Tertera jelas bagaimana mereka tak berdaya dalam konflik dengan pengusaha
kelapa sawit. Mereka yang berargumentasi kelapa sawit sebagai jalan untuk cari
duit bagi negara tak pernah memikirkan dan ingat kepada rakyat yang ruang hidup
dan tanahnya dirampas justru untuk perluasan perkebunan kelapa sawit!! Sorak
sorai menyambut Indonesia akan memasok biodiesel ke Tkk
kapitalis/imperialis!!!Lagi-lagi masalahnya adalah kepada siapa kita berpihak.
Kepada negara yang kepentingannya hanya cari duit untuk pembangunan yang sudah
dibuktikan bukan untuk rakyat jelata atau kepada rakyat berbagai suku bangsa
yang terus semakin dimarjinalkan....
On Saturday, June 17, 2017 6:52 AM, "kh djie [email protected] [GELORA45]"
<[email protected]> wrote:
Ya, terpaksa ...........menuruti aturan yang dipaksakan.........., karena
kalau tidak, akan "kehilangan hak warganegara ".Jadi "Diponegoro ( Dipanegara
)", Dipaksa oleh Negara, Dipaksa oleh peraturan oleh yang menguasai negara ???
2017-06-17 6:03 GMT+02:00 Chalik Hamid [email protected] [GELORA45]
<[email protected]>:
Tampilkan pesan asli Pada Sabtu, 17 Juni 2017 2:44,
"[email protected] [GELORA45]" <[email protected]> menulis:
kalau nggak ganti agama nggak dikasih ktp dan karenanya tidak dapat fasilitas
pendidikan dan kesehatan, apa hal itu bukannya sama dgn dipaksa?
---In [email protected], <inengahk@...> wrote :
Menganut kepercayaan tak boleh dipaksakan, karena mereka punya hak asasi
manusia From: [email protected] [mailto:GELORA45@yahoogroups. com]
Sent: Saturday, June 17, 2017 3:44 AM
To: Yahoogroups <[email protected]>
Subject: [**EXTERNAL**] [GELORA45] Orang Rimba di Jambi, dari animisme pindah
Islam untuk dapat KTP Kenapa kok penganut animisme tidak dapat KTP?
Kenapa kok harus pindah agama dulu baru dapat KTP? --- Pria yang sebelumnya
bernama Nguyup -sesuai dengan nama Orang Rimba- juga ingin memiliki KTP
sehingga memudahkan untuk mendapatkan fasilitas pendidikan dan kesehatan. ...
"Menurut tradisi kami, pindah keyakinan tak diizinkan," menurut pemimpin suku
di sana, Mail, kepada kantor berita AFP. "Kami khawatir bila kami langgar
sumpah kami, kami akan ditangkap harimau," tambahnya. ... Saat ini terdapat
sekitar 70 juta jiwa anggota suku pedalaman, termasuk Dayak sampai suku di
Mentawai. ...
Orang Rimba di Jambi, dari animisme pindah Islam untuk dapat KTP
|
|
|
| | |
|
|
|
| |
Orang Rimba di Jambi, dari animisme pindah Islam untuk dapat KTP - BBC Indo...
Sekitar 200 anggota suku Orang Rimba atau Anak Dalam di Jambi pindah dari
animisme dan masuk Islam agar hidup le... | |
|
|
- 5 jam lalu
Tautan eksternal dan akan terbuka di layar baru
- Bagikan artikel ini dengan Facebook
- Bagikan artikel ini dengan Twitter
- Bagikan artikel ini dengan Messenger
- Bagikan artikel ini dengan Email
- Kirim
Hak atas fotoAFPImage captionAnak-anak Orang Rimba yang pindah Islam dan
belajar mengaji. Sekitar 200 dari 3.500 anggota suku Orang Rimba atau Anak
Dalam di Jambi pindah dari animisme dan masuk Islam agar hidup lebih sejahtera
dan mendapatkan kartu identitas penduduk, KTP. "Alhamdulilah, pemerintah kini
memperhatikan kami, sebelum kami pindah agama, mereka tak peduli," kata
Muhammad Yusuf, pemimpin kelompok dengan nama barunya. kepada kantor berita
AFP. Hak atas fotoAFPImage captionMereka tinggal di rumah-rumah kayu dan tidak
lagi nomaden. Yusuf mengakui bahwa alasannya pindah keyakinan karena mencari
makan semakin sulit di tengah konflik dengan perusahaan-perusahaan perkebunan
kelapa sawit yang beroperasi di daerah yang ditinggali suku ini. Pria yang
sebelumnya bernama Nguyup -sesuai dengan nama Orang Rimba- juga ingin memiliki
KTP sehingga memudahkan untuk mendapatkan fasilitas pendidikan dan kesehatan. ·
Kisah fotografer temukan suku yang tak alami era modern · Bahasa
indah orang-orang yang berbicara seperti burung · Hanya kenakan sandal,
perempuan pribumi Meksiko menangi marathon · Kampung Pelangi Semarang
yang menarik perhatian dunia Sekitar 200 orang suku Anak Dalam yang hidup
nomaden atau berpindah-pindah setiap beberapa minggu, kini menetap di satu
tempat, di rumah-rumah yang terbuat dari kayu. Hak atas fotoAFPImage
captionKeluarga suku Orang Rimba.
"Pindah keyakinan tak diizinkan"
Mereka memakai baju yang disumbangkan oleh pemerintah dan lembaga swadaya
masyarakat dan tak lagi sekedar memakai kain penutup tubuh. Suku nomaden ini
biasanya pindah tiga kali dalam satu bulan untuk mencari daerah perburuan baru
atau setiap kali ada anggota suku yang meninggal. Hak atas fotoAFPImage
captionDi Indonesia, terdapat sekitar 70 juta jiwa anggota suku pedalaman.
"Lebih enak tinggal di desa seperti ini, kehidupan kami lebih baik," kata Yusuf
yang berhenti tinggal berpindah Januari lalu. Namun ia mengatakan masih belum
mendapatkan KTP. Di tempat lain, 300 suku Anak Dalam lain -yang masih nomaden-
tinggal di tenda plastik biru yang mereka bangun seadanya dan masih berburu
binatang, di tengah perkebunan sawit. "Menurut tradisi kami, pindah keyakinan
tak diizinkan," menurut pemimpin suku di sana, Mail, kepada kantor berita AFP.
Hak atas fotoAFPImage captionAnak-anak suku Orang Rimba yang masih nomaden.
"Kami khawatir bila kami langgar sumpah kami, kami akan ditangkap harimau,"
tambahnya. Hak atas fotoAFPImage captionTerdapat sekitar 3.500 anggota Suku
Rimba di Batang Hari, Jambi. Mereka berpindah tempat paling tidak tiga kali
seminggu. Hasbullah Al Banjary, Direktur pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil
(KAT) Kementerian Sosial, mengatakan pemerintah lebih mudah dalam memberikan
bantuan kepada berbagai suku karena mereka tak lagi berpindah-pindah. Hasbullah
juga mengatakan tradisi mereka tak akan hilang dan 'perlu kita pertahankan'.
Anak-anak Orang Rimba, yang termasuk dalam sekitar 200 orang yang masuk Islam,
sudah mulai belajar mengaji. Hak atas fotoAFPImage captionSuku Orang Rimba yang
tak nomaden lagi tinggal di rumah kayu yang disediakan. Saat ini terdapat
sekitar 70 juta jiwa anggota suku pedalaman, termasuk Dayak sampai suku di
Mentawai. Tetapi Rukka Sombolinggi, Koordinator of Aliansi Masyarakat Adat
Nusantara (AMAN), mengatakan kondisi suku pedalaman seperti ini karena
pemerintah tidak memberikan perlindungan selayaknya. Hak atas fotoAFPImage
captionOrang Rimba yang masih nomaden berburu dengan bedil. "Saya melihat ini
karena kegagalan pemerintah melindungi mereka," kata Rukka kepada AFP. "Mereka
beralih ke ulama atau gereja di sejumlah tempat karena mereka menawarkan
perlindungan.
| | Virusvrij. www.avg.com |
#yiv1913168342 #yiv1913168342 -- #yiv1913168342ygrp-mkp {border:1px solid
#d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv1913168342
#yiv1913168342ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv1913168342
#yiv1913168342ygrp-mkp #yiv1913168342hd
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px
0;}#yiv1913168342 #yiv1913168342ygrp-mkp #yiv1913168342ads
{margin-bottom:10px;}#yiv1913168342 #yiv1913168342ygrp-mkp .yiv1913168342ad
{padding:0 0;}#yiv1913168342 #yiv1913168342ygrp-mkp .yiv1913168342ad p
{margin:0;}#yiv1913168342 #yiv1913168342ygrp-mkp .yiv1913168342ad a
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv1913168342 #yiv1913168342ygrp-sponsor
#yiv1913168342ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv1913168342
#yiv1913168342ygrp-sponsor #yiv1913168342ygrp-lc #yiv1913168342hd {margin:10px
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv1913168342
#yiv1913168342ygrp-sponsor #yiv1913168342ygrp-lc .yiv1913168342ad
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv1913168342 #yiv1913168342actions
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv1913168342
#yiv1913168342activity
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv1913168342
#yiv1913168342activity span {font-weight:700;}#yiv1913168342
#yiv1913168342activity span:first-child
{text-transform:uppercase;}#yiv1913168342 #yiv1913168342activity span a
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv1913168342 #yiv1913168342activity span
span {color:#ff7900;}#yiv1913168342 #yiv1913168342activity span
.yiv1913168342underline {text-decoration:underline;}#yiv1913168342
.yiv1913168342attach
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px
0;width:400px;}#yiv1913168342 .yiv1913168342attach div a
{text-decoration:none;}#yiv1913168342 .yiv1913168342attach img
{border:none;padding-right:5px;}#yiv1913168342 .yiv1913168342attach label
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv1913168342 .yiv1913168342attach label a
{text-decoration:none;}#yiv1913168342 blockquote {margin:0 0 0
4px;}#yiv1913168342 .yiv1913168342bold
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv1913168342
.yiv1913168342bold a {text-decoration:none;}#yiv1913168342 dd.yiv1913168342last
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv1913168342 dd.yiv1913168342last p
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv1913168342
dd.yiv1913168342last p span.yiv1913168342yshortcuts
{margin-right:0;}#yiv1913168342 div.yiv1913168342attach-table div div a
{text-decoration:none;}#yiv1913168342 div.yiv1913168342attach-table
{width:400px;}#yiv1913168342 div.yiv1913168342file-title a, #yiv1913168342
div.yiv1913168342file-title a:active, #yiv1913168342
div.yiv1913168342file-title a:hover, #yiv1913168342 div.yiv1913168342file-title
a:visited {text-decoration:none;}#yiv1913168342 div.yiv1913168342photo-title a,
#yiv1913168342 div.yiv1913168342photo-title a:active, #yiv1913168342
div.yiv1913168342photo-title a:hover, #yiv1913168342
div.yiv1913168342photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv1913168342
div#yiv1913168342ygrp-mlmsg #yiv1913168342ygrp-msg p a
span.yiv1913168342yshortcuts
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv1913168342
.yiv1913168342green {color:#628c2a;}#yiv1913168342 .yiv1913168342MsoNormal
{margin:0 0 0 0;}#yiv1913168342 o {font-size:0;}#yiv1913168342
#yiv1913168342photos div {float:left;width:72px;}#yiv1913168342
#yiv1913168342photos div div {border:1px solid
#666666;min-height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv1913168342
#yiv1913168342photos div label
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv1913168342
#yiv1913168342reco-category {font-size:77%;}#yiv1913168342
#yiv1913168342reco-desc {font-size:77%;}#yiv1913168342 .yiv1913168342replbq
{margin:4px;}#yiv1913168342 #yiv1913168342ygrp-actbar div a:first-child
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv1913168342 #yiv1913168342ygrp-mlmsg
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv1913168342
#yiv1913168342ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv1913168342
#yiv1913168342ygrp-mlmsg select, #yiv1913168342 input, #yiv1913168342 textarea
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv1913168342
#yiv1913168342ygrp-mlmsg pre, #yiv1913168342 code {font:115%
monospace;}#yiv1913168342 #yiv1913168342ygrp-mlmsg *
{line-height:1.22em;}#yiv1913168342 #yiv1913168342ygrp-mlmsg #yiv1913168342logo
{padding-bottom:10px;}#yiv1913168342 #yiv1913168342ygrp-msg p a
{font-family:Verdana;}#yiv1913168342 #yiv1913168342ygrp-msg
p#yiv1913168342attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv1913168342
#yiv1913168342ygrp-reco #yiv1913168342reco-head
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv1913168342 #yiv1913168342ygrp-reco
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv1913168342 #yiv1913168342ygrp-sponsor
#yiv1913168342ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv1913168342
#yiv1913168342ygrp-sponsor #yiv1913168342ov li
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv1913168342
#yiv1913168342ygrp-sponsor #yiv1913168342ov ul {margin:0;padding:0 0 0
8px;}#yiv1913168342 #yiv1913168342ygrp-text
{font-family:Georgia;}#yiv1913168342 #yiv1913168342ygrp-text p {margin:0 0 1em
0;}#yiv1913168342 #yiv1913168342ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv1913168342
#yiv1913168342ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none
!important;}#yiv1913168342