Pada Minggu, 11 Juni 2017 4:12, "'Chan CT' [email protected] 
[GELORA45]" <[email protected]> menulis:
 

     Makanya, kalau saja diusut lebih lanjut, yang SALAH yaa TAP MPRS 25/1966 
itu! Bukan saja melarang PKI tanpa dasar, tapi juga melarang ajaran 
Marxisme-Leninisme, dan, ... sampai sekarang, setelah era reformasi-demokrasi 
berlangsung hampir 20 tahun, masih tetap saja diberlakukan! Padahal jelas TAP 
MPRS 25/1966 itu dikeluarkan oleh Sidang MPRS yang terlebih dahulu direkayasa 
jenderal Suharto, dengan menangkapi seluruh anggota DPR/MPRS yang dituduh PKI 
dan Soekarnois dan digantikan dengan pendukung2 Suharto! Jadi jelas, MPRS yang 
cacad HUKUM, dan dengan sendirinya TAP MPRS yang dikeluarkan juga cacad hukum! 
TIDAK SAH, ...! Tapi, saya SETUJUUU dengan pemikiran, satu pandangan ideologi, 
khususnya Marxisme-Leninisme yang jelas merupakan teori mewujudkan KEADILAN 
SOSIAL bagi SELURUH RAKYAT (Sila ke-5 Pancasila) itu menjadi KENYATAAN, mengapa 
dan bagaimana bisa dilarang? Apalagi menghadapi kenyataan bukan saja 
kesenjangan sosial dalam masyarakat yang makin tajam tapi juga makin buaanyak 
jumlah rakyat miskin, warga yang terhimpit dalam kehidupan miskin. Dan 
kemiskinan itu pasti akan dengan mudah menerima pandangan-pandangan Sosialisme, 
Komunisme itu, ... Dari sudut pandang lain, kalau diperhatikan setiap pandangan 
ideologi itu, termasuk pandangan KOMUNIS dalam kenyataan terus berubah dan 
berkembang sesuai perkembangan jaman. Dan, ... yang PASTI setiap orang 
boleh-boleh saja mempunyai pandangan ideologi/politik tertentu, baik Pancasila, 
liberalisme, kapitalisme, sosialisme, komunisme maupun Islam, Kristen, Budha, 
Hindu Konghucu, ... menjadi komunis, sosialis, liberalis, atau kapitalis 
bukanlah kejahatan. Sama seperti menjadi Islam atau Kristen bukan kejahatan 
sekalipun tergolong radikalis. Pikiran seseorang tak bisa dipidanakan. Tindakan 
pemaksaan dengan kekerasanlah, terjadi pelanggaran UU/HUKUM yang dilakukan oleh 
siapa pun, baik komunis atau Islam, yang bisa dipidanakan. Salam,ChanCT  From: 
[email protected] [GELORA45] Sent: Saturday, June 10, 2017 8:29 PMTo: 
[email protected] Subject: [GELORA45] FW: Saatnya Rehabilitasi Bung 
Karno!   Chan: Lho, ... bukankah istilah atau sebutan KOMUNIS itu yang diajukan 
bung Karno di tahun 1959, dengan seruan persatuan NASAKOM! Nesare: betul 
NASAKOM itu ide pikiran bung Karno. Kom nya ada karena waktu itu ada PKI 
sebagai partai politik yang sah. Sekarang sudah tidak ada PKI itu – dalam arti 
partai politik. Ajarannya yang bisa ada karena tidak melembaga dan bisa 
diajarkan dan diteruskan oleh siapa saja. jadi memang betul Jokowi bilang 
“gebuk PKI” kalau memang PKI nya (dalam bentuk lembaga) ada. Kenapa harus 
digebuk? Karena komunisme itu tidak sah di Indonesia. Sepanjang Tap MPRS 
25/1966 yang ditertawakan oleh bung Karno. Bung Karno mentertawakan larangan 
komunisme itu karena dia berpendapat bahwa larangan itu tidak mungkin dapat 
meredam ajaran2 sosialisme itu karena ajaran2 sosialisme itu ada karena adanya 
keadilan social yang jelek. Bung Karno bilang kalau mau melarang marxisme, 
komunisme, islamisasi dll itu adalah yang merugikan rakyat dan negara. Makanya 
bung Karno pun mati2an melawan  Darul Islam karena DI adalah kegiatan islamisme 
yang ngladrah. (“Bukan islamisme sejati, yang suci, yang baik, tapi yang 
ngladrah.")  Belum lagi Tap MPRS 25/1966 itu terus didukung dengan peraturan, 
UU, KUHP dll yang melarang ajaran marxisme, leninisme dll.  Chan: 
sampaik-sampai Presiden Jokowi pun ikut-ikutan hendak gebuk PKI yang dibilang 
muncul kembali itu. Padahal Islam radikalisme yang sudah bergerak nyata dengan 
teror dimana-mana dan makin agresif itulah yang merupakan bahaya nyata 
perpecahan NKRI! Nesare: semoga sudah jelas dengan penjelasan diatas bahwa bagi 
bung Karno islamisasi seperti DI yang ngladrah atau komunisme yang misalnya 
kalau menang mau melarang/represif rakyat Indonesia untuk beragama dan 
beribadah. Yang dilihat bung Karno itu adalah “ngladrah”nya bukan ajarannya. 
Bung Karno menekankan dalam pentingnya NAS A KOM itu harus bersatu. Gak berdiri 
sendiri2. Itulah wajah bangsa Indonesia. Ini yang saya percaya sampai sekarang 
masih relevan dalam bangsa Indonesia. Ketakutan/keprihatinan bung atas 
islamisasi itu wajar2 saja. tetapi itu bukan kekhawatiran/keprihatinan non 
muslim saja. Said Aqil sudah bilang NU dan Muhammadiyah itu adalah ulama 
(plural) dan tidak perlu dibela. Dia mau bilang orang2 yang teriak2 bela ulama 
itu “ngladrah” dan akan dilawan. Jadi Islamnya tidak perlu ditakuti tetapi 
orang2 yang “ngladrah” menggunakan Islam yg perlu dilawan.  Salam, Nesare   
From: [email protected] [mailto:[email protected]] 
Sent: Friday, June 9, 2017 7:36 PM
To: [email protected]; [email protected]
Subject: Re: [GELORA45] FW: Saatnya Rehabilitasi Bung Karno!     Lho, ... 
bukankah istilah atau sebutan KOMUNIS itu yang diajukan bung Karno di tahun 
1959, dengan seruan persatuan NASAKOM! Bahwa yang memperjuangkan ideologi 
Keadilan sosial itu bukan hanya komunis, tentu juga BETUUUL! Bisa Marhaenisme, 
Soekarnoisme, Sun Yat Sen, ataupun Sosialisme, ..Dan juga tidak dapat disangkal 
semua pandangan ideologi itu ada kelebihan dan kekurangan, ada kebenaran 
sekaligus ada kesalahannya juga. TIDAK PERLU saling gempur apalagi saling bunuh 
membunuh, ... Semua boleh-boleh saja memperjuangkan dan berusaha mewujudkan 
menjadi kenyataan dimana mereka berada, dijalankan saja kompetisi secara damai 
pandangan mana yang akan berhasil lebih baik, lebih cepat dan lebih ADIL bagi 
rakyat banyak!   Kalau memang semua pandangan itu mengatas namakan RAKYAT, 
kenapa pula harus saling hujat menghujat, saling gontok-gontokan bahkan saling 
bunuh? Belum apa-apa sudah harus mengorbankan sekelompok RAKYAT yang dituduh 
komunis itu?! Dan semua dijalankan TANPA proses pengadilan yang sah dan adil 
untuk membuktikan TUDUHAN “PKI dalang G30S”, dan, ... kalau saja Suharto 
menganggap PKI ketika itu telah melakukan kekejaman kemanusiaan dengan membunuh 
7 jenderal tanpa proses hukum, sebagaimana didengungkan diangsa-raya Nusantara 
ini, kenapa pula mereka sendiri membalas juga dengan kekejaman kemanusiaan yang 
bahkan lebih dahsyat lagi!!! Tanpa segan-segan membantai, memenjarakan, 
mengasingkan jutaan RAKYAT nya sendiri hanya karena dituduh PKI, simpatisan dan 
pendukung Soekarno, padahal jelas PKI ketika itu adalah PARTAI yang sah dan 
legal bahkan dipertahankan matimatian oleh Presiden Soekarno!  Dan yang lebih 
aneh lagi, PKI yang sudah masuk kubur lebih 1/2 abad masih saja dijadikan momok 
bahaya laten, begitu ditakuti nya setiap gerak bahkan hanya logo Palu-Arit dan 
baju anak-anak berhuruf PKI saja bisa dianggap momok PKI yang sedang 
gentayangan! PKI sudah bangkit kembali, ... sampaik-sampai Presiden Jokowi pun 
ikut-ikutan hendak gebuk PKI yang dibilang muncul kembali itu. Padahal Islam 
radikalisme yang sudah bergerak nyata dengan teror dimana-mana dan makin 
agresif itulah yang merupakan bahaya nyata perpecahan NKRI!   Salam, ChanCT   
From: [email protected] [GELORA45]  Sent: Friday, June 9, 2017 10:26 PM To: 
[email protected]  Subject: RE: [GELORA45] FW: Saatnya Rehabilitasi Bung 
Karno!     Kenapa harus komunismenya yang ditonjolkan? Sedangkan komunisme itu 
sudah almarhum. Kenapa tidak dipikirkan alternative lain. Ideologi sosialisme 
itu bukan hanya komunisme saja. Ideologi NKRI itu adalah: Pancasila. Sila 
keempat/kerakyatan itu adalah demokrasi. Demokrasi Indonesia itu adalah 
demokrasi Pancasila. Bentuk sosialisme yang pernah didengungkan oleh Bung Karno 
adalah: Marhaenisme dalam prakteknya, dan ekonomi yang dijalankan disebut 
ekonomi kerakyatan. Kenapa bukan marhaenismenya bung Karno yang ditonjolkan? 
Atau bentuk2 sosialisme lainnya yang dapat menjadi alternative? Walaupun bung 
Karno tidak anti PKI tetapi bung Karno bukan komunis. Begitu juga Pram yang 
dekat dengan PKI tetapi selalu bilang dimana2 dia bukan komunis. Jadi sekali 
lagi ideologi NKRI itu Pancasila bukan komunisme. Jadi gak usah digede2in. 
Begitu juga di USA dan negara2 lainnya, ideologinya macem2: liberalisme, 
sosialisme, libertalisme, conservatisme dll. Komunisme itu hanya ada di 
beberapa negara saja: RRT, Kuba, Korea utara yang juga sedang degradasi. Yang 
saya tangkap dari “gebuk PKI”nya Jokowi itu adalah dia prihatin dengan keadaan 
bangsa dan negaranya.  Seperti bung Karno dan pak Pram, Jokowi bukan komunis 
dan juga bukan anti komunis. “Gebuk PKI”nya itu adalah strategi utk meredam 
sikon Indonesia sekarang ini dimana disintegrasi sedang semarak. Coba bayangkan 
apa yang akan terjadi kalau Jokowi bilang: “hidup PKI”? Walaupun Jokowi bukan 
komunis dan tidak anti PKI, apakah dia tidak akan diganyang oleh kelompok Islam 
dan militer? Jadi jangan terpaku sama “gebuk PKI” nya yang hanyalah slogan 
saja. Slogan ini ‘kan mirip dengan “go to hell with your aid” nya bung Karno 
kan? Tapi kan bukan berarti bung Karno anti investasi asing. Makna retorika itu 
adalah: “kami bisa mengatur ekonomi kami sendiri. kalau kami perlu hutang, kami 
bisa cari sendiri. Tetapi kami tidak mau dicekoki/dikasih hutang yang tidak 
kami perlukan”. Maknanya “gebuk PKI”nya Jokowi ya kira2: wong PKI sudah gak 
ada, apanya yang mau digebuk?! Nesare From: [email protected] 
[mailto:[email protected]] 
Sent: Friday, June 9, 2017 8:35 AM
To: [email protected]; [email protected]
Subject: Re: [GELORA45] FW: Saatnya Rehabilitasi Bung Karno!    Bagaimana bisa 
dikatakan “Saatnya Rehabilitasi Bung Karno”??? Kalau pemerintah yang berkuasa, 
khususnya Presiden Jokowi masih saja begitu anti-KOMUNIS, sampai-sampai 
berulangkali dengan tegas dan keras hendak “GEBUK” PKI begitu muncul kembali?! 
Bukankah bung Karno digulingkan Suharto karena ketegasan dan kekerasan bung 
Karno tidak hendak bubarkan PKI! Karena bung Karno TIDAK bisa menerima tuduhan 
G30S didalangi PKI! Dan Bung Karno dalam kondisi terjepitpun tetap menunjukkan 
ketegasan dan konsekwen pertahankan ajaran yang dicetuskan sejak tahun 26, 
Persatuan NASAKOM! Kenyataan adanya 3 kekuatan NAS-A-KOM dalam masyarakat 
Indonesia ini yang harus dipersatukan dalam perjuangan kemerdekaan dan 
pembangunan nasional Indonesia, .. peran PKI dalam gerakan KEMERDEKAAN RI, jasa 
pejuang-pejuang komunis dalam perjuangan kemerdekaan TIDAK BISA dihilangkan 
dihapus begitu saja oleh Suharto! Jutaan rakyat tidak berdosa yang dibantai, 
dipenjarakan, dibuang kepulau Buru, ... telah menjadi korban kekejamanan 
jenderal Suharto naik kesinggasana kekuasaan RI-1! Salam, ChanCT From: 
'[email protected]' [email protected] [GELORA45]  Sent: Friday, 
June 9, 2017 12:55 PM    
http://www.bergelora.com/opini-wawancara/artikel/2069-saatnya-rehabilitasi-bung-karno.html
  
Saatnya Rehabilitasi Bung Karno!
 Oleh : Nursjahbani Katjasungkana, SH *) Ditengah Penjajahan Kolonialisme 
Belanda pada 6 Juni 1900, seorang perempuan, Ida Ayu Nyoman Rai, yang 
sehari-hari dipanggil Nyoman, melahirkan seorang putra bernama Soekarno. Pada 1 
Juni 1945, dihadapan Badan Penyelidik Usaha Persiapan kemerdekaan Indonesia 
(BPUPKI) Soekarno, pertama kali berpidato tentang Pancasila yang selanjutnya 
menjadi dasar Ideologi Negara Republik Indonesia Sehingga Setiap 1 Juni dikenal 
sebagai Hari Kelahiran Pancasila. Ia menjadi menjadi Proklamator dan Presiden 
Pertama Republik Indonesia yang berdiri pada 17 Agustus 1945. Pada 22 Juni 1966 
Soekarno dipaksa meletakkan jabatan lewat penolakan oleh MPRS atas Pidato 
Pertanggung Jawaban Presiden Soekarno,--setelah sebuah kudeta militer yang 
didukung Amerika Serikat pada 30 September 1965.  Presiden Soekarno meninggal 
dunia di RSPAD (Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat) Gatot Subroto, Jakarta pada 
21 Juni 1970. Sebagai penghormatan terhadap Bulan Bung Karno, selama sebulan 
Bergelora.com akan menurunkan berbagai tulisan tentang Bung Karno. Oleh : 
Nursjahbani Katjasungkana, SH Tanggal 6 Juni tahun ini, kita merayakan   
kelahiran Bung Karno yang ke 114 dan 21 Juni nanti tepat 46 tahun wafatnya. 
Bung Karno adalah salah satu pendiri Republik Indonesia, penggagas dasar negara 
Pancasila dan pernah dijuluki sebagai Pemimpin Besar Revolusi serta salah satu 
penggagas  Konperensi Asia Afrika di Bandung tahun 1955, sebuah konfrensi yang 
diselenggarakan untuk melawan kekuatan baru kapitalisme global yang dikuasai 
blok Barat. Setelah absen selama 32 tahun dibawah pemerintahan Jendral 
Soeharto, sejak reformasi, kelahiran Pancasila kembali dirayakan secara resmi 
dalam upacara kenegaraan. Pada peringatan lahirnya Pancasila 1 Juni yang lalu, 
puja-puji kepada sang Penggagas dikemukan pula oleh Presiden Jokowi yang 
mengakui bahwa Bung Karno merupakan  inspiratornya yang utama. Pada tingkat 
dunia, namanya sangat harum baik karena pidato-pidatonya yang membangkitkan 
semangat perjuangan melawan kolonialisme dan kapitalisme mapun sebagai salah 
satu penggagas gerakan non-blok. Negerinya yang ketika itu baru berumur 10 
tahun berhasil menggerakkan negara-negara Asia Afrika dan menegaskan posisi 
politiknya ditengah Perang Dingin yang sedang berlangsung antara blok Barat 
dibawah Amerika Serikat dengan sekutunya dan blok Timur dibawah Rusia dan 
kawan-kawannya. Kedua blok itu saling berebut pengaruh dan di beberapa negara 
menimbulkan perang. Sebuah konferensi akbar diselenggarakan di Bandung pada 
bulan April 1955 dan dikenal dengan Konferensi Asia-Afria (KAA) Bandung. 
Setelah sukses menjadi tuan rumah peringatan 50 tahun KAA pada tahun 2005 yang 
lalu, Indonesia berhasil menghidupkan kembali  semangat KAA Bandung. Sebuah 
deklarasi bernama Kemitraan Strategis  Asia Afrika Baru (the New Asia-Africa 
Strategic Partnership/NAASP) diluncurkan. Bulan April tahun ini bersama dengan 
Afrika Selatan,    menjadi tuan rumah merayakan 60 tahun Konferensi Asia 
Afrika,  sekaligus memperingati 10 tahun  NAASP. Kebangkitan spirit KAA Bandung 
itu kembali diperkuat ketika saat ini gelombang baru ketegangan internasional 
mengancam  perdamaian dunia. Situasi politik global saat ini tidak kalah 
tegangnya dengan situasi politik global ketika KAA 1955 dilangsungkan . 
Deklarasi NAASP menekankan multilateralisme, pertumbuhan ekonomi yang 
berkelanjutan dan promosi perdamaian dan keamanan global. Salah satu poin utama 
yang ditekankan dalam  Deklarasi NAASP tersebut didasarkan pada Deklarasi KAA 
Bandung 1955. Deklarasi ini menekankan penghormatan terhadap hak asasi manusia 
dan untuk tujuan menegakkannya sesuai dengan  prinsip-prinsip yang tercantum 
dalam piagam PBB. Sementara KAA 1955 yang digagas oleh Bung Karno, Nehru, Tito 
dan Nkrumah dipandang sebagai langkah besar perjuangan bangsa-bangsa Asia 
Afrika dan khususnya negara Indonesia yang masih sangat muda. Sampai saat ini 
spirit KAA Bandung  tetap menginspirasi bangsa-bangsa dari dunia ketiga ini 
untuk melawan segala bentuk penindasan karena kolonialisme, kapitalisme dan 
globalisasi. Tentu, semua itu tak lepas dari peranan Soekarno sebagai penggas 
KAA Bandung Karenanya,  adalah penting bagi pemimin-pemimpin negara Asia Afrika 
utamanya bagi bangsa Indonesia sendiri untuk merefleksikan dan merenungkan  
nasib Bung Karno, yang gagasan dan visinya tentang Pancasila yang menjadi dasar 
negara kita serta semangat anti kolonialisme dan kapitalisme menjadi spirit 
bangsa-bangsa Asia-Afrika.  Mencopot Bung Karno Tragis, bahwa Bung Karno telah 
menjadi korban perang dingin yang terjadi pada waktu itu. Karena melakukan 
perlawanan yang sangat keras, akibatnya Bung Karno  menjadi lawan utama bagi 
kekuatan kapitalisme dan akhirnya  tersingkir secara brutal sebagai presiden RI 
oleh agen mereka  yang dipimpin oleh Jendral Soeharto meski secara piawai 
diberhentikan lewat proses politik melalui Sidang istimewa MPRS tahun 1967. 
Sebelumnya yakni pada 11 Maret 1966 Bung Karno  dipaksa untuk menandatangani 
sebuah dokumen yang disebut Supersemar, yang menugaskan  Soeharto untuk 
"mengambil langkah-langkah yang dianggap perlu untuk menjamin keamanan, 
ketenangan dan stabilitas pemerintah dan revolusi dan untuk menjamin keamanan 
dan otoritas pribadi  Sukarno sebagai Presiden". Alih-alih mengamankan Bung 
Karno, Soeharto menyusun segala kekuatan untuk mengkonsolidasikan kekuasaannya 
dan jabatan Bung Karno sebagai Presiden  secara dramatis  dicopot dalam sidang 
istimewa  MPRS pada tanggal 12 Maret 1967.  Bung Karno kemudian dikenakan 
status sebagai tahanan rumah di istana Bogor. Kesehatannya terus  memburuk 
karena ia menolak  perawatan medis  dan akhirnya wafat  karena gagal ginjal di 
Rumah Sakit Angkatan Darat Jakarta pada tanggal 21 Juni 1970 pada usia 69 
tahun. Bersenjatakan Supersemar, Soeharto menetapkan kebijakan untuk melakukan 
pembubaran dan pembantaian terhadap Partai Komunis Indonesia (PKI) dan para 
pendukungnya. Mereka yang dianggap berfaham komunis  baik dikalangan masyarakat 
luas, pejabat sipil dan militer dan kelompok-kelompok yang dianggap akan 
mengganggu kekuasaannya dibersihkan. Istilah Gerakan 30 September (G-30S) 
berubah menjadi G-30S/PKI karena PKI dianggap dibalik G-30S tersebut. 
Pemerintahan Orde Baru yang dipimpin Soeharto  itu sejak awal telah  menegaskan 
keberpihakannya pada blok Barat. Indonesia dengan kekayaan alamnya yang 
melimpah segera saja menjadi rayahan para agen kapitalis seraya memperkuat 
Soeharto dengan berbagai alat kekuasaan dan mendiamkan semua pelanggaran hak 
asasi manusuia yang terjadi. Korupsi merajalela sementara utang negara kepada 
badan-badan keuangan dunia melangit  sehingga kehidupan rakyat sangat tertindas 
dan hanya segelintir orang atau kelompok yang dekat dengan kekuasaan  yang 
menikmati “kue pembangunan”. Banyak aspek dari kudeta di atas yang harus kita 
pelajari kembali. Namun yang jelas, setelah terjadinya G-30S pada dinihari 1 
Oktober 1965 itu, Soeharto berhasil menumpas G-30S.  Sesudahnya, propaganda 
penghinaan seksual terhadap Gerwani yang dituduh memutilasi para jendral yang 
terbunuh dalam aksi G-30S tersebut. Faham komunisme yang dianggap atheis, telah 
menggerakkan sekelompok masyarakat khususnya kelompok organisasi keagamaan 
untuk melakukan pembunuhan massal, exterminasi, penyiksaan dan penghilangan 
paksa serta perbuatan-perbuatan kejam lainnya, kekerasan seksual, pemenjaraan, 
perbudakan  dan penahanan sewenang-wenang. Diduga, 500 ribu sampai sejuta orang 
mati dibunuh dan jutaan lainnya menjadi korban kejahatan-kejahatan tersebut. 
Kejahatan-kejahatan tersebut dilakukan   secara sistimatis dan meluas hampir 
diseluruh wilayah NKRI. Sesungguhnya, karena alasan paling menonjol dari semua 
kejahatan itu dilakukan atas dasar identitas politik yakni komunis atau partai 
politik yang merupakan sekelompok orang yang bertujuan politik sama. Banyak 
ahli hukum Internasional memasukkan peristiwa pembantaian 1965 tersebut sebagai 
genosida. Tujuan pemusnahan atas dasar pandangan politik ini bahkan berlangsung 
sampai sekarang dengan adanya stigma dan kekerasan terhadap para korban dan 
penyintas. Sampai saat ini sistim impunitas tetap berlangsung, para pelaku 
utama sebagiannya telah tiada dan pemerintah tak mengeluarkan sepatah kata maaf 
apalagi memberikan keadilan dan rehabilitasi serta reparasi bagi korban Seperti 
halnya  para korban dan penyintas ini, Bung Karno juga  tak pernah mendapatkan 
rehabilitasi. Padahal tanpa bukti yang kuat, Bung Karno  dituduh  telah 
memberikan 'toleransi' kepada  "gerakan G-30S ". Sementara itu karena PKI yang 
dianggap dalang G-30S dan menyebabkan terbunuhnya 6 orang jendral dan satu 
perwira Angkatan Darat, partai ini bersama seluruh simpatisan dan pengikutnya 
benar-benar “dihapuskan”  dari bumi Nusantara. Pemimpin dan para pengikut PKI 
benar  dimusnahkan atau dipenjarakan atau dimasukkan kamp tahanan tanpa pernah 
diadili,  meski mungkin hanya satu atau pemimpin tertingginya yang terlibat 
dalam G-30S itu. Kabarnya Bung Karno melakukan protes keras atas pemusnahan 
ini, tapi tak digubris oleh Soeharto. Penolakan negara sampai sekarang masih 
terjadi dan karenanya akuntabilitas dan sistim impunitas masih saja 
berlangsung. Menanggapi peluncuran laporan Komnas HAM (2012) tentang kejahatan 
kemanusiaan 1965/1966 ini, Djoko Suyanto, Menteri Polhukham pada waktu itu 
bahkan menyatakan bahwa pembantaian itu perlu dilakukan untuk menyelamatkan 
bangsa. Rehabilitasi Korban Sekarang setelah diluncurkan kembali  Deklarasi 
NAASP yang  menegaskan kembali  pentingnya prinsip-prinsip hak asasi manusia 
yang sudah ditegaskan dalam KAA Bandung, sudah saatnya arsitek berdirinya 
negara Indonesia berdasarkan Pancasila serta  arsitek Deklarasi Bandung itu  
direhabilitasi. Status tahanan rumah yang disandangnya sampai Bung Karno wafat, 
adalah pelanggaran HAM yang harus dipertanggungjawabkan oleh Negara. Pandangan 
politik  bahwa Bung Karno terlibat dalam G-30S juga harus diselidiki dengan 
benar karena bangsa Indonesia berharap mengetahui sejarah pengambilalihan 
kekuasaan yang terjadi pada waktu itu. Pemerintahan Jokowi, yang baru-baru ini 
berniat untuk menyelesaikan masalah HAM masa lalu dapat membentuk  sebuah 
komite untuk menyelidiki kondisi pengambilihan kekuasaan itu oleh Soeharto 
berikut pembantaian dan bentuk-bentuk kejahatan terhadap kemanusiaan yang 
terjadi sesudahnya. Rehabilitasi terhadap Bung Karno dan juga para korban  
kejahatan politik 1965, sebenarnya dapat diakukan oleh Jokowi dengan 
mengeluarkan Peraturan Presiden berdasarkan pasal 14 UUD 1945 yang berbunyi : 
“Presiden memberikan grasi dan rehabilitasi dengan pertimbangan Mahkamah 
Agung”. Pada tahun 2003, sebetulnya Mahkamah Agung (MA) sudah mengirimkan 
pertimbangannya  kepada Presiden agar “mengambl langkah-langkah konkrit ke arah 
penyelesaian yang sangat diharapkan oleh korban-korban Orde Baru”. Dalam surat 
pertimbangannya itu MA juga menyatakan bahwa pertimbangan ini dilandasi oleh 
keinginan MA untuk memberikan penyelesaian dan kepastian hukum yang dapat 
memulihkan status dan harkat mereka sebagai warga negara yang sama serta 
didorong oleh semangat rekonsiliasi bangsa. *) Penulis adalah, Koordinator 
International People's Tribunal (IPT) 1965.                                     
       ***  Gesendet mit Telekom Mail - kostenlos und sicher für alle!    
#yiv0723205951 #yiv0723205951 -- #yiv0723205951ygrp-mkp {border:1px solid 
#d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv0723205951 
#yiv0723205951ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv0723205951 
#yiv0723205951ygrp-mkp #yiv0723205951hd 
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px 
0;}#yiv0723205951 #yiv0723205951ygrp-mkp #yiv0723205951ads 
{margin-bottom:10px;}#yiv0723205951 #yiv0723205951ygrp-mkp .yiv0723205951ad 
{padding:0 0;}#yiv0723205951 #yiv0723205951ygrp-mkp .yiv0723205951ad p 
{margin:0;}#yiv0723205951 #yiv0723205951ygrp-mkp .yiv0723205951ad a 
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv0723205951 #yiv0723205951ygrp-sponsor 
#yiv0723205951ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv0723205951 
#yiv0723205951ygrp-sponsor #yiv0723205951ygrp-lc #yiv0723205951hd {margin:10px 
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv0723205951 
#yiv0723205951ygrp-sponsor #yiv0723205951ygrp-lc .yiv0723205951ad 
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv0723205951 #yiv0723205951actions 
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv0723205951 
#yiv0723205951activity 
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv0723205951
 #yiv0723205951activity span {font-weight:700;}#yiv0723205951 
#yiv0723205951activity span:first-child 
{text-transform:uppercase;}#yiv0723205951 #yiv0723205951activity span a 
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv0723205951 #yiv0723205951activity span 
span {color:#ff7900;}#yiv0723205951 #yiv0723205951activity span 
.yiv0723205951underline {text-decoration:underline;}#yiv0723205951 
.yiv0723205951attach 
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px 
0;width:400px;}#yiv0723205951 .yiv0723205951attach div a 
{text-decoration:none;}#yiv0723205951 .yiv0723205951attach img 
{border:none;padding-right:5px;}#yiv0723205951 .yiv0723205951attach label 
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv0723205951 .yiv0723205951attach label a 
{text-decoration:none;}#yiv0723205951 blockquote {margin:0 0 0 
4px;}#yiv0723205951 .yiv0723205951bold 
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv0723205951 
.yiv0723205951bold a {text-decoration:none;}#yiv0723205951 dd.yiv0723205951last 
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv0723205951 dd.yiv0723205951last p 
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv0723205951 
dd.yiv0723205951last p span.yiv0723205951yshortcuts 
{margin-right:0;}#yiv0723205951 div.yiv0723205951attach-table div div a 
{text-decoration:none;}#yiv0723205951 div.yiv0723205951attach-table 
{width:400px;}#yiv0723205951 div.yiv0723205951file-title a, #yiv0723205951 
div.yiv0723205951file-title a:active, #yiv0723205951 
div.yiv0723205951file-title a:hover, #yiv0723205951 div.yiv0723205951file-title 
a:visited {text-decoration:none;}#yiv0723205951 div.yiv0723205951photo-title a, 
#yiv0723205951 div.yiv0723205951photo-title a:active, #yiv0723205951 
div.yiv0723205951photo-title a:hover, #yiv0723205951 
div.yiv0723205951photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv0723205951 
div#yiv0723205951ygrp-mlmsg #yiv0723205951ygrp-msg p a 
span.yiv0723205951yshortcuts 
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv0723205951 
.yiv0723205951green {color:#628c2a;}#yiv0723205951 .yiv0723205951MsoNormal 
{margin:0 0 0 0;}#yiv0723205951 o {font-size:0;}#yiv0723205951 
#yiv0723205951photos div {float:left;width:72px;}#yiv0723205951 
#yiv0723205951photos div div {border:1px solid 
#666666;min-height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv0723205951 
#yiv0723205951photos div label 
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv0723205951
 #yiv0723205951reco-category {font-size:77%;}#yiv0723205951 
#yiv0723205951reco-desc {font-size:77%;}#yiv0723205951 .yiv0723205951replbq 
{margin:4px;}#yiv0723205951 #yiv0723205951ygrp-actbar div a:first-child 
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv0723205951 #yiv0723205951ygrp-mlmsg 
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv0723205951 
#yiv0723205951ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv0723205951 
#yiv0723205951ygrp-mlmsg select, #yiv0723205951 input, #yiv0723205951 textarea 
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv0723205951 
#yiv0723205951ygrp-mlmsg pre, #yiv0723205951 code {font:115% 
monospace;}#yiv0723205951 #yiv0723205951ygrp-mlmsg * 
{line-height:1.22em;}#yiv0723205951 #yiv0723205951ygrp-mlmsg #yiv0723205951logo 
{padding-bottom:10px;}#yiv0723205951 #yiv0723205951ygrp-msg p a 
{font-family:Verdana;}#yiv0723205951 #yiv0723205951ygrp-msg 
p#yiv0723205951attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv0723205951 
#yiv0723205951ygrp-reco #yiv0723205951reco-head 
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv0723205951 #yiv0723205951ygrp-reco 
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv0723205951 #yiv0723205951ygrp-sponsor 
#yiv0723205951ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv0723205951 
#yiv0723205951ygrp-sponsor #yiv0723205951ov li 
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv0723205951 
#yiv0723205951ygrp-sponsor #yiv0723205951ov ul {margin:0;padding:0 0 0 
8px;}#yiv0723205951 #yiv0723205951ygrp-text 
{font-family:Georgia;}#yiv0723205951 #yiv0723205951ygrp-text p {margin:0 0 1em 
0;}#yiv0723205951 #yiv0723205951ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv0723205951 
#yiv0723205951ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none 
!important;}#yiv0723205951 

   
 
|  | Virusvrij. www.avg.com  |

Kirim email ke