKI sudah
bangkit kembali, ... sampaik-sampai Presiden Jokowi pun ikut-ikutan hendak
gebuk PKI yang dibilang muncul kembali itu. Padahal Islam radikalisme yang
sudah bergerak nyata dengan teror dimana-mana dan makin agresif itulah yang
merupakan bahaya nyata perpecahan NKRI!Salam,ChanCTFrom: nesare1@...
[GELORA45]Sent: Friday, June 9, 2017 10:26 PMTo:
[email protected]: RE: [GELORA45] FW: Saatnya Rehabilitasi Bung
Karno! Kenapa harus komunismenya yang ditonjolkan?Sedangkan komunisme itu sudah
almarhum.Kenapa tidak dipikirkan alternative lain. Ideologi sosialisme itu
bukan hanya komunisme saja.Ideologi NKRI itu adalah: Pancasila.Sila
keempat/kerakyatan itu adalah demokrasi.Demokrasi Indonesia itu adalah
demokrasi Pancasila.Bentuk sosialisme yang pernah didengungkan oleh Bung Karno
adalah: Marhaenisme dalam prakteknya, dan ekonomi yang dijalankan disebut
ekonomi kerakyatan. Kenapa bukan marhaenismenya bung Karno yang ditonjolkan?
Atau bentuk2 sosialisme lainnya yang dapat menjadi alternative?Walaupun bung
Karno tidak anti PKI tetapi bung Karno bukan komunis.Begitu juga Pram yang
dekat dengan PKI tetapi selalu bilang dimana2 dia bukan komunis.Jadi sekali
lagi ideologi NKRI itu Pancasila bukan komunisme. Jadi gak usah
digede2in.Begitu juga di USA dan negara2 lainnya, ideologinya macem2:
liberalisme, sosialisme, libertalisme, conservatisme dll. Komunisme itu hanya
ada di beberapa negara saja: RRT, Kuba, Korea utara yang juga sedang
degradasi.Yang saya tangkap dari “gebuk PKI”nya Jokowi itu adalah dia prihatin
dengan keadaan bangsa dan negaranya.Seperti bung Karno dan pak Pram, Jokowi
bukan komunis dan juga bukan anti komunis.“Gebuk PKI”nya itu adalah strategi
utk meredam sikon Indonesia sekarang ini dimana disintegrasi sedang
semarak.Coba bayangkan apa yang akan terjadi kalau Jokowi bilang: “hidup
PKI”?Walaupun Jokowi bukan komunis dan tidak anti PKI, apakah dia tidak akan
diganyang oleh kelompok Islam dan militer?Jadi jangan terpaku sama “gebuk PKI”
nya yang hanyalah slogan saja.Slogan ini ‘kan mirip dengan “go to hell with
your aid” nya bung Karno kan?Tapi kan bukan berarti bung Karno anti investasi
asing. Makna retorika itu adalah: “kami bisa mengatur ekonomi kami sendiri.
kalau kami perlu hutang, kami bisa cari sendiri. Tetapi kami tidak mau
dicekoki/dikasih hutang yang tidak kami perlukan”.Maknanya “gebuk PKI”nya
Jokowi ya kira2: wong PKI sudah gak ada, apanya yang mau digebuk?!NesareFrom:
[email protected] [mailto:[email protected]]
Sent: Friday, June 9, 2017 8:35 AM
To: [email protected]; arif.harsana@...
Subject: Re: [GELORA45] FW: Saatnya Rehabilitasi Bung Karno! Bagaimana bisa
dikatakan “Saatnya Rehabilitasi Bung Karno”??? Kalau pemerintah yang berkuasa,
khususnya Presiden Jokowi masih saja begitu anti-KOMUNIS, sampai-sampai
berulangkali dengan tegas dan keras hendak “GEBUK” PKI begitu muncul
kembali?!Bukankah bung Karno digulingkan Suharto karena ketegasan dan kekerasan
bung Karno tidak hendak bubarkan PKI! Karena bung Karno TIDAK bisa menerima
tuduhan G30S didalangi PKI! Dan Bung Karno dalam kondisi terjepitpun tetap
menunjukkan ketegasan dan konsekwen pertahankan ajaran yang dicetuskan sejak
tahun 26, Persatuan NASAKOM! Kenyataan adanya 3 kekuatan NAS-A-KOM dalam
masyarakat Indonesia ini yang harus dipersatukan dalam perjuangan kemerdekaan
dan pembangunan nasional Indonesia, .. peran PKI dalam gerakan KEMERDEKAAN RI,
jasa pejuang-pejuang komunis dalam perjuangan kemerdekaan TIDAK BISA
dihilangkan dihapus begitu saja oleh Suharto!Jutaan rakyat tidak berdosa yang
dibantai, dipenjarakan, dibuang kepulau Buru, ... telah menjadi korban
kekejamanan jenderal Suharto naik kesinggasana kekuasaan RI-1!Salam,ChanCTFrom:
'arif.harsana@...' arif.harsana@... [GELORA45]Sent: Friday, June 9, 2017 12:55
PM
http://www.bergelora.com/opini-wawancara/artikel/2069-saatnya-rehabilitasi-bung-karno.html
Saatnya Rehabilitasi Bung Karno!
Oleh : Nursjahbani Katjasungkana, SH *)Ditengah Penjajahan Kolonialisme Belanda
pada 6 Juni 1900, seorang perempuan, Ida Ayu Nyoman Rai, yang sehari-hari
dipanggil Nyoman, melahirkan seorang putra bernama Soekarno. Pada 1 Juni 1945,
dihadapan Badan Penyelidik Usaha Persiapan kemerdekaan Indonesia (BPUPKI)
Soekarno, pertama kali berpidato tentang Pancasila yang selanjutnya menjadi
dasar Ideologi Negara Republik Indonesia Sehingga Setiap 1 Juni dikenal sebagai
Hari Kelahiran Pancasila. Ia menjadi menjadi Proklamator dan Presiden Pertama
Republik Indonesia yang berdiri pada 17 Agustus 1945. Pada 22 Juni 1966
Soekarno dipaksa meletakkan jabatan lewat penolakan oleh MPRS atas Pidato
Pertanggung Jawaban Presiden Soekarno,--setelah sebuah kudeta militer yang
didukung Amerika Serikat pada 30 September 1965. Presiden Soekarno meninggal
dunia di RSPAD (Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat) Gatot Subroto, Jakarta pada
21 Juni 1970. Sebagai penghormatan terhadap Bulan Bung Karno, selama sebulan
Bergelora.com akan menurunkan berbagai tulisan tentang Bung Karno.Oleh :
Nursjahbani Katjasungkana, SHTanggal 6 Juni tahun ini, kita merayakan
kelahiran Bung Karno yang ke 114 dan 21 Juni nanti tepat 46 tahun wafatnya.
Bung Karno adalah salah satu pendiri Republik Indonesia, penggagas dasar negara
Pancasila dan pernah dijuluki sebagai Pemimpin Besar Revolusi serta salah satu
penggagas Konperensi Asia Afrika di Bandung tahun 1955, sebuah konfrensi yang
diselenggarakan untuk melawan kekuatan baru kapitalisme global yang dikuasai
blok Barat.Setelah absen selama 32 tahun dibawah pemerintahan Jendral Soeharto,
sejak reformasi, kelahiran Pancasila kembali dirayakan secara resmi dalam
upacara kenegaraan. Pada peringatan lahirnya Pancasila 1 Juni yang lalu,
puja-puji kepada sang Penggagas dikemukan pula oleh Presiden Jokowi yang
mengakui bahwa Bung Karno merupakan inspiratornya yang utama.Pada tingkat
dunia, namanya sangat harum baik karena pidato-pidatonya yang membangkitkan
semangat perjuangan melawan kolonialisme dan kapitalisme mapun sebagai salah
satu penggagas gerakan non-blok. Negerinya yang ketika itu baru berumur 10
tahun berhasil menggerakkan negara-negara Asia Afrika dan menegaskan posisi
politiknya ditengah Perang Dingin yang sedang berlangsung antara blok Barat
dibawah Amerika Serikat dengan sekutunya dan blok Timur dibawah Rusia dan
kawan-kawannya. Kedua blok itu saling berebut pengaruh dan di beberapa negara
menimbulkan perang. S
(Message over 64 KB, truncated) #yiv0738530581 #yiv0738530581 --
#yiv0738530581ygrp-mkp {border:1px solid #d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px
0;padding:0 10px;}#yiv0738530581 #yiv0738530581ygrp-mkp hr {border:1px solid
#d8d8d8;}#yiv0738530581 #yiv0738530581ygrp-mkp #yiv0738530581hd
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px
0;}#yiv0738530581 #yiv0738530581ygrp-mkp #yiv0738530581ads
{margin-bottom:10px;}#yiv0738530581 #yiv0738530581ygrp-mkp .yiv0738530581ad
{padding:0 0;}#yiv0738530581 #yiv0738530581ygrp-mkp .yiv0738530581ad p
{margin:0;}#yiv0738530581 #yiv0738530581ygrp-mkp .yiv0738530581ad a
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv0738530581 #yiv0738530581ygrp-sponsor
#yiv0738530581ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv0738530581
#yiv0738530581ygrp-sponsor #yiv0738530581ygrp-lc #yiv0738530581hd {margin:10px
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv0738530581
#yiv0738530581ygrp-sponsor #yiv0738530581ygrp-lc .yiv0738530581ad
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv0738530581 #yiv0738530581actions
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv0738530581
#yiv0738530581activity
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv0738530581
#yiv0738530581activity span {font-weight:700;}#yiv0738530581
#yiv0738530581activity span:first-child
{text-transform:uppercase;}#yiv0738530581 #yiv0738530581activity span a
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv0738530581 #yiv0738530581activity span
span {color:#ff7900;}#yiv0738530581 #yiv0738530581activity span
.yiv0738530581underline {text-decoration:underline;}#yiv0738530581
.yiv0738530581attach
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px
0;width:400px;}#yiv0738530581 .yiv0738530581attach div a
{text-decoration:none;}#yiv0738530581 .yiv0738530581attach img
{border:none;padding-right:5px;}#yiv0738530581 .yiv0738530581attach label
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv0738530581 .yiv0738530581attach label a
{text-decoration:none;}#yiv0738530581 blockquote {margin:0 0 0
4px;}#yiv0738530581 .yiv0738530581bold
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv0738530581
.yiv0738530581bold a {text-decoration:none;}#yiv0738530581 dd.yiv0738530581last
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv0738530581 dd.yiv0738530581last p
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv0738530581
dd.yiv0738530581last p span.yiv0738530581yshortcuts
{margin-right:0;}#yiv0738530581 div.yiv0738530581attach-table div div a
{text-decoration:none;}#yiv0738530581 div.yiv0738530581attach-table
{width:400px;}#yiv0738530581 div.yiv0738530581file-title a, #yiv0738530581
div.yiv0738530581file-title a:active, #yiv0738530581
div.yiv0738530581file-title a:hover, #yiv0738530581 div.yiv0738530581file-title
a:visited {text-decoration:none;}#yiv0738530581 div.yiv0738530581photo-title a,
#yiv0738530581 div.yiv0738530581photo-title a:active, #yiv0738530581
div.yiv0738530581photo-title a:hover, #yiv0738530581
div.yiv0738530581photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv0738530581
div#yiv0738530581ygrp-mlmsg #yiv0738530581ygrp-msg p a
span.yiv0738530581yshortcuts
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv0738530581
.yiv0738530581green {color:#628c2a;}#yiv0738530581 .yiv0738530581MsoNormal
{margin:0 0 0 0;}#yiv0738530581 o {font-size:0;}#yiv0738530581
#yiv0738530581photos div {float:left;width:72px;}#yiv0738530581
#yiv0738530581photos div div {border:1px solid
#666666;min-height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv0738530581
#yiv0738530581photos div label
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv0738530581
#yiv0738530581reco-category {font-size:77%;}#yiv0738530581
#yiv0738530581reco-desc {font-size:77%;}#yiv0738530581 .yiv0738530581replbq
{margin:4px;}#yiv0738530581 #yiv0738530581ygrp-actbar div a:first-child
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv0738530581 #yiv0738530581ygrp-mlmsg
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv0738530581
#yiv0738530581ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv0738530581
#yiv0738530581ygrp-mlmsg select, #yiv0738530581 input, #yiv0738530581 textarea
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv0738530581
#yiv0738530581ygrp-mlmsg pre, #yiv0738530581 code {font:115%
monospace;}#yiv0738530581 #yiv0738530581ygrp-mlmsg *
{line-height:1.22em;}#yiv0738530581 #yiv0738530581ygrp-mlmsg #yiv0738530581logo
{padding-bottom:10px;}#yiv0738530581 #yiv0738530581ygrp-msg p a
{font-family:Verdana;}#yiv0738530581 #yiv0738530581ygrp-msg
p#yiv0738530581attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv0738530581
#yiv0738530581ygrp-reco #yiv0738530581reco-head
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv0738530581 #yiv0738530581ygrp-reco
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv0738530581 #yiv0738530581ygrp-sponsor
#yiv0738530581ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv0738530581
#yiv0738530581ygrp-sponsor #yiv0738530581ov li
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv0738530581
#yiv0738530581ygrp-sponsor #yiv0738530581ov ul {margin:0;padding:0 0 0
8px;}#yiv0738530581 #yiv0738530581ygrp-text
{font-family:Georgia;}#yiv0738530581 #yiv0738530581ygrp-text p {margin:0 0 1em
0;}#yiv0738530581 #yiv0738530581ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv0738530581
#yiv0738530581ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none
!important;}#yiv0738530581
| | Virusvrij. www.avg.com |