Sebelumnya, tak pernah menjadi pertanyaan dalam ingatan kalau lagu “Halo-halo 
Bandung” itu diciptakan Ismail Marzuki, setelah bung tanya, membuat saya jadi 
ragu2. Kejar oom Google, ternyata memang jadi kontroversi siapa pencipta 
sesungguhnya? 

Tapi, ... kenapa selama dinyatakan penciptanya Ismail Marzuki, orangnya juga 
juga diam-diam saja? TIDAK MEMBANTAH?! Apa TIDAK MALU mengakui lagu yang bukan 
ciptaannya sendiri? Atau ada usaha hendak mengkerdilkan Ismail Marzuki dengan 
menyatakan “Halo-halo Bandung” itu BUKAN Ciptaannya? 

Salam 

ChanCT





Kontroversi Pencipta ”Halo-Halo Bandung”

https://web.archive.org/web/20071209204657/http://pikiran-rakyat.com/cetak/2007/032007/23/0105.htm

BANYAK hal yang masih berselimut kabut dalam rangkaian peristiwa Bandung Lautan 
Api, 61 tahun silam. Tak hanya tentang sosok Mohammad Toha, tetapi juga tentang 
siapa pencipta lagu “Halo-Halo Bandung”. Sejauh ini, khalayak mengenal bahwa 
lagu perjuangan tersebut merupakan ciptaan Ismail Marzuki. Akan tetapi, banyak 
orang yang meragukannya. Pasalnya, komponis kelahiran Kwitang, Jakarta Pusat, 
11 Mei 1914 itu berkecenderungan mencipta lagu-lagu berirama lambat nan 
romantis. Sementara, “Halo-Halo Bandung” termasuk genre lagu mars yang berirama 
cepat dan heroik.


     
      LIRIK "Halo-Halo Bandung" pada salah satu buku lagu.*  HAZMIRULLAH/"PR"
     
Simak saja, misalnya, sejumlah lagu karya Ismail Marzuki, seperti “Rayuan Pulau 
Kelapa”, “Sabda Alam”, “Indonesia Pusaka”, “Juwita Malam”, “Selendang Sutera”, 
“Sepasang Mata Bola”, “Melati di Tapal Batas”, “Bandung Selatan di Waktu 
Malam”, “Aryati”, dan “Jangan Ditanya ke Mana Aku Pergi”.

Komponis senior Indonesia, Abdullah Totong (AT) Mahmud, membenarkan adanya 
polemik tersebut. Hanya, dirinya tak berani menghakimi mana pihak yang benar 
dan mana yang salah. “Informasi yang saya dengar, lagu tersebut, seharusnya, NN 
(no name; pencipta tak diketahui-red.). Saya sendiri tak tahu bagaimana 
kemudian lagu itu jadi ciptaan Ismail Marzuki,” ungkapnya, ketika dihubungi, 
Kamis (22/3) petang.

Polemik ihwal siapa pencipta “Halo-Halo Bandung” itu sebenarnya sudah lama 
terjadi. Di dalam buku Saya Pilih Mengungsi: Pengorbanan Rakyat Bandung untuk 
Kedaulatan disebutkan, polemik itu mulai terjadi pada 1995.

Pestaraja Humala Sadungan Marpaung --akrab disapa Bang Maung--, seorang pejuang 
yang sempat bergabung ke dalam Pasukan Istimewa (PI), di dalam buku itu, 
menyebutkan bahwa lagu tersebut bukan ciptaan orang-perseorangan. “Halo-Halo 
Bandung” merupakan ciptaan bersama para pejuang Bandung.

Sandiah Soerjono alias Ibu Kasur punya kisah soal ini. Suatu ketika, suaminya, 
Soerjono (Pak Kasur-red.) memberinya dua lagu baru, “Halo-Halo Bandung” dan 
“Gempur dan Rebut Bandung Kembali”. “‘ Halo-Halo Bandung’ memang bagus lagunya 
tuh. Kan bapak bilangnya begini, ’Pak, ini siapa yang bikin?’ tanya saya. ‘Ah, 
bocah-bocahe dewe.’ ‘Bocah Batak,’ katanya. Kalau tidak salah namanya 
Tobing...,” katanya.

Adjie Esa Poetra, pengamat musik, berpendapat berbeda. Menurut dia, 
kecenderungan seorang musisi tak bisa digeneralisasi. “Suatu ketika, bisa jadi 
seorang musisi mencipta lagu yang begitu lembut menyayat. Akan tetapi, di saat 
yang lain, bisa juga ia mencipta lagu yang garang dan penuh semangat. Ismail 
Marzuki, mungkin juga demikian,” ungkapnya, ketika dihubungi melalui telefon 
selulernya, pekan lalu.

Singkatnya, kata Adjie, proses mencipta seorang musisi tergantung suasana hati. 
Ia mencontohkan sosok Harry Roesli yang dikenal bengal. “Akan tetapi, suatu 
saat, ia mencipta sebuah lagu yang begitu menyayat, seperti ‘Jangan Menangis 
Indonesia’. Begitulah kira-kira,” katanya.

Melalui karya-karyanya, Adjie “mengenal” Ismail Marzuki sebagai sosok yang 
dinamis. “Saya kira, ‘Halo-Halo Bandung’, bisa jadi benar ciptaan Ismail 
Marzuki. Pada lagu itu, meski bergenre mars, saya menangkap ada sisi romantisme 
yang merupakan ciri khasnya. Lagi pula, Ismail Marzuki orang jujur. Rasanya, 
tidak mungkin dia mengakui sesuatu yang sebetulnya bukan karyanya,” ujar Adjie .

**

MENURUT Bang Maung, di dalam buku Saya Pilih Mengungsi: Pengorbanan Rakyat 
Bandung untuk Kedaulatan”, proses penciptaan “Halo-Halo Bandung” 
dilatarbelakangi oleh perjuangan pemuda Bandung, tanpa melihat asal-usul suku 
bangsa. Hal itu tercermin dengan kata “Halo!” yang merupakan sapaan khas pemuda 
Medan, akibat pengaruh film-film koboi Amerika yang sering diputar, saat itu.

Ceritanya, pada suatu malam, di Ciparay, diselenggarakan perayaan Batak. Di 
sana, disediakan pula sebuah panggung dan memberikan kesempatan kepada 
pengunjung yang ingin menyumbangkan lagu. Seorang pemuda Batak bernama Bona L. 
Tobing, tiba-tiba menyapa, "Halo!" kepada Kota Bandung di kejauhan, "Halo 
Bandung!". Kemudian sapaan itu memiliki irama, "Halo-Halo Bandung" seperti 
irama yang dikenal saat ini. “Akan tetapi, irama itu tidak selesai karena malam 
sudah larut,” tutur Bang Maung.

Sebagai pejuang, Bang Maung pun turut menyusup ke Kota Bandung, setiap malam, 
setelah peristiwa Bandung Lautan Api. “Siang hari tidak ada kerja. Jadi di 
Ciparay ini, anak-anak Bandung dari Pasukan Istimewa tiduran. 'Eh, lagu yang 
kemarin itu mana? Halo! Halo Bandung! de-de-de--- (berirama menurun).' Setelah 
lama, orang Ambon juga ikut. Pemuda Indonesia Maluku itu, di antaranya Leo 
Lopulisa, Oom Teno, Pelupessy. Sesudah Halo-Halo Bandung, datang orang 
Ambonnya. ... Sudah lama beta! tidak bertemu dengan kau!' Karena itu, ada 
'beta' di situ. Bagaimana kata itu bisa masuk kalau tidak ada dia di situ. Si 
Pelupessy-lah itu, si Oom Tenolah itu, saya enggak tahu. Tapi, sambil nyanyi 
bikin syair. Itulah para pejuang yang menciptakannya. Tidak ada itu yang 
menciptakan. Kita sama-sama saja main-main begini. Jadi, kalau dikatakan siapa 
pencipta (Halo-Halo) Bandung? Para pejuang Bandung Selatan," ucapnya. 
(Hazmirullah/”PR”)***


From: Sunny ambon [email protected] [GELORA45] 
Sent: Friday, June 30, 2017 3:10 PM
To: Gelora 45 
Subject: [GELORA45] Re: Kesaksian Guru, Obama Hapal Lagu Halo-halo Bandung

  


Tahukah Anda siapa pengaran lagu "Halo Halo Bandung"?

Kirim email ke