Ente ini orang democrat atau orang republiken?

Orang democrat itu menekankan proses. Beda dengan orang republiken yg gak 
pusing dgn proses tapi hanya mau lihat hasil akhirnya alias yg penting menang 
walaupun haram caranya.

 

Koq bisa mau ajaran marxisme leninisme diajarkan diindonesia tetapi harus 
menunggu TAP MPRS dicabut dulu?

Lah kalau setelah dicabut, Indonesia ribut perang saudara, gimana?

Sejarah Indonesia sudah membuktikan ini sejak Bung Karno dulu kalah saja, dia 
berkorban utk tidak mendorong PKI utk melawan dst….dst sampai Gus Dur yg begitu 
vocal dengan suara2 simpati thd orang2 terhalang pulang pun tidak mau mencabut 
TAP MPRS itu.

 

Koq bisa ya ente bikin premis: “Ketakutan yang ada itu justru terjadi karena 
memang dipelihara dan dengan sengaja TAP MPRS tidak di-cabut2, TAP dipakai utk 
melegalisasi ketakutan.”???????

 

Seakan2 masalahnya adalah terletak di TAP MPRS itu.

 

Ente ini jelas orang kanan sekali bukan orang kiri.

Ente gak mau tahu proses dan konsekwensi dari suatu tindakan. 

Ente maunya asal menang saja.

Persis sama dengan Trump yg hanya mau menang jadi presiden pake’ kampanye anti 
Islam dan anti latino.

Bener kan yg ane bilang sejak dulu kala ente itu bukan orang democrat?!!!

Caranya ndak penting, yg penting menang!

 

Ente itu kan maunya kalau ada problem langsung dipangkas.

Kalau ada korupsi di departemen kesehatan, department kesehatan itu harus 
dibubarkan.

Kalau ada korupsi di kepolisian, kepolisiannya harus dibubarkan.

Kalau ada islam radikal seperti FPI, ormas2 ini harus dibubarkan…...dst…dst…

 

Kalau ada masalah diagama ente, ente diam saja, hanya omong2 sedikit2 karena yg 
paling bener itu adalah ente! Hehehehehe.

 

Koq bisa begini ya katanya orang pinter dan logikanya hebat2. Model tukang 
potong sana sini mau dijadikan model decision making?!

 

Akh ya enggak2 aja ente ini. 

Ini ya hasil Pendidikan negara yg banyak world class university nya?!! 
Hehehehehehe (ane ngenyek nih!)

 

Yg lebih parah lagi adalah: menghubungkan penodaan agama karena adanya pasal 
penodaan agama.

Koq bisa ya ada seorang manusia bilang ada penodaan agama karena ada pasal 
penodaan agama?

Jadi kalau tidak ada pasal penodaan agama, bakalan tidak ada penodaan agama?

Weleh…weleh….logikanya orang lulusan sekolah world class university☹

 

Nesare

 

 

From: [email protected] [mailto:[email protected]] 
Sent: Monday, June 12, 2017 4:20 PM
To: Yahoogroups <[email protected]>
Subject: RE: [GELORA45] FW: Saatnya Rehabilitasi Bung Karno!

 

  

 

Ketakutan yang ada itu justru terjadi karena memang dipelihara dan dengan 
sengaja TAP MPRS tidak di-cabut2, TAP dipakai utk melegalisasi ketakutan. 
Seandainya TAP dan hukum2 turunannya dicabut tidak akan ada lagi legalisasi 
kriminalisasi pemikiran, tidak ada lagi pembenar pelaku2 intoleran yang 
melakukan sweeping melarang lokakarya pembakaran buku dlsb itu. Tidak ada lagi 
stigmatisasi komunis ataupun PKI. Tidak ada lagi phobia sehingga tulisan PKI 
dikaos anak2 juga disweeping sedemikian rupa tanpa tahu singkatan apa. TAP MPRS 
itu pada dasarnya hanya legalisasi kekerasan nan diskriminatif.

 

Hal yg kurang lebih sama dgn pasal penodaan agama, tidak akan ada kasus 
penodaan agama yg tidak karuan juntrungannya itu kalau tidak ada pasal penodaan 
agama.

 

---In [email protected] <mailto:[email protected]> , <nesare1@... 
<mailto:nesare1@...> > wrote :



Nakut2in?

Coba tanya tuh orang2 yang masih tidak bebas lingkungan masih takut tidak hidup 
diindonesia?

Coba tanya mereka2 itu apakah berani teriak2 “hidup PKI”?

 

Ente saja yg ndak ada empati, sok2an petentang petenteng mau begini begitu 
tetapi ndak ngerti permasalahannya!

Ane kan sudah bilang dari dulu orang2 seperti ente inilah yang bisa bikin 
runyam.

Sok demokratis, sok agamais, sok HAM, sok2an saja yg dipamerkan.

 

Koq bisa ya ada orang yg menyarankan TAP MPRS 25/1966 dicabut tanpa melihat 
konsekwensi yang akan dibawa?!

 

Ane saja yang ngerti banget gimana kerasnya Gus Dur simpati dengan orang2 
terhalang pulang karena kasus 1965, tidak mampu berbuat banyak selain hanya 
bisa minta maaf secara pribadi. Minta maaf secara pribadi saja sudah 
menimbulkan masalah yg besar, belum lagi memulangkan mereka2 yang terhalang 
pulang ini. ini baru proses rekonsiliasi saja sudah susahnya setengah mati.

Eh hebatnya ente ini minta TAP MPRS itu dicabut?!!!!!!

 

Hehehehehe ane ketawa bukan karena lucu tapi ane tertawa krn ada manusia 
seperti ente yg ngakunya pro demokrasi, pro HAM, petentang petenteng beragama 
nasrani mau mencabut TAP MPRS anti komunis?!!!!!!

 

Ini kan persis dengan pendapat ente yg maunya ahok tidak boleh masuk penjara 
dan ahok tidak boleh diadili! Ahok masuk penjara karena diadili itu salahnya 
Jokowi.

 

MANA BERANI ENTE BILANG YANG SALAH ISLAM RADIKAL?

Hehehe ente sadar ndak? Ente itu mengidap minority syndrome. Berani2nya 
berkoar2 maki2 orang sendiri, tetapi pengecutnya kelihatan gak berani ngomongin 
ttg musuhnya!!!! Kenapa? Karena takut!!!!

 

Jelas sekali ente gak ngerti ttg Indonesia. Jelas sekali ente ndak ngerti 
kekuatan massa rakyat Islam yg turun kejalan dengan demo jilid 1, 411 dna 211 
saja sudah harus dipikirin kekuatannya.

 

APALAGI KOMUNISME MAU DIHIDUPKAN?!!!!

Ente ini jangan2 intel CIA ya mau Indonesia bubar lalu ente gampang 
mencaploknya?!!!!

Jangan maen2 sama negara ane ya!!!!

 

Nesare

 

 

From: [email protected] <mailto:[email protected]>  
[mailto:[email protected]] 
Sent: Monday, June 12, 2017 2:33 PM
To: Yahoogroups <[email protected] <mailto:[email protected]> >
Subject: RE: [GELORA45] FW: Saatnya Rehabilitasi Bung Karno!

 

 

Tulisan ini intinya cuman me-nakut2in, memang dasarnya darimana kalau TAP MPRS 
dicabut menimbulkan disintegrasi bangsa dan negara? Omongan penuh agitasi.

 

kutipan:

Tetapi kalau mau dilihat lebih mendalam lain perkaranya. Soeharto/Orba sudah 
runtuh pun, kenapa Tap MPRS itu tidak dicabut? Gampang sekali kan kalau mau 
mencabutnya? Disinilah letak persoalannya bahwa ketakutan akan PKI dan ajaran 
komunisme itu sudah merasuk dalam rakyat Indonesia. Persoalannya kan jadi jelas 
sekali bahwa bukan Tap MPRS nya yg menjadi masalah, tetapi masalah ketakutan 
bahaya PKI dan komunisme.

Bagi yang tidak mengerti hal ini kan selalu mengklaim: takut…takut dan takut 
untuk mencabut TAP MPRS itu kan?

Tetapi efek mencabutnya itu tidak pernah dipertanyakan. Bagaimana kalau TAP 
MPRS nya sudah dicabut dan menimbulkan disintegrasi bangsa dan negara?

 

---In  <mailto:[email protected]> [email protected], < 
<mailto:nesare1@...> nesare1@...> wrote :




Chan: kalau saja diusut lebih lanjut, yang SALAH yaa TAP MPRS 25/1966 itu

Nesare: gampangnya memang begini. Tetapi kalau mau dilihat lebih mendalam lain 
perkaranya. Soeharto/Orba sudah runtuh pun, kenapa Tap MPRS itu tidak dicabut? 
Gampang sekali kan kalau mau mencabutnya? Disinilah letak persoalannya bahwa 
ketakutan akan PKI dan ajaran komunisme itu sudah merasuk dalam rakyat 
Indonesia. Persoalannya kan jadi jelas sekali bahwa bukan Tap MPRS nya yg 
menjadi masalah, tetapi masalah ketakutan bahaya PKI dan komunisme.

Bagi yang tidak mengerti hal ini kan selalu mengklaim: takut…takut dan takut 
untuk mencabut TAP MPRS itu kan?

Tetapi efek mencabutnya itu tidak pernah dipertanyakan. Bagaimana kalau TAP 
MPRS nya sudah dicabut dan menimbulkan disintegrasi bangsa dan negara?

Presiden yang paling berani berbicara ttg PKI dan komunisme itu adalah Gus Dur. 
Sampai akhir hidupnya Gus Dur tidak bisa mencabut TAP MPRS itu walaupun berani 
membubarkan department penerangan dan departemen social. Walaupun teriakan Gus 
Dur disukai utk membubarkan DPR tetapi dia juga tidak bisa membubarkan DPR.

 

Bandingkan di USA dimana komunisme itu saya pastikan tidak akan bisa hidup 
lagi. Bagaimana mereka melakukannya? Mereka membiarkan ajaran marxisme 
leninisme komunisme itu dimana2 dalam pendidikannya. Rakyatnya sudah berdiskusi 
membicarakan ajaran2 kiri, tengah dan kanan dari bangku sekolah. Komunisme 
sudah mati di USA tetapi rakyatnya mencari bentuk sosialisme yg lain seperti 
social democrat  ala partai democrat dan juga sudah ada yang lebih kiri ala 
Bernie sanders. Libertarian juga adalah hasil pemikiran yg relative baru yg 
jenuh dengan partai republic dan democrat.

 

Ini yang perlu dilakukan oleh rakyat Indonesia. Pelajari ajaran2nya sebelum 
bilang setuju atau tidak setuju. Tidak ada gunanya TAP MPRS itu dicabut tetapi 
rakyat Indonesia masih menolak dalam hatinya.

 

Ini parallel dengan masalah diskriminasi terhadap kelompok tionghoa. Coba 
bandingkan diskriminasi tionghoa di Malaysia dan Indonesia: diskriminasi di 
Indonesia itu tidak formal. Diskriminasi di Malaysia terang2an/bumiputera. 
Hasilnya apa? tionghoa Malaysia tahu dimana letaknya diskriminasi itu dan 
bermain dalam boundary nya. Di Indonesia bentuk diskriminasi nya tidak jelas 
tetapi prakteknya dimana2.

 

Jadi persoalannya itu bukan TAP MPRS atau ada diskriminasi atau tidak, tetapi 
bagaimana penerimaan dan penolakan rakyat itu yg lebih penting. Kalau rakyatnya 
diajak berpikir, mestinya jalan keluar akan lebih terbuka. Mulailah dengan 
belajar. Mulailah dengan buku. Mulailah dengan diskusi.

 

Kalau kita ikuti dengan adanya milis2 ini dengan tersedianya internet gratis, 
luar biasa hasilnya. Banyak yang sudah melek melihat perkara pembunuhan massal 
1965 itu bukan hanya miliknya Orba saja. Saya tekankan betapa pentingnya media 
alternative seperti milis2 ini dalam membuka wawasan rakyat Indonesia.

 

Nesare

 

 

 

From:  <mailto:[email protected]> [email protected] [ 
<mailto:[email protected]> mailto:[email protected]] 
Sent: Saturday, June 10, 2017 10:14 PM
To:  <mailto:[email protected]> [email protected]; nesare1@...
Subject: Re: [GELORA45] FW: Saatnya Rehabilitasi Bung Karno!

 

 

Makanya, kalau saja diusut lebih lanjut, yang SALAH yaa TAP MPRS 25/1966 itu! 
Bukan saja melarang PKI tanpa dasar, tapi juga melarang ajaran 
Marxisme-Leninisme, dan, ... sampai sekarang, setelah era reformasi-demokrasi 
berlangsung hampir 20 tahun, masih tetap saja diberlakukan! Padahal jelas TAP 
MPRS 25/1966 itu dikeluarkan oleh Sidang MPRS yang terlebih dahulu direkayasa 
jenderal Suharto, dengan menangkapi seluruh anggota DPR/MPRS yang dituduh PKI 
dan Soekarnois dan digantikan dengan pendukung2 Suharto! Jadi jelas, MPRS yang 
cacad HUKUM, dan dengan sendirinya TAP MPRS yang dikeluarkan juga cacad hukum! 
TIDAK SAH, ...!

 

Tapi, saya SETUJUUU dengan pemikiran, satu pandangan ideologi, khususnya 
Marxisme-Leninisme yang jelas merupakan teori mewujudkan KEADILAN SOSIAL bagi 
SELURUH RAKYAT (Sila ke-5 Pancasila) itu menjadi KENYATAAN, mengapa dan 
bagaimana bisa dilarang? Apalagi menghadapi kenyataan bukan saja kesenjangan 
sosial dalam masyarakat yang makin tajam tapi juga makin buaanyak jumlah rakyat 
miskin, warga yang terhimpit dalam kehidupan miskin. Dan kemiskinan itu pasti 
akan dengan mudah menerima pandangan-pandangan Sosialisme, Komunisme itu, .. 
Dari sudut pandang lain, kalau diperhatikan setiap pandangan ideologi itu, 
termasuk pandangan KOMUNIS dalam kenyataan terus berubah dan berkembang sesuai 
perkembangan jaman. Dan, ... yang PASTI setiap orang boleh-boleh saja mempunyai 
pandangan ideologi/politik tertentu, baik Pancasila, liberalisme, kapitalisme, 
sosialisme, komunisme maupun Islam, Kristen, Budha, Hindu Konghucu, ... menjadi 
komunis, sosialis, liberalis, atau kapitalis bukanlah kejahatan. Sama seperti 
menjadi Islam atau Kristen bukan kejahatan sekalipun tergolong radikalis. 
Pikiran seseorang tak bisa dipidanakan. Tindakan pemaksaan dengan kekerasanlah, 
terjadi pelanggaran UU/HUKUM yang dilakukan oleh siapa pun, baik komunis atau 
Islam, yang bisa dipidanakan.

 

Salam,

ChanCT

 

 

From:  <mailto:nesare1@...> nesare1@... [GELORA45]

Sent: Saturday, June 10, 2017 8:29 PM

To:  <mailto:[email protected]> [email protected]

Subject: [GELORA45] FW: Saatnya Rehabilitasi Bung Karno!

 

 

Chan: Lho, ... bukankah istilah atau sebutan KOMUNIS itu yang diajukan bung 
Karno di tahun 1959, dengan seruan persatuan NASAKOM!

Nesare: betul NASAKOM itu ide pikiran bung Karno. Kom nya ada karena waktu itu 
ada PKI sebagai partai politik yang sah Sekarang sudah tidak ada PKI itu – 
dalam arti partai politik Ajarannya yang bisa ada karena tidak melembaga dan 
bisa diajarkan dan diteruskan oleh siapa saja. jadi memang betul Jokowi bilang 
“gebuk PKI” kalau memang PKI nya (dalam bentuk lembaga) ada. Kenapa harus 
digebuk? Karena komunisme itu tidak sah di Indonesia. Sepanjang Tap MPRS 
25/1966 yang ditertawakan oleh bung Karno. Bung Karno mentertawakan larangan 
komunisme itu karena dia berpendapat bahwa larangan itu tidak mungkin dapat 
meredam ajaran2 sosialisme itu karena ajaran2 sosialisme itu ada karena adanya 
keadilan social yang jelek. Bung Karno bilang kalau mau melarang marxisme, 
komunisme, islamisasi dll itu adalah yang merugikan rakyat dan negara. Makanya 
bung Karno pun mati2an melawan  Darul Islam karena DI adalah kegiatan islamisme 
yang ngladrah. (“Bukan islamisme sejati, yang suci, yang baik, tapi yang 
ngladrah.")

Belum lagi Tap MPRS 25/1966 itu terus didukung dengan peraturan, UU, KUHP dll 
yang melarang ajaran marxisme, leninisme dll.

Chan: sampaik-sampai Presiden Jokowi pun ikut-ikutan hendak gebuk PKI yang 
dibilang muncul kembali itu. Padahal Islam radikalisme yang sudah bergerak 
nyata dengan teror dimana-mana dan makin agresif itulah yang merupakan bahaya 
nyata perpecahan NKRI!

Nesare: semoga sudah jelas dengan penjelasan diatas bahwa bagi bung Karno 
islamisasi seperti DI yang ngladrah atau komunisme yang misalnya kalau menang 
mau melarang/represif rakyat Indonesia untuk beragama dan beribadah. Yang 
dilihat bung Karno itu adalah “ngladrah”nya bukan ajarannya. Bung Karno 
menekankan dalam pentingnya NAS A KOM itu harus bersatu. Gak berdiri sendiri2. 
Itulah wajah bangsa Indonesia. Ini yang saya percaya sampai sekarang masih 
relevan dalam bangsa Indonesia.

Ketakutan/keprihatinan bung atas islamisasi itu wajar2 saja. tetapi itu bukan 
kekhawatiran/keprihatinan non muslim saja. Said Aqil sudah bilang NU dan 
Muhammadiyah itu adalah ulama (plural) dan tidak perlu dibela. Dia mau bilang 
orang2 yang teriak2 bela ulama itu “ngladrah” dan akan dilawan. Jadi Islamnya 
tidak perlu ditakuti tetapi orang2 yang “ngladrah” menggunakan Islam yg perlu 
dilawan.

Salam,

Nesare

From:  <mailto:[email protected]> [email protected] [ 
<mailto:[email protected]> mailto:[email protected]] 
Sent: Friday, June 9, 2017 7:36 PM
To:  <mailto:[email protected]> [email protected];  
<mailto:nesare1@...> nesare1@...
Subject: Re: [GELORA45] FW: Saatnya Rehabilitasi Bung Karno!

 

Lho, ... bukankah istilah atau sebutan KOMUNIS itu yang diajukan bung Karno di 
tahun 1959, dengan seruan persatuan NASAKOM! Bahwa yang memperjuangkan ideologi 
Keadilan sosial itu bukan hanya komunis, tentu juga BETUUUL! Bisa Marhaenisme, 
Soekarnoisme, Sun Yat Sen, ataupun Sosialisme, ..Dan juga tidak dapat disangkal 
semua pandangan ideologi itu ada kelebihan dan kekurangan, ada kebenaran 
sekaligus ada kesalahannya juga. TIDAK PERLU saling gempur apalagi saling bunuh 
membunuh, ... Semua boleh-boleh saja memperjuangkan dan berusaha mewujudkan 
menjadi kenyataan dimana mereka berada, dijalankan saja kompetisi secara damai 
pandangan mana yang akan berhasil lebih baik, lebih cepat dan lebih ADIL bagi 
rakyat banyak!

Kalau memang semua pandangan itu mengatas namakan RAKYAT, kenapa pula harus 
saling hujat menghujat, saling gontok-gontokan bahkan saling bunuh? Belum 
apa-apa sudah harus mengorbankan sekelompok RAKYAT yang dituduh komunis itu?! 
Dan semua dijalankan TANPA proses pengadilan yang sah dan adil untuk 
membuktikan TUDUHAN “PKI dalang G30S”, dan, ... kalau saja Suharto menganggap 
PKI ketika itu telah melakukan kekejaman kemanusiaan dengan membunuh 7 jenderal 
tanpa proses hukum, sebagaimana didengungkan diangsa-raya Nusantara ini, kenapa 
pula mereka sendiri membalas juga dengan kekejaman kemanusiaan yang bahkan 
lebih dahsyat lagi!!! Tanpa segan-segan membantai, memenjarakan, mengasingkan 
jutaan RAKYAT nya sendiri hanya karena dituduh PKI, simpatisan dan pendukung 
Soekarno, padahal jelas PKI ketika itu adalah PARTAI yang sah dan legal bahkan 
dipertahankan matimatian oleh Presiden Soekarno!

Dan yang lebih aneh lagi, PKI yang sudah masuk kubur lebih 1/2 abad masih saja 
dijadikan momok bahaya laten, begitu ditakuti nya setiap gerak bahkan hanya 
logo Palu-Arit dan baju anak-anak berhuruf PKI saja bisa dianggap momok PKI 
yang sedang gentayangan! PKI sudah bangkit kembali, ... sampaik-sampai Presiden 
Jokowi pun ikut-ikutan hendak gebuk PKI yang dibilang muncul kembali itu. 
Padahal Islam radikalisme yang sudah bergerak nyata dengan teror dimana-mana 
dan makin agresif itulah yang merupakan bahaya nyata perpecahan NKRI!

Salam,

ChanCT

From:  <mailto:nesare1@...> nesare1@.. [GELORA45]

Sent: Friday, June 9, 2017 10:26 PM

To:  <mailto:[email protected]> [email protected]

Subject: RE: [GELORA45] FW: Saatnya Rehabilitasi Bung Karno!

 

Kenapa harus komunismenya yang ditonjolkan?

Sedangkan komunisme itu sudah almarhum.

Kenapa tidak dipikirkan alternative lain. Ideologi sosialisme itu bukan hanya 
komunisme saja.

Ideologi NKRI itu adalah: Pancasila.

Sila keempat/kerakyatan itu adalah demokrasi.

Demokrasi Indonesia itu adalah demokrasi Pancasila.

Bentuk sosialisme yang pernah didengungkan oleh Bung Karno adalah: Marhaenisme 
dalam prakteknya, dan ekonomi yang dijalankan disebut ekonomi kerakyatan. 
Kenapa bukan marhaenismenya bung Karno yang ditonjolkan? Atau bentuk2 
sosialisme lainnya yang dapat menjadi alternative?

Walaupun bung Karno tidak anti PKI tetapi bung Karno bukan komunis.

Begitu juga Pram yang dekat dengan PKI tetapi selalu bilang dimana2 dia bukan 
komunis.

Jadi sekali lagi ideologi NKRI itu Pancasila bukan komunisme. Jadi gak usah 
digede2in.

Begitu juga di USA dan negara2 lainnya, ideologinya macem2: liberalisme, 
sosialisme, libertalisme, conservatisme dll. Komunisme itu hanya ada di 
beberapa negara saja: RRT, Kuba, Korea utara yang juga sedang degradasi

Yang saya tangkap dari “gebuk PKI”nya Jokowi itu adalah dia prihatin dengan 
keadaan bangsa dan negaranya.

Seperti bung Karno dan pak Pram, Jokowi bukan komunis dan juga bukan anti 
komunis.

“Gebuk PKI”nya itu adalah strategi utk meredam sikon Indonesia sekarang ini 
dimana disintegrasi sedang semarak.

Coba bayangkan apa yang akan terjadi kalau Jokowi bilang: “hidup PKI”?

Walaupun Jokowi bukan komunis dan tidak anti PKI, apakah dia tidak akan 
diganyang oleh kelompok Islam dan militer?

Jadi jangan terpaku sama “gebuk PKI” nya yang hanyalah slogan saja.

Slogan ini ‘kan mirip dengan “go to hell with your aid” nya bung Karno kan?

Tapi kan bukan berarti bung Karno anti investasi asing. Makna retorika itu 
adalah: “kami bisa mengatur ekonomi kami sendiri. kalau kami perlu hutang, kami 
bisa cari sendiri. Tetapi kami tidak mau dicekoki/dikasih hutang yang tidak 
kami perlukan”.

Maknanya “gebuk PKI”nya Jokowi ya kira2: wong PKI sudah gak ada, apanya yang 
mau digebuk?!

Nesare

From:  <mailto:[email protected]> [email protected] [ 
<mailto:[email protected]> mailto:[email protected]] 
Sent: Friday, June 9, 2017 8:35 AM
To:  <mailto:[email protected]> [email protected];  
<mailto:arif.harsana@...> arif.harsana@...
Subject: Re: [GELORA45] FW: Saatnya Rehabilitasi Bung Karno!

 

Bagaimana bisa dikatakan “Saatnya Rehabilitasi Bung Karno”??? Kalau pemerintah 
yang berkuasa, khususnya Presiden Jokowi masih saja begitu anti-KOMUNIS, 
sampai-sampai berulangkali dengan tegas dan keras hendak “GEBUK” PKI begitu 
muncul kembali?!

Bukankah bung Karno digulingkan Suharto karena ketegasan dan kekerasan bung 
Karno tidak hendak bubarkan PKI! Karena bung Karno TIDAK bisa menerima tuduhan 
G30S didalangi PKI! Dan Bung Karno dalam kondisi terjepitpun tetap menunjukkan 
ketegasan dan konsekwen pertahankan ajaran yang dicetuskan sejak tahun 26, 
Persatuan NASAKOM! Kenyataan adanya 3 kekuatan NAS-A-KOM dalam masyarakat 
Indonesia ini yang harus dipersatukan dalam perjuangan kemerdekaan dan 
pembangunan nasional Indonesia, .. peran PKI dalam gerakan KEMERDEKAAN RI, jasa 
pejuang-pejuang komunis dalam perjuangan kemerdekaan TIDAK BISA dihilangkan 
dihapus begitu saja oleh Suharto!

Jutaan rakyat tidak berdosa yang dibantai, dipenjarakan, dibuang kepulau Buru, 
... telah menjadi korban kekejamanan jenderal Suharto naik kesinggasana 
kekuasaan RI-1!

Salam,

ChanCT

From: 'arif.harsana@...'  <mailto:arif.harsana@...> arif.harsana@... [GELORA45]

Sent: Friday, June 9, 2017 12:55 PM

 

 
<http://www.bergelora.com/opini-wawancara/artikel/2069-saatnya-rehabilitasi-bung-karno.html>
 
http://www.bergelora.com/opini-wawancara/artikel/2069-saatnya-rehabilitasi-bung-karno.html


Saatnya Rehabilitasi Bung Karno!


Oleh : Nursjahbani Katjasungkana, SH *)

Ditengah Penjajahan Kolonialisme Belanda pada 6 Juni 1900, seorang perempuan, 
Ida Ayu Nyoman Rai, yang sehari-hari dipanggil Nyoman, melahirkan seorang putra 
bernama Soekarno. Pada 1 Juni 1945, dihadapan Badan Penyelidik Usaha Persiapan 
kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) Soekarno, pertama kali berpidato tentang 
Pancasila yang selanjutnya menjadi dasar Ideologi Negara Republik Indonesia 
Sehingga Setiap 1 Juni dikenal sebagai Hari Kelahiran Pancasila. Ia menjadi 
menjadi Proklamator dan Presiden Pertama Republik Indonesia yang berdiri pada 
17 Agustus 1945. Pada 22 Juni 1966 Soekarno dipaksa meletakkan jabatan lewat 
penolakan oleh MPRS atas Pidato Pertanggung Jawaban Presiden Soekarno,--setelah 
sebuah kudeta militer yang didukung Amerika Serikat pada 30 September 1965.  
Presiden Soekarno meninggal dunia di RSPAD (Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat) 
Gatot Subroto, Jakarta pada 21 Juni 1970. Sebagai penghormatan terhadap Bulan 
Bung Karno, selama sebulan Bergelora.com akan menurunkan berbagai tulisan 
tentang Bung Karno.

Oleh : Nursjahbani Katjasungkana, SH

Tanggal 6 Juni tahun ini, kita merayakan   kelahiran Bung Karno yang ke 114 dan 
21 Juni nanti tepat 46 tahun wafatnya. Bung Karno adalah salah satu pendiri 
Republik Indonesia, penggagas dasar negara Pancasila dan pernah dijuluki 
sebagai Pemimpin Besar Revolusi serta salah satu penggagas  Konperensi Asia 
Afrika di Bandung tahun 1955, sebuah konfrensi yang diselenggarakan untuk 
melawan kekuatan baru kapitalisme global yang dikuasai blok Barat.

Setelah absen selama 32 tahun dibawah pemerintahan Jendral Soeharto, sejak 
reformasi, kelahiran Pancasila kembali dirayakan secara resmi dalam upacara 
kenegaraan. Pada peringatan lahirnya Pancasila 1 Juni yang lalu, puja-puji 
kepada sang Penggagas dikemukan pula oleh Presiden Jokowi yang mengakui bahwa 
Bung Karno merupakan  inspiratornya yang utama.

Pada tingkat dunia, namanya sangat harum baik karena pidato-pidatonya yang 
membangkitkan semangat perjuangan melawan kolonialisme dan kapitalisme mapun 
sebagai salah satu penggagas gerakan non-blok. Negerinya yang ketika itu baru 
berumur 10 tahun berhasil menggerakkan negara-negara Asia Afrika dan menegaskan 
posisi politiknya ditengah Perang Dingin yang sedang berlangsung antara blok 
Barat dibawah Amerika Serikat dengan sekutunya dan blok Timur dibawah Rusia dan 
kawan-kawannya. Kedua blok itu saling berebut pengaruh dan di beberapa negara 
menimbulkan perang. S

(Message over 64 KB, truncated)



Kirim email ke