Beginn der weitergeleiteten Nachricht:

Datum: Mon, 26 Jun 2017 15:41:04 +0200
Von: "Lusi D." <[email protected]>
An: "[email protected]" <[email protected]>
Betreff: Fw: [GELORA45] Re: Difficult for Indonesia to Become an
Innovation-Driven Economy


Beginn der weitergeleiteten Nachricht:

Datum: Mon, 26 Jun 2017 13:04:53 +0200
Von: "Lusi D." <[email protected]>
An: "'Chan CT' [email protected] [GELORA45]"
<[email protected]>, [email protected],
"[email protected]" <[email protected]> Cc:
<[email protected]> Betreff: Re: [GELORA45] Re: Difficult for Indonesia to
Become an Innovation-Driven Economy


Apa RBKP di Tiongkok waktu itu dilancarkan oleh rakyat Tiongkok,
terutama pemudanya untuk memuluskan kelihaiyan seorang pemuda
perantauan Tionghoa Indonesia yang ingin mengabdi negeri nenekmoyangnya
atau untuk ikut menjebol kesenjangan sosial yang masih ada akibat
birokrasi yang mulai tumbuh dan menghalangi peranan lapisan kaum muda
yang mencita-citakan pemerataan pertumbuhan tingkat kehidupan sosial,
tapi belum lengkap pengetahuannya, hingga tidak tahu kalau pemerintah
Tiongkok juga memperhatikan kehidupan kaum perantauan di luarnegeri,
walaupun tingkat kehidupan sosialnya sudah jauh lebih tinggi sejak
lahir kalau dibanding dengan anak-anak muda di dalam negerinya sendiri.

Apa tidak ada cerita yang menggambarkan sikap dari sudut pandang pihak
kaum muda Tiongkok itu, yang bangkit dan terjun melancarkan RBKP?





Am Mon, 26 Jun 2017 08:03:49 +0800
schrieb "'Chan CT' [email protected] [GELORA45]"
<[email protected]>:

> Jadi teringat kisah pengalaman lama yang sangat jelas bisa
> membuktikan KEBODOHAN dari pejabat-pejabat yang bersikap sangat
> merugikan PEMBANGUNAN masyarakat INDONESIA, ...
> 
> Dari kisah bung Jo sendiri utk masuk ITB kalau “menyumbang” seharga
> satu Scooter, juga ada pengalaman seorang Bintang PELAJAR ditolak
> masuk UI hanya karena Tionghoa! Dan itulah yang mendorong BAPERKI
> untuk mendirikan Universitas untuk menampung anak-anak Tionghoa
> ketika itu, di tahun 1958 banyak yang kesulitan meneruskan sekolah!
> Kalau saja pejabat-pejabat Pemerintah masih saja BELUM BISA
> mengutamakan anak-anak PANDAI yang berhak masuk Univ, tapi selalu
> berusaha menggunakan pintu masuk sekolah untuk mendapatkan “uang
> pelincir”, atau berbau SARA untuk lebih mendahulukan anak-anak yang
> dinamakan “PRIBUMI”, ... bagaimana bisa membangun masyarakat
> Indonesia maju lebih cepat??? Betul-betul satu kebodohan telah
> terjadi, ...
> 
> Barangkali bagi kw2 yang di Eropah masih ingat dengan nama dr. Han
> Hwie Siong, seorang dokter lulusan Surabaya dan terakhir di tahun
> 1965 banyak membantu Fak. Kedokteran URECA, nasib sungguh malang bagi
> dirinya. Karena aktif membantu BAPERKI, setelah meletup G30S dituduh
> komunis dan dilarang, dr. Han termasuk seorang yang tidak lagi
> mungkin bertahan hidup di Indonesia, kecuali mau dijebloskan dalam
> PENJARA tanda tahu kesalahan dan dosa2nya. Menyingkirkan sekeluarga
> ke Tiongkok, eeiih di Tiongkok ditahun 1966 itu berkobar Revolusi
> Kebudayaan Proletar yang juga ekstrim kiri, pikiran kebablasan yang
> dituduh Huakiao adalah kapitalis juga menimpa dirinya, ... sebagai
> dokter dr. Han disuruh bekerja sebagai pembersih WC saja! Padahal
> jelas di Shanghai saja ketika itu juga masih kekurangan dokter! Tentu
> nasib pahit demikian ini bukan saja menimpa diri dr. Han, tidak
> sedikit ahli-ahli, Prof. dari berbagai Universitas TOP di Tiongkok
> ketika itu juga kena GANYANG tanpa ada fakta-fakta akurat! Dan, ...
> bukan saja menginjak-injak HAM, tapi juga sangat-sangat MERUGIKAN
> pembangunan nasional!
> 
> Dr, Han akhirnya keluar ke HK untuk berjuang merubah nasib
> hidupnya, ... akhirnya ke Belanda dan meneruskan sekolah sambil
> bekerja sampai berhasil meraih Phd nya. Seorang PINTAR dan bisa
> dikatakan berfjasa dibidang keahliannya, KEDOKTERAN telah
> disia-siakan oleh pemerintah yang berkuasa, baik Indonesia maupun
> Tiongkok! 
> 
> Hanya saja sangat sangat lebih aneh, sampai sekarang masih saja ada
> sementara orang yang BELUM berhasil melihat KESALAHAN2 dan TETAP saja
> membela RBKP merupakan revolusi proletar yang benar dab harus
> ditempuh! Apa enggak edaaan, ...! 
> 
> Salam,
> ChanCT
> 
> 
> 
> From: [email protected] [GELORA45] 
> Sent: Sunday, June 25, 2017 2:35 AM
> To: [email protected] 
> Subject: Re: [GELORA45] Re: Difficult for Indonesia to Become an
> Innovation-Driven Economy
> 
>   
> Kutipan: 
> 
> .......satu contoh lagi bagaimana seorang ahli yang tidak bisa
> diposisikan dengan benar,.....hanya karena perbedaan Ras atau
> Agama? ........juga harus pandai-pandai menempatkan seseorang/Ahli
> didtempat yang BENAR! 
> 
> 
> 
> Bung Chan, salah contoh fakta yg. terjadi dulu dan ini adalah
> "stupid". Dokter resminya mesti adaptasi selama 6 bulan tetapi
> di-ulur2 supaya bisa diperas atau dipelonco lebih lama. Dan tidak
> mendapat gaji dan tidak semua dokter LN berasal dari keluarga kaya.
> Kecuali dokter/keluarga dokter bisa kasih uang pelicin, barangkali
> bisa selesai dalam 6 bulan. Selain itu setelah selesai adaptasi,
> kemudian ditempatkan ke daerah utk 2 atau 3 tahun secara resminya.
> Masa seorang spesialis, misalnya, spesialis jantung dibuang ke Timor
> atau Irian Barat, yg. tidak sesuai dgn. keachliannya dimana
> keachliannya tidak terpakai sama sekali. Uang pelicin diperlukan lagi
> supaya tidak ditempatkan ke daerah terpencil. Selalu dicari "kalau
> ada yg. masih bisa dipersulit, kenapa mesti dipermudah. Khan akan
> menghilangkan pendapatan tambahan" Kalau dibanding dgn. tindakan RRT
> atau negara2 lain utk. memajukan negara, apa ini bukan tindakan yg.
> stupid dan korup. 
> 
> 
> Contoh lain, sebelum saya pindah ke LN, saya mendaftar di ITB. Saya
> bertemu dgn. salah satu dosen. Ia bilang kalau bisa "menyumbang"
> seharga satu scooter, pasti bisa diterima. Untung tidak mengambilnya
> krn. luar biasa mahal. Ini blessing in disguise, bisa pergi ke
> Jerman, dimana sekolahnya tidak bayar dan banyak yg. dikasih beasiswa
> tanpa syarat lagi oleh pemerintah Jerman.
> 
> Salam, 
> 
> BH Jo
> 
> 
> ---In [email protected], <SADAR@...> wrote :
> 
> 
> Itulah bung Djie, satu contoh lagi bagaimana seorang ahli yang tidak
> bisa diposisikan dengan benar, ... hanya karena perbedaan Ras atau
> Agama? Sungguh sayang, ... dan nampaknya Liem Keng Kie ini juga
> relatif mati-muda, 75 th! Tidak penuh keahliannya bisa mengabdi pada
> Indonesia, ... tapi, apakah saat Habibie wk.Presiden, Keng Kie jadi
> pulang ikut bangun pabrik pesawatnya Habibie? Dan meninggal di AS, ...
> 
> Banyak contoh bisa kita lihat dalam perjalanan kehidupan manusia,
> khususnya yang betul mempunyai keahlian tidak bisa digunakan
> maksimal, karena berbagai hal. Khususnya KESALAHAN KEBIJAKSANAAN yang
> dikeluarkan pemerintah yang berkuasa. Jadi sangat merugikan negara
> dan bangsa, dalam arti sesungguhnya. Makanya generasi muda kudu lebih
> memperhatikan ini, setelah mempriritaskan pendidikan dalam
> masyarakat, juga harus pandai-pandai menempatkan seseorang/Ahli
> didtempat yang BENAR! Jangan sia-siakan mereka dan merugikan
> pembangunan masyarakat, ...
> 
> Salam,
> ChanCT
> 
> 
> From: kh djie
> Sent: Saturday, June 24, 2017 2:54 PM
> To: Gelora45 ; Chan CT
> Subject: Re: [GELORA45] Re: Difficult for Indonesia to Become an
> Innovation-Driven Economy
> 
> Bung Chan,
> Tante saya sekolah di Belanda, kemudian di Inggris, dan sekolah jadi
> penterjemah di Jenewa. Menikah dengan orang kedua dari kedutaan Besar
> Tiongkok di Marokko. Tante berteman baik dengan istri sultan Jusuf.
> Pulang ke Tiongkok, kerja di kementerian luar negeri. Banyak
> melakukan terjemahan ke dalam bahasa Inggris. Ibunya, yang lama di
> Jerman, mengajar bahasa Jerman di Universitas di Peking. Waktu RBKP
> tante dibuang ke desa. Suaminya yang jadi sekretaris Zhou Enlai,
> dituntut harus dipecat, karena punya istri yang tinggal lama dan
> sekolah di Barat. Ya, terpaksa dilepas oleh Zhou Enlai. Di masa
> tuanya, tante masih dipakai oleh Hu Chintao untuk menemani perjalanan
> keluar negeri, sebagai tolk. Sekarang masih sehat, hanya tidak kuat
> pergi jauh2 lagi ikut reunie familie. Cocok dengan menantu
> perempuannya, yang bekas mahasiswa bahasa Inggrisnya. Pikir2 tante
> pinter, lihat mahasiswi yang baik, dikenalkan dengan anak laki2
> satu2nya, jadi. Sekarang, cucu laki2nya sedang ambil PhD bidang Kimia
> di Amerika. Apa sudah pernah dengar tentang Liem King Kie, teman baik
> Habibie. Dia yang menganjuri Habibie belajar di Jerman. Setelah lulus
> balik, kerja di bagian mesin ITB di bawah dekan mesin dan elektro
> Prof. Dr. Ir. O Hong Djie. Bersama teman2nya mengajar Teknik
> Penerbangan. Tetapi kemudian, di tahun 1969 karena merasa tidak aman
> dan untuk hari kemudian keluarganya, meninggalkan Indonesia. Di
> Amerika, belajar lagi, dapat PhD, kerja di perusahaan penerbangan
> terkenal di Amerika. Waktu Habibie jadi wakil presiden, diminta
> Habibie kembali ke Indonesia untuk kepalai perusahaan penerbangan.
> Temannya di Amerika mengingatkan dia. Ya, kalau Habibie berkuasa
> terus. Kalau dia jatuh, kamu ikut keseret. Dia jawab Habibie, kalau
> dia pernah buka sekolah SMA di Bandung, jadi direkturnya, sekolah
> yang didirikan oleh PPI ( Permusyawaratan Pemuda Indoneasia, bagian
> pemuda dari BAPERKI yang terkenal akan koor dan tarian2 dari Sabang
> hingga ke Merauke ), yang setelah bung Karno jatuh termasuk
> organisasi terlarang. Jadi dia tidak mau menyulitkan habibie, yang
> nanti bisa diungkat-ungkat kok orang yang pernah jadi direktur
> sekolah organisasi "kiri"kok diberi jabatan penting.
> http://www.muvila.com/foto/film/beginilah-rupa-asli-sahabat-hingga-kekasih-rudy-habibie-160614z-page3.html
> http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/1015-obituari-dr-ken-liem-laheru--ahli-nasa-dan-salah-satu-pendiri-teknik-penerbangan-institut-teknologi-bandung
> Salam, KH
> 
> 2017-06-24 8:22 GMT+02:00 'Chan CT' SADAR@... [GELORA45]
> <[email protected]>:
> 
>       
>     Dalam pengertian saya, setiap PEMERINTAH sudah seharusnya
> mengeluarkan kebijaksanaan sesuai kebutuhan konkrit nasional nya,
> hanya saja seringkali terjadi keSALAHAN subjektif pejabat dalam
> menetapkan dan melaksanakan kebijaksanaan. Jadi, sudah seharusnyalah
> setiap PEMERINTAH berusaha MEREBUT ahli-ahli, tak peduli siapa dan
> asal bangsanya, yang jelas dibutuhkan dalam usaha pembangunan
> masyarakat, kecuali disaat ahli yang bersangkutan sudah TIDAK
> DIPERLUKAN lagi karena berbagai hal! Kalau saja untuk mendidik
> ahli-ahli itu sendiri sedikitnya harus 5 tahunan, kenapa tidak
> berusaha menyedot ahli-ahli itu dari luarnegeri, ... tentu saja
> kebijakan memberi fasilitas istimewa pada ahli-asing itu harus
> dikurangi bahkan ditutup setelah tenaga hali dalam negeri sudah
> mencukupi, ...
> 
>     Tapi, terkadang dalam keluarkan kebijakan itu dilatar belakangi
> POLITIK yang jelas SALAH dan tidak seharusnya begitu! Saya ambil
> contoh yang terjadi dimasa RBKP di TIongkok, 1966-1976 misalnya,
> kebablasan dalam memandang dan mengutamakan “PERJUANGAN KLAS”,
> sampai-sampai HUAKIAO yang dianggap asal klas kapitalis kena jadi
> korban orang yang bukan saja dicurigai tapi banyak yang dinyang! Dan
> semua itu terjadi tanpa ada BUKTI2 akurat, ... di HK saya berkenalan
> dengan seorang tua asal Singapore, begitu semangat patriot yg tinggi,
> mengetahui Republik Rakyat TIongkok didirikan dan tanpa ragu2 diusia
> 18 kembali pulang kenegeri leluhur untuk mengabdikan dirinya. Bukan
> sekolah yang didahulukan oleh pemuda ini, begitu ada panggilan
> sukarelawan Perang Melawan AS mendukung Korea, langsung dia daftarkan
> diri dan ikut maju kemedan perang selama 3 tahun. Dan karena tekad
> juang dan begitu aktifnya ikuti kegiatan Partai, dia ditahun 1955 pun
> bisa diterima menjadi anggota Partai. Dia juga melewati ujian segala
> penderitaan kemiskinan dimasa menghadapi berturut-turut 3 tahun
> bencana alam-berat tahun 1959-1961, pengganyangan dimasa RBKP, ...
> tapi sama sekali tidak ada niat keluar ke HK! Lalu, apa yang
> mendorong dia keluar meninggalkan tanahairnya? Dengan penuh rasa
> kecewa yang sangat menyedihkan, dia bilang, justru dimasa Ketua Mao
> dan PM Zhou masih hidup, ... hatinya TERPUKUL hanya karena putranya
> ditolak masuk Sekolah Penerbang Angkatan UDARA, ... karena satatus
> HUAKIAO yang tetap disandangnya dan anak satu2nya itu juga jadi TETAP
> dicurigai! Padahal, dia merasa sudah sepenuh hati menyerahkan
> jiwa-raga pada TANAHAIR yang dicintai ini! Dia takut keadaan akan
> menjadi lebih jelek setelah Ketua Mao dan PM Zhou tiada, ...
> 
>     Itulah KESALAHAN POLITIK, kesalahan kebijakan yang sangat tidak
> bijaksana! Kebablasan yang TIDAK BISA melihat karakter, kwalitas
> seseorang berdasarkan kenyataan konkrit, tidak berani mengakui
> kenyataan karakter/kwalitas seseorang TIDAK ditentukan asal klas,
> artinya tidak semua kapitalis PASTI jelek dan jahat, sebaliknya juga
> tidak semua buruh pasti baik! 
> 
>     Begitu juga, tidak semua ahli-ahli lulusan AS, Eropah pasti lebih
> baik dari lulusan RRT, Indonesia, India, ... semua itu masih harus
> diamati dalam praktek kerjanya. Ada orang yang pandai teori, tapi
> tidak bisa kerja, tidak kreatif, ... sebaliknya juga ada orang yang
> sekolahnya tidak pinter-pinter amat tapi sangat kreatif, giat dan
> teliti dalam kerja. 
> 
>     Salam-ngobrol,
>     ChanCT
> 
> 
>     From: jonathangoeij@... [GELORA45]
>     Sent: Saturday, June 24, 2017 9:35 AM
>     To: [email protected]
>     Subject: RE: [GELORA45] Re: Difficult for Indonesia to Become an
> Innovation-Driven Economy
> 
>       
>     OPT itu utk international student yg mau minta, pada dasarnya ya
> ijin kerja (working permit), mereka yg permintaan OPT-nya dikabulkan
> dikasih Employment Authorization Document (EAD) card, dan bukan yg yg
> sudah lulus saja yg bisa minta yg masih kuliah juga bisa minta.
> Tetapi visanya tetap F1. Baru setelah ada perusahaan yg mau terima
> dan mau sponsorin barulah minta H1B.
> 
>     Tidak semua perusahaan mau jadi sponsor, juga ada biaya yg
> ditanggung, sesedikitnya perusahaan itu harus bayar biaya H1B selain
> memenuhi ketentuan2 tertentu. Melihat hal ini sebenarnya mereka yg
> disponsorin itu bukanlah yg kurang pintar tetapi justru yg pintar,
> kalau kurang pintar ngapain disponsorin.
> 
>     EB itu berdasarkan exceptional ability sudah tentu jarang ada,
> tetapi melihat cerita dan latar belakang pendidikan BH Jo sbg
> radiation oncologist saya kira ada kemungkinan beliau dapat visa EB
> (tidak tahu EB-1 atau EB-2).
> 
> 
>     ---In [email protected], <nesare1@...> wrote :
> 
> 
>     USA bukan kasih kesempatan cari kerja. Gak ada! Pekerjaan itu
> buat orang amerika bukan orang asing.
> 
> 
> 
>     Yang ada adalah foreign student ini cari kerjaan sendiri atau
> dikasih kesempatan utk magang tetapi bukan pekerjaan. Kalau ada yang
> kasih kerjaan, institusi itu sponsor H1B visa utk orang asing ini.
> Visa H1B ini yg sedang digarap oleh Trump krn banyak disalahgunakan.
> H1B visa ini utk mengisi pekerjaan yg tidak bisa dikerjakan oleh
> orang amerika. Kenyataannya banyak visa H1B dikasih ke mereka2 yg
> kurang pinter tetapi gajinya lebih murah.
> 
>     Kalau setelah lulus, foreign student tidak dapat pekerjaan, ya
> mereka harus pulang Indonesia. Kalau gak pulang ya jadi illegal.
> 
> 
> 
>     Biasanya mereka apply OPT/optional practical training. Istilahnya
> magang. Ini masa berlakunya 17 bulan….dulu kalau gak salah 1 tahun.
> Masa dari kelulusan hanya 3 bulan tetapi biasanya mereka sudah apply
> sebelum2nya shg bisa dapat pekerjaan.
> 
>     Dengan OPT ini tidak menjamin perusahaan mau kasih pekerjaan,
> tetapi kalau perusahaannya suka barulah mereka sponsor utk
> mendapatkan H1B visa yg sah utk bekerja. Jadi OPT nya diubah jadi
> H1B. biasanya perusahaan bayar immigrant lawyer utk ngurusin H1B visa
> ini. Dari H1B setelah 5 tahun bisa apply utk mendapatkan green card.
> Terus citizenship. 
> 
> 
> 
>     EB itu jarang ada. Kebanyakan H1B. lebih gampang lewat dunia
> intelligent dimana orang asing dapat visa khusus kalau menolong USA.
> Selain itu ada E2 visa buat investor, taruh 750 ribu s/d 2 juta
> dollar di investasi2 ttt yg sudah ditetapkan seperti real estate dll,
> bisa dapet immigrant visa.
> 
> 
> 
>     Betul informatika sangat popular terutama tahun2 1980an dijerman.
> Ada yg memilih tinggal di jerman, keluar jerman dan atau pulang
> Indonesia. Semua itu keputusan dalam hidup mereka masing2. Setiap
> negara punya hukumnya masing. Ini bukan masalah gampang atau tidak.
> Ini masalah hukum.
> 
> 
> 
>     Dijerman lebih susah lagi utk lulusan asing utk dapet pekerjaan
> dijerman. Ini terjadi terus sampai sebelum merkel menang. Saya kurang
> ngikutin setelah merkel menang.
> 
> 
> 
>     Nesare
> 
> 
> 
> 
> 
>     From: [email protected] [mailto:GELORA45@yahoogroups. com] 
>     Sent: Wednesday, June 21, 2017 6:15 PM
>     To: Yahoogroups <[email protected]>
>     Subject: Re: [GELORA45] Re: Difficult for Indonesia to Become an
> Innovation-Driven Economy
> 
> 
> 
> 
> 
>     Kalau di Amerika mahasiswa yg lulus dikasih kesempatan cari
> kerja, dari visa sekolah (F1) kemudian dirubah jadi visa kerja (H1B)
> tempat kerjaannya itu ngasih sponsor utk mengajukan green card. Cuman
> karena nama employer ditulis divisa kerja sehingga kalau ganti
> kerjaan visa kerjanya itu gugur dan harus minta visa baru. Tapi
> setidaknya kalau mau ada kesempatanlah nggak harus pulang.
> 
> 
> 
>     Ada juga jalur khusus yg namanya visa kerja berdasarkan
> exceptional ability (EB), nah teman anda yg punya 2 PhD di Fisika dan
> Kedokteran itu rasanya memenuhi syarat buat dapat EB itu mungkin
> kalau nggak EB-1 ya EB-2. EB-1 itu buat researcher yg sudah ada
> achievement-nya sedang EB-2 yg punya advanced degree sebangsa PhD itu.
> 
> 
> 
> 
> 
>     ---In [email protected], <djiekh@...> wrote :
> 
> 
> 
>     Kalau di Belanda, mahasiswa berbagai jurusan begitu lulus, harus
> balik Indonesia.
> 
>     Tetapi yang dari informatika, banyak dapat ijin kerja dan ijin
> tinggal, karena di sini sangat dibutuhkan.
> 
>     2 teman saya dulu kerja di dua perusahaan besar jerman.
> Perusahaan besar yang mintakan ijin kerja dan ijin tinggal dengan
> alasan keahlian mereka dibutuhkan. Wah, kalau di Jerman waktu itu,
> kalau Prof. atau Perusahaan Besar yang mintakan, selalu dapat.
> 
>     Lain dengan Belanda. Tetapi herannya kalau di Belanda, kalau
> dibantu orang dari partai politik, kok bisa.
> 
>     Ada teman, punya 2 PhD di Fisika dan kedokteran. Setelah dapat
> PhD Fisika, tetap mau tinggal di jerman, ambil kedokteran. Habis
> lulus, ambil PhD kedokteran. Hanya bisa dapat ijin kerja yang
> dimintakan untuk di rumah sakit. Suatu hari seorang patient wanita
> Jerman yang dianggap tidak ada harapan, sembuh. Wanita itu tanya, apa
> dia bisa balik tolong dokternya. Teman saya bilang, dia tidak punya
> ijin tinggal dan ijin kerja permanent. Wanita itu bilang, mungkin
> suaminya bisa bantu. Wah, dalam seminggu keluar ijin tinggal tetap
> dan ijin kerja, sehingga beberapa tahun kemudian dia bisa buka
> praktek sendiri.
> 
> 
> 
>     2017-06-21 16:31 GMT+02:00 nesare1@... [GELORA45]
> <[email protected]>:
> 
> 
> 
>           Bener itu yg terjadi brain drain dari jerman ke USA dan
> kanada ditahun 70/80 an.
> 
>           Sekarang mah beda. Masuk USA susahnya minta ampun. Visa
> tidak cukup. Walaupun permohonannya sudah dikabulkan pun masih harus
> menunggu puluhan tahun baru dapat visa.
> 
> 
> 
>           Ya jelas tidak bisa lulusan luar negeri pulang ke Indonesia
> ditahun 70/80an utk minta ini itu.
> 
>           Sekarang saja tidak bisa begitu.
> 
>           Indonesia beda dengan USA dan kanada. Gak fair
> perbandingannya.
> 
>           Kalau mau pulang, imigrasi ya mbok mikir gimana
> konsekwensinya.
> 
>           Namanya saja orang merantau ada untung ruginya.
> 
> 
> 
>           Tetapi jangan mau minta privilege/perlakuan istimewa
> mentang2 lulusan luar negeri seperti “dalam beberapa hari sudah bisa
> dapat visa”. Ini kan minta perlakuan khusus. Sekarang pun perlakuan
> khusus ini sudah gak ada utk masuk USA dan kanada.
> 
>           Jadi bukan hanya gak bisa utk masuk Indonesia saja.
> 
>           Ini masalah setiap negara berbeda.
> 
> 
> 
>           Harus dilihat secara proportionally.
> 
>           Jangan krn pengalaman bung yg hebat dapat visa ke USA dalam
> bbrp hari, lalu bung ambil kesimpulan Indonesia tidak menghargai
> orang pintar.
> 
> 
> 
>           Persoalannya bukan disitu. Siapa yg tidak menghargai orang
> pinter, orang kaya, orang2an dll?
> 
>           Coba misalnya kalau bung kenal sama Habibie ditolong
> langsung disuruh pulang Indonesia dan duduk dikursi enak dikasih
> pekerjaan dll dan hidup mapan. Moso’ bisa disimpulkan Indonesia
> sangat menghargai lulusan luar negeri dan atau enak sekali kerja
> diindonesia?
> 
> 
> 
>           Saya tidak mau justifikasi kemauan bung. Tetapi dari contoh
> bung itu, situasi yg bung dambakan, bagi saya adalah minta perlakuan
> khusus krn bung lulusan luar negeri. Bagi saya ini permintaan yg
> kebablasan.
> 
>           Bagi saya akan lebih baik, pindahlah kenegara manapun
> sepanjang seseorang bisa hidup baik. Itu saja.
> 
> 
> 
>           Tambahan: repot tidak kalau ada dokter WNI lulusan luar
> negeri tetapi tidak bisa berbahasa Indonesia, mau pulang Indonesia
> utk praktek. Bagaimana bisa dokter ini berhubungan dengan pasiennya?
> Kan tidak bisa. Makanya pemerintah Indonesia punya kriteria dalam
> menkreditasikan ijazahnya. Masalah ada diskriminasi dalam
> pelaksanaannya, itu level aplikasinya tetapi kriteria yg telah ada
> dan disyaratkan itu tetap harus ada.
> 
> 
> 
>           Nesare
> 
> 
> 
> 
> 
>           From: GELORA45@yahoogroupscom [mailto:GELORA45@yahoogroups.
> com] Sent: Wednesday, June 21, 2017 3:38 AM
>           To: Gelora45 <[email protected]>; Beng-Hoey Jo
> <bhjo@...> Subject: Re: [GELORA45] Re: Difficult for Indonesia to
> Become an Innovation-Driven Economy
> 
> 
> 
> 
> 
>           Kalau di Belanda, dulu masuk banyak dokter gigi dari
> Indonesia.
> 
>           Mereka tidak boleh jadi dokter gigi, kecuali kalau ikut
> kuliah dan lulus ujian di Belanda.
> 
>           Setelah bertahun-tahun jadi schooltandarts ( dokter gigi
> untuk periksa gigi anak2 sekolah),
> 
>           terjadi perubahan peraturan yang tidak pakai schooltandarts
> lagi.
> 
>           Lha dokr2 gigi Indonesia ini tidak dibuang begitu saja,
> tetapi justru dicarikan jalan supaya bisa kerja sebagai dokter gigi.
> 
>           Terus dibuat peraturan, mereka boleh ujian tanpa mengikuti
> kuliah.
> 
>           Teman saya yang lulusan Jerman, Belgia, Belanda, dan pernah
> belajar di Zwitserland jadi salah satu pengujinya.
> 
>           Dia bilang, kebanyakan sekali lulus. Dan mereka juga
> pinter, lihati temannya dokter gigi asal Indonesia lulusan Belanda,
> yang sedang kerja, terus pelajari teknik terbaru.
> 
>           Kalau dari teknik di Indonesia, bisa langsung kerja di
> Belanda. Tegantung kecakapannya dalam praktek. Ada juga beberapa
> kuliah dulu di Delft, harus masih ikuti pelajaran 2 tahun terakhir di
> Delft dan ujian.
> 
>           Istri saya, kerja dulu jadi analist. Setelah beberapa
> tahun, Direkturnya tawari kuliah lagi di Delft, harus selesai dalam 2
> tahun. Dibayar penuh, tidak usah masuk kerja, tetapi begitu lulus,
> tidak boleh minta kenaikan gaji. Kalau naik jabatan, baru ada
> kenaikan gaji. Setelah dua tahun, lulus, kerja balik di Institut
> Geologi Leiden. Kemudian Institut Geologi Leiden dan utrecht fusie,
> jadi lab. besar.
> 
>           Kepala lab Leiden jadi kepala Lab. fusi, dan istri saya
> diangkat jadi wakil kepala lab. Rupanya direktur Geologi Leiden,
> 
>           sudah menyiapkan orang2nya kalau terjadi fusi. Belakangan
> jadi kepala lab, tetapi kalau di Belanda tidak aotomatisch. Banyak
> calon2nya.
> 
> 
> 
> 
> 
>           2017-06-21 9:05 GMT+02:00 bhjo@... [GELORA45]
> <[email protected]>:
> 
> 
> 
>             Yg. saya ceritakan adalah situasi di Indonesia tahun
> 1970-1980-han. Maka dari itu majoritas dari mahasiswa2 di Jerman
> kebanyakan pindah ke AS, Kanada sebagian ke Belanda dan Australia.
> Untuk pulang ke Indonesia pada waktu itu, mereka merasa akan
> dipersulit kalau dibanding ke negara2 Barat lain, yg. akan menerima
> dgn. tangan terbuka dan malahan membantu mereka Memang dokter harus
> lulus tes utk. bisa bekerja, tetapi tes dari negara2 ini adalah tidak
> sulit pada waktu itu. Tesnya adalah tes dasar dalam istilah2 Inggris
> dan tes bhs. Inggris. Ini cuma supaya Pemerintah tidak bisa
> persalahkan oleh masyarakat dan bisa membela diri kalau ada masalah
> dgn. bidang yg. berhubungan dgn. kesehatan atau jiwa manusia. Ujian
> tes namanya ECFMG yg. dibuat oleh AS. Kanada tidak mempunyai tes
> sendiri tetapi mengakui tes ECFMG. Jadi juga menggampangkan yg. mau
> ke Kanada. Ujian dari Australia, lebih gampang lagi. Sedangkan dari
> bidang2 teknik, langsung bisa bekerja dgn. kualikasi Jerman sebab
> tidak berhubungan dgn. jiwa manusia. Kanada sangat memerlukan mereka
> utk. pembangunannya pada waktu itu.
> 
> 
> 
>             Setelah AS dan Kanada mulai cukup dgn. jumlah dokternya,
> tesnya mulai bertambah sulit. ECFMG menjadi VQE Dan sekarang sangat
> sulit, dimana VQE menjadi USMLE (part 1, 2 dan 3). Waktu jaman ECFMG
> kalau lulus dgn. minimum score 75 bisa bekerja di AS. Sekarang kalau
> mau bisa diterima di AS, harus lulus USMLE yg. jauh lebih sulit dan
> dgn. score minimum 95 (maximum score 100).  Jadi cuma top2 dokter
> dari seluruh dunia yg. bisa diterima di AS sekarang ini.  Jadi
> kepentingan nasional yg. dipentingkan di negara2 Barat, yg.
> disesuaikan dgn. keperluan. Poin saya adalah waktu tahun 1980-han
> Indonesia masih sangat kekurangan dokter, kenapa mesti ada adaptasi
> segala macam.  Teorinya 6 bulan tetapi di-ulur2 sampai lama sekali
> kecuali bisa "membaiki" senior-nya. Mengapa institusi tidak
> menggampangkan dan Pemerintah menuruti anjuan institusi seperti di
> negara2 Barat pada waktu itu?  IDI juga tidak membantu dan
> mempermudahkan.  Indonesia sampai sekarang masih kekurangan dokter
> apalagi yg. berkualisi internasional dan bersuperspesialisasi. Maka
> dari itu pasien2 yg. berduit, berobat di Singapur, Penang dll. utk.
> masalah medik yg. bukan gampang seperti batuk-pilek. Sedangkan
> negara2 Barat sudah berlebihan dokter2.
> 
> 
> 
>             Menjawab pertanyaan: pemerintah/negara mana yang membantu
> orang asing ini dan bagaimana mereka membantu orang asing ini masuk
> negaranya? Contoh: dari pengalaman pribadi. Waktu saya sudah selesai
> studi, setelah mengetahui peraturan2/situasi yg. ada di Indonesia,
> saya melihat bagaimana di negara2 lain, terutama AS, Kanada dan
> Australia. Waktu itu saya mencari informasi/mendaftar di Kanada. Saya
> diminta utk. menemui director dari institusi, seorang profesor, yg.
> kebetulan akan ke Jerman utk mengkuti konferensi dan memberi ceramah
> di kota Duesseldorf. Saya menemui director ini di Dueseldorf, yg.
> kebetulan tidak jauh dari tempat saya.  Saya diajak makan malam dan
> ber-cakap2 dan dianjurkan datang/pindah ke Kanada. Dia yg. akan
> membantu saya masuk ke Kanada dan mengurus work visa dll. Dan Kantor
> Imigrasi (Pemerintah) akan menurut saja apa yg. direkomendasikan oleh
> institusi2 utk. kepentingan masyarakat atau nasional. Tidak lama
> kemudian saya mendapat work visa-nya. Sebagai contoh lain yg. saya
> alami, saya mendapat Permanent Residence/Green card dari Pemerintah
> AS "cuma dalam waktu beberapa hari" atas anjuran institusi di AS
> supaya saya bisa cepat pindah dan bekerja. Mana situasi seperti ini
> bisa terjadi di Indonesia pada waktu itu. ataupun waktu sekarang?
> Kebanyakan mementingkan keuntungan pribadi dan mengabaikan
> kepentingan nasional. Saya ingat motto kurang-lebih sbb.: "Kalau
> masih bisa dipersulit, kenapa mesti dipermudah?"
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
>     

Kirim email ke