Pada Jumat, 30 Juni 2017 10:43, "kh djie [email protected] [GELORA45]"
<[email protected]> menulis:
Waktu saya sedang jongkok mencabuti rumput di kebun semasa saya masih
tinggal di Maarssen,lebih dari 15 tahun yang lalu, tiba2 saya terkejut, lho kok
ada orang bersiul lagu Hallo, hallo Bandung. Saya menoleh, tambah heran, lha
kok orang Belanda. Dia rupanya lihat keheranan saya, bilang ya, dia lahir di
Bandung.Akhinya jadi ngobrol dengan dia, cerita kalau ayahnya pemimpin
perkebunan di sekitar Bandung.Yang tetap saya herani sampai sekarang, lha kok
orang Belanda jalan2 sambil bersiul Hallo Hallo Bandung.
2017-06-30 10:13 GMT+02:00 'Chan CT' [email protected] [GELORA45]
<[email protected]>:
Sebelumnya, tak pernah menjadi pertanyaan dalam ingatan kalau lagu
“Halo-halo Bandung” itu diciptakan Ismail Marzuki, setelah bung tanya, membuat
saya jadi ragu2. Kejar oom Google, ternyata memang jadi kontroversi siapa
pencipta sesungguhnya? Tapi, ... kenapa selama dinyatakan penciptanya Ismail
Marzuki, orangnya juga juga diam-diam saja? TIDAK MEMBANTAH?! Apa TIDAK MALU
mengakui lagu yang bukan ciptaannya sendiri? Atau ada usaha hendak
mengkerdilkan Ismail Marzuki dengan menyatakan “Halo-halo Bandung” itu BUKAN
Ciptaannya? Salam ChanCT Kontroversi Pencipta ”Halo-Halo
Bandung”https://web.archive.org/web/ 20071209204657/http://pikiran-
rakyat.com/cetak/2007/032007/ 23/0105.htmBANYAK hal yang masih berselimut kabut
dalam rangkaian peristiwa Bandung Lautan Api, 61 tahun silam. Tak hanya tentang
sosok Mohammad Toha, tetapi juga tentang siapa pencipta lagu “Halo-Halo
Bandung”. Sejauh ini, khalayak mengenal bahwa lagu perjuangan tersebut
merupakan ciptaan Ismail Marzuki. Akan tetapi, banyak orang yang meragukannya.
Pasalnya, komponis kelahiran Kwitang, Jakarta Pusat, 11 Mei 1914 itu
berkecenderungan mencipta lagu-lagu berirama lambat nan romantis. Sementara,
“Halo-Halo Bandung” termasuk genre lagu mars yang berirama cepat dan heroik.
| |
| LIRIK "Halo-Halo Bandung" pada salah satu buku lagu.* HAZMIRULLAH/"PR" |
Simak saja, misalnya, sejumlah lagu karya Ismail Marzuki, seperti “Rayuan Pulau
Kelapa”, “Sabda Alam”, “Indonesia Pusaka”, “Juwita Malam”, “Selendang Sutera”,
“Sepasang Mata Bola”, “Melati di Tapal Batas”, “Bandung Selatan di Waktu
Malam”, “Aryati”, dan “Jangan Ditanya ke Mana Aku Pergi”.Komponis senior
Indonesia, Abdullah Totong (AT) Mahmud, membenarkan adanya polemik tersebut.
Hanya, dirinya tak berani menghakimi mana pihak yang benar dan mana yang salah.
“Informasi yang saya dengar, lagu tersebut, seharusnya, NN (no name; pencipta
tak diketahui-red.). Saya sendiri tak tahu bagaimana kemudian lagu itu jadi
ciptaan Ismail Marzuki,” ungkapnya, ketika dihubungi, Kamis (22/3)
petang.Polemik ihwal siapa pencipta “Halo-Halo Bandung” itu sebenarnya sudah
lama terjadi. Di dalam buku Saya Pilih Mengungsi: Pengorbanan Rakyat Bandung
untuk Kedaulatan disebutkan, polemik itu mulai terjadi pada 1995.Pestaraja
Humala Sadungan Marpaung --akrab disapa Bang Maung--, seorang pejuang yang
sempat bergabung ke dalam Pasukan Istimewa (PI), di dalam buku itu, menyebutkan
bahwa lagu tersebut bukan ciptaan orang-perseorangan. “Halo-Halo Bandung”
merupakan ciptaan bersama para pejuang Bandung.Sandiah Soerjono alias Ibu Kasur
punya kisah soal ini. Suatu ketika, suaminya, Soerjono (Pak Kasur-red.)
memberinya dua lagu baru, “Halo-Halo Bandung” dan “Gempur dan Rebut Bandung
Kembali”. “‘ Halo-Halo Bandung’ memang bagus lagunya tuh. Kan bapak bilangnya
begini, ’Pak, ini siapa yang bikin?’ tanya saya. ‘Ah, bocah-bocahe dewe.’
‘Bocah Batak,’ katanya. Kalau tidak salah namanya Tobing...,” katanya.Adjie Esa
Poetra, pengamat musik, berpendapat berbeda. Menurut dia, kecenderungan seorang
musisi tak bisa digeneralisasi. “Suatu ketika, bisa jadi seorang musisi
mencipta lagu yang begitu lembut menyayat. Akan tetapi, di saat yang lain, bisa
juga ia mencipta lagu yang garang dan penuh semangat. Ismail Marzuki, mungkin
juga demikian,” ungkapnya, ketika dihubungi melalui telefon selulernya, pekan
lalu.Singkatnya, kata Adjie, proses mencipta seorang musisi tergantung suasana
hati. Ia mencontohkan sosok Harry Roesli yang dikenal bengal. “Akan tetapi,
suatu saat, ia mencipta sebuah lagu yang begitu menyayat, seperti ‘Jangan
Menangis Indonesia’. Begitulah kira-kira,” katanya.Melalui karya-karyanya,
Adjie “mengenal” Ismail Marzuki sebagai sosok yang dinamis. “Saya kira,
‘Halo-Halo Bandung’, bisa jadi benar ciptaan Ismail Marzuki. Pada lagu itu,
meski bergenre mars, saya menangkap ada sisi romantisme yang merupakan ciri
khasnya. Lagi pula, Ismail Marzuki orang jujur. Rasanya, tidak mungkin dia
mengakui sesuatu yang sebetulnya bukan karyanya,” ujar Adjie .**MENURUT Bang
Maung, di dalam buku Saya Pilih Mengungsi: Pengorbanan Rakyat Bandung untuk
Kedaulatan”, proses penciptaan “Halo-Halo Bandung” dilatarbelakangi oleh
perjuangan pemuda Bandung, tanpa melihat asal-usul suku bangsa. Hal itu
tercermin dengan kata “Halo!” yang merupakan sapaan khas pemuda Medan, akibat
pengaruh film-film koboi Amerika yang sering diputar, saat itu.Ceritanya, pada
suatu malam, di Ciparay, diselenggarakan perayaan Batak. Di sana, disediakan
pula sebuah panggung dan memberikan kesempatan kepada pengunjung yang ingin
menyumbangkan lagu. Seorang pemuda Batak bernama Bona L. Tobing, tiba-tiba
menyapa, "Halo!" kepada Kota Bandung di kejauhan, "Halo Bandung!". Kemudian
sapaan itu memiliki irama, "Halo-Halo Bandung" seperti irama yang dikenal saat
ini. “Akan tetapi, irama itu tidak selesai karena malam sudah larut,” tutur
Bang Maung.Sebagai pejuang, Bang Maung pun turut menyusup ke Kota Bandung,
setiap malam, setelah peristiwa Bandung Lautan Api. “Siang hari tidak ada
kerja. Jadi di Ciparay ini, anak-anak Bandung dari Pasukan Istimewa tiduran.
'Eh, lagu yang kemarin itu mana? Halo! Halo Bandung! de-de-de--- (berirama
menurun).' Setelah lama, orang Ambon juga ikut. Pemuda Indonesia Maluku itu, di
antaranya Leo Lopulisa, Oom Teno, Pelupessy. Sesudah Halo-Halo Bandung, datang
orang Ambonnya. ... Sudah lama beta! tidak bertemu dengan kau!' Karena itu, ada
'beta' di situ. Bagaimana kata itu bisa masuk kalau tidak ada dia di situ. Si
Pelupessy-lah itu, si Oom Tenolah itu, saya enggak tahu. Tapi, sambil nyanyi
bikin syair. Itulah para pejuang yang menciptakannya. Tidak ada itu yang
menciptakan. Kita sama-sama saja main-main begini. Jadi, kalau dikatakan siapa
pencipta (Halo-Halo) Bandung? Para pejuang Bandung Selatan," ucapnya.
(Hazmirullah/”PR”)*** From: Sunny ambon [email protected] [GELORA45] Sent:
Friday, June 30, 2017 3:10 PMTo: Gelora 45 Subject: [GELORA45] Re: Kesaksian
Guru, Obama Hapal Lagu Halo-halo Bandung Tahukah Anda siapa pengaran lagu
"Halo Halo Bandung"?
#yiv2777605123 #yiv2777605123 -- #yiv2777605123ygrp-mkp {border:1px solid
#d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv2777605123
#yiv2777605123ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv2777605123
#yiv2777605123ygrp-mkp #yiv2777605123hd
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px
0;}#yiv2777605123 #yiv2777605123ygrp-mkp #yiv2777605123ads
{margin-bottom:10px;}#yiv2777605123 #yiv2777605123ygrp-mkp .yiv2777605123ad
{padding:0 0;}#yiv2777605123 #yiv2777605123ygrp-mkp .yiv2777605123ad p
{margin:0;}#yiv2777605123 #yiv2777605123ygrp-mkp .yiv2777605123ad a
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv2777605123 #yiv2777605123ygrp-sponsor
#yiv2777605123ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv2777605123
#yiv2777605123ygrp-sponsor #yiv2777605123ygrp-lc #yiv2777605123hd {margin:10px
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv2777605123
#yiv2777605123ygrp-sponsor #yiv2777605123ygrp-lc .yiv2777605123ad
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv2777605123 #yiv2777605123actions
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv2777605123
#yiv2777605123activity
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv2777605123
#yiv2777605123activity span {font-weight:700;}#yiv2777605123
#yiv2777605123activity span:first-child
{text-transform:uppercase;}#yiv2777605123 #yiv2777605123activity span a
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv2777605123 #yiv2777605123activity span
span {color:#ff7900;}#yiv2777605123 #yiv2777605123activity span
.yiv2777605123underline {text-decoration:underline;}#yiv2777605123
.yiv2777605123attach
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px
0;width:400px;}#yiv2777605123 .yiv2777605123attach div a
{text-decoration:none;}#yiv2777605123 .yiv2777605123attach img
{border:none;padding-right:5px;}#yiv2777605123 .yiv2777605123attach label
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv2777605123 .yiv2777605123attach label a
{text-decoration:none;}#yiv2777605123 blockquote {margin:0 0 0
4px;}#yiv2777605123 .yiv2777605123bold
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv2777605123
.yiv2777605123bold a {text-decoration:none;}#yiv2777605123 dd.yiv2777605123last
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv2777605123 dd.yiv2777605123last p
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv2777605123
dd.yiv2777605123last p span.yiv2777605123yshortcuts
{margin-right:0;}#yiv2777605123 div.yiv2777605123attach-table div div a
{text-decoration:none;}#yiv2777605123 div.yiv2777605123attach-table
{width:400px;}#yiv2777605123 div.yiv2777605123file-title a, #yiv2777605123
div.yiv2777605123file-title a:active, #yiv2777605123
div.yiv2777605123file-title a:hover, #yiv2777605123 div.yiv2777605123file-title
a:visited {text-decoration:none;}#yiv2777605123 div.yiv2777605123photo-title a,
#yiv2777605123 div.yiv2777605123photo-title a:active, #yiv2777605123
div.yiv2777605123photo-title a:hover, #yiv2777605123
div.yiv2777605123photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv2777605123
div#yiv2777605123ygrp-mlmsg #yiv2777605123ygrp-msg p a
span.yiv2777605123yshortcuts
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv2777605123
.yiv2777605123green {color:#628c2a;}#yiv2777605123 .yiv2777605123MsoNormal
{margin:0 0 0 0;}#yiv2777605123 o {font-size:0;}#yiv2777605123
#yiv2777605123photos div {float:left;width:72px;}#yiv2777605123
#yiv2777605123photos div div {border:1px solid
#666666;min-height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv2777605123
#yiv2777605123photos div label
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv2777605123
#yiv2777605123reco-category {font-size:77%;}#yiv2777605123
#yiv2777605123reco-desc {font-size:77%;}#yiv2777605123 .yiv2777605123replbq
{margin:4px;}#yiv2777605123 #yiv2777605123ygrp-actbar div a:first-child
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv2777605123 #yiv2777605123ygrp-mlmsg
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv2777605123
#yiv2777605123ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv2777605123
#yiv2777605123ygrp-mlmsg select, #yiv2777605123 input, #yiv2777605123 textarea
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv2777605123
#yiv2777605123ygrp-mlmsg pre, #yiv2777605123 code {font:115%
monospace;}#yiv2777605123 #yiv2777605123ygrp-mlmsg *
{line-height:1.22em;}#yiv2777605123 #yiv2777605123ygrp-mlmsg #yiv2777605123logo
{padding-bottom:10px;}#yiv2777605123 #yiv2777605123ygrp-msg p a
{font-family:Verdana;}#yiv2777605123 #yiv2777605123ygrp-msg
p#yiv2777605123attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv2777605123
#yiv2777605123ygrp-reco #yiv2777605123reco-head
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv2777605123 #yiv2777605123ygrp-reco
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv2777605123 #yiv2777605123ygrp-sponsor
#yiv2777605123ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv2777605123
#yiv2777605123ygrp-sponsor #yiv2777605123ov li
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv2777605123
#yiv2777605123ygrp-sponsor #yiv2777605123ov ul {margin:0;padding:0 0 0
8px;}#yiv2777605123 #yiv2777605123ygrp-text
{font-family:Georgia;}#yiv2777605123 #yiv2777605123ygrp-text p {margin:0 0 1em
0;}#yiv2777605123 #yiv2777605123ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv2777605123
#yiv2777605123ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none
!important;}#yiv2777605123
| | Virusvrij. www.avg.com |